Because I Love You

Because I Love You
Rahasia


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, pesawat yang ditumpangi rombongan keluarga dari Jakarta mendarat dengan sempurna. Balen sudah tidak sabar bertemu para kesayangannya, berhubung tadi harus kuliah, Balen sekarang menunggu dirumah, Daniel yang menjemput Papon dan rombongannya.


"Papon sudah sampai." Daniel beritahukan Balen yang menunggu.


"Aban sudah bertemu?" tanya Balen.


"Belum sayang, tapi Papon sudah hubungi Abang lewat telepon. Papa juga tadi hubungi Abang." jawab Daniel, orang tua dan mertuanya datang bersama.


"Baen sudah cek kamar-kamar, semua dibikin mengkilat sama Auntie Khiel." lapor Balen pada suaminya.


"Kamu dirumah sama Auntie Khiel?" tanya Daniel.


"Baru aja pulang, Baen sendirian. Aban jangan lama-lama." rengeknya pada Daniel.


"Abang mau ajak Papa dan rombongan makan dulu ." jawab Daniel.


"Baen?" tanya Balen tidak terima ditinggal dirumah sendiri.


"Kamu mau makan apa nanti dibungkuskan saja." Daniel menggoda istrinya.


"Aban mana boleh begitu." langsung protes.


"Bolehnya bagaimana?" tanya Daniel jahil.


"Baen harus diajak, jangan senang-senang sendirian dong." ocehnya bikin Daniel tertawa geli.


"Senangnya ramai-ramai kok." jawab. Daniel masih saja menggoda Balen.


"Kalau ndak ada Baen mana bisa senang sih. Pokoknya Baen ikut Aban." kembali merengek.


"Hahaha iya."


"Mana Papon?" tanyakan Papon.


"Belum keluar, mungkin banyak barang yang dibawa." jawab Daniel.


"Aban siapa aja yang ke Ohio?" tanya Balen.


"Hanya Mama, Papa, Mamon, Papon, Ayah dan Bunda." jawab Daniel.


"Papa Mito ndak jadi ikut ya."


"Katanya mau Kirim perwakilan." jawab Daniel.


"Aban Nanta perwakilannya?" tanya Balen.


"Belum tahu, Papon tidak cerita detail." jawab Daniel.


"Baen ndak sabar menunggu." keluhnya.


"Tadi tidak mau ikut jemput sih." jawab. Daniel.


"Baen ada urusan dikampus." jawabnya sok sibuk.


"Sayang, tutup dulu teleponnya, Papa dan rombongan sudah menuju kesini." Daniel akhiri sambungan teleponnya ketika lihat Papa James berjalan bersama Ayah Eja dan Papon, sementara dibelakangnya Mamon, Mama dan Bunda ikut langkah para suami sambil bersenda gurau, entah apa yang dibahas.


"Hanya enam orang? mana kejutannya?" tanya Daniel pada Papon.


"Kejutannya menyusul." jawab Kenan tertawa, segera hampiri Daniel dan memeluknya.

__ADS_1


"Lagi spring ya?" tanya Reza saat bagian memeluk Daniel.


"Iya Ayah, tapi sekali waktu turun salju juga." jawab Daniel.


"Bunda padahal mau lihat salju loh." kata Kiki sambil tertawa.


"Yah nanti Bunda pasti akan bertemu salju." jawab Daniel tertawa.


"Bagaimana persiapan acara kalian?" tanya Mama Amelia pada Daniel.


"Sudah beres sih Ma, undangan juga sudah kami sebar." jawab Daniel mulai nyalakan stater mobilnya.


"Balen kuliah jadi tidak bisa ikut jemput." kata Daniel kemudian.


"Sekarang masih di kampus?" tanya Nona.


"Sudah di rumah Mamon." jawab Daniel fokus menyetir.


"Transit dimana tadi, Jepang kan?" tanya Daniel.


"Korea." jawab Papa James yang duduk di sebelah Daniel.


"Opa-Opa sama Oma-Oma tidak di komplen cucu kah datang kesini?" tanya Daniel pada semuanya.


"Protes berat minta ikut, padahal mereka baru pulang dari Jepang." Kiki tertawa ingat Kia.


"Pikirannya main saja mereka itu." sahut Papa James, mulai pada membahas cucu.


"Kalau liburan mau kesini biarkan saja, mumpung Daniel dan Balen masih disini." Mama Amelia bujuki Papa James.


"Papa sih tergantung Larry dan Rumi saja." jawab Papa James.


"Doakan Mamon, semoga saja sebentar lagi kita dapat kabar bahagia." jawab Daniel.


"Jangan digempur terus Niel, kalau terlalu sering juga tidak baik hasilnya." kata Papa James bikin wajah Daniel memerah.


"Biarkan saja mereka masih muda." jawab Ayah Eja, malah sekarang Daniel dan Balen yang jadi bahasan mereka.


"Kalau sudah tua kenapa Bang?" tanya Kenan pada Abangnya.


"Loyo." jawab Reza membuat seisi mobil tertawa.


Balen langsung berlari saat mendengar suara Mobil dihalaman rumah, benar-benar tidak sabar menyambut kehadiran para kesayangannya. Kenan seperti melihat Balen kecil yang menyambutnya pulang jika pulang dari dinas luar kota ataupun luar negeri. Balen tidak berubah, meskipun sudah bersuami masih seperti saat kecil dulu sambut kedatangannya.


"Papon, begitu dong. Jadi jelaskan Baen anak siapa kalau begini." katanya bikin semua tertawa.


"Kamu ingin sekali rupanya Papon ada disini. Padahal di Jakarta kita sedang persiapkan pernikahan Ichie." kata Kenan menggoda Balen.


"Memangnya Ichie ndak bisa urus sendiri, Ichie itu hebat Papon. Semua urusan selesai kalau serahkan sama Ichie." Balen memuji adiknya. Sementara Daniel sibuk membantu turunkan koper, Balen sibuk mengajak semuanya masuk.


"Kamar sudah rapi loh." katanya bangga saat semua sudah masuk kedalam rumah.


"Ayah tidur dimana?" tanya Reza pada Balen.


"Disitu Ayah, kamar Ichie dulu." tunjuk Balen.


"Papon sama Mamon dikamar Baen dulu." tunjuk Balen pada kamarnya. Mama Amelia dan Papa James sudah punya kamar sendiri tidak perlu ditunjukkan.


"Redi masih di California?" tanya Mama Amelia.

__ADS_1


"Masih Ma, Jumat baru ke Ohio." jawab Balen.


"Bagaimana tanggapan Ulan tentang Redi?" Mama Amelia langsung semangat ajak Balen duduk di sofa.


"Sepertinya suka sih." jawab Balen.


"Dia bilang begitu?" tanya Daniel.


"Ndak, Baen tebak-tebak aja." jawabnya terkekeh.


"Serius mau jodohkan Redi sama Ulan, Mbak Amel?" tanya Bunda Kiki pada Mama Amelia.


"Redinya mau juga sih." Mama Amelia tertawa.


"Cocok loh mereka." kata Nona ikut bahas Redi dan Ulan.


"Seperti Baen dan Aban Daniel kan cocok?" Balen langsung jadikan dirinya contoh.


"Yah." jawab Nona cepat. Balen tertawa lihat ekspresi malas Nona. Pasti sedang memancing Balen untuk protes, tapi Balen ingat sedang berkumpul dengan para wanita dewasa, Balen harus tunjukkan sisi dewasanya juga.


"Harusnya tadi Mamon ajak Ulan aja tuh." kata Balen kemudian.


"Mamon tidak kepikiran, lagipula ini kan bukan masa liburan, kasihan kalau bolos kuliah, mau kapan selesainya." jawab Nona.


"Iya sih, pintar Mamon Baen nih." katanya bikin Mama Amelia tertawa.


"Kamu sudah ada tanda-tanda belum, Baen?" tanya Bunda Kiki.


"Hamil maksudnya?" Balen memastikan, Kiki anggukan kepalanya.


"Tanda-tandanya seperti apa Bunda?" tanya Balen serius ingin tahu.


"Seperti mual, perut kembung, sakit kepala, muntah..." Kiki menjelaskan.


"Payudara rasanya kencang." bisik Mama Amelia.


"Wah Baen ndak perhatiin sih, kadang Baen suka mual kalau terlambat makan." jawabnya polos.


"Itu sih asam lambung, Baen." Nona terbahak, sementara bapak-bapak duduk di kursi makan ngobrol ditemani Daniel.


"Mamon, Baen kan ndak ada asam lambung." jawab Balen.


"Kalau telat makan begitu efeknya. Kamu jangan sampai telat makan." Mama Amelia ingatkan Balen.


"Iya Mama."


"Sudah terlambat datang bulan belum?" tanya Mama Amelia.


"Ndak perhatiin Baen, bulan lalu tanggal berapa." jawab Balen jujur.


"Kalian menikah sudah sebulan belum Daniel?" tanya Mama Amelia.


"Hari ini sebulan, Ma." jawab Daniel.


"Nah setelah menikah, kamu sudah libur ML karena datang bulan belum, Baen?" tanya Mamon.


"Ih Mamon, itu sih rahasia Baen sama Aban." jawabnya ingat pesan Daniel kalau urusan kamar itu rahasia tidak perlu diceritakan.


"Ya ampun anak gue." Nona tertawa sambil pandangi Bunda Kiki dan Mama Amelia. Para wanita dewasa jadi ikut tertawa dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2