
"Dari Jeju kita harus kembali ke Ohio sayang, tidak mungkin ke Jakarta lagi." kata Daniel esok paginya setelah menerima telepon dari Markus.
"Ada masalah di kantor ya?" tanya Balen pada Daniel.
"Ya ada masalah dengan barang yang datang, sepertinya Abang juga harus bantu pantau di California karena Redi sudah mulai di Kyoto, Markus tidak bisa handle sendiri." Daniel menghela nafas, rencananya berlama-lama di Malang tidak bisa direalisasikan.
"Ya udah." jawab Balen pasrah, ia mengerti dan tidak memaksakan kemauannya seperti biasa. Kemarin waktu di Malang sudah pamit sama Achara seperti kontak batin tidak akan kembali ke Malang setelah dari Korea.
"Kasih tahu Papon sama Mamon ya Aban." pinta Balen pada Daniel.
"Iya ini Abang mau telepon, mau kasih tahu Papa dan Mama juga." Daniel tersenyum lega karena istrinya mau mengerti.
"Nanti saja agak siang kita hubungi ya." kata Daniel, Masih terlalu pagi jika Daniel hubungi mertua dan kedua orang tuanya.
"Iya." Balen anggukan kepalanya.
"Aban, nanti makan di Muree Restaurant yang di Itaewon mau ndak. Teman Baen bilang enak masakannya." kata Balen kemudian.
"Boleh, mau berdua saja atau ajak yang lain?" tanya Daniel.
"Ajak aja yang lain, sekalian sholat di Mesjid besar." kata Balen ingat di Itaewon ada Mesjid terbesar di Korea.
"Oke sayang." kali ini Daniel ikuti kemauan istrinya setelah semalam memaksa istrinya untuk istirahat di kamar, walaupun berakhir dengan olah raga malam.
"Ayo ke resto, yang lain mungkin masih tidur semalam mereka pulang jam dua malam." ajak Daniel saatnya mereka sarapan.
"Nanti aja deh Aban, kan kita ada buah." tunjuk Balen pada buah yang dibelinya kemarin siang.
"Pisaunya ada?"
"Ada, Baen beli juga kemarin." jawab Balen.
"Kamu beli buah apa saja?"
"Strawberry, Peach sama kumquat. Kia beli melon Korea Aban." lapor Balen pada Daniel.
"Kamu tidak beli melon?"
"Ndak, Baen penasaran sama kumquat." jawab Balen langsung ambil buah yang dimaksud.
"Jeruk, asam sayang." kata Daniel setelah ikut mencoba buah yang Balen beli.
"Kata yang jual kalian ndak suka asamnya peras aja, jadi kita makan setelah diperas, makan kulitnya. Lucu ya Aban, kalau di Jakarta kulitnya yang kita buang, isinya kita makan." Balen terkekeh.
"Jangan dimakan kalau asam, nanti perut kamu sakit."
"Baen makan kulitnya aja."
"Kalau begitu cuci bersih kukitnya. Buah yang kamu beli tidak ada yang manis ya?"
__ADS_1
"Itu strawberry kan Manis."
"Entahlah orang bilang strawberry Korea Manis tapi menurun Aban tetap asam." Daniel mengernyit seakan sedang merasakan asamnya.
"Tiba-tiba Abang pengen rambutan." Daniel terkekeh.
"Disini kan susah Aban, kemarin aja di Indonesia belum musimnya." Balen tertawa.
"Bagaimana ini sayang, yang mau baby kayanya." kata Daniel bawa-bawa Baby.
"Aban ngidam?" tanya Balen.
"Sepertinya begitu."
"Waduh bisa ngences anak Baen kalau Aban ndak dapat rambutannya." Balen langsung khawatir, Daniel terbahak dibuatnya.
"Nanti kita cari di supermarket Asia, pasti ada." Daniel tenangkan Balen.
"Tapi kan lagi ndak musim di Jakarta Aban." Balen menghela nafas benar-benar khawatir.
"Kalau tidak ada rambutan, mangga saja."
"Sama aja Aban, itu susah juga disini." gerutu Balen.
"Setidaknya ada pilihan rambutan atau mangga."
"Nanti kita cari sayang, kalau tidak dapat juga beli yang kalengan."
"Ndak sehat itu." Balen monyongkan bibirnya.
"Hahaha mama Baen, jangan ngomel pagi-pagi." Daniel mengecup bibir istrinya.
"Baen kan takut kalau Aban ndak dapat maunya, anak Baen ileran." Balen sampaikan kekhawatirannya.
"Anak Abang juga yang ileran, ayo loh." malah bikin Balen tambah khawatir.
"Iya anak kita jangan sampai ileran Aban, sudah Baen bela-belain supaya lahir di Amerika eh malah ileran kan ndak lucu." ocehan Balen bikin Daniel terbahak.
"Mana strawberrynya, biar Abang coba." akhirnya mau coba strawberry yang Balen beli.
"Sebentar Baen cuci dulu." Balen segera ambilkan strawberry yang kemarin dibelinya, setelah dicuci bersih diberikannya pada Daniel agar bisa segera menikmati strawberry Korea yang besarnya bikin menarik.
"Manis kan?" tanya Balen pada Daniel.
"Manisan rambutan." bandingkan dengan rambutan tentu saja berbeda, masih saja Daniel mau rambutan.
"Kalau ndak salah ada yang jual rambutan yang sudah dikupas Aban, di pack gitu." Balen ingat pernah melihat orang jualan rambutan kupas di kemas dalam plastik bening.
"Nanti setelah sarapan kita cari ya." kata Daniel, Balen anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Aban handphonenya bunyi." Balen tunjuk handphone Daniel yang tergelatak di kasur. Daniel segera mengambil handphonenya lalu melihat pada layar.
"Papa sayang..." rupanya Papa James yang hubungi Daniel.
"Iya Pa." sambut Daniel begitu angkat telepon dari Papanya.
"Kamu sepertinya tidak bisa kembali Ke Indonesia, Niel. Papa ada kesalahan dalam pengiriman barang." kata Papa James pada Daniel.
"Iya Pa, tadi Markus sudah hubungi Daniel. Tapi masih bisa ke Jeju dulu kan Pa, kapal merapat lima hari lagi." Daniel minta persetujuan Papa.
"Iya, yang penting kamu sudah tahu." jawab Papa James.
"Iya Pa, Papa tenang saja nanti Daniel urus." Daniel tenangkan Papa.
"Maaf Nak, Papa tidak fokus karena urus Redi."
"Daniel yang minta maaf, Pa. Seharusnya tidak bebani Papa dengan pekerjaan di Jakarta. Apa perlu tambah staff lagi Pa?" tanya Daniel pada Papa James.
"Belum perlu, kemarin itu hanya karena fokus ke urusan Redi, Papa jadi abaikan pekerjaan kantor." Papa James merasa menyesal.
"Seharusnya Daniel yang urus karena Papa sibuk, maaf ya Pa."
"Kaya lebaran aja maaf-maafan." celutuk Balen bikin Papa James dan Daniel terbahak.
"Gara-gara kamu Baen." Papa James bercandai Balen.
"Iya sih, Baen ndak kasih Aban ke kantor waktu di Jakarta, maapin Baen ya Pa."
"Belum lebaran Baen, sudah minta maaf saja." jawab Papa James, gantian Balen yang terbahak, mereka lupakan kekusutan di kantor saat ini.
"Papa, ndak ke Jeju juga ndak apa, Baen ajak Aban pulang ke Ohio besok." kata Balen pada Papa James.
"Tidak usah sayang, kapal juga belum merapat. Tapi kalian langsung saja ke California."
"Kamu mau ikut ke California atau tinggal di Ohio bersama Oma Margarita?" tanya Daniel.
"Ikut Aban, Baen ndak mau di Ohio sendirian." jawab Balen maunya ikut saja.
"Kapan lulus kuliahnya nih Pa, maunya ikut terus." Daniel terkekeh mengadu pada Papa.
"Ambil kelas online saja." Papa sampaikan pada Daniel.
"Nanti Daniel urus Pa." jawab Daniel mengacak anak rambut istrinya.
"Jadi ndak apa kita ke Jeju dulu ya?" tanya Balen memastikan.
"Nikmati waktu kalian ya, setelahnya selamat berpusing-pusing." kata Papa James bikin Daniel terbahak, bayangkan harus jelaskan kepada para pelanggan kalau barang yang dikirim tidak sesuai dengan pesanan mereka, jadi mereka harus tunggu jadwal pengiriman berikutnya. Markus kerahkan pesona Daniel karena kalau Markus yang jelaskan sudah pasti akan terjadi huru-hara, mengingat Daniel baru tersenyum saja sudah membuat para pelanggan klepek-klepek.
"
__ADS_1