
"Aban, perut Baen..." Balen meringis menahan sakit.
"Kenapa?" tanya Daniel mulai was-was, mereka baru saja selesaikan acara di Bandung dan sekarang sudah di stasiun kereta untuk kembali Ke Jakarta.
"Kaya mau lahiran." kata Balen pada Daniel, tidak lagi meringis karena rasa sakitnya sudah mereda.
"Serius kamu? bukannya masih bulan depan?" tanya Daniel.
"Cuma kaya aja kok, mungkin si dedek kecapekan." jawab Balen mengusap perutnya, sudah tidak sakit lagi. Daniel segera konsultasikan dengan dokter kandungan yang selalu mengawal mereka selama acara.
"Ante jangan sampai melahirkan di kereta nih, ke rumah sakit saja." Aca menawarkan, ia juga turut khawatir.
"Kalau melahirkan di kereta kasih nama gerbong ya." Bima terkekeh aja Balen bercanda.
"Satu lagi Gerbing?" tanya Balen bersungut tapi ikut tertawa.
"Bong Bing, kalau kembar tiga bisa tambah Bung." sahut Billian, dasar anak-anak Baen malah ajak Ante bercanda.
"Ndak ah, masa anaknya nama gerbong, Gerbing, Gerbung sih." Balen gelengkan kepalanya, berpikir keras mau kasih nama apa untuk anaknya.
"Makanya ke rumah sakit aja, Ante." ajak Aca.
"Kan ada dokter, eh Bari, Shaka, dokternya masih single tuh." mulai jadi makcomblang.
"Bari saja tuh, biar move on." kata Bima.
"Biar tidak terjerat cinta terlarang." Shaka ikut-ikutan.
"Rese..." Bari tertawa sambil menendangi Bima dan Shaka.
"Bagaimana Om?" tanya Aca ketika Daniel kembali bergabung.
"Diperiksa dokter dulu sayang." Daniel merangkul istrinya.
"Udah ndak sakit, Aban." kata Balen enggan hampiri dokter kandungannya. Tapi akhirnya ikut Daniel yang berdecak kesal karena Balen berikan alasan tidak masuk akal.
"Kereta sudah datang." Billian tunjukkan speaker yang sedang berikan pengumuman.
"Bagaimana ini dokter?" tanya Daniel.
"Tidak apa, nanti saja dikereta kita periksa." mereka pun berjalan tergesa menuju gerbong kereta wisata.
"Beneran tidak sakit lagi?" Daniel memastikan, Balen anggukan kepalanya.
"Dokter, aman kan?" tanya Daniel.
"In syaa Allah aman Pak."
Karena dokter pastikan aman, Daniel mulai tenang dan segera menggandeng istrinya menuju kereta.
"Papon, duduknya seperti kemarin loh ya waktu berangkat." mulai bawel setelah membuat suami dan anak-anak Baen panik.
"Papon mau di gerbong cucu-cucu saja." jawab Kenan.
__ADS_1
"Aaah Papon, jangan." Balen langsung protes.
"Kenapa?" tanya Kenan.
"Baen takut lahiran di kereta." jawabnya bikin Daniel kembali panik.
"Kamu jangan bicara sembarangan." protes Daniel.
"Biar saja Balen melahirkan di kereta, biar kalau hamil lagi tidak banyak maunya seperti sekarang." kata Nona pada Daniel.
"Ih Mamon sama anaknya sendiri begitu."
"Habisnya kamu sih banyak tingkah." selalu saja keduanya seperti Tom and Jerry.
"Papon, Mamon tuh doain Baen sembarangan." Kenan terbahak karena Balen bertingkah seperti anak kecil.
"Tidak malu sama Papa James dan Mama Amel ya?" Kenan masih saja terkekeh.
"Padahal anaknya sudah berderet." kata Nona lagi sambil gelengkan kepala.
"dokter Ranti, persiapan bagaimana jika harus melahirkan?" tanya Papa James pada dokter Ranti.
"Belum waktunya kok Pak, tapi kalaupun harus melahirkan di kereta Tim kami sudah siap." jawab dokter Ranti tersenyum.
"dokter Ranti, itu Bari sama Shaka, mau yang mana?" tanya Balen seperti menawarkan baju saja, dokter Ranti tertawa dibuatnya.
"Ganteng-ganteng kan? mapan lagi, ndak usah khawatir kalau jadi pasangan mereka." Balen promosikan keduanya. dokter Ranti, sang dokter kembali tanggapi dengan tertawa sambil melihat dua pria yang ditunjuk Balen.
"Nanti di kereta kita periksa ya bu." kata Dokter Ranti pada Balen.
"Tetap harus di periksa Mam." Chandra langsung saja buka suara, kalau anaknya suka ikut komentar Balen lebih pilih mengangguk deh, daripada terima ceramah singkat dari tiga jagoannya, belum lagi Abang-abangnya yang pasti ikut mengomel, ah sudah lah lebih baik iya saja langsung.
"Mam, adik sudah mau keluar ya?" tanya Cadi pada Balen.
"Tidak tahu, mungkin ya." jawab Balen asal.
"Paaap aku di gerbong Pap and Mam saja ya." langsung minta pindah gerbong.
"Kamu kan banyak tamunya yang harus ditemani, masa mau ditinggal." kata Daniel pada bungsunya yang sebentar lagi melepas gelarnya itu.
"Ini darurat Pap." jawab Cadi, semua jadi tertawa mendengarnya.
"Nanti kalau Mam teriak kesakitan kamu jangan ikut menangis ya?" kata Kenan pada cucunya yang paling gampang ikut menangis kalau Mamanya sakit
"Aaah aku kan tidak begitu."
"Dulu siapa yang merengek Maaam jangan sakiiit?" Nanta menggoda Cadi.
"Panta, itu waktu aku masih kecil, sekarang aku sudah anak sekolahan." jawabnya sok tua.
"Anak sekolahan yang masih taman kanak-kanak itu ya?" goda Larry.
"Ayaaah, sebentar lagi aku sekolah dasar." jawabnya bangga, Daniel terkikik geli.
__ADS_1
"Sana bergabung dengan yang lain." perintah Daniel pada Cadi.
"Oh Pap, tega sekali. Aku harus dampingi Mam melahirkan." katanya dengan kening berkerut.
"Mama hanya diperiksa bukan mau melahirkan." jawab Daniel.
"Paap, jangan berdebat." malah nasehati Daniel.
"Loh iya makanya kamu harus menurut, nanti Papa kasih kabar kok." tegas Daniel.
"Padahal aku harus jadi Abang yang bertanggung jawab." sungutnya segera tinggalkan Daniel dan bergabung dengan yang lain. Daniel dan Balen senyum-senyum saja walaupun tahu Cadi setengah merajuk.
Cadi menghela nafas bergabung bersama Billian dan teman-teman seumurannya.
"Mau bikin permainan apa lagi kita nanti?" tanya Billian merangkul Cadi.
"Aku tidak konsen." sungutnya, Billian naikkan alisnya bingung.
"Why?" tanya Billian ingin tahu lihat wajah cemberut adiknya, "Gantengmu hilang kalau cemberut begitu." kata Bima pada Cadi.
"Aku tidak peduli." malah tambah maju bibirnya.
"Wei wei wei ada apa?" tanya Aca pada Cadi, cowok-cowok ganteng itu langsung saja kerubungi Cadi.
"Mam sakit perut." Cadi menghela nafas.
"Ya, kan ada dokter, nanti juga diobati." jawab Bari santai.
"Aku kepikiran adikku diperut, mungkin dia sakit juga Abang."
"Sekarang sudah sehat lihat itu Mama sedang bercanda." tunjuk Bima.
"Begitu ya?" tanya Cadi polos.
"Kalau sakit pasti menangis bukan tertawa." Bima meyakinkan.
"Baiklah, aku bisa konsentrasi kalau begitu." jawabnya tersenyum.
"Helo, nanti aku duduk disebelah kamu ya?" kata Cadi langsung tebar pesona pada salah satu anak perempuan.
"Hei dia modus." gumam Bima sambil terkekeh.
"Kalah lagi kita." Billian garuk kepala. Vina terkikik geli dibuatnya.
"Billi, terima kasih ya ajak anak-anak ke Bandung, mereka senang sekali." kata Vina pada Billian.
"Aku juga senang, lagian terima kasihnya jangan sama aku, itu sama Bos." tunjuk Billian pada Daniel.
"Tadi sudah bilang juga kok, cuma sama kamu juga dong, karena kamu yang sibuk urus mereka selama perjalanan ini." kata Vina, Billian tersenyum lebar.
"Ya eyalah ada maunya." gumam Bima sambil cekikikan.
"Kenapa Bim?" tanya Vina yang tidak mendengar apa yang Bima bilang.
__ADS_1
"Oh, Billian juga senang pasti." jawab Bima cengar-cengir jahil, Billian hampir saja menendangi tulang kering Bima yang hanya kenakan celana sedengkul itu.