
"Aban, Baen mau ketemu Aban Mike sama Aban Doni dong, kapan Aban kumpul sama mereka?" tanya Balen pada Nanta saat sarapan pagi.
"Mereka sih baru nanti malam sampai di Jakarta." jawab Nanta pada Adiknya.
"Nanti Abang tanyakan kapan ada waktu, mungkin minggu depan loh dek, minggu ini pasti kangen-kangenan sama keluarga dulu." lanjut Nanta.
"Baen juga diminta ke rumah Papa Micko loh ajak anak-anak." kata Balen pada Kenan.
"Sabtu saja kita ke rumah Micko, coba hubungi Lulu sayang, mereka sabtu ada acara apa tidak." pinta Kenan pada Nona.
"Sabtu ditunggu jam makan siang nih." kata Nona setelah saling berkirim pesan dengan Lulu.
"C's kangen sama Opa Micko tidak?" tanya Balen pada ketiga jagoannya.
"Kangen sama Sinna." jawab Chandra tersenyum ingat Sinna anak Winner.
"Nanti ada Ban?" tanya Balen pada Nanta.
"Nanti minta Winner datang ajak Sinna, Dan." kata Nanta pada Dania.
"Oke." jawab Dania tersenyum.
Hari sabtu yang ditunggu-tunggu pun tiba, Kenan beserta anak cucu menantu bertolak ke rumah Micko. Kehadiran mereka sudah ditunggu-tunggu, terlebih Balen yang sudah seperti anak mereka juga.
"Selamat datang." Lulu senyum-senyum simpul menyambut tamu kesayangannya.
"Mama Lulu." Balen langsung saja menghambur memeluk Lulu.
"Kalau tidak titip pesan sama Lucky, pasti kamu mampir kesininya lama." gerutu Lulu bikin Balen terkikik geli.
"Baen langsung disuruh aktif di hotel sama Aban." sungutnya menunjuk Nanta dan Lucky yang sudah datang lebih dulu.
"Ayo masuk lah jangan seperti tamu." omel Lulu karena semua masih berdiri di teras.
"Ambil nafas dulu Mama, jalannya jauh." jawab Balen tertawa, mengingat rumah Micko sangat besar.
"Atlet perlu ambil nafas juga kah?" Micko menggoda Balen.
"Masih olah raga kamu Baen?" tanya Micko lagi.
"Masih Papa tapi sejak di Jakarta ini belum mulai lagi." jawab Balen tersenyum.
"Reza mana Ken?" tanya Micko pada Kenan.
"Aku tidak ajak sih, coba telepon biar menyusul kesini." kata Kenan pada Micko.
"Kiaaa..." Micko langsung berteriak memanggil Kia.
"Ya Pa, eh sudah pada datang." Kia tersenyum langsung memeluk dan menyalami keluarga besarnya.
"Telepon Opa kamu sama Raymond, ini bilang Papon ada disini suruh mereka menyusul." kata Micko pada menantunya.
__ADS_1
"Iya Pa." jawab Kia.
"Duh handphone Kia masih dipegang Syabda Pa, nanti dia nangis. Coba Papa yang minta." Kia tunjuk Syabda.
"Syabda!" si bocah langsung menoleh karena dipanggil Opanya.
"Opa pinjam handphonenya, mau telepon Papa Lemon." kata Micko pada Syabda. Segera si gembul hampiri Opanya dengan pantat yang megal megol. Setelahnya handphone beepindah tangan dari Syabda ke Micko lalu beralih ke Kia.
"Mam, mana Sinna?" bisik Chandra pada Balen.
"Tanya Opa dong." Balen minta Chandra yang tanya pada Opa Micko.
"Opa Micko..." panggil Chandra.
"Eh masih ingat?" Micko terkekeh.
"Of course, where's Sinna?" tanya Chandra rindukan Sinna.
"Belum sampai dia. Tadi Om Winner ada urusan dulu sama keluarga Mamanya Sinna." jawab Micko terkekeh.
"Sini twins." panggil Micko pada ketiganya, selalu menyebut mereka twins karena saling mirip satu sama lain, badannya pun berimbang.
"We're not twins." Charlie terkekeh.
"Ya I know that." Micko merangkul Charlie.
"Tapi kalian terlihat seperti kembar tiga." kata Micko menepuk bahu Charlie.
"Aku kan perpaduan Mam and Pap, Opa." kata Charlie.
"Iya sih." Charlie tersenyum manis.
"Tuh kalau senyum begitu mirip Papamu." kata Micko lagi. Charlie tambah lebar saja senyumnya.
"Tapi ada mirip Baen kan Papa? ini yang dua numplek Papanya aja, ndak mirip Mamanya." protes Balen, Chandra mencebik.
"Aku juga maunya ada mirip Mam, tapi kan aku tidak bisa minta. It's ok Mam yang penting kan aku sayang sama Mam." kata Cadi dengan manisnya.
"Aku juga sayang." Chandra tidak mau kalah. Charlie diam saja.
"Kamu tidak sayang Mama Charlie?" tanya Balen.
"Masih perlu aku bilang ya, aku kan sudah punya wajah setengah mirip Mam, sudah pasti sayangku lebih besar dibanding mereka." jawab Charlie.
"Ih Cayi, masa begitu. Kalau mirip kan dari Allah." protes Cadi bikin semua terbahak.
"Papon tahu kok semua sayang Mama." Kenan menengahi.
"Tuh Papon saja tahu." tunjuk Cadi, tidak terima kalau sayang Charlie lebih besar hanya karena dia ada mirip Mamanya.
"Aku juga mirip Mam kok, aku juara tournament sama seperti Mam." kata Chandra, kalau kadar sayang diukur dari mirip, dia juga ada miripnya, begitu pikir Chandra. Balen tertawa anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Rusuh tuh Pa kalau sudah kumpul, C's adik Syabda ajak main tuh." perintah Balen pada ketiganya.
"Ok Mam." kompak bertiga hampiri Syabda.
"Bima sama Aca tidak kesini?" tanya Micko.
"Sebentar lagi Pa, mereka jemput Winner dan Sinna." jawab Nanta.
"Lina?" tanya Micko.
"Nah aku tidak tahu dia ikut apa tidak." jawab Nanta.
"Sepertinya tidak ikut deh Pa, karena mobilnya Lina rusak dan mobil winner dipakai Lina antar keluarganya." Dania menjelaskan.
"Kenapa sih tidak atur waktu supaya bisa kumpul sama keluarga kita juga." protes Micko kesal dengan menantunya yang satu itu.
"Sudah sih Pa, Winner juga tidak komplen." jawab Dania tenangkan Micko.
"Begitu deh, untung saja Kia tidak seperti Lina." gerutu Lulu.
"Tidak boleh banding-bandingkan loh Ma, kalau Chandra dengar bisa di komplen, semalam Abangnya cerita dia bilang kalau banding-bandingkan jadi tidak bersyukur." Dania terkikik ingat semalam Aca ceritakan C's.
"Hihi iya juga ya, kalau tidak ada Lina, tidak ada Sinna cucu kita Pa." jawab Lulu ikut terkikik geli.
"Non, ayo sini cobain resep baruku." ajak Lulu pada Nona, tunjuk bakpau buatannya.
"Kak Lulu rajin deh, baru kursus lagi?" tanya Nona.
"Iya ini gluten free." jawabnya terkekeh.
"Wah isinya apa?" tanya Nona.
"Ubi ungu, tanpa gula." jawab Lulu.
"Wah Mas Kenan suka nih, sehat. Enak?" tanya Nona.
"Enak dong, ayo coba. Baen, Kia sini bawakan kedepan." kata Lulu panggil Balen dan Kia. Keduanya langsung beranjak hampiri Lulu.
"Bakpau sehat nih." Balen langsung saja membelah bakpau yang dibuat oleh Lulu.
"Waw Mama enak, boleh masuk ke menu sarapan di hotel nih Kia."
"Beneran enak?" tanya Lulu senang.
"Enak Mama, Baen ndak bohong. Kia serius nih masukin ke hotel, Mama ayo nego harga resep." langsung saja Balen berbisnis.
"Mahal loh Baen, mama kembangkan sendiri nih dari tempat kursus, karena Papa kalian tidak berani konsumsi gula lagi." kata Lulu yang juga punya otak bisnis.
"Ok Mama, Baen konsultasi dulu sama pakar nih. Kan Baen baru juga berapa hari mulai kerja. Tapi serius Baen suka ini bakpaunya." kata Balen sambil mengunyah.
"Tuh, sana kasih Daniel biar coba juga." kata Lulu pada Balen.
__ADS_1
"Ok Mama, Mamon coba deh enak tahu, mau Baen suapin ndak?" tanya Balen.
"Tidak usah, sana urus suamimu." kata Nona yang terharu dengar Balen mau suapi dirinya.