
Achara tertawa geli melihat keseruan dikolam berenang dari balik jendela di kamar tamu, ia merasa Balena benar-benar beruntung berada di keluarga yang hangat. Sambil mengusap perutnya Achara berharap kelak anaknya pun bisa mendapatkan keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Bukan berarti Achara tidak disayang oleh Papa dan Mamanya, tapi mereka terlalu sibuk untuk perhatikan Achara, hingga hanya ada orang suruhan saja yang akan melaporkan setiap aktifitas anak-anaknya.
"Dek, ayo berenang." ajak Nanta pada Balen yang menggelengkan kepalanya, Balen sedang tidak mood berenang, ia hanya asik tertawakan semua aktifitas di kolam.
"Kamu malas olah raga ya sekarang?" tanya Nanta pada Balen.
"Masih suka kok, Baen lagi malas main air Aban, nanti aja kalau di Malang, Baen berenang." jawabnya sambil nyengir.
"Dingin dek, kasihan baby." kata Nanta pada adiknya.
"Justru Baen mau berenang di air dingin, Baen kegerahan disini." jawabnya, adaptasi perubahan cuaca bikin Balen merindukan suasana di Ohio, dalam kondisi hamil sekarang ini mudah sekali Balen berkeringat.
"Sudah tidak betah di Jakarta ya? mau kembali Ke Ohio?" tanya Daniel menggoda Balen.
"Ndak gitu Aban, Baen cuma kegerahan aja." jawabnya, tidak juga mau diajak buru-buru kembali Ke Ohio.
"Aban! kita disini dua bulan kan?" tanya Balen pada Daniel.
"Terlalu lama sayang." jawab Daniel dengan kening berkerut, pikirkan pekerjaannya disana.
"Kan ada Markus kerjaan Aban." kata Balen lagi.
"Kalau kamu mau lama, biar saja Daniel yang kembali lebih dulu." kata Nanta berikan ide.
"Ndak mau Aban." Balen langsung goyangkan telunjuknya, tidak mau jauh dari suaminya.
"Takut Bang Daniel digoda cewek bule ya?" tanya Richie tertawa.
"Apa sih Ichie..." langsung monyongkan bibirnya sementara Nanta dan yang lainnya tertawa.
"Baen tidak bisa tidur kalau tidak diusap perutnya, Bang." jawab Daniel tersenyum pada Nanta.
"Lebay deh Baen." Richie mencibir.
"Lihat saja nanti kalau Tori hamil." Nanta tertawakan adiknya.
"Ya nanti aku bilang sama Tori kalau hamil jangan lebay." jawab Richie.
"Coba saja." Daniel langsung terbahak dan cipratkan air ke wajah Richie, semua ikutan menyerbu Richie.
"Masantaaaa..." sudah tahu kan siapa yang datang, berteriak panggil Nanta begitu.
"Dek, kamu kok baru sampai?" tanya Nanta mau peluk adiknya tapi masih dikolam.
"Ulan tadi beli pesanan Mama dulu." jawab Ulan tersenyum, ambil posisi duduk disebelah Balen, sementara Redi belum kelihatan batang hidungnya.
"Mama sudah sampai?" tanya Nanta.
"Belum, baru mau berangkat kesini." jawab Ulan.
"Bagaimana Ledi Dei?" bisik Balen Kepo.
"Apa sih Baen." senyum malu-malu tanggapi pertanyaan Balen.
"Ih Baen cuma tanya, Ulan suka ndak sama Ledi Dei?" tanya Balen minta diperjelas.
"Suka, kan sama saudara masa ndak suka." jawab Ulan.
"Sukanya cuma karena sama saudara?" tanya Balen angkat-angkat alis, bikin Ulan tertawa dan mencubit pelan bahu Balen.
"Kalau Ulan ndak suka, Ledi Dei Baen jodohin sama Achara aja deh." kata Balen.
"Ih Baen..." Ulan kerutkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Balen pura-pura polos.
"Achara kan lagi hamil, memangnya Mama sama Papa Redi setuju?" Ulan berbisik.
"Ya coba aja, kalau sama-sama suka kenapa ndak." jawab Balen sok santai. Ulan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba jadi gatal dengar niat Balen.
"Baen sih maunya Ledi dei sama Ulan, eh Ulannya ndak mau." kata Balen lagi, sementara Ulan pandangi Balen entah mau bicara apa.
"Aban juga suka kalau Ulan sama Ledi Dei, Baen rasa Mama ai sama Papa Bagus juga begitu." mengoceh tanpa pandangi Ulan.
"Ulan bingung, Baen. Kan kita ndak boleh pacaran, bolehnya langsung menikah. Sementara Ulan belum mau menikah." jawab Ulan sampaikan apa yang ada didalam pikirannya.
"Memangnya Ledi Dei minta Ulan menikah sekarang? dia kan cuma bilang future..." Balen nyengir dengan wajah jahil.
"Ulan sudah diajak Ledi Dei ngomong serius ndak sih, tentang masa depan, maunya bagaimana gitu?" Balen sok jadi konsultan percintaan. Ulan gelengkan kepalanya.
"Ck... Ledi Dei!" langsung berdecak pandangi Redi yang baru saja hampiri mereka.
"Helo Baen." sapa Redi sambil nyengir comot cemilan ditangan Balen dan langsung mengunyahnya.
"Ledi, kita perlu bicara empat mata." kata Balen sambil melipatkan tangannya diperut dengan mata sedikit memicing.
"Perlu banget?" tanya Redi sambil mengunyah dengan santai duduk disamping Ulan dan betulkan rambut Ulan yang tertiup angin.
"Ih so sweet..." Balen langsung senyum mengulum sambil naikkan bahunya, sementara Ulan merah merona dan sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Enam mata aja deh kalau begitu." kata Balen kemudian masih tersenyum walau tidak selebar tadi.
"Ada apa sih?" tanya Redi mengendus rambut Ulan, tambah nyengir saja Balen dibuatnya.
"Kamu keramas pakai shampoo apa sih? wangi deh." kata Redi tanpa dosa, abaikan Balen sementara, sementara para pria dikolam berenang berhenti beraktifitas jadikan Ulan dan Redi tontonan.
"Yang Abang belikan kemarin itu." jawab ulan.
"Enak ya wanginya." kembali mengendus rambut Ulan, Nanta gelengkan kepalanya tapi masih menyimak tanpa komentar.
"Iya." jawab Ulan tersenyum, lupa sama Balen, mereka sibuk saja berdua sekarang Balen yang gelengkan kepalanya, baru kali ini Balen diabaikan.
"Sudah telepon Mama belum?" tanya Redi lagi, Ulan anggukan kepalanya.
"Sudah dimana, pesanan yang kita beli betul apa tidak?" tanya Redi.
"Tadi baru keluar dari rumah, kata Mama perlu empat puluh menit menuju kesini. Tadi Ulan sudah foto kata Mama betul yang itu." Redi anggukan kepalanya.
"Jangan lupa bilang future husband nanti saat kenalkan aku ya." bisik Redi bikin Ulan tersenyum malu-malu. Benar-benar mereka abaikan Balen dan para pria di Kolam berenang.
"Jangan gombalin adek gue Ledi Dei." teriak Nanta akhirnya tidak tahan.
"Oh my god Masanta, gue kira bocah-bocah saja yang berenang." langsung pasang wajah kaget dan tertawa keras hampiri Nanta.
"Masanta kenalkan aku future husbandnya Ulan." katanya perkenalkan diri ulurkan tangannya pada Nanta, langsung saja tangan Redi disambut oleh kelima pria dikolam dan ditarik masuk ke kolam renang.
"Handphone gueeee..." teriak Redi pikirkan handphonenya dikantong celana. Semua tertawa dan tidak pedulikan Redi yang basah kuyub.
"Duh mateng handphone gue rusak deh." Redi buru-buru selamatkan handphonenya yang sudah basah dan entah bagaimana nasibnya saat ini.
"Huhu..." pasang wajah mau menangis, Nanta dan Daniel hanya cengar-cengir tanpa dosa.
"Mau jadi adik ipar gue kan? handphone sih sepele." kata Nanta jentikan jarinya.
"Beneran nih, direstui?" tanya Redi dekati Nanta sudah tidak pedulikan handphonenya yang sekarang dibiarkan berenang sendirian.
"Buset itu Iphone yang gue taksir lagi." Richie buru-buru selamatkan handphone Redi.
"Bang kalau gue bisa benerin, handphone buat gue ya." kata Richie pada Redi yang sedang menunggu jawaban dari Nanta.
"Kalau gue direstui, gue beliin yang baru model begitu." jawab Redi lalu kembali pandangi Nanta.
"Aku juga dong." Aca tidak mau kalah, padahal baru berapa bulan lalu dapat Handphone dari Daniel.
"Aku juga sih." tidak mau kalah si Bima. Redi acungkan jempolnya pada Dua bocah.
"Sok tahu kamu." Nanta terkekeh.
"Iya mau tahu Panta, Aca yakin seribu persen. Iya kan Ante, senang kan?" teriak Aca pada Ulan.
"Iya senang." jawab Ulan yang tidak tahu apa maksud Aca, cuma dengar Aca tanya senang saja, mungkin maksudnya senang bisa kumpul keluarga.
"Tuh kan Panta." kata Aca pada Nanta.
"Begitu ya?" Nanta cengengesan.
"Iya." jawab Bima dan Aca kompak, bayangkan dapat handphone terbaru lagi.
"Oke Ledi Dei, pasti lah gue restui. Mama sama Om Bagus sih ok lah, gue bantu. Eyang sih bagian elu sama Ulan ya." kata Nanta bikin Redi, Bima dan Aca langsung kompak mengangkat badan Nanta seperti seorang juara, mereka berteriak yel-yel ala mereka, hingga semua tertawa dibuatnya.
******
"Mama..." Ulan langsung hampiri Mama dan Papanya begitu mendengar pintu mobil ditutup.
"Mama ai..." Balen ikut berlari keluar menyusul Ulan, Daniel sudah takut saja istrinya terjatuh.
"Assalamualaikum..." Tati yang baru saja injakkan kakinya diteras langsung memeluk Ulan dan Balen bersamaan.
"Waalaikumusalaam." jawab keduanya sambut pelukan Tari.
"Duh sebentar lagi Mama tambah cucu deh." Tari terkekeh usap perut Balen yang masih saja rata, berhubung badan Balen yang super langsing ala peragawati, tidak heran kalau perutnya belum terlihat membuncit.
"Mama sebentar lagi juga tambah menantu." jawab Balen langsung saja cari gara-gara.
"Oh iya mana calon menantu Mama?" bisik Tari sambil tersenyum jahil pandangi Ulan. Ia sudah dengarkan cerita Redi dan Ulan lewat Nanta. Hanya belum dengar dari Ulan langsung.
"Waduh, mau menyusul Baen, kamu Ulan?" Bagus ikutan menggoda anak gadisnya.
"Papa Bagus setuju ndak Ulan menikah sebelum lulus?" tanya Balen, malah seperti apa saja wakili Redi.
"Baen..." Ulan menepuk bahu Balen risih.
"Papa sih bagaimana anaknya saja, kalau ada yang jaga malah lebih tenang." Nah Ulan jadi bengong deh, Papa malah setuju Ulan cepat menikah.
"Papa, peluk Ulan dulu bisa ndak sih? malah gosip sama Baen." omel ulan pelan.
"Dih, kita ndak gosip kan Pa?" Balen malah mencibir pada Ulan. Susah deh kalau Balen sudah kuasai Papa dan Mama, Ulan selalu kalah bawel. Bagus terbahak melihat keduanya.
"Baen, suruh masuk dong Mama sama Papanya, masa diluar saja." Nona langsung saja menepuk bahu Balen.
__ADS_1
"Apa kabar Mbak?" Nona hampiri Tari.
"Sebentar lagi tambah menantu." sahut Balen bikin semuanya terbahak, Ulan mau tidak mau ikut tertawa geli.
"Besan kita sama dong." Nona ikut-ikutan.
"Biar Mama Ai ndak iri lihat besan Mamon." sahut Balen lagi kembali mereka tertawa. Mereka masuk kedalam rumah dengan tawa canda, sementara di kolam Redi kelimpungan bajunya basah, sementara calon mertua sudah datang.
"Masanta help me, bajuku basah nih." sungut Redi karena sudah melihat kehebohan diruang keluarga.
"Santai dong, jagoan kan munculnya belakangan." kata Nanta tertawa jahil, Dania sudah siapkan handuk untuk suami dan anak-anaknya.
"Ya ampun Redi, kamu berenang pakaian komplit begitu?" Dania langsung terbahak melihat Redi.
"Kerjaan siapa lagi kalau bukan mereka, help me Kak, Mama ai sudah datang tuh." Redi minta pertolongan Dania.
"Hahaha sebentar kuambilkan handuk dan baju Bima ya." Dania masih saja tertawa geli.
"Duh untuk Kak Dania pengertian." Redi menarik nafas lega.
"Memang kamu tidak bawa baju ganti di Mobil?" tanya Daniel.
"Bawa, tapi siapa yang harus kusuruh ke mobil."
"Tenang, Om. Nanti aku yang ambilkan ke mobil." Bima tawarkan diri dengan sukarela.
"Aku mandi duluan ya." katanya lagi langsung naik dan masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan baju yang sudah disiapkan Dania tadi.
"Kunci mobil Om mana?" tanya Bima setelah selesai mandi. Ia berjalan dekati Redi yang duduk dipinggiran kolam.
"Duh, untung kunci sama dompet ada di meja." Redi menghela nafas lega tunjuk kunci Mobil dan dompetnya dimeja tadi.
"Sorry ya Om, hehehe tapi kalau tadi tidak nyebur kan aku tidak dapat handphone baru." jawabnya bikin Redi tertawa.
"Om aku mandi duluan ya." ijin Aca yang dari tadi temani Redi, sementara Nanta dan Richie sudah lari ke kamar masing-masing.
"Iya." Redi anggukan kepalanya, sekarang sendirian menunggu Bima di kolam dengan baju basahnya. Daniel juga sudah lari ke kamar istrinya. Ah mereka semua curang, batin Redi tapi tersenyum senang karena Nanta janji mau bantu mohon restu sama Papa dan Mamanya. Tentu saja beban Redi sedikit berkurang.
"Nih Om, ayo mandi." Bima sodorkan koper Redi dan handuk, perhatian sekali sama Om Redinya.
"Mandi dikamar aku sama Aca Om." Bima menawarkan.
"Boleh." Redi langsung setuju, kalau mandi dikamar mandi dekat kolam agak susah mau keluarkan baju dari koper.
"Heboh Om diluar, Ante Ulan lagi di godain." lapor Bima pada Redi.
"Oh ya?" Redi tertawa bayangkan wajah Ulan merah merona.
"Pasti Baen biangnya." tebak Redi.
"Sama Mamon dan Oma Ai." jawab Bima tertawa.
"Beneran Mama ai ikutan goda Ulan?" tanya Redi.
"Iya, Ante sampai merah betul mukanya." Bima berceloteh bikin Redi tambah senyum lebar saja. Kalau Mama Ai ikut godain Ulan berarti limapuluh persen restu orangtua sudah didapat, pikir Redi.
"Papa Bagus bagaimana responnya?" tanya Redi kepo, ingin tahu yang Lima puluh persen lagi.
" Tertawa saja dari tadi lihat Ante Ulan." jawab Bima apa adanya.
"Asiiik..." dengan baju basah Redi joget-joget senang bayangkan restu sudah ditangan.
"Buruan mandi, sudah ditunggu." kaya Bima lagi.
"Ah, gue ditunggu?" Redi langsung salah tingkah karena ditunggu.
"Iya sudah kumpul semua, tinggal Om Redi saja." jawab Bima jujur.
"Oke sebentar, Om mandi lima menit." jawab Redi langsung masuk ke kamar mandi bersihkan diri.
"Ada pempek..." kata Bima pada Aca yang sudah selesai berpakaian.
"Asiiik, Om Kisna ada tidak?" tanya Aca.
"Ada dong my artist." jawab Bima mancing-mancing ingin tahu kenapa Aca dibilang my artist oleh Ante Baen.
"Ayo makan pempek." Aca segera berlari keluar tapi tangannya ditarik oleh Bima.
"Kenapa?" tanya Aca menghindar, sudah tahu Bima pasti mau tanya soal artis.
"Cerita dong, sama Abang sendiri masa rahasia-rahasiaan." langsung bergaya Balen bawa-bawa Abang.
"Makan pempek dulu lah." kata Aca masih malas bercerita.
"Nanti cerita ya." membujuk Aca biar tidak penasaran.
"Kalau ingat." jawab Aca tinggalkan Bima.
"Gue ingatin." rusuh Bima mengejar Aca tinggalkan Redi yang sudah bisa urus sendiri keperluannya.
__ADS_1