Because I Love You

Because I Love You
Bantu


__ADS_3

Dari kejauhan sudah tampak Ulan berdiri menunggu kehadiran Balen dan rombongannya. Balen sudah rusuh lambaikan tangan tidak berhenti, kiss jarak jauh, Kirim hati lewat tangan pada Ulan yang tertawa geli lihat kelakuan Balen.


"Baen, rusuh." Lucky tertawakan Balen.


"Ulan!!!" masih jauh Balen sudah berteriak panggil Ulan.


"Ante Ulan!!!" anak-anak tidak mau kalah ikut panggili Ulan lalu kirim kode-kode love lewat tangan. Ulan akhirnya balas kode lovenya dan semua tertawa melihatnya.


"Bisa melucu juga dia." Lucky tertawakan Ulan. Sementara Redi mengamati tanpa berkata apapun.


"Ledi, natsi kan natsi?" Balen langsung tertawakan Redi.


"Type Ledi kan Ban?" tanya pada Daniel.


"Ya." Daniel tertawa merangkul istrinya.


"Kalau yang ini type aku." katanya mengecup dahi Balen, sudah rindu berat karena dipesawat pisah bangku.


"Aban, Baen malu." bisik Balen bikin Daniel tertawa, tidak pedulikan beberapa pasang mata memandang ke arah mereka.


"Kia!" Ulan berlari hampiri Kia yang terdekat lalu memeluknya dengan perasaan bahagia.


"Ante, Kia kangen deh." kata Kia balas memeluk Ulan, Sementara Balen dan yang lain menunggu giliran.


"Ante, kenapa jemputnya tidak pakai kimono?" protes Bima pada Ulan.


"Ih masa iya pakai Kimono sih. Nanti kalau di Malang berarti mesti pakai kebaya juga dong." Ulan tertawa menutup mulutnya. Semua jadi ikut tertawa, Redi seperti biasa pasang wajah cool tapi matanya tak lepas memandang Ulan, ia masih amati Ulan tampaknya.


"Ulan, ini Aban Daniel Baen." Balen langsung pamerkan suaminya. Ulan menganggukkan kepalanya sopan sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Ketemunya malah di Jepang kita." Ulan tertawa pada Daniel.


"Ya, setidaknya kita bertemu lebih cepat, kalau di Indonesia masih lama." jawab Daniel tersenyum.


"Oh iya kenalkan ini adik saya." kata Daniel kenalkan Redi pada Ulan yang kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Hai Ulan." sapa Redi ulurkan tangannya, tapi ulan balas dengan hanya tangkupkan kedua tangannya.


"Dia selalu jaga wudhu." kata Redi tertawa.


"Oh iya kah?" Redi langsung takjub.

__ADS_1


"Sedang belajar Mas." jawab Ulan tertawa.


"Loh Bang Lucky ikut juga?" Ulan langsung tertawa beralih melihat Lucky.


"Demi kamu nih Ulan." kata Lucky tersenyum manis.


"Bohong." sahut Balen cepat, Lucky pun terbahak mendengarnya.


"Niatnya sih mau temani Kia dan Richie, eh pasukan bodrek ikutan." kata Lucky bikin semua anak-anak bersorak tidak terima.


"Ulan, Ichie mau menikah loh tiga bulan lagi. Ulan bulan depan aja menikahnya mau ndak?" tanya Balen bikin semua terbahak, enak saja tentukan jadwal pernikahan orang.


"Oh jodohnya dijual di minimarket ndak ya, Ulan beli dulu deh." kata ulan sambil mencubit pipi Balen gemas.


"Ulaaan..." Ulan tertawa lihat Balen selamatkan diri.


"Kamu sudah kenal sama anak-anak yang lain belum?" tanya Balen pada Ulan.


"Kenal lah." Ulan tertawa, walaupun tidak dekat ia kenal semua anak-anak Baen, karena sebelum berangkat ke Jepang dulu, Ulan cukup lama tinggal dirumah Kenan.


"Ayo, kita jadi ke Universal?" tanya Ulan, sekarang ambil alih tugas Richie sebagai pimpinan rombongan.


"Jadiiii..." jiah semua kompak jawab serempak.


"Bukan urusan gue. Tuh Bapak bilang begitu kan?" tebak Bima sok tahu.


"Hahaha bukan, dia bilang kalian berisik!" Ulan terbahak dibuatnya, tapi khas Ulan setiap kali tertawa selalu menutup mulutnya, bergaya seorang Putri.


"Disini jalan cepat ya, jangan jalan santai." tegur Daniel pada semuanya.


"Iya Om." kembali menjawab serentak, tidak peduli dibilang berisik.


"Om Redi diam saja nih, lagi mengumpulkan kekuatan bulan ya?" Shaka menggoda Redi.


"Kekuatan Ulaaaan, datanglah!" panggil Bima ikut menggoda Redi, semua tertawa jadinya.


"Psssstttt... jangan berisik, tadi sudah ditegur." kata Ulan pada anak-anaknya. Tapi ikut tertawa dengan ucapan konyol Bima.


"Kita drop koper dulu di hotel ya, setelah itu baru kita jalan." kata Ulan pada semuanya.


"Yah, Ulan ini ada lauk titipan Mamon untuk Ulan." kata Balen pada Ulan.

__ADS_1


"Repot-repot sih Mamon." Ulan tampak senang.


"Ada dari Mama Amelia juga titip untuk Ulan." kata Balen lagi.


"Eh Mama Amel apa kabar sih? Ulan senang ngobrol sama Mama Amel tuh, cerita pengalamannya saat ikut Papa Dinas Luar." Ulan langsung saja nyerocos.


"Pernah bertemu Mamaku?" tanya Redi tertarik.


"Pernah, Ulan pernah ikut Mamon dan Mama Amelia ke salon." jawab Ulan tersenyum manis. Duh ternyata beneran cantik, bathin Redi dalam hati. Ia baru melihat jelas wajah dan ekspresi Ulan.


"Cieee..." anak-anak kembali bersorak ada yang siul-siul, tapi pandangan mereka kearah lain, seakan bukan menggoda Redi dan Ulan.


"Tempat tinggal kamu dekat dengan hotel kami menginap?" tanya Redi mulai mendekat pada Ulan. Balen segera menarik diri senyum-senyum pandangi suaminya yang acuh saja tanpa ekspresi, sementara Lucky sibuk ngobrol sama Redi, bocah-bocah kepo dekatkan diri pada Redi dan Ulan. Bima harus laporan Nanta dan Krisna.


"Dekat, sengaja Ulan pilihkan yang dekat Mas, supaya enak kalau Ulan menjemput." kata Ulan tersenyum.


"Kenapa tidak ikut menginap di hotel selama kami disini." Redi menawarkan.


"Ulan ndak senang tidur di hotel, enak di kamar sendiri." jawab Ulan kembali tersenyum.


"Kamu betah di Jepang?" tanya Redi pada Ulan.


"Di betah-betahin, enak di negara sendiri kan. Mas Redi juga begitu toh?" tanya Ulan pada Redi. Untungnya Ulan yang pemalu bukan type pendiam, tapi tidak seceriwis Balen.


"Ante, nginap di hotel saja, Tidur sama Kia dan Belin, atau sama Aku dan Aca." Bima tawarkan Ulan, bantu Redi agar bisa berlama-lama dekat dengan Ulan.


"Ulan banyak tugas kuliah sih sebenarnya, Bim. Agak repot kalau menginap di hotel." Ulan sampaikan alasannya.


"Oh tugas kuliah Ante, Om Redi bisa bantu kok." jawab Billian asal.


"Eh..." Redi kerutkan keningnya.


"Loh memang Mas Redi ambil jurusan yang sama dengan Ulan kah?" tanya Ulan dengan wajah berbinar-binar, tentu saja senang jika ada yang bantu kerjakan tugasnya.


"Om Redi serba bisa Ante." sahut Shaka promosikan Redi. Ini anak-anak totalitas sekali dekatkan Ulan dengan Redi, sementara Redi garuk kepala, agak bingung tugas apa yang harus Ulan bikin itu.


"Mereka suka lebay." Redi tertawa pandangi anak-anak Baen.


"Hihi padahal Ulan berharap loh Mas Refi beneran bisa bantu Ulan kerjakan tugas." kata Ulan pada Redi.


"Boleh, kalau aku bisa aku bantu, kalau tidak bisa bagaimana bantunya." Refi terkekeh.

__ADS_1


"Bantu doa saja Om." celutuk Billian kemudian bocah-bocah rusuh langsung tertawa, eya-eya dan joget-joget. Kelakuan anak-anak Baen bikin semua tertawa.


__ADS_2