
"I hate this situation." gumam Kia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat ini hanya ada Kia, Balen, Tori dan Ulan. Edisi curhat diantara mereka dimulai. Malam ini Daniel ijinkan Balen tidur bersama ketiga saudaranya, karena besok mereka akan kembali Ke negara masing-masing.
"Kenapa dari tadi uring-uringan?" tanya Balen pada Kia.
"Ante..." Kia langsung pasang wajah sedih dan memeluk Balen.
"Kenapa?" tanya Balen lagi.
"Tadi seru ya main salju." Tori yang tidak tahu situasi, malah bahas keseruan tadi sore.
"Iya Kak Tori." jawab Kia yang masih dalam pelukan Balen.
"Kia kamu kenapa sih? dua bulan kemudian juga bertemu lagi sama Baen." Tori tertawakan Kia.
"Bukan itu..." Balen meringis melihat Tori yang tidak nyambung.
"Terus apa dong? lebay deh." katanya lagi.
"Kak Tori tidak mengerti sih." sungut Kia.
"Pasti tentang Om Lucky." tebak Ulan mencibir pada Kia.
"Bukaaan..." Kia menyangkal.
"Terus apa?" tanya Ulan lagi senyum-senyum.
"Kia mau kuliah di sini, boleh kan?" pandangi Balen minta diijinkan untuk ikut kuliah di Ohio.
"Wooow dalam rangka melarikan diri?" Balen terbahak.
"Melarikan diri kenapa Kia? kamu seperti ada masalah berat saja." Tori masih saja tidak mengerti, gelengkan kepalanya heran.
"Siapa yang mau melarikan diri sih?" Kia jadi memberengut semua menuduh begitu.
"Kia ini galau karena Abang Lucky mau menikah." kata Balen pada yang lainnya.
"Wow sama kamu Kia?" tanya Tori.
"Kak Tori ih, dari tadi nyebelin deh." Kia mendengus.
"Lagi PMS nih anak, marah-marah terus." Tori terkekeh.
"Roti, dengarkan Kia curhat dong. Kamu dari tadi ndak nyambung tahu." Balen menoyor kepala sahabatnya yang sebentar lagi jadi adik iparnya itu.
"Ck... yang boleh panggil Roti itu cuma Ichie, Baen." Tori balas menoyor kepala Balen, Ulan tertawa lihat keduanya.
"Jadi bagaimana Kia, ayo curhat." Ulan langsung ambil alih jadi moderator.
"Kia sedih kalau Om Lucky menikah, nanti tidak ada yang ajak Kia jalan dan liburan lagi, tidak ada yang jaga Kia seperti Om Lucky." Kia akhirnya mulai sampaikan kegalauannya.
"Ya Kia liburan sama yang lain juga bisa, kan ndak harus sama Om Lucky." jawab Balen santai.
"Beda dong Ante." rengek Kia pada Balen.
__ADS_1
"Kalau gitu Kia aja yang jadi istri Om Lucky." celutuk Tori sama seperti Belin.
"Aneh dong, masa Kia menikah sama Om-Om." langsung saja Kia menolak.
"Baen menikah sama Uncle Daniel." Tori tunjuk Balen.
"Baen kan sudah jadi ante, Kia kan belum." kata Kia lagi.
"Sama saja Kia, lagipula beda umur kalian hanya sepuluh tahun sih. Baen sama Uncle Daniel beda tiga belas tahun." jawab Ulan lagi.
"Yang benar saja, Kia tidak pernah terpikir jadi istri diusia sekarang, terus jadi istri Om Lucky lagi, aah yang benar saja, Kia tidak pernah mimpikan itu." jawab Kia yakin.
"Ya sudah kenapa galau, kalau memang tidak mau jadi istri Om Lucky. Perkara jalan-jalan sih bisa minta temani sama yang lain, Billian, Bima, Aca, Shaka dan Bari sudah pasti siap jadi bodyguard. Modal liburan juga tinggal minta sama Aban Lemon, apa masalahnya sih?" Balen sekarang menoyor kepala Kia.
"Ih, Ante." Kia mengusap dahinya.
"Kia natsi sama Aban Lucky nih." tunjuk Balen tertawakan Kia.
"Ante fitnah, tidak pernah terpikir untuk naksir Om Lucky. Selama ini Om Lucky pacaran sama siapa pun Kia ndak pernah ambil pusing kok. Ante mesti hilangkan prasangka itu loh, nanti yang lain berpikir hal yang sama." Kia langsung saja mengoceh tidak terima dibilang Naksir sama Lucky.
"Yah kalau ndak Natsi kenapa galau, aneh deh." Balen gelengkan kepalanya.
"Iya Kia, kamu aneh." Tori meringis pandangi Kia.
"Apanya yang aneh sih, Ante Ulan juga mau bilang Kia aneh?" Kia pandangi Ulan.
"Hu uh." Ulan anggukan kepalanya sambil senyum-senyum.
"Kalian tuh yang aneh." sungut Kia bikin Balen mencibir.
"Ante malah ajak Kia ribut." Kia hentakkan kakinya di kasur.
"Terus kamu maunya bagaimana?" tanya Tori.
"Kia sudah bilang mau menjauh dari Om Lucky." jawab Kia.
"Oh ya sudah menjauh saja." jawab Tori santai.
"Makanya Kia mau kuliah disini saja, boleh kan?" tanya Kia pada Tori.
"Boleh aja, Baen malah senang jadi ada temannya." jawab Balen senyum bahagia.
"Mau di Malang sama aku dan Ichie juga boleh." jawab Tori.
"Tidak mau, terlalu dekat malah tidak keren." jawab Kia tengil.
"Enak saja ndak keren, Ante anak Malang nih." Ulang monyongkan bibirnya.
"Kalau Malang keren kenapa Ante kuliahnya di Jepang?" tanya Kia.
"Ante kan ambil beasiswa, kan ada yang bilang tuntutlah ilmu sampai ke negeri Jepang." jawab Ulan.
"Chinaaaa kali, mana ada kenegeri Jepang." Balen dan yang lainnya terbahak.
__ADS_1
"Ante bantu raya Papa dan Mama Kia ya." pinta Kia pada Balen.
"Rayu apa?" tanya Balen.
"Kia kuliah disini temani Ante." jawab Kia dengan gayanya.
"Ish, ante sebenarnya disuruh pindah ke Jakarta tahu." Balen terkekeh.
"Jangan Ante, temani Kia kabur." kata Kia bikin semua terbahak.
"Benarkan mau menghindar, tidak kuat lihat Bang Lucky dipelaminan sama wanita lain." Ulan terbahak.
"Ante Ulan, jangan begitu deh. Bukan seperti itu juga." Kia masih saja menyangkal.
"Jadi seperti apa?" tanya Ulan.
"Ya seperti sekarang, mau sekolah di Ohio biar keren." jawab Kia terkekeh.
"Kamu Ante kenalkan sama Noah deh nanti. Keren tahu belum punya pacar juga." kata Balen semangat.
"Umur berapa?" tanya Kia.
"Sedikit lebih muda dari Aban Lucky." jawab Balen.
"Another Om-Om?" tanya Tori tertawa.
"Bukan Om-Om juga sih. Tapi ya lebih tua dari Baen dikit dia." jawab Balen.
"Kenalkan besok bisa tidak?" tanya Kia semangat.
"Ante ijin Om Daniel dulu ya, soalnya kata Om Daniel, Noah naksir Ante sih dulu." jawab Balen tertawa.
"Ish, pelarian dong Kia."
"Noah kan juga pelarian. Sama aja lah." jawab Balen.
"Ya sudah Kia mau. Paling tidak saat Om Lucky menikah, Kia sudah punya gandengan." jawab Kia nyengir.
"Walah..." Ulan gelengkan kepalanya.
"Eh kalau gandengan kan bisa sama Alex juga." kata Balen tertawa.
"Psst Ante, Beyin sepertinya naksir Alex tahu." mulai bergosip.
"Masa sih dia kan sepupunya sendiri." Balen mendelik.
"Memangnya ndak boleh kalau sepupu, kan boleh Baen." protes Ulan.
"Iya juga sih. Terus bagaimana?" tanya Balen.
"Ante tidur sama Om Daniel deh, sambil bahas Noah yang mau dikenalkan ke Kia." usir Kia pada Balen.
"Enak aja usir Baen." Balen menolak.
__ADS_1
"Ante, kasihan om Daniel sendirian, lagi pula disini sempit. Ayo lah ante..." dasar Kia bikin ketiganya menoyor kepalanya kompak.
"Penyiksaan... Tolooonggg..." teriak Kia yang dikeroyok tiga orang yang saat ini mengelitiki pinggangnya.