Because I Love You

Because I Love You
Hug


__ADS_3

"Aban... Baen ikut antar Ledi ndak?" tanya Balen saat lihat suaminya bersiap hendak mengantar Redi ke Bandara.


"Ikut kan? memang berani sendiri di rumah?" tanya Daniel pada istrinya.


"Aban ndak suruh Baen siap-siap kok?" tertawa karena merasa tidak diajak.


"Kamu mau ganti baju lagi?"


"Ndak, begini aja." tunjuk pakaian dibadannya.


"Tuh Abang sudah tahu kamu tidak akan ganti baju, makanya Abang tidak suruh kamu siap-siap." jawab Daniel mencubit pipi istrinya.


"Let's go!" Redi segera menggeret kopernya.


"Ledi bawa apa untuk Ulan?" tanya Balen Kepo.


"Bawa cinta." jawab Redi bikin Daniel dan Balen terbahak.


"Ulan gue tanya mau apa, tidak mau apa-apa katanya." kata Redi kemudian.


"Bawa sih bawa aja, kenapa tanya-tanya." Balen mencibir.


"Menurut lu, gue bawakan apa Baen? nanti di Bandara gue beli deh."


"Apa aja lah, yang penting bawa." jawaban yang tidak membantu, malah bikin Redi sakit kepala pikirkan harus bawa apa untuk Ulan.


"Bikin kepala gue cenut-cenut deh Baen." dengus Redi, Daniel terkikik geli dibuatnya.


"Tas branded, Ulan suka tidak?" tanya Redi.


"Baen suka." jawab Balen, Redi langsung menoyor kepala kakak Iparnya itu.


"Eh...!" Daniel menepis tangan adiknya.


"Istri lu minta tas branded tuh." kata Redi pada Abangnya.


"Baen ndak minta cuma bilang suka." jawab Balen sambil tertawa.


"Nanti gue belikan coat saja deh, couple." kata Redi tiba-tiba mendapat ide.


"Ih Ledi sweet banget sih." Balen langsung hentakkan kedua kakinya berulang dengan kedua tangan menggenggam dipipinya.


"Lebay deh." Redi terkekeh, mulai masuki kopernya ke bagasi lalu masuk ke kursi pengemudi, masih Redi yang kemudikan kendaraan, belum serahkan pada Daniel.


"Tadi pada ndak tidur ya?" tanya Balen pada keduanya.


"Tidak." Daniel gelengkan kepalanya.


"Seru ya ngobrol?" tanya Balen.


"Lumayan, apalagi tadi ada yang emosi." Redi terkekeh.


"Siapa?" tanya Balen.


"Suami anda." jawab Redi.


"Kenapa Aban?" tanya Balen mengelus pipi suaminya, Daniel langsung menggenggam tangan Balen sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Om Bambang tanyakan masalah kemarin di lapangan tenis sama Papa, benar tidak kamu dan teman-teman keroyok Adira." jawab Daniel. Balen nyengir lebar mendengarnya.


"Biarin aja Aban, ndak usah diambil pusing." jawab Balen bikin Daniel naikkan alisnya, mood istrinya lagi sangat baik, tidak seperti kemarin yang penuh emosi.


"Santai sekali Baen." Redi tertawa.


"Mau bagaimana? kasih tahu orang kalau Adira begini begitu seperti bela diri aja, Baen ndak mau habis energi deh, Baen mau senang-senang mumpung ikut Aban liburan, bye Ledi kita mau honeymoon." kata Balen panasi Redi.


"Honeymoon di rumah." Redi tertawa.


"Memang Ledi tahu honeymoon itu ngapain?" tanya Balen tengil.


"Ndak..." jawab Redi sambil mencibir bergaya Balen.


"Ih, Ledi." Balen menepuk bahu Redi kesal, Daniel tertawa melihat keduanya.


"Memang elu berdua kalau honeymoon ngapain?" tanya Redi kemudian.


"Ada deh, makanya Ledi nikah dong, kalau Baen ceritain takut iri." jawabnya bikin tawa Daniel meledak.


"Rese lu, Baen." Redi ikut tertawa.


"Aban, Achara ajak ketemuan nih." kata Balen tunjuk pesan Achara yang baru diterimanya.


"Mau apa ajak bertemu? besok saja bilang, malam ini kita mau honeymoon." jawab Daniel menggoda Redi.


"Gue juga ke Jepang mau honeymoon kali." Redi langsung tidak mau kalah.


"Bilangin Mama Ai loh." ancam Balen pada Redi.


"Ih Aban, Ledi dei udah ndak sabar nih." Balen terkikik geli.


"Ngomong-ngomong, elu belum jawab Baen. Kalau honeymoon itu ngapain?" tanya Redi.


"Ya kaya sekarang aja, antar Ledi dei ke bandara." jawab Balen asal.


"Oke, nanti gue juga sama Ulan honeymoon." jawab Redi anggukan kepalanya.


"Ngapain honeymoonnya?" tanya Balen.


"Ulan jemput gue ke Bandara." jawab Redi terbahak.


"Ndak lucu ah." jawabnya bikin Redi gemas dan mencubit pipinya.


"Ih Ledi, anak Baen jadi nendang-nendang nih." katanya lebay. Daniel tertawa usia kandungan masih sebulan cepat sekali sudah nendang-nendang.


"Istrinya Daniel halu." Redi gelengkan kepalanya masih tertawa.


"Thank you Kuda Nil." kata Redi ketika tiba di lobby Bandara, ia sudah bersiap masuk ke dalam sementara Daniel menepuk bahu adiknya.


"Give me hug, Baen, gue perlu energi dekati Ulan selama di Jepang." kata Redi rentangkan tangannya minta dipeluk Balen.


"Aban..." Balen pandangi Daniel.


"Tidak akan marah." kata Redi segera menarik Balen dan memeluknya.


"Doakan lancar, gue mau bilang Ulan kalau gue serius." bisik Redi, Balen menepuk-nepuk bahu Redi sambil anggukan kepala. Kalau orang lihat pasti pikir mereka sepasang kekasih yang akan berpisah sesaat.

__ADS_1


"Jangan lama-lama Redi!" tegas Daniel melihat aksi keduanya, Redi julurkan lidahnya pada Daniel sambil tertawa.


"Sayang..." Daniel panggil Balen.


"Cukup ya Ledi Dei, energinya sudah Baen transfer. Jangan lupa tas branded dari Jepang." kata Balen kemudian lepaskan pelukannya lalu masuk kedalam mobil.


"Kuda Nil, istri lu minta tas branded dari Jepang nih." Redi mengadu pada Abangnya.


"Belikan lah jangan pelit." jawab Daniel tertawa.


"Pakai uang kantor ya." Redi menggoda Daniel.


"Sekalian saja pakai uang negara." jawab Daniel, mereka terbahak dibuatnya.


"Oke Abang Daniel dan Kakak Baen, adik berjuang dulu." Redi membuat Balen terkikik geli.


"Nanti kabari ya, ceritakan detail setiap malam." pesan Balen bikin Redi monyongkan bibirnya, kalau diabaikan sudah pasti teror dari Balen akan datang.


"Ledi, awas ya bikin Baen penasaran." ancamnya lagi.


"Iye Baweeen." katanya peleseti kalata Balen dan bawel.


"Ih, ayo Aban." ajak Daniel lajukan kendaraannya.


"Yuk Red, take care." Daniel lajukan kendaraannya tinggalkan Redi yang masih nyengir lihat wajah kesal Balen di panggil Bawen.


"Aban, Achara chat lagi nih, dari tadi Baen belum balas." Balen tunjukkan handphonenya.


"Mau kemana sih?" tanya Daniel, Markus belum hubungi Daniel. Balen segera hubungi acara.


"Duh baru di jawab, bagaimana mau pergi bersama tidak?" tanya Achara pada Balen.


"Mau kemana?" tanya balik Balen.


"Markus ajak makan bersama." jawab Achara.


"Ajak makan, Aban." kata Balen pada suaminya.


"Bilang Markus ditempat biasa." jawab Daniel.


"Achara dengar ndak, ditempat biasa." Balen sampaikan apa yang Daniel bilang.


"Oke Putri."


"Ih!!!" mendengus kesal, Achara terbahak dibuatnya.


"Kita sudah on the way ya, see you soon." kata Achara.


"See you soon Achara." Balen tutup sambungan teleponnya. Daniel segera lajukan kendaraannya menuju lokasi yang Daniel bilang tadi, itu bukan restaurant tapi coffee shop yang didalamnya banyak aneka snack yang disukai istrinya.


"Sayang kamu tidak mau makan berat kan?"


"Ndak."


"Ini coffee shop yang Abang biasa videokan untuk kamu." Daniel beritahukan Balen.


"Beneran Aban." Balen melonjak senang bayangkan aneka snack yang menggiurkan, memang bukan makan berat tapi ngemil yang berat-berat kalau begini caranya.

__ADS_1


__ADS_2