
"Katanya mau menjauh, masih saja cari perlindungan sama Lucky." Nanta tertawakan Kia.
"Kan nanti menjauhnya bukan sekarang Panta." Kia terkekeh, sementara Lucky bersiap diri saat Kia mengajaknya pulang.
"Minuman gue belum habis nih." tunjuk Redi pada minumannya saat Lucky mau beranjak.
"Iya nanti saja pulangnya Bang, Balen juga belum dijemput Daniel." kata Richie pada Lucky.
"Oke. Kia sebentar lagi ya." teriak Lucky pada Kia sambil menunjuk minuman Redi dan yang lainnya yang masih banyak.
"Tuh jangan ajak pulang dulu, yang lain masih menikmati makanan dan minuman di cafe ini loh. Kalian tidak makan ya?" tanya Nanta pada Kia dan Balen.
"Tadi kita minum aja, Baen sudah mulai lapar sih, panggilin petugasnya dong Aban." pinta Balen pada Nanta manja. Sama saja Balen sama Kia selalu mengandalkan orang meskipun bisa lakukan sendiri. Petugas cafe antarkan menu yang diminta Nanta. Tanpa melihat buku menu, Balen segera pesan menu andalannya.
"Kamu mau apa Kia?" tanya Balen.
"Samakan saja seperti Ante." jawab Kia yang malas melihat buku menu. Balen pun pesankan menu untuk dua orang.
"Kamu masih lemas dek?" tanya Nanta pada Balen.
"Ndak, cuma kok sekarang jadi malas ngomong ya." Balen jadi heran sendiri.
"Mungkin seperti Daniel nanti anak kamu." kata Larry tertawa.
"Ya ndak Papa sih, memang bapaknya." jawab Balen terkekeh.
"Ante sekarang seperti ibu-ibu loh Ayah." kata Kia pada Larry.
"Bagaimana?" tanya Larry ingin tahu.
"Iya itu menyimak curhatan orang terus carikan solusi." jawab Kia terkekeh.
"Solusi buat kamu dikenalkan dengan Noah ya." tebak Nanta terkekeh.
"Nah itu Ayah, ganteng lagi." jawab Kia senyum sendiri.
"Genit ah." Nanta mengacak anak rambut Kia sambil tertawa. Pesanan Balen datang bersamaan dengan Daniel yang menjemput istrinya.
"Baru mau ajak makan sekalian dengan para Opa dan Oma." kata Daniel lihat semua sibuk nikmati makanan yang ada.
"Telepon saja Niel, tanya mau dibungkusi apa, kita sudah pada kenyang ini." kata Nanta pada Daniel sambil memegang perutnya.
"Mama dimana?" tanya Daniel saat hubungi Mamanya.
"Kita lagi jalan-jalan Daniel, manfaatkan waktu siang ini, nanti malam kan sudah ke Bandara." jawab Mama yang ternyata punya acara sendiri.
"Oh berarti Daniel tidak usah pesan makanan ya?" tanya Daniel pada Mama.
"Tidak usah, dirumah banyak makanan. Lagipula kita juga lagi mau coba restaurant halal yang baru itu."
__ADS_1
"Enak itu Ma, Baen suka semua menu disana." Daniel langsung saja promosikan restaurant yang bukan miliknya, tapi ia salah satu pemasok bumbu dan bahan baku di restaurant tersebut.
"Oke ya Daniel, Mama mau tawar barang dulu." Yang lagi shopping tidak mau diganggu rupanya. Daniel tertawa sambil matikan sambungan teleponnya.
"Aban mau pesan makan ndak? Baen ndak habis nih." tunjuk Balen pada piringnya yang masih bersisa banyak.
"Bagian pembersihan." Daniel terkekeh ambil alih makanan istrinya.
"Ante maunya aja sih." protes Kia pada Balen.
"Belum pernah hamil sih, nanti Kia rasa deh, ante juga ndak nyangka jadi kalem begini makannya." Balen terkekeh.
"Aban mau Baen pesankan apa lagi?" tanya Balen pada suaminya.
"Minum saja sayang, makanan kamu masih penuh begini. Pasti cuma makan dua sendok ya?" Daniel lambaikan tangan pada petugas cafe.
"Iya dikit sekali kamu makannya, coba sambil disuapi Daniel." kata Rumi pada Daniel.
"Baen lagi kepengen nasi padang." jawabnya bikin semua terbahak.
"Besok kita ke New York makan nasi padang." jawab Daniel sambil sodorkan sendok berisi makanan pada Balen.
"Di Cleveland ada kok Aban." kata Balen pada suaminya.
"Mau disana juga boleh." jawab Daniel senang karena Balen menyambut suapannya.
"Besok ya Aban." menagih janji pada Daniel.
"Mau lagi?" tanya Daniel pada Balen.
"Ndak." Balen menggelengkan kepalanya, mengusap bibirnya dengan tissue ditangan.
"Pintar makannya habis." Nanta terkekeh.
"Aban Daniel sih suapi sambil bahas nasi padang, jadi Baen ndak nyadar." jawab Balen bikin semua terbahak.
"Kia, bagaimana Noah?" Daniel menggoda Kia.
"Keren deh Om Daniel." Kia acungkan jempolnya.
"Sama Om Lucky keren mana?" tanya Daniel jahil.
"Ih Om Daniel mah." Kia langsung saja memukul bahu Daniel, semua terbahak dibuatnya.
"Kenapa tuh Kia?" tanya Lucky penasaran lihat semua tertawakan Daniel dan Kia.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" tanya Tori menggoda Lucky.
"Toy, lu sih godain gue terus ya dari tadi." Lucky gelengkan kepalanya bikin mereka semua terbahak.
__ADS_1
"Jadi bagaimana kalau Kia sama Noah, setuju tidak?" tanya Ulan pada Lucky.
"Terserah Kia dong, bukan hak gue atur-atur." jawab Lucky sengit.
"Secara elu kan orang yang dekat dengan Kia, feeling lu bagaimana tentang Noah?" tanya Redi.
"Gue sudah minta orang selidiki dia sih." jawab Lucky bikin semua terbahak.
"Over protect." kata Ulan menepuk bahu Lucky.
"Kasihan Kia kalau dapat yang tidak beres." jawab Lucky, padahal dia sedikit banyaknya tahu tentang Noah yang selalu dibanggakan Hilma, tapi tetap saja Lucky harus tahu sampai ke akarnya.
"Kenapa bukan sama elu saja Kia, Luck?" tanya Redi pada Lucky.
"Duh kalian ini masa gue harus jelaskan berkali-kali sih." Lucky menghela nafas.
"Soalnya elu lebih protect Kia dibanding bokapnya sendiri " Redi terkekeh.
"Ini om nya juga santai saja." Redi menunjuk Richie yang cengengesan.
"Tau ah." lucky membanting serbet di tangannya sambil tertawa, jadi tambah galau saja.
"Bang, katanya sih nanti Abang akan disodorkan tiga calon tuh, salah satunya Kia." Richie berikan bocoran.
"Kenapa jadi elu yang lebih tahu ya?" Lucky tertawa.
"Itu yang aku dapat informasi dari Bang Winner semalam." jawab Richie.
"Gue tidak mungkin pilih Kia sih." jawab Lucky setengah hati.
"Minta petunjuk Allah dulu lah." kata Redi tertawakan Lucky.
"Redi my love..." tiba-tiba ada yang memanggil Redi dengan mesranya. Semua menoleh ke asal suara.
"Hai Azura, long time no see." Redi berdiri salami Azura, rupanya si gadis Malaysia.
"Wakwaw, itu Azura." bisik Balen pada Nanta dan Larry, keduanya amati interaksi Redi dan Azura.
"Ulan..." panggil Redi ulurkan tangannya pada Ulan, minta agar Ulan ikut berdiri, ia mau perkenalkan Ulan dengan Azura.
"Ini Azura yang Abang ceritakan." kata Redi pada Ulan.
"Hallo..." Ulan ulurkan tangannya pada Azura.
"Ini bukan Balen your sister?" tanya Azura pada Redi.
"Bukan, itu Balen." tunjuk Redi pada Balen yang lambaikan tangannya.
"Ini Ulan, my future wife." Redi bikin Ulan dan yang lainnya terbengong-bengong.
__ADS_1
"Oh I see. Acara Keluarga rupanya, halo Ulan, senang berkenalan dengan kamu. Lain waktu kita mesti cakap empat matalah." kata Azura mulai berbahasa melayu. Ulan tersenyum saja tanggapi perkataan Azura, apa yang mau dibicarakan empat mata, Ulan tidak mengerti. Sementara Balen dan Kia heboh dengar perkataan Redi.
"Gila my future wife aja, gila om Redi keren habis." Kia langsung bisik-bisik heboh bersama Balen bikin Nanta dan yang lainnya tertawa geli, keluar lagi bocahnya Balen padahal dari semalam sudah seperti Ibu-ibu.