
"Mamon what are you doing?" tanya Chandra saat melihat Nona di dapur.
"Eh cucu Mamon sudah bangun. Mamon lagi buat sarapan, Omelet seperti yang kamu mau." kata Nona pada Chandra.
"Aku sudah berenang pagi-pagi. Sekarang sudah mandi, need my hand Mamon?" Chandra tawarkan bantuan.
"Tidak sayang, kamu duduk manis saja sebentar lagi omelette Mamon antar ke meja." jawab Nona.
"Oke." Chandra menurut duduk manis dimeja makan.
"Adik-adikmu belum bangun?" tanya Nona.
"Mereka sama Pap jalan pagi." jawab Chandra.
"Kamu tidak ikut bergabung?"
"Aku setiap pagi berenang." jawabnya.
"Kalian tidak jetlag?" tanya Nona.
"Kemarin begitu sampai disini tidak langsung tidur, kata Pap harus tahan kantuk supaya tidak jetlag. Ikuti jam tidur disini." jawab Chandra.
"Mamon Balen maaf Baen kesiangan." kata Balen yang baru saja bergabung.
"Anak sama suami kamu sudah olahraga Baen." Nona gelengkan kepalanya.
"Kamu sudah berenang?" Balen mengacak rambut Chandra yang basah.
"Sudah, kata Pap kebiasaan di Ohio harus tetap dijalankan disini." jawab Chandra.
"Anak baik nih Mamon, selalu dengarkan kata Mama dan Papanya." kata Balen banggakan anaknya.
"Mam, kapan aku sekolah?" tanya Chandra pada Balen.
"Oh iya Baen lupa tanya Aban kemarin Mamon, C's mulai kapan masuk sekolahnya." Balen cengar-cengir, sibuk dengan keluarganya kemarin sampai lupa tanyakan kapan mulai bekerja Dan kapan anak-anak mulai masuk sekolah. Semua Nanta yang urus, Balen terima beres saja.
"Nanti Abangmu sarapan disini kok." kata Nona pada Balen.
"Nanti kita tanya Panta, kapan kamu mulai sekolah ya." kata Balen pada Chandra.
"Ok Mam."
"Kiss Mama dulu dong." Balen tunjuk pipinya.
"Mam sudah mandi dan sikat gigi? sudah bersihkan wajah?" tanyakan detail, tidak mau kiss kalau Mamanya belum mandi dan sikat gigi. Nona tertawa dibuatnya.
"Sudah sayang." Balen tidak sabaran malah mencium pipi Chandra gemas.
"Mam, aku mau kiss juga, Mam cuma sayang Chandra." terdengar teriakan Cadi yang baru saja tiba, di susul Kenan dan Charlie.
"Mama sayang kamu juga, ini sudah pada mandi belum?" tanya Balen pada kedua anaknya yang habis jalan pagi sama Papanya.
"Sudah dong." jawab Daniel bangga. Balen tersenyum, setelah mencium kedua anaknya lalu mencium pipi suaminya.
"Papon mana?" tanya Nona karena Kenan juga tadi ikut jalan pagi.
"Papon sedang ngobrol sama Pak RT, Mamon. Komplek disini mau ada acara malam minggu besok." Daniel menjelaskan.
__ADS_1
"Oh iya, biasa sekarang itu Bapak-bapak komplek ada pertemuan bulanan loh, tapi mereka bukan Bapak-bapak arisan." kata Nona bikin Balen dan Daniel tertawa, ketiga bocah tidak paham maksudnya jadi memilih tidak peduli.
"Chandra di taman ada ring basket, nanti sore kita bisa main." kata Charlie semangat.
"Minta Pap beli bola basket dulu." jawab Chandra.
"Yang dari Ohio kan ada." Cadi ingatkan kedua Abangnya.
"Mam, apa barang-barang kita sudah sampai disini? kamu butuh bola basket." tanya Chandra pada Mamanya.
"Panta punya bola basket, pakai punya Panta saja." kata Balen.
"Oke Mam." santai sudah ada cadangan.
"Barang-barang sudah datang tapi belum di bongkar." kata Balen lagi.
"It's Oke, Mam." jawab Charlie.
"Balen anak-anak kok bisa Manis begini sih? tidak seperti kamu sama Richie kecil dulu yang bikin Mamon selalu naik oktaf menghadapi kalian." bisik Nona pada Balen, tidak mau terdengar oleh cucunya.
"Mamon." Balen terkikik geli ingat masa kecilnya dulu.
"Baen kan keturunan Mamon jadi jumpalitan. Ini anak-anak lebih kuat di gen keluarga Aban kayanya." jawab Balen hinga ia dan Nona tertawa bersama.
"Pap, mau omelette?" Charlie tawarkan Papanya.
"Papa telor rebus saja, sayang." kata Daniel pada Charlie.
"Aban mau berapa?" Balen cepat tanggap langsung membuka kulkas mengambil telur, siap untuk merebusnya.
"Papon mau kan ya Mamon?" tanya Balen pada Nona.
"Rebus sepuluh saja, Abangmu juga biasanya mau." jawab Nona.
"Kebanyakan Mamon."
"Rebus saja, nanti juga habis." jawab Nona.
"Mam, tidak boleh melawan sama Mamon." Cadi ingatkan Balen, Nona langsung tertawa.
"Mama tidak melawan sayang." jawab Balen tersenyum manis.
"Tadi Mama takut telurnya tidak ada yang makan kalau rebus terlalu banyak." Balen menjelaskan.
"Oh." anggukan kepalanya, Balen gemas betul lihat anaknya lalu menciumi Cadi bertubi-tubi.
"Maaaam." berteriak sambil tertawa geli.
"Mama love you. Kalau dicium begini tidak kurang kasih sayang kan?" kata Balen menggoda Cadi.
"Aku love mam jugaaaa." teriaknya manja, masih gelagapan diciumi mamanya.
"Memang kamu kurang kasih sayang?" tanya Daniel pada Cadi sambil tertawa.
"Iya karena Mam tidak pernah gendong aku." jawabnya.
"Itu karena Mam kurus." jawab Charlie dengan wajah cool.
__ADS_1
"Mam harus makan banyak kalau begitu." Cadi sodorkan omelette pada Balen.
"Papa tidak suka kalau Mama makan banyak." kata Balen menggoda Cadi.
"Pap tidak sayang Mam?" tanya Cadi.
"Sayang banget." jawab Daniel tertawa. Nona juga ikut tertawa.
"Kenapa tidak boleh makan banyak?" tanya Cadi.
"Nanti kalau Mama berat, Papa tidak kuat gendongnya." jawab Daniel jahil.
"Mamon, Pap sering gendong Mam loh, seperti brydal." Cadi langsung mengadu sama Nona.
"Oh ya? kok kamu tahu?" tanya Kenan yang baru masuk rumah.
"Aku lihat waktu aku tidur." jawabnya polos.
"Aih Aban nih." Balen langsung khawatir anaknya melihat yang lebih. Kenan terbahak mendengarnya.
"Pap so sweet." kata Nona ikuti gaya bahasa cucunya sambil tertawa. Daniel ikut tertawa sambil menepuk keningnya, Cadi bisa mengadu sama Papon dan Mamon, bahaya ini.
"Telur rebus sudah siap di makan." kata Balen kemudian setelah matikan kompor dan mengangkat telur yang tadi direbusnya.
"Aku mau kuningnya." pinta Charlie.
"Aku juga mau." Chandra ikutan.
"Cadi mau juga?" tanya Daniel.
"Tidak mau." Cadi gelengkan kepalanya.
"Mereka bagian pembersihan, jadi kuning telur tidak terbuang." kata Daniel jelaskan pada Kenan dan Nona.
"Papon juga kalau makan telur hanya putihnya saja, siapa mau kuningnya?" tanya Kenan.
"Kasih aku saja." jawab Charlie.
"Wah enak kalau begini, Mamon tidak repot mengolah kuning telur supaya tidak terbuang." Nona langsung senang saja karena makanannya tidak terbuang.
"Kalau Baen sih makan aja kuningnya, sayang sih." jawab Balen terkekeh.
"Belum ada keluhan." jawab Daniel.
"Kalau olah raga sama minum air putih yang cukup itu ndak kolestrol Aban." jawab Balen.
"Iya tapi tetap saja Abang harus jaga badan." jawab Daniel.
"Iya Pap harus kuat supaya bisa gendong aku." jawab Cadi pada Papanya.
"Sudah besar maunya digendong saja." kata Chandra pada Cadi.
"Cayi juga kemarin minta gendong Ayah Leyi." Cadi menunjuk Charlie.
"Itu karena aku mengantuk saja habis turun dari pesawat, aku sudah janji sekali itu saja kok." jawab Charlie membela diri.
"Pap, aku maunya berkali-kali ya." kata Cadi pada Papanya, semua tertawa mendengarnya.
__ADS_1