
"Bagaimana hasilnya?" tanya Nona saat Balen keluar kamar.
"Kata Ibu-ibu kalau hamil belum empat bulan ndak boleh dibilang-bilang Mamon." jawab Balen yang sudah tahu Mamon pasti akan tanya hasil testpack.
"Terus kamu mau rahasiakan lagi kalau kamu hamil?" tanya Nona pada Balen.
"Ih, Mamon kok tahu Baen hamil?" tanyanya dengan wajah yang tersenyum melebar.
"Beneran jadi kamu hamil, Nak?" tanya Nona penuh harap, ikut tersenyum lebar. Sementara yang lain menoleh pada Balen dengan wajah penuh harap.
"Ndak tahu Mamon, tadi habis test dikamar mandi Baen harus keluar, soalnya Aban sakit perut. Alatnya masih dikamar mandi." jawab Balen bikin senyum Nona langsung berubah, yang semula melengkung ke atas jadi mulai menurun.
"Sabar dong Mamon, nanti Aban yang kasih tahu hamil apa ndak." jawab Balen tanpa dosa.
"Terus maksud kamu kalau belum empat bulan itu apa? bikin Mamon berharap saja." kesal Nona langsung mencubit pipi Balen.
"Baen mau tanya Mamon, emang iya ndak boleh bilang-bilang kalau hamilnya belum empat bulan?" tanya Balen bikin yang lain terkikik geli.
"Tadi bahasanya tidak pakai emang iya, Baen." Nona mulai naik setengah oktaf.
"Mamon ndak sabaran sih." jawabnya kembali Kenan tertawa lihat keduanya.
"Itu Mitos, Nak. Mamon juga tidak tahu boleh apa tidak diberitahu, tapi ya ikuti sajalah." jawab Nona.
"Baen bilang Aban dulu deh, jangan kasih tahu hasilnya pas keluar kamar." jawab Balen bersiap kembali Ke kamar.
"Baen, kalau sama kita disini, kasih tahu tidak apa." kata Reza pada Balen.
"Yah, tapi rahasia kita ya. Jangan kasih tahu yang lain." Balen tersenyum pada Ayah Eja.
"Yah, akan jadi rahasia kita selama empat bulan." jawab Reza terkekeh.
"Ihiiiy, Baen sayang!!!" tiba-tiba Daniel berlari keluar kamar hampiri Balen kemudian menangkupkan kedua tangannya mengecup bibir Balen bertubi-tubi.
"Abang hebat." katanya banggakan diri lalu kembali mengecup bibir Balen yang pasrah terima perlakuan suaminya.
"Positif ndak Aban?" tanya Balen setelah Daniel hentikan aksinya.
"Yeay, iya dong kita punya anak." jawabnya mengangkat testpack ditangannya sambil tertawa senang.
"Daniel, disini ada kita loh, bukan kalian berdua saja." Mama Amelia menegur putranya yang dari tadi sibuk bersama istrinya, pakai cium-cium bibir lagi abaikan yang lainnya.
"Mama maaf Daniel terlalu senang, yeay Mama dan Papa punya cucu." kembali bersorak seperti anak kecil, yang lain tertawa dibuatnya. Semua langsung bersyukur dan ikut senang.
"Masa sih Baen hamil." Balen seperti tidak percaya kemudian tertawa sendiri seperti yang lain.
"Alhamdulillah..." Mama Amelia langsung hampiri Daniel yang mencium pipi putranya gemas.
__ADS_1
"Hebat kan Daniel sebulan menikah langsung jadi." tersenyum lebar, benar-benar bahagia.
"Bukan hebat, Allah ijinkan kamu cepat punya anak." jawab Mama ingatkan Daniel.
"Astaghfirullah, maaf Daniel terlalu senang." Daniel menepuk dahinya.
"Daniel tidak terima selamat dulu ya, belum empat bulan." kata Daniel pada semuanya, kemudian ambil posisi duduk disebelah Kenan yang langsung menepuk bahu Daniel dengan wajah bahagia.
"Alhamdulillah, semoga Baen dan calon anak sehat terus ya. Baen jangan main Tenis dulu, Nak." Nona ingatkan Balen.
"Iya Mamon." Balen menurut anggukan kepalanya.
"Aban, berarti Baen benar kan waktu di Jakarta bilang sama Aban, kayanya Baen hamil." kata Balen hampiri suaminya.
"Itu sih belum sayang, kan waktu itu kita baru menikah satu hari." Daniel terkekeh.
"Waduh anak Bunda sudah mau jadi Ibu muda nih." Kiki senyum-senyum pandangi Balen.
"Tapi kok Baen ndak rasakan yang Mama sebut kemarin ya?" tanya Balen pada Mama Amelia.
"Bagus dong, tidak ada keluhan. Mama doa kehamilan kamu tidak rewel. Mama pikirkan kalian hanya berdua loh."
"Ada group Ibu-ibu yang siap bantu setiap saat kok Mama." jawab Balen santai, sudah bergabung di group persatuan Ibu-ibu.
"Hari ini Auntie Khiel kamu tidak datang kan?" tanya Mama Amelia pada Balen.
"Siapa yang bersihkan rumah kalau diliburkan, kamu lagi hamil." Daniel sedikit keberatan.
"Daniel, tenang saja ada kita." jawab Mamon.
"Jangan Mamon, senang-senang saja disini jangan sibuk-sibuk." pinta Daniel pada mertuanya.
"Baen juga bisa kok, pelan-pelan aja." jawab Balen santai.
"Jangan!" tegas Daniel tidak mau istrinya terlalu lelah.
"Tidak usah bersihkan rumah sampai hari minggu, beres kan. Lagi pula disini tidak ada debu." Mama Amelia menyenangkan.
"Balen itu tidak bisa diam kalau lihat ada yang berantakan." kata Daniel ceritakan tentang istrinya yang hobby beberes rumah walaupun lemah di urusan dapur.
"Iya memang dia hobbynya bersihkan rumah. Tapi Daniel, asal kamu tahu kalau dikerjakan dengan senang hati malah membuat badan menjadi sehat." Nona beritahukan Daniel.
"Nah Aban, Baen beberes kalau hati lagi senang aja." jawab Balen.
"Kamu kan memang senang terus." jawab Daniel terkekeh, sementara Balen monyongkan bibirnya pada Daniel
"Kapan mau ke dokter kandungan?" tanya Mama Amelia pada Balen.
__ADS_1
"Daftar dulu ya Aban?" tanyakan pada Daniel.
"Iya Ma, Daniel daftarkan dulu, tidak bisa main datang saja karena semua pasien mendaftar secara online, nanti setelah ditentukan kapan harus datang baru kita ke dokter." Daniel jelaskan pada Mama.
"Baen tunggu informasi dari Aban aja ya." kata Balen pada Daniel.
"Iya. Baen kamu ke kampus?" tanya Daniel pada istrinya.
"Iya." Balen anggukkan kepalanya.
"Ayo, Abang antar. Nanti pulang jam berapa Abang jemput lagi." Daniel segera ambilkan kunci Mobilnya.
"Kamu tidak ke kantor, Daniel?" tanya Papa James.
"Tidak Pa, hari ini mau temani Balen saja." jawab Daniel bikin Papa mencibir.
"Apanya yang hari ini, tiap hari juga dia maunya sama Baen terus." gumam Papa bikin semuanya tertawa.
"Anakku sebentar lagi jadi Ibu loh." Nona menggoda Balen.
"Duh tapi nanti dikampus bagaimana? Baen kalau hamil orang-orang lihatin perut Baen ndak ya?"
"Yah, kan punya suami." jawab Nona.
"Tapi kan baru sebar undangan untuk hari minggu masa langsung hamil." Balen menjadi resah.
"Nanti saat acara akan dijelaskan kalau kalian sudah menikah sebulan yang lalu, jangan dibikin pusing, jalani saja." Kenan tersenyum pada Balen.
"Iya Papon, Baen tapi kalau rindu tenis bagaimana?" tanyakan pada Papon.
"Cium saja raketnya." sahut Nona.
"Ih Mamon, masa begitu."
"Peluk saja kalau lagi tidur." tambah aneh arahan Mamon.
"Nanti Daniel pesankan bantal yang bentuknya raket Tenis." jawab Daniel malah menyempurnakan keanehan Mamon.
"Bukan karena raketnya loh, mainnya itu." Balen bersungut.
"Ya nanti tanyakan pada dokter, walaupun kita bilang tidak boleh kan kamu pasti cari pembenaran dulu." kata Nona pada Balen.
"Mamon ih."
"Memang begitu kan? sudah dibilang dari awal tidak boleh main Tenis kamu malah tanya kalau rindu tenis bagaimana?" Nona terkekeh.
"Iya, Bunda kalau rindu Kia pasti Bunda cium dan peluk." jawab Bunda Kiki, semua terbahak mendengarnya, sementara Balen mendengus masa iya Kia disamakan dengan Tenis.
__ADS_1