
"Bagaimana, Chie?" tanya Steve saat Richie minta waktunya untuk bicara empat mata. Mereka di ruang kerja Steve saat ini.
"Opon minta aku tinggal di Malang dan membantu perusahaan Opon, karena Om Deni dan Om Samuel sudah sibuk di rumah sakit." kata Richie pada Steve.
"Jadi?"
"Aku tidak bisa ikut bantu perusahaan Papa Steve dan Papaku, di Jakarta." jawab Richie tersenyum.
"Kamu pilih tinggal dan bekerja di Malang?" tanya Steve.
"Opon mau jual perusahaannya kalau tidak ada yang mau terusi, rasanya kok sayang, itu perusahaan yang sudah Opon rintis dari nol." Richie menjelaskan alasannya.
"Baiklah, Papa ikuti bagaimana keputusan kamu dan keluargamu saja." jawab Steve tersenyum, ia menyebut dirinya Papa karena Richie dari kecil terbiasa panggil Steve Papa, sedang Balen panggil Aban, terserah mereka saja yang seenaknya waktu masih bocah.
"Satu lagi, Pa. Kalau kerja di Malang, kata Opon aku bisa nikahi Tori tiga bulan lagi, menurut Papa bagaimana?" Richie minta pendapat Steve.
"Masalah itu Papa bahas sama Mama Ayu dan keluarga besar dulu ya. Papa sih memang maunya kalian cepat menikah." jawab Steve tersenyum. Senang mendengar Richie bahas pernikahan.
"Nanti Papaku minta kabarnya." kata Richie lagi.
"Ya, pasti kami akan saling komunikasi juga, kamu kapan ke Malang Chie?" tanya Steve.
"Aku mau ikut Baen ke Jepang dulu, setelah itu baru mulai bekerja di Malang dan menetap disana. Papa apa ijinkan Tori tinggal di Malang bersamaku kalau kami menikah nanti?" tanya Richie.
"Pastinya istri ikut suami, Selin juga setelah menikah akan tinggal di S'pore, karena Ishak bekerja di sana."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang, Pa." Richie tersenyum lega.
"Apa kamu sudah mantap mau menikah di usia muda, Chie?" Steve yakinkan Richie.
"In syaa Allah Papa. Aku masih mau terlihat muda saat anak kami besar nanti." jawab Richie bikin Steve tertawa.
"Salam buat Papa dan Mama kamu ya." Steve antarkan Richie keluar.
"Sudah?" tanya Tori penasaran, ia tidak di ijinkan masuk oleh Steve tadi, jadi terpaksa menunggu di depan pintu karena penasaran.
"Sudah." jawab Richie tersenyum, sementara Steve mengernyitkan hidungnya pada Tori, menggoda bungsunya.
"Kuliahku bagaimana Papa? tiga bulan lagi kami menikah apa Papa setuju?" tanya Tori tidak sabar ingin tahu pendapat Papanya.
"Papa bahas sama Opa dan Oma dulu ya. Tidak bisa putuskan sendiri, Mama juga harus dimintai pendapat." jawab Steve pada Tori, walaupun Steve setuju ia harus minta pendapat orangtua dan mertuanya juga, paling tidak bercerita sebelum memutuskan.
"Pasti setuju." Tori tampak yakin.
__ADS_1
"Persiapkan diri untuk handle Unagroup juga Chie, ajari Tori." kata Steve pada calon menantunya.
"Hahaha Papa, aku saja masih belajar." Richie terbahak.
"Kamu belajar sama Opon, Papamu saja Opon yang didik, kami semua banyak belajar sama Papa kamu." kata Steve terkekeh.
"Semoga bisa sebaik Opon dan Papa." jawab Richie tersenyum.
"Tori kuliah di Malang saja ya Papa?" pinta Tori, pokoknya Richie dimana, disitulah Tori mau lanjutkan kuliah.
"Kalau kalian sudah menikah, berarti lanjutkan di Malang." jawab Steve.
"Urus saja dari sekarang sebelum menikah, sesuai tahun ajaran baru." pinta Tori.
"Tunggu jawaban Opa dan Oma kamu, Papa tidak bisa memutuskan sendiri."
"Aku kan anak Papa, bukan anak Opa dan Oma." menggerutu kenapa harus Opa dan Oma turun tangan, kemungkinan ditolak dan diterima baru lima puluh persen kalau begini caranya.
"Sabar ya." Richie tertawakan Tori.
"Ichie, do you love me?" tanya Tori didepan Papanya, biar saja tidak tahu malu, hanya penasaran bagaimana perasaan Richie padanya saat ini.
"Jawab apa tidak Pa?" minta pendapat Papa Steve.
"Roti, aku pulang." kata Richie terkekeh setelah salami Papa Steve. Mama Ayu sedang pergi sama Opa dan Oma, hanya Papa Steve sendiri di rumah karena Tori minta ditunggu oleh Papa tadi waktu di jalan.
"Kenapa sih tidak mau jawab." Tori menggerutu.
"Masih saja bertanya." Richie menjentikkan jarinya di dahi Tori.
"Kan mau tahu."
"Ichie bisa drop Papa di rumah Opa Mario ya." kata Steve pada Richie.
"Bisa Papa."
"Aku ikut ya Papa." pinta Tori pada Papanya.
"Kamu istirahat saja." permintaan di tolak.
"Iya Roti kamu istirahat saja." kata Richie pada Tori.
"Papa sama Ichie mah begitu." bersungut hentakkan kaki dan masuk kekamar. Steve tertawa melihat kelakuan Tori.
__ADS_1
"Seperti itu kalau tidak diikuti, bagaimana bisa handle?" tanya Steve menepuk bahu Richie.
"Bisa dong, sebelas dua belas sama Baen." jawab Richie tertawa.
"Chie, nanti kamu ikut saja saat Papa bahas sama Opa dan Oma ya." kata Steve setelah mereka berada di Mobil.
"Iya Pa." mantap tanpa rasa takut, ia sudah dekat dengan Papi Mario dan juga Papa Andi.
"Baik-baik nanti kalau bekerja di Malang ya, belajar yang serius. Kamu penerus keluarga, tumpuan harapan Opon itu." Steve nasehati Richie, seperti dirinya yang ikut urusi Unagroup.
"Ya Papa."
"Kalau dipikir-pikir kita ini kekurangan generasi penerus ya. Om Kenan beruntung ada kamu dan Nanta."
"Papa kan ada Kak Selin dan Tori."
"Ya semoga Tori dan kamu bisa membantu Papa nanti saat masuki usia pensiun."
"In syaa Allah Papa, sekarang fokus bekerja dan kuliah dulu ya kami."
"Ya terusi kuliah sampai setinggi mungkin, Chie. Bisa kok walau sudah menikah. Kita semua begitu, entah kenapa rombongan kami dipaksa menikah diusia muda."
"Papa di paksa?"
"Tidak juga sih, kita juga mau tanpa dipaksa." Steve tertawa.
"Seperti aku dan Tori." Richie ikut tertawa.
"Eh apa kamu mencintai Tori?" tanya Steve lanjutkan pertanyaan Tori tadi.
"Hihi Papa, kalau tidak cinta mana mungkin aku mau lepaskan kuliahku di Ohio, itu sayang sekali tidak diterusi. Papa tahu sendiri Amerika punya nama besar, walaupun kampus di Indonesia pun banyak yang bagus, tapi tidak bohong kan orang lebih memandang lulusan luar negeri?"
"Iya kamu benar, terima kasih loh mau bekorban demi Tori." Steve tertawa.
"Demi Papa dan Opon juga sih." Richie tersenyum.
"Tapi Tori memang alasan utama sih, aku galau waktu dia jalan sama teman prianya yang di S'pore." Richie tertawa.
"Sejak kapan jatuh cinta sama Tori?" tanya Steve.
"Sejak aku panggil Papa Steve Papa lah." jawab Richie bikin Steve terbahak, itu sih masa-masa cuwiwit, waktu Balen syuting iklan pertama kali di S'pore.
"Kamu sama Daniel sama saja ya." Steve masih saja terbahak.
__ADS_1
"Bang Daniel memberi contoh sih, jadi aku Ikutan deh." salahkan saja Daniel yang sedang asik tidur sambil berpelukan dengan Balen di kamar.