Because I Love You

Because I Love You
Sempurna


__ADS_3

"Jadi ikut, Bang?" tanya Ichie hubungi Lucky via telepon, sementara Lucky sedang ijin sama Nanta dan Dania mengajak Kia cari jajanan.


"Kia mau dirumah saja, paling nanti aku sama Kia cari jajanan dekat-dekat sini." jawab Lucky.


"Tidak apa nih kita tinggal?" tanya Ichie lagi, tidak enak hati tinggalkan Lucky dan Kia.


"Santai, aku temani Kia saja, Chie." jawab Lucky.


"Woi, jatuh cinta lu lama-lama." teriak Redi bikin Lucky terbahak mendengarnya. Untungnya ia tidak loudspeaker handphonenya hingga Kia dan yang lainnya tidak dengar teriakan Redi.


"Temani Kia terusss." goda Redi lagi, kembali Lucky terbahak. Ia sendiri masih bingung perasaannya dengan Kia bagaimana, rasanya tidak lebih dari saudara, begitu pikir Lucky. Tapi kalau ada yang menggoda tentang Kia, Lucky langsung saja tertawa, Lucky juga tidak tanggapi serius niat Winner jodohkan Lucky dengan gadis yang selalu membuatnya rela temani jika sedang tidak banyak kerjaan dikantor.


"Siapa tuh, Om?" tanya Kia pada Lucky.


"Ichie sama Redi." jawab Lucky tersenyum lebar kemudian lanjutkan pembicaraannya dengan Richie, tidak lama...


"Kamu tidak mau bergabung nih, Om Ichie mau bicara." Lucky serahkan handphonenya pada Kia.


"Iya Om, aku temani Ante Baen saja." jawab Kia langsung saat mendapat pertanyaan dari Richie.


"Tori dan Ulan juga maunya temani Baen, tapi tadi Mamon suruh ajak pergi biar Baen bisa istirahat." jawab Richie.


"Ya sudah Om ajak pergi saja Kak Tory dan Ante Ulan, aku tidak ganggu Ante kok." Kia terkekeh.


"Kita tinggal hari ini di Ohio, besok sudah kembali ke Jakarta loh. Kamu masa dirumah saja selama di Ohio." bujuk Richie agar Kia mau ikut bergabung, semakin ramai pasti semakin seru.


"Kia berangkat kali ini memang ingin hadiri acara Ante kok bukan jalan-jalan." jawab Kia tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah jangan salahkan Om Ichie loh ya kalau kita punya foto seru dan kamu tidak ada difoto." kata Richie lagi, jangan sampai nanti Bang Raymond juga komplen karena ternyata Kia hanya di rumah saja.


"Iya Om, memang Kia malas jalan-jalan, paling nanti kalau Ante sudah tidak pusing kita mau main salju." jawab Kia mantap.


"Kamu mau main salju dimana?" tanya Richie.


"Kata Ante Baen semalam di seberang jalan, Oma juga mau." jawab Kia.


"Aku ikut." teriak Tori yang juga ingin main salju.


"Iya, nanti susul kita saja." jawab Kia tertawa.


"Mana bisa main salju, kita kan mau pergi." kata Richie pada Tori.


"Perginya jangan jauh-jauh Om." Kia yang menjawab.


"Oke lah." jawab Richie pasrah.

__ADS_1


"Ayo." aja Lucky saat Kia serahkan handphonenya kembali. Richie sudah matikan sambungan telepon.


"Kalian berdua saja?" tanya Nanta.


"Iya, hanya cari jajanan kok." jawab Lucky .


"Kia jangan terlalu dimanja, Luck. Nanti dia ketergantungan sama kamu." Nanta ingatkan Lucky.


"Sudah ketergantungan." jawab Kia pasang wajah mewek. Nanta dan Larry tertawa dibuatnya.


"Dia sudah mau dinikahkan tuh." tunjuk Nanta pada Lucky.


"Tidak boleh." jawab Kia tanpa sadar memeluk Lucky, seakan Lucky hanya milik Kia.


"Eh bukan muhrim." teriak Dania lihat Kia memeluk adiknya, sementara Lucky terbahak sambil merangkul Kia, tidak pedulikan protes kakaknya.


"Manta, jangan ijinkan Om Lucky menikah ya, please." pinta Kia pada Dania.


"Memangnya Manta siapa, Mama dan Papa pengambil keputusan bukan Manta." jawab Dania monyongkan bibirnya.


"Mau dijodohkan sama siapa sih aku, Kak?" tanya Lucky pada Dania, penasaran juga dengar akan dinikahkan tahun ini sama Mama dan Papanya.


"Tidak tahu, belum ngobrol jelas sih, baru sambil lewat " jawab Dania.


"Kamu pacari anak gadis orang terus sih, tidak pernah serius sementara umur kamu terus bertambah." jawab Nanta tertawakan Lucky.


"Namanya juga anak muda." Lucky terkekeh.


"Sudah tidak muda dong, Ichie saja yang lebih muda sudah mau menikah, itu jadi beban buat Papa." Nanta nasehati Lucky.


"Yah dari pada dipaksakan tapi ujungnya berpisah, lebih baik sabar dulu." kata Lucky pada Nanta.


"Yah mending menikah tapi tidak berpisah dong." jawab Dania tertawa.


"Kalau cocok ya tidak akan berpisah." jawab Lucky.


"Mana ada yang seratus persen cocok, pasti ada saja masalah dalam rumah tangga." jawab Dania.


"Kamu curcol?" Nanta menggoda istrinya.


"Bukan curcol tapi realita." jawab Dania tersenyum pada suaminya.


"Ilmu tuh Bang." kata Lucky pada Daniel.


"Iya dari tadi sudah ditraining sama senior." jawab Daniel terbahak.

__ADS_1


"Niel, Baen suruh kamu pulang nih." kata Larry yang baru saja terima telepon dari Balen.


"Kenapa telepon Abang?" tanya Daniel heran.


"Mau telepon siapa? kamu bawa handphone?" tanya Larry sok galak. Daniel langsung terbahak ingat dirinya tidak bawa handphone karena lagi di isi daya di kamar.


"Baru sebulan jadi suami sudah pelupa, tertekan batin sama adek gue, Niel?" tanya Nanta bikin semua terbahak.


"Ngomong jangan sembarangan, istri gue sempurna tuh." jawab Daniel bikin semua kembali terbahak. Ia segera tinggalkan semua dan kembali Ke rumah.


"Beruntung sekali Ante Baen, tidak bisa masak saja masih dibilang sempurna sama Om Daniel." kata Kia ketika Daniel sudah keluar dari rumah.


"Kamu juga sempurna." jawab Lucky terkekeh.


"Rayu terus anak gue, dikasih harapan terus nanti elu nikahnya sama orang lain." Nanta menatap Lucky tajam.


"Ngomong apa sih Panta." Kia monyongkan bibirnya.


"Kurang jelas yang Panta bilang?" tanya Nanta.


"Ya jelas sih, tapi Om Lucky tidak kasih harapan sama Kia kok." Kia membela Lucky yang naikkan alisnya pada Nanta.


"Tapi kamu ketergantungan, nanti kalau Lucky menikah sama orang lain bagaimana?" tanya Nanta.


"Tidak boleh." jawab Kia cepat.


"Bolehnya sama siapa? Kamu?" tanya Nanta lagi.


"Panta ah, ngaco." ketus Kia sementara Lucky tertawa saja mendengarnya.


"Aku menikah kalau Kia sudah ada yang jaga deh." jawab Lucky.


"Duh mulia sekali kamu Lucky." Dania tertawa mendengarnya.


"Lah bukan mulia, memang belum ada jodohnya." jawab Lucky.


"Pulang dari sini sudah ada jodohnya kok." jawab Dania senyum-senyum.


"Secepat itu?" tanya Kia.


"Yah mau sampai kapan main-main. Winner saja sudah gendong anak, sebentar lagi Balen, Ichie menyusul. Redi sudah mulai usaha dekati Ulan. Lucky cuma menjaga kamu saja, dulu punya pacar masih bisa luangkan waktu untuk kamu Kia, kalau Lucky sudah menikah tidak bisa seperti ini, dia harus konsen sama keluarga dan pekerjaannya." Dania mengoceh panjang lebar. Kia jadi garuk kepala padahal tidak gatal


"Ayo nanti keburu siang." ajak Lucky lihat ekspresi Kia berubah, entah apa yang ada dalam pikiran Kia. Lucky juga sedang berpikir keras mendengar ucapan kakaknya barusan, kepikiran siapa yang akan dijodohkan dengannya nanti, bisa tidak calon istrinya menerima kedekatannya dengan Kia nanti. Larry dan Rumi senyum saja lihat keduanya sedikit melamun.


"Ayo Om." jawab Kia tidak bersemangat, sebenarnya sudah tidak mood mau cari jajanan, tapi mendengar ocehan Panta dan Manta tidak kuat juga rasanya.

__ADS_1


__ADS_2