Because I Love You

Because I Love You
Tamu


__ADS_3

"Kia, Baen lagi program hamil anak perempuan nih, baru mulai kemarin." lapor Balen pada Kia saat di kantor.


"Nambah lagi Ante? yakin?" tanya Kia, Balen anggukan kepalanya sambil senyum senang.


"Kalau dapatnya laki-laki lagi bagaimana?" tanya Kia.


"Ya rejeki Oma Nina deh punya buyut laki-laki semua." Balen terkikik geli.


"Ante sama Om Daniel tidak kecewa kalau laki-laki lagi?" tanya Kia.


"Ndak lah, niatnya kan mau senangkan Papon biar punya cucu perempuan, tapi kalau Allah kasih laki-laki ya tetap bersyukur, C's manis-manis banget kelakuannya aja, Baen sama Aban Daniel sudah sangat bersyukur." jawab Balen.


"Iya sih itu yang paling penting ya Ante, bersyukur. Kia juga sudah lepas KB biar punya anak lagi. Nambah satu lagi saja." Kia tersenyum.


"Ndak sekalian program anak perempuan biar sepasang?" tanya Balen, Kia gelengkan kepalanya.


"Ay ay maunya laki-laki Ante, tapi kalau dapatnya perempuan ya tidak masalah juga." jawab Kia.


"Hari ini kita sibuk ndak?" tanya Balen.


"Seperti biasa, Aca sama Bari saja yang sibuk, kita santai." jawab Kia terkekeh.


"Kecuali ada masalah di dalam ya Ante, kita yang turun." lanjut Kia lagi.


"Masalahnya apa biasanya?" tanya Balen.


"Beberapa kali ada tamu suite house yang komplain minta langsung bertemu bos besarnya, waktu jaman Ay ay sih." lapor Kia.


"Tamunya pasti cewek." Balen cekikikan.


"Ih Ante kok tahu?"


"Ya tebak aja kok bukan tahu." Balen tertawa.


"Jangan bilang itu orang cuma mau bertemu suami Kia deh." sungut Kia.


"Hahaha kali aja, mau ketemu Bos ganteng."


"Ih, Ante."


"Sudah lewat juga kan? bercanda." kata Balen.


"Tapi Kia kepikiran jadinya." sungut Kia.


"Hahaha Kia, cemburunya terlambat."


"Iya sih, dulu tidak kepikiran." Kia tertawa.


"Nanti kalau ada komplain begitu kita cek dulu tamunya cewek atau cowok." Balen senyum-senyum jahil.


"Kalau cewek?" tanya Kia.


"Bari atau Aca aja yang maju, kita tetap santai." dasar Balen mengandalkan anak-anaknya.


"Ante ih, mereka itu sudah sibuk."


"Ya kalau begitu kita doakan semoga ndak ada yang komplain." jawab Balen terkekeh.


"Ante ngobrol terus nih, tuh sudah di tanda tangan belum, baca dulu Ante." Kia tunjuk berkas di meja Balen.


"Sudah Kia, biar tukang ngobrol juga kalau urusan kerja diutamakan." jawab Balen, Kia anggukan kepala sambil senyum senang. Selama Balen bekerja, mereka selalu seruangan atas permintaan Balen, kecuali ada urusan lain yang haruskan Kia kembali keruangannya, misalnya kunjungan dadakan dari Lucky yang mengintip istrinya menjelang makan siang.


"Ijin bu, ada tamu yang minta bertemu Ibu Balena." lapor Ana sekretaris Balen yang masuki ruangan Balen.


"Tamu?" Balen sedikit heran, karena tidak ada janji dengan siapapun. Lagipula urusan dengan perusahaan yang akan bekerja sama dengan hotel mereka itu sudah di handle oleh Aca dan Bari.


"Ya mereka menunggu di penthouse 5." jawab Ana, Balen mengerutkan keningnya.


"Ana, siapa tamunya? Kenapa saya harus temui mereka di penthouse, bukan mereka yang kesini? Apa Pak Lucky juga temui tamu di kamar yang sudah mereka sewa?" tanya Balen.


"Kalau tamu penting, kadang iya." Kia wakili Balen.

__ADS_1


"Tapi ini siapa? ndak mungkin kan main temui aja tanpa janji." Balen bersungut.


"Yang sewa Penthouse biasanya tamu khusus Ante." bisik Kia.


"Siapa nama tamunya?" tanya Balen.


"Masalahnya kamar disewa bukan atas nama tamu Bu, bahkan tadi saat ditanya tidak mau sebut namanya." jawab Ana.


"Panggil Pak Aca atau Bari untuk temani saya ke Penthouse 5." pinta Balen pada Ana.


"Siap bu." Ana segera keluar ruangan.


"Kenapa tidak minta temani Kia?" tanya Kia pada Balen.


"Kia juga ikut nanti." jawab Balen.


"Ya mending kita berdua saja, untuk apa Aca juga ikut?"


"Masalahnya kalau ternyata yang kita temui laki-laki, itu akan jadi fitnah Kia. Belum lagi kalau ternyata hidung cemong." jawab Balen bikin Kia terkikik geli.


Bu, Pak Aca baru saja sampai Loby, sementara Pak Bari sedang keluar kantor." lapor Ana lagi.


"Ya sudah kita tunggu Aca di depan lift, ayo Kia." ajak Balen tersenyum pada Kia dan juga Ana.


"Kalau ternyata tamu komplain bagaimana Ante?" tanya Kia.


"Pasti Ana sudah bilang dari awal kalau tamunya komplain, ini hanya minta bertemu. Duh kok ndak kaya yang lain ya kalau mau bertemu owner tuh harus bikin janji dulu." kata Balen sambil tertawa.


"Harusnya begitu Ante, tapi ini Ante tidak menolak." Kia ikut tertawa.


"Habisnya tamu di penthouse kata Kia tamu penting." jawab Balen.


"Kira-kira dia mau apa?" tanya Balen.


"Mungkin mau ajak kerjasama." jawab Kia.


"Kalau urusan kerjaan harusnya ndak kaya gini." protes Balen.


"Ante keberatan tapi tetap mau temui. Tolak saja."


"Huah capek, panas betul diluar." Aca menghela nafas saat pintu lift terbuka dan melihat Balen dan Kia berdiri didepan lift, keduanya masuk menyusul Aca.


"Langsung?" tanya Aca pada Balen.


"Iya."


"Duh Haus." Aca memegang tenggorokannya.


"Kenapa ndak minum dulu di bawah?" tanya Balen.


"Baru turun mobil sudah ditelepon Ana minta segera." jawab Aca.


"Ya sudah sana minum dulu." Balen menahan pintu lift.


"Iya sebentar ya." ijin Aca, ia benar-benar haus. Daripada nanti dehidrasi lebih baik minta waktu sebentar ambil minum di pantry. Setelah minum sebentar, Aca kembali hampiri kedua anggota keluarganya.


"Bagaimana tadi?" tanya Balen.


"Deal minggu depan di ballroom, kurang lebih seribu orang." jawab Aca.


"Acara pernikahan?" tanya Balen.


"Santunan anak yatim." jawab Aca.


"Kasih rate khusus ya." pinta Aca pada Kia, urusan harga keputusan ada di Kia.


"Kan sudah deal." Kia pandangi Aca.


"Iya mereka sih tidak minta rate khusus, tapi ini kan acara santunan." jawab Aca.


"Ya ikut santunan saja, siapkan goodybag hotel sebanyak seribu." jawab Kia, "Oke kan Ante, Ayang biasa begitu." lanjut Kia lagi.

__ADS_1


"Oke." Balen anggukan kepalanya tanda setuju.


"Kasih juga rate khusus." tegas Balen.


"Tuh big boss yang ambil keputusan, aku juga ok kalau begitu." kata Kia. Mereka pun tiba di depan pintu penthouse Lima yang sedikit terbuka, tidak ditutup rapat. Aca menekan bel dipintu, tidak langsung masuk.


"Selamat siang." sapa Aca saat seorang gadis muncul bukakan pintu.


"Sebentar, Mamaaaa... Tante Balena sudah datang." teriak gadis tersebut yang rupanya sudah mengenali wajah Balen, panggil Tante, Balen jadi pandang-pandangan sama Kia dan Aca.


"Waaah silahkan masuk, Baen." sambut wanita yang mungkin seumuran Daniel, ia persilahkan masuk. Balen, Aca dan Kia tambah bingung.


"Ini Kia ya." loh malah kenal Kia.


"Maaf..." belum selesai Balen bicara dia langsung memeluk Balen.


"Baen ya ampun kamu pasti lupa deh, Jelita cucu Popo Ame."


"Ya Allah, Aban Chico?" Balen memastikan, Jelita cucu angkat Erwin dan Enji sahabat Ayah Eja.


"Maaf Kak Jelita, Baen lupa, Kakak bukannya di Inggris ya?"


"Iya ini baru sampai." Jelita tersenyum, "maaf ya main minta bertemu kamu saja, tidak tahu nomor handphone sih, Kia kamu juga lupa sama Kakak?" tanya Jelita pada Kia.


"Iya, lupa banget. Kak Jelita di Inggris kelamaan dari Kia kecil sampai sekarang baru pulang." Jelita tertawa.


"Ini oleh-oleh ya gadis Inggris." Jelita tunjuk anaknya. "Kate, Salam sama Tante dan Om." Aca dipanggil Om jadi garuk kepala. Kate langsung menyalami ketiganya.


"Suami kakak orang Inggris?" tanya Balen, Jelita anggukan kepalanya sambil tertawa.


"Mana orangnya?" tanya Balen penasaran.


"Tadi lagi mandi, sebentar ya." Jelita tersenyum.


"Aban Chico punya hotel, Kak Jelita malah menginap disini." kata Balen sebut Ayah Jelita.


"Justru Ayah yang minta supaya menginap disini dulu biar bertemu kamu, Kate mau kursus berenang nih, terima murid tidak?" tanya Jelita.


"Waduh Kak Jelita kenapa minta Baen." Balen tertawa.


"Kata Popo anak kamu juara berenang dan tennis."


"Iya sih." Balen nyengir.


"Nah Kate juga mau, iya kan sayang?" tanya Jelita pada Kate.


"Iya." Kate anggukan kepalanya dengan wajah berharap.


"Nanti kakak tinggal dimana?" tanya Balen.


"Dekat rumah Popo." jawab Jelita.


"Oh kalau begitu Kate sore bisa belajar sama Cadi anak Baen ya, tiap pulang sekolah dia pulang ke rumah Papon. Bagaimana? kalau Baen ndak sempat, tapi Cadi bisa kok." Kate kembali anggukan kepalanya.


"Tanya Cadi dulu Baen."


"Iya nanti kita tanya, Bisa gantian Chandra atau Charlie yang ajari." lanjut Balen lagi.


"Kak Jelita sudah kenal ini Aca anak Aban Nanta." Aca tersenyum ketika namanya disebut.


"Duh dulu yang masih bayi sepertinya." Jelita tertawa.


"Kakak sih kelamaan di Inggris."


"Iya ini pulang juga mau perpanjang surat-surat."


"Hello..."


"Nah ini Smith suami kakak." Jelita kenalkan suaminya pada ketiga tamu dihadapannya.


"Salam kenal." katanya ulurkan tangan, mereka saling bersalaman.

__ADS_1


"Balena yang punya hotel, Ini Kia anak Om Raymond, Ini Aca anak Nanta." Jelita kenalkan ketiganya pada suaminya.


"Sayang nanti yang ajari Kate berenang mungkin anaknya Balen, seperti yang kamu bilang mau Kate seperti anak-anak Balen, langsung disuruh Mamanya ajari Kate berenang." begitulah reuni Balen, Kia dengan Jelita. Obrolan mereka menyambung kesana kemari hingga sore dua jam kedepannya.


__ADS_2