Because I Love You

Because I Love You
Cerewet


__ADS_3

"Kok lama?" tanya Balen saat Daniel masuk kedalam mobil, selalu setiap mengantar anaknya ke sekolah hanya Daniel yang turun sampai ke kelas, Balen memilih menunggu di Mobil.


"Tadi Cayi minta pindah kelas, tidak mau sekelas sama Chandra." lapor Daniel mulai lajukan kendaraan.


"Bisa pindah Aban?" tanya Balen pada Daniel.


"Bisa dong, benar juga sih memang sebaiknya mereka pisah kelas, biar bersosialisasi, tidak hanya berdua-duaan saja." kata Daniel lagi. Balen anggukan kepalanya setuju.


"Kenapa baru minta pindah sekarang ya? apa karena tadi Cadi komplain?" tanya Balen ingin tahu.


"Bukan, ternyata teman-teman mereka suka bandingkan mereka berdua, Cayi risih katanya." Daniel menjelaskan pada istrinya sambil fokus kemudikan kendaraannya.


Perjalanan pagi ini menuju Balena Hotel seperti biasa agak tersendat, di Jakarta berangkat shubuh saja sudah sangat ramai, apalagi berangkat setelah sarapan bersama keluarga dirumah, tidak macet total saja sudah sangat bagus. Untungnya sekolah anak-anak dekat dengan rumah Papa James sehingga mereka tidak merasakan macetnya ibukota.


"Aban, minggu jadi ya undang Aban-aban kita?" tanya Balen, maksudnya geng kwartet, Nanta, Larry, Doni dan Mike.


"Boleh, kita kan belum bertemu mereka." jawab Daniel tersenyum senang, ia juga sangat dekat dengan para sahabat Abangnya.


"Aban yang telepon apa Baen?" tanya Balen.


"Kamu saja sayang, pasti lebih seru." Daniel masih fokus menyetir menuju Balena Hotel.


"Aban yang telepon juga seru, Baen tuh udah ndak sebawel dulu loh." katanya bikin Daniel tertawa.


"Betul ndak Aban?" tanyakan pada Daniel. Daniel memandang sekilas pada istrinya sambil tersenyum lebar.


"Ndak setuju ya?" tanya Balen nyengir.


"Iya kamu sekarang lebih dewasa." jawab Daniel akhirnya.


"Ndak nyangka anak kita aja udah tiga, bawelnya Baen pindah ke Cadi ya Aban." Balen terkekeh.


"Sedikit." kata Daniel berikan contoh dengan telunjuk dan jempolnya.


"Ih Aban." menepuk bahu suaminya gemas sendiri, Daniel tertawa sambil mengacak anak rambut istrinya.


"Jadi Bos hotel sekarang si bawel." kata Daniel dengan senyum melebar.


"Makasih ya Aban, ijinkan Baen kerja." kata Balen mengusap punggung suaminya yang sedang menyetir.


"Iya sayang, semua sudah kamu repotkan mana mungkin Abang tidak ijinkan."


"Baen ndak enak juga titip anak-anak sama Opa, Oma, Papon dan Mamon." Balen menghela nafas.


"Itu permintaan Papa dan Mama kok, lagipula Chandra dan Cayi sudah tidak merepotkan, Cadi juga begitu kata Papon. Anak-anak kita sudah lumayan mandiri sayang."


"Aban nanti ke dokter kandungan ya, Baen mau konsultasi."


"Kamu hamil?" tanya Daniel.


"Ndak Aban, tiga aja udah cukup." kata Balen pada Daniel.


"Tapi Papon mau cucu perempuan." Daniel ingatkan Balen.


"Yah kalau Baen hamil lagi juga belum tentu perempuan yang keluar, terus kerjaan Baen bagaimana Aban?" tanya Balen pada Daniel.

__ADS_1


"Di Ohio lagi hamil dan mengasuh duo bocah saja kamu sanggup, sekarang C's sudah tidak diasuh hanya perlu diawasi." kata Daniel.


"Aban mau kita tambah anak lagi?" tanya Balen.


"Kalau Allah mengijinkan kenapa tidak, lagian Abang kepikiran omongan Papon, niatkan saja bahagiakan orang tua." jawab Daniel nyengir.


"Aban..." Balen menghela nafas.


"Kalau kamu tidak mau, tidak usah." kata Daniel lagi.


"Punya anak terus bisa saingan sama kucingnya Oma." Balen terkikik geli ingat piaraan Oma di Ohio yang terus bertambah.


"Ini kan tidak naik ke plafon melahirkannya, jadi tidak bikin tetangga jengkel." jawab Daniel keduanya tertawa bersama.


"Nanti tanya dokter juga deh, bisa ndak diprogram bikin anak perempuan, Baen takut pas lahir laki-laki lagi, kalau kecewa malah dosa loh." kata Balen pandangi Daniel.


"Iya konsultasi dulu saja." jawab Daniel.


"Baen juga ndak tahu sekuat dulu apa ndak. Di Ohio kita ndak kena macet kan? jadi ndak stress dijalan." kata Balen tertawa.


"Nikmati saja, Abang tidak memaksa kamu harus hamil kok, kamu ke dokter kandungan mau konsultasi apa?" tanya Daniel.


"Tadinya mau konsultasi KB yang aman supaya ndak hamil." jawab Balen nyengir.


"Kemarin waktu menginap di hotel tidak minum pil kb?" tanya Daniel.


"Baen ndak suka minum pil." jawabnya.


"Itu masa subur kamu sayang, Abang kira Baen minum pil rutin selama di Jakarta." Daniel jadi khawatir.


"Iya kan Abang ingat itu tapi Abang malah lupa ingatkan kamu untuk minum pil kb." kata Daniel pandangi Balen.


"Ndak apa, kalau hamil ya jalani, ndak juga ndak masalah." Balen tersenyum tanpa gusar.


"Jadi kamu siap hamil lagi?" tanya Daniel.


"Kalau Allah kasih berarti harus siap." jawab Balen nyengir.


"Istri siapa sih ini pintar betul." daniel terkekeh.


"Istrinya Daniel Prawira, mau kenalan?" tanya Balen.


"Tidak, nanti Balena Putri Kenan cemburu." jawab Daniel tertawa. Sudah punya anak tiga mereka masih cemburuan loh.


"Eh iya jangan deh, Daniel Prawira juga cemburuan." bisik Balen pada suaminya kemudian mengecup rahang Daniel yang lagi menyetir.


"Sayang jangan mancing-mancing."


"Cuma cium rahang kok bukan cium leher." jawab Balen terkikik geli.


"Aban nanti hari minggu mau pesan catering, Warung Elite atau makanan hotel?" tanya Balen minta pendapat.


"Warung Elite pasti Abang-abang bosan karena hampir setiap saat mereka berkumpul disana." jawab Daniel pada Balen.


"Catering aja?" tanya Balen lagi.

__ADS_1


"Cheft hotel kamu masakannya enak juga loh, Abang-abang sudah pernah coba belum ya, coba kamu tanya Abang Nanta atau Abang Leyi." kata Daniel pada istrinya.


"Nanti dikantor Baen tanya atau ndak Baen aja yang masak." Balen tawarkan diri, Daniel langsung gelengkan kepalanya.


"Masakan Baen ndak enak ya?" tanya Balen.


"Enak, tapi kamu pasti capek, karena setelah masak harus menerima tamu." Daniel beritahukan Balen, Daniel ingat


C's kalau dekat Mama dan Papanya suka sekali ajak ngobrol, bahkan Cadi kalau Balen sedang masak ikut menemani di dapur. Ia ajak Mamanya bicara terus. Daniel pikir walaupun ada tamu tapi kesempatan fokus bermain sama C's tetap terlaksana.


"Aban takut Baen ndak bisa perhatiin C's?" tanya Balen.


"Iya, kalau kamu capek waktu ngobrol dengan mereka pasti berkurang." Daniel sampaikan pendapatnya.


"Iya sih, tapi bagaimana pesan apa?" Balen jadi bingung.


"Nanti kita tanya Leyi." jawab Daniel nyengir, repotkan Leyi saja pikirnya.


"Aban nanti kita survey makanan enak yuk." ajak Balen.


"Kamu tahu harus survey kemana saja?" tanya Balen.


"Nanti Baen tanya Kia sama Aca, ngomong-ngomong mereka mau diundang ndak?" tanya Balen.


"Undang saja kalau mereka mau." jawab Daniel, makin ramai justru makin seru.


"Nanti tanya Aban juga deh, kita ajak menginap di sini saja bagaimana?" tanya Balen lagi.


"Boleh, saatnya bekerja, kita sudah sampai sayang." kata Daniel siap turunkan Balen di lobby.


"Aban ini masih pagi banget." kata Balen pada Daniel.


"Terus bagaimana?" tanya Daniel melirik jam dipergelangan tangannya.


"Aban ada rapat ndak pagi ini?" tanya Balen, Daniel gelengkan kepalanya.


"Boleh datang siang?" tanya Balen.


"Bebas." jawab Daniel.


"Istirahat di kamar dulu yuk Aban, mobilnya kasih mereka aja suruh parkirin." kata Balen tunjuk beberapa staff yang berdiri di lobby.


"Dikamar tidak istirahat loh." kata Daniel pada Balen.


"Ndak masalah." jawabnya centil.


"Abang tidak bawa pengaman dan sekarang masih masa subur kamu."


"Ih Aban cerewet, ayo Aban."


"Jangan salahkan Abang ya." masih saja mengoceh.


"Iih iya." malah mengusap milik Daniel tanpa beban.


"Aih istrinya Daniel nih benar-benar." Daniel gelengkan kepalanya dan langsung turun dari mobil, serahkan kunci kepada petugas yang sudah dikenalnya, selanjutnya Daniel dan Balen langsung menuju kamar mereka di rooftop, gunakan lift khusus, jangan salahkan Daniel juga didalam lift dia sudah mulai beraksi, salahkan saja Balen yang pagi-pagi sudah bikin kelakuan.

__ADS_1


__ADS_2