Because I Love You

Because I Love You
Curiga


__ADS_3

"Aban, tadi cukup ndak lauknya?" tanyakan pada Daniel saat keduanya berada di Kamar. Opon meminta mereka semua untuk tidur siang, seperti waktu masih kecil saja.


"Cukup, sayangku." jawab Daniel cengar-cengir, Baru kali ini Balen siapkan Daniel makan, sebenarnya tadi ia juga risih di siapkan Balen, Daniel terbiasa siapkan sendiri bahkan menyiapkan Balen.


"Aban senang, ndak." tanya Balen lagi.


"Senang dong."


"Baen siapin terus deh mulai tadi kalau Aban makan." kata Balen bikin Daniel dekati istrinya dan langsung memeluknya.


"Asal kamu tidak repot." bisik Daniel tersenyum.


"Ndak kok." jawabnya balas memeluk Daniel.


"Aban, malam ini Baen bobonya sama Tori aja ya, boleh ndak?" ijin pada Daniel.


"Heh?" Daniel meringis pasang wajah sedih.


"Kasihan Tori tadi nangis karena kita sebentar lagi ke Ohio." membujuk Daniel.


"Abang sendiri dong." Daniel sedikit berat hati.


"Iya nanti Baen bolak-balik ke kamar sini deh." janji sama Daniel.


"Tidak usah nanti kamu malah tidak tidur. Temani Tori saja, tidak apa." Daniel akhirnya setujui Balen tidur bersama Tori malam ini.


"Nanti Baen suruh Ichie bobo sama Aban ya."


"Tidak usah sayang, Abang sendiri saja."


"Ndak apa, biar Ichie bisa lanjut curhat sama Aban." Balen terkekeh dan mengecup bibir Daniel.


"Pancing-pancing Aban?" Daniel kembali tersenyum.


"Emangnya Aban terpancing?"


"Hmm..." Daniel naikkan alisnya.


"Aban mah, ketagihan." Balen tertawakan suaminya.


"Memang kamu tidak?" Daniel mulai ******* bibir Balen tangannya mulai bergerilya.


"Aban..." Balen pun nikmati aksi suaminya, hingga tak lama Daniel berhenti.


"Sana temani Tori." katanya menepuk bahu Balen.


"Aah Aban pancing-pancing Baen." menggerutu karena tidak tuntas, Daniel tertawa dibuatnya.


"Nanti malam saja." jawab Daniel tertawa


"Iih harusnya Aban jangan pancing Baen dong." monyongkan bibirnya.


"Kalau sekarang nanti harus keramas lagi, sebentar lagi ashar. Mau?" tanya Daniel pada Balen.


"Ndak usah deh. Baen ke kamar Tori Aban ngapain?" tanya Balen pada Daniel.


"Urus pekerjaan dulu." jawab Daniel.


"Lagi libur malah urus kerjaan." kembali protes.


"Kalau tidak diurus nanti tidak dapat uang. Istri cantik aku mau dikasih makan apa?" jawab Daniel bikin Balen tersenyum dengan hidung kembang kempis.


"Aban, kalau Baen selesai kuliahnya lebih cepat kita pindah Jakarta, Aban mau berhenti bisnis di Ohio?" tanya Balen pikirkan pekerjaan suaminya.


"Tidak, itu kan sudah running dan sudah ada hasilnya kenapa harus berhenti, teruskan saja. Cuma Abang harus cari orang yang bisa handle saat barang datang untuk distribusikan ke market."

__ADS_1


"Ada ndak orangnya?"


"Ada." Daniel tersenyum.


"Siapa?"


"Hmm... siapa ya?" berpikir keras.


"Tadi katanya ada."


"Si Anne bisa sepertinya." jawab Daniel lagi.


"Ih, mereka sudah tahu ndak sih Aban sudah menikah?" tanya Balen.


"Belum ya, kan Abang tidak komunikasi sama mereka rutin, hanya kalau ada barang datang saja." jawab Daniel santai.


"Nanti Aban kasih tahu ndak?" tanya Balen.


"Kasih tahu dong." jawab Daniel cepat.


"Makasih Aban." langsung mengecup bibir suaminya.


"Sama-sama sayang." Daniel menangkupkan kedua tangannya pada pipi Balen lalu ******* bibirnya perlahan, kemudian melepaskannya.


"I love you." kata Daniel mengecup dahi istrinya.


"Baen apa lagi." jawabnya terkekeh. Daniel jadi senyum lebar dibuatnya, mengecup bibir Balen bertubi-tubi.


"Baen ke kamar Tori ya." ijin tapi tidak bergerak, minta di tahan sepertinya.


"Sana." ijinkan tapi tidak melepaskan pelukannya. keduanya jadi tertawa dengan kelakuan mereka sendiri.


"Aban ndak rela kan?" tanya Balen di Sela tawanya.


"Rela kok." tapi tetap menahan tubuh Balen, mereka kembali tertawa bersama.


"Lain kali saja ya, kali ini habiskan waktu sama keluarga dulu, mereka masih rindu kita." jawab Daniel, Balen anggukan kepalanya.


"Aban, Baen mau ajak Tori keliling." pikirannya keluar rumah saja.


"Opon suruh kita istirahat loh."


"Besok kita berangkat pagi ya?" tanya Balen pada Daniel.


"Sepertinya begitu." jawab Daniel.


"Kita menginap di Cirebon ndak?" tanya lagi.


"Terserah Mamon dan Papon saja." jawab Daniel.


"Aban nurut ya?" terkekeh.


"Iya dong, harus jadi menantu yang baik."


"Aban, nanti di Jakarta kita ajak anak-anak ke Dufan mau ndak?" bikin rencana baru.


"Tanya mereka saja mau apa tidak." jawab Daniel menurut saja.


"Harusnya sih mau, kan seru-seruan." jawab Balen terkekeh.


"Kalau Abang tidak bisa ikut, kalian saja ya. Abang harus urus surat menyurat dan juga harus urus pekerjaan. Papa ajak survey ke kebon jengkol. Belum lagi cek bahan Baku lain yang kita kirim untuk supermarket Indonesia di sana." Daniel jelaskan kesibukannya pada Balen.


"Ya udah."


"Tapi tidak boleh genit-genit ya." ingatkan Balen.

__ADS_1


"Kan sama anak-anak aja. Ndak genit lah."


"Nanti kalian undang bintang tamu lagi." Daniel memicingkan matanya.


"Siapa?" Balen tampak bingung.


"Alex dan sahabatnya."


"Ih itu sih Kia sama Belin." Balen terkekeh.


"Tapi mereka fokus sama kamu."


"Ndak kok."


"Kia kan bilang begitu."


"Nanti Baen bilang ndak usah ajak yang lain." Balen meyakinkan.


"Kalau bertemu disana bagaimana?"


"Ih Baen kan ndak bisa atur mereka kesana apa ndak." Balen jadi bingung sendiri.


"Aban ikut aja makanya." kata Balen kemudian.


"Tidak mau." Daniel gelengkan kepalanya.


"Aban mah. Baen kan bingung kalau begini." menggerutu.


"Ndak jadi ke Dufan deh kalau Abannya ndak yakin." Balen menarik nafas panjang.


"Eh merajuk ya?" Daniel pandangi Balen.


"Ndak, siapa yang merajuk. Baen ndak mau ribut-ribut aja." jawab Balen pandangi Daniel.


"Pergi saja tidak apa." Daniel terkekeh.


"Kalau ternyata ada orang lain yang ndak sengaja ketemu bagaimana?"


"Yang penting kamu cerita ya sama Abang. Lapor terus pokoknya selama disana."


"Ih Aban, belum tentu juga jadi ke Dufan." sungut Balen bikin Daniel terkekeh.


"Mau ke kamar Tori jam berapa?" tanya Daniel lagi.


"Sekarang." jawab Balen segera bergegas, keasikan ngobrol dengan suaminya malah bikin Balen ingin berlama-lama bersama Daniel di kamar. Lagi pula Daniel harus kerja.


"Aban jangan telepone cewek-cewek loh.' ingatkan Daniel.


"Kalau telepon juga urusan pekerjaan." jawab Daniel terkekeh.


"Pokoknya kalau ngobrol ndak jelas Baen marah." ancamnya lagi.


"Ih takut." Daniel langsung bergidik menggoda istrinya.


"Baen serius." katanya pasang wajah galak.


"Iya Ibu Baen." jawab Daniel terkekeh lalu peluki istrinya dari belakang, antarkan menuju pintu tanpa melepas pelukannya.


"Susah Baen jalannya Aban."


"Harus dipeluk terus biar tidak curigaan." kata Daniel terkekeh.


"Aban juga curiga-curiga." kata Balen tidak mau kalah.


"Masa sih?" Daniel mengecup pipi istrinya.

__ADS_1


"Ndak mau ngaku lagi."


"Abang tidak curiga, Abang cuma cemburu kalau ada yang lirik-lirik kamu." jawab Daniel kembali mengecup pipi istrinya, pelukannya belum juga dilepas padahal sudah didepan pintu kamar. Berat sekali mau melepas istrinya ke kamar Tori.


__ADS_2