
Daniel menarik nafas lega, akhirnya bisa tidur pulas setelah Balen tidak lagi minta digaruk. Obat gatal khusus Ibu hamil yang dibeli Noah sangat berguna. Ketika Daniel terjaga dari tidurnya, Balen masih tampak pulas. Kasihan juga semalam sebelum obat datang tidurnya gelisah.
"Aban jangan tinggalin Baen." rengeknya ketika Daniel beranjak dari tidurnya.
"Mau sholat shubuh dulu sayang." Daniel mengacak anak rambut Balen.
"Di rumah kan?" tidak lagi merengek tapi sedikit khawatir.
"Iya, ayo sholat." ajak Daniel ketika sudah selesai mandi dan berwudhu.
"Yah..." bilang yah tapi belum juga beranjak, masih mengatur mata yang kriep-kriep.
"Masih gatal?" tanya Daniel.
"Ndak."
"Ya sudah ayo mandi, nanti Abang pasangkan lagi obatnya." Daniel pandangi Balen, ia sudah rapi dengan sarung dan baju kokonya.
"Aban sholat duluan aja deh." kata Balen tidak mau ditunggu.
"Tidak dapat pahala berjamaah dong."
"Nanti Aban tunggu Baen lama."
"Mandinya jangan pakai nyanyi dan joget blackpink dong." goda Daniel membuat Balen terkekeh, tahu saja Daniel kalau Baen suka rusuh kalau lagi mandi bergaya artis di kamar mandi.
"Ayolah cepat." ajak Daniel seperti tidak sabar.
"Yah..." perlahan bangun dan segera menuju kamar mandi sesuai perintah suaminya. Sabar sekali Daniel tunggui Balen mandi dan keringkan rambutnya.
"Aban, kita mau ke Mesjid ndak?" tanya Balen saat sudah selesai mandi dan keringkan rambutnya.
"Kamu mau ke Mesjid?" tanya Daniel.
"Baen temani Aban, biar dapat pahalanya. Kan laki-laki sholatnya di Mesjid." kata Balen semangat.
"Abang saja yang temani Baen karena perempuan sholatnya dirumah." jawab Daniel bikin Balen cekikikan. Tidak jelas kalau begini caranya, jadinya bagaimana.
"Jadi gimana dong?" tanya Balen ambil mukenah dan bentangkan sajadahnya.
"Dirumah saja ya." Daniel ikut bentangkan sajadah menunggu adzan shubuh lalu dengarkan lantunan ayat suci dari aplikasi.
"Aban sejak di Ohio jarang ke Mesjid nih." gerutu Balen.
"Jauh yang." jawab Daniel.
"Baen ikut, ayuk." ajaknya pada Daniel.
"Hari ini tidak keburu, sebentar lagi adzan, sampai Mesjid sudah selesai yang sholat." kata Daniel mengingat jarak Mesjid dengan rumah mereka lumayan jauh.
__ADS_1
"Besok semoga keburu."
"Tumben kamu pengen sholat dimesjid?"
"Anak kita harus dikenalkan dengan lingkungan Mesjid kan Aban, biar rajin ibadahnya nanti." jawaban Balen bikin Daniel terharu, ternyata Balen pikirkan anak mereka yang mungkin masih sebesar biji kacang kedelai didalam perut.
"Ya, besok kita sholat di Mesjid." jawab Daniel mengacak pucuk kepala istrinya yang sudah kenakan mukena itu.
"Mau jalan pagi?" Daniel tawarkan Balen setelah mereka selesai sholat berjamaah.
"Dingin Aban." Balen gelengkan kepala.
"Tadi minta ke Mesjid, sekarang bilang dingin." Daniel tertawakan Balen yang ikut nyengir.
"Kan beda ke mesjid sama jalan pagi." jawabnya bikin Daniel jadi nyengir lebar. Suasana perumahan mereka memang sepi tapi cenderung aman dan bahkan lingkungan sekitarnya bikin nyaman, terlebih saat Adira tidak lagi mengganggu hubungan Daniel dengan Balen.
Siang harinya Balen hubungi Noah untuk ucapkan terima kasih karena sudah di bantu belikan obat semalam. Hari ini Balen tidak ada kelas, jadi ia duduk santai di rumah bersama Auntie Khiel, sementara Daniel sudah berangkat ke kantor setelah sarapan pagi tadi.
"Ucapan terima kasihnya harus dalam bentuk perhatian dong, kita lagi bertanding kamu kok santai saja, tidak mau jadi tim huraaaiiii kah?" tanya Noah setelah Balen sampaikan apa yang dirasanya.
"Supporter kalian kurang memangnya?" tanya Balen tertawa.
"Tidak ada yang seberisik kamu Balen." Noah terkekeh.
"Kalau sendiri agak sumbang nih suaranya, harus banyak yang jadi supporter. Kapan sih pertandingannya?" tanya Balen bermaksud mengajak Achara dan Althea, mereka bisa bikin suasana berisik walau hanya bertiga. Asal saja Achara tidak jahil keluarkan suara-suara erotis seperti saat mereka bercanda kumpul bertiga.
"Achara dan Althea ya, boleh?"
"Boleh, kalau perlu ajak keluarganya sekalian." jawab Noah serius.
"Noah aja yang ajak keluarga, tuh kakak Noah ajak tuh." kata Balen teringat Hilma.
"Kak Hilma? mana mau dia ikutan begini, bukan kelasnya dia lah." jawab Noah tertawa.
"Kelasnya Kak Hilma bagaimana?" tanya Balen.
"Dia miss sosialita Baen, acara receh seperti kita tidak akan mau."
"Ya ampun Noah keterlaluan, acara kita ndak pernah receh tahu." Balen tidak terima kegiatannya dibilang acara receh.
"Memang sih kita ndak harus dandan mentor kalau lagi nonton pertandingan, tapi banyak artis Hollywood tuh yang nonton kejuaraan basket, Baen juga bisa undang Jenifer Lopez untuk jadi supporter kita atau Justin Bieber kalau perlu." langsung nyerocos deh tuh Balen, sudah sehat jadi sudah bisa berisik lagi.
"Iya-iya baweel, tahan ya Bang Daniel hadapi kamu seperti ini." Noah tertawa.
"Memang Noah ndak tahan? berapa tahun kenal sama Baen coba?" memang benar-benar bawel.
"Karena selama ini kupikir single ya kutahan-tahan saja." jawab Noah terbahak.
"Ih makanya Baen ndak pilih Noah, ndak tulus sih." mencibir padahal Noah tidak melihat.
__ADS_1
"Enak saja tidak tulus." gantian Noah yang komplen.
"Itu bilangnya ditahan-tahanin karena pikir Baen single, setelah Baen punya suami langsung ndak tahan." Noah terbahak dengar gadis pujaannya mengoceh.
"Baen..." panggil Noah disela tawanya.
"Apa!" jawabnya galak, padahal tadi ucapkan terima kasih karena Noah sudah baik hati semalam.
"Kia seperti ini juga kah?" eh Noah tanyakan Kia.
"Kan Baen bilang kita seperti kembar." jawab Balen.
"Nanti kalau gue dekati Kia, bakal diambil Bang Lucky tidak?" tanya Noah pada Balen.
"Mana Baen tahu, dekati ya dekati aja, jodoh kan ndak tahu sama siapa." jawab Balen sesuai pemikirannya.
"Gue rada parno sih, nanti seperti kamu lagi tiba-tiba menikah sama Bang Daniel. Kia penyebab Kak Hilma patah hati loh."
"Memang masih patah hati?" tanya Balen.
"Masih, Bang Lucky bikin Kak Hilma cinta mati, tapi ya gitu lah." Noah menghela nafas.
"Kak Hilma terlalu cemburu sama Kia sih." Balen salahkan Hilma.
"Pasti ada api maka ada asap Baen." Noah terkekeh.
"Tapi Kia dan Ban Lucky ndak pacaran." jawab Balen jujur.
"Tapi Bang Lucky cinta Kia kan?" tanya Noah mencari tahu.
"Bang Lucky sih bilang ndak tuh, kalau dulu Bang Daniel kan memang cinta sama Baen." banggakan Daniel suaminya, hidung mulai kembang kempis.
"Duh gue bahas Kia Baen, bukan elu sama Daniel." dengus Noah bikin Balen terbahak.
"Noah..." Balen panggil Noah.
"Yes..." Noah menunggu Balen akan bicara apa.
"Aban Daniel itu cinta sejati tahu." masih saja banggakan Daniel didepan Noah, bikin Noah miris saja, tapi mau tidak mau berbesar hati mengingat sahabatnya ini tidak peka. Ya sekarang sebut saja sahabat bukan lagi pujaan hati.
"Bodo ah." Noah mendengus.
"Noah..."
"Ye, apa lagi?" suara mulai naik oktaf, malas jika Balen banggakan Daniel lagi.
"Natsi ya sama Kia?" tanya Balen pada Noah.
"Agak naksir sih, tapi mikirin Kak Hilma juga." Noah mendesah, pikirkan Kakaknya yang masih sakit hati dengan Kia.
__ADS_1