
"Pulang juga mereka." Lucky menghela nafas lega sambil membantu Kia bereskan sisa-sisa gelas minuman kemasan di meja tamu.
"Om jahat ih, main usir saja." protes Kia pada suaminya.
"Bima dan Aca besok pesawat pagi." Lucky sampaikan yang sebenarnya, tadi Dania sempat kirim pesan agar anak-anaknya disuruh pulang cepat, kakak yang pengertian.
"Saatnya kita tidur." Kia tersenyum senang saat apartment sudah tampak rapi kembali.
"Sambil pelukan." jawab Lucky bikin Kia nyengir, selalu saja menjurus-jurus.
"Om kalau mau peluk, sekarang saja." Kia rentangkan tangannya.
"Tumben..." Lucky terkekeh, sudah pasti senang karena Kia tiba-tiba minta dipeluk, mereka belum juga masuk kamar. Lucky sudah menghayal saja, kalau Kia begini terus nanti malam pasti akan berakhir indah. Ia langsung menyambut uluran tangan Kia dan mendekapnya erat.
"Kenapa kalau pelukan sama kamu rasanya tentram sekali ya?" gumam Lucky sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
"Masa?" tanya Kia tidak percaya.
"Benar sayang, kamu rasakan hal yang sama kah?" tanya Lucky ingin tahu, Kia anggukan kepalanya, tidak dipeluk Lucky pun asal ada Lucky didekatnya Kia sudah merasakan itu.
"Om, memang mau bikin anaknya kapan sih kita?" tanya Kia polos.
"Pertanyaan menggoda." Lucky terkekeh.
"Kia serius tanya, memang kita mau langsung punya anak ya?" tanya Kia lagi.
"Bikin sih bikin saja, nanti punya anak tergantung Allah, kan tidak langsung jadi juga, ada yang beberapa kali bikinnya, Maunya aku sih langsung jadi, tapi tetap harus bikin terus, kalau kamu?" Lucky balik bertanya sekalian modus ya bilang harus bikin terus.
"Terserah Allah juga, kalau bikinnya terserah Om, Kia mana boleh nolak karena dosa besar." walah ini sih bikin Lucky mau joget-joget rasanya.
"Bikin malam ini saja ya, mau?" tanya Lucky berharap.
"Tapi Kia tidak tahu caranya." jawab Kia polos. Lucky terbahak mendengar jawaban istrinya, apa Kia pikir bikin anak sama dengan bikin kue, memang disekolah tidak ada *** education apa, tentang pembuahan dan lainnya.
"Kamu diam saja, ikuti apa yang aku arahkan nanti ya." seperti membujuk bocah pakai permen. Senang akan lakukan malam pertama sebentar lagi, Lucky sedikit panik, perlu mandi lagi apa tidak.
__ADS_1
"Tidak usah mandi lagi kan Om?" tanya Kia pada Lucky, seakan tahu apa yang dipikirkan suaminya.
"Tidak usah, nanti saja setelahnya baru kita mandi wajib." jawab Lucky.
"Setiap kali begitu harus mandi? Kia belum hapal doanya Om." Lucky jadi nyengir, seharusnya kasih pembekalan buku doa dulu untuk istrinya.
"Iya sama seperti kamu selesai menstruasi, mau dihapalin dulu?" tanya Lucky, ia jadi seperti guru yang mengajari muridnya. Kia anggukan kepalanya, lalu segera mengambil handphonenya mengecek via internet doa yang harus dihafalnya.
"Butuh berapa lama untuk menghafal?" tanya Lucky.
"Tergantung, lagi konsen apa tidak." jawab Kia.
"Berarti tidak bisa bikin anak malam ini dong, kamu harus menghafal dulu kan?" tanya Lucky, ini seperti mau ujian pakai hafalan segala.
"Iya, Om marah tidak?" tanya Kia, Lucky langsung terbahak dibuatnya.
"Pernah ya aku marah sama kamu?" tanya Lucky, Kia terkekeh dan gelengkan kepalanya.
"Tapi kan bikin anaknya jadi tertunda, kalau suami marah, Kia jadi berdosa." katanya bergidik ngeri, Lucky terbahak dan ciumi dahi istrinya.
"Om kalau mau tidur, tidur saja. Nanti Kia kalau sudah hafal bangunkan Om." kata Kia pada Lucky.
"Janji ya, eh aku tidak mau berharap." Lucky terkekeh, menarik tubuh istrinya saat ia duduk disofa dan Kia duduk dipangkuannya.
"Om, ada yang nonjol-nonjol lagi." Kening Kia berkerut rasakan sesuatu saat duduk di pangkuan Lucky.
"Ini ada yang tidak sabar lagi mau bikin anak." Lucky menghela nafas, bikin malu saja adiknya Lucky ini.
"Jangan gerak-gerak, nanti tambah bangun dia." desah Lucky, bisa sakit kepala lagi kalau begini caranya.
"Kok bisa gitu sih Om, harus ke dokter ya?" tanya Kia.
"Justru Bagus sayang, kamu harus tahu kalau cowok sudah kepengen itu pasti langsung berdiri nonjol-nonjol." Lucky jelaskan pada Kia.
"Masa sih Om, berarti Dari sore tadi Om kepengen?" tanya Kia, pasrah saja Lucky mulai mengendusi lehernya lagi, Kia pun mulai panas dingin.
__ADS_1
"Mau coba sekarang ya?" bisik Lucky.
"Kan Kia belum hafal doa nya." jawab Kia dengan suara tertahan, tangan Lucky mulai bergerilya, toh Kia tadi sudah mau.
"Kamu ikuti aku ya..." Lucky mulai bacakan doa dan Kia mengikutinya.
"Nanti lama-lama juga hafal." kata Lucky lalu membalikkan badan Kia, hingga kini duduk berhadapan, milik mereka sudah bertemu satu sama lain.
"Terasa kan?" tanya Lucky dengan mata yang sudah berkabut, Kia anggukan kepalanya, nikmat tangan Lucky yang menjelajah kesana kemari, sesekali terdengar Kia mengerang. Lucky gerak cepat setelah dapat angin baik tadi.
"Bikin anak disini dulu ya?" ijin Lucky sambil membantu Kia membuka pakaiannya satu persatu.
"Kia malu Om." bisik Kia pejamkan mata tidak berani memandang wajah Lucky. Bikin gemas saja rasanya. Lucky tersenyum lalu tepukkan kedua tangannya seketika lampu ruangan menggelap, hanya ada sedikit cahaya dari balkon, hingga ruangan tidak gelap gulita. Selanjutnya hanya sedikit berusaha ajari istrinya dan seperti harapan Lucky semua berakhir dengan indah, walaupun Kia berisiknya bukan main tapi justru bikin Lucky tambah semangat.
"Sakit Om..." rengek Kia setelah aktifitas perdana mereka selesai dengan sempurna.
"Maaf sayang, nanti-nanti tidak sakit lagi kok." bisik Lucky, segera menggendong Kia menuju ke kamar, karena istrinya tampak lemas, padahal Lucky masih mau lagi.
"Jangan mandi dulu ya Om, Kia masih lemas." kata Kia benamkan wajahnya di dada Lucky, masih tidak berani pandangi suaminya karena malunya luar biasa.
"Hu uh." Lucky anggukan kepalanya, fokus letakkan Kia dikasur secara perlahan, mereka berdua sangat polos tanpa sehelai benang pun. Lucky ikut berbaring disebelah istrinya setelah mengecup dahi Kia sambil ucapkan terima kasih. Akhirnya Kia sudah seutuhnya jadi istri Lucky.
"Om, harus mandi malam ini juga ya?" tanya Kia beringsut mendekati Lucky lalu memeluk dan sembunyikan wajahnya di ketiak Lucky.
"Iya, sayang kenapa begitu?" tanya Lucky, bukannya tidak senang, tapi kalau Kia begini kan Lucky jadi mau lagi, karena dada Kia yang polos menyentuh kulit Lucky.
"Kia malu lihat muka Om Lucky." katanya, rupanya mau bersembunyi.
"Tapi aku kan jadi mau lagi." Lucky menghela nafas.
"Om kan tadi sudah."
"Ini bagaimana?" Lucky arahkan tangan Kia ke adiknya yang sudah berontak.
"Huaaa Om kok begini?" Kia jadi panik memegang sesuatu yang aneh untuk pertama kalinya, walaupun tadi sudah membuatnya teriak tidak karuan.
__ADS_1
"Tanggung jawab dong." bisik Lucky sambil arahkan tangan Kia bergerak manjakan adiknya Lucky, halah Lucky benar-benar jadi guru Kia malam ini.