
"Papon, I miss you so much." Balen hubungi Kenan via telepon.
"Me too darling, kamu kapan ke rumah?" tanya Kenan pada Balen.
"Besok ya Papon, Aban Daniel ajak Baen ke Malang bertemu Opon." kata Balen lagi pada Papon, mereka sudah di rumah Mama Amelia kini, tidak lagi menginap di hotel.
"Kapan mau ke Malang?" tanya Kenan pada Balen.
"Ndak tahu, masih mikir mau naik mobil apa naik pesawat." jawab Balen bingung
"Kalau naik mobil bisa mampir ke Cirebon tuh bertemu Om Samuel dan Om Deni sekeluarga." kata Kenan pada Balen.
"Iya, tapi Aban Daniel masih pikir dulu, Ichie juga kayanya ikut ya Papon."
"Ya boleh." Kenan setuju saja.
"Papon sama Mamon ndak mau ikut kah?" tanya Balen.
"Papon tanyakan Mamon dulu ya, apa mau ikut Ke Malang naik darat." kata Kenan pada Balen.
"Papon, kalau ikut semua kita bisa sewa Mobil Van luxury aja, lebih nyaman ndak pusing setir." kata Balen pada Kenan.
"Yah bisa juga begitu." Kenan lagi-lagi setujui keinginan Balen.
"Kita berlima aja Papon? Bima sama Aca ndak bisa diajak mereka sekolah, Aban juga sudah di Jakarta saat kita berangkat. Tania bobo mana sih? rumahnya apa rumah Papon?" tanya Balen cerewet.
"Tania selama Abang kamu di Malang dan anak-anaknya sibuk sama kamu, menginap di rumah Om Micko." jawab. Kenan tersenyum.
"Bima sama Aca berarti sekarang di Rumah Om Mito ya Papon?"
"Iya sayang."
"Papon, Baen sebentar lagi sudah ke Ohio lagi loh, Papon sedih ndak?" Daniel tertawa mendengar istrinya tanyakan itu pada Papanya.
"Tidak sedih, Papon senang dan lega sudah ada Daniel yang jaga kamu disana." jawab Kenan.
"Dari dulu juga Aban Daniel jaga Baen di Ohio." jawab Balen.
"Dulu kalian belum menikah, rasanya masih khawatir dulu." jawab Kenan jujur.
"Papon dimana sih?" kembali bertanya, hanya ingin ngobrol ngalor ngidul sama Papanya.
"Di rumah sayang." jawab Kenan terkekeh.
"Mamon mana kok ndak ikut ngomong sama Baen?" tanya Balen.
"Mamon lagi ngobrol sama Bunda dan Oma Nina. Ayah dan Bunda lagi disini." jawab Kenan.
"Oh ya udah salam aja deh Papon, Baen mau ngobrol sama Opon dulu ya." kata Balen tutup sambungan teleponnya, lanjut hubungi Opon di Malang.
"Assalamualaikum Baen..." sapa Opa Baron saat menjawab telepon Balen.
"Opon ndak kangen Baen ya?" tanya Balen pada Opon.
__ADS_1
"Kangen dong, tapi Opon belum bisa ke Jakarta nih, kaki Opon masih bengkak." jawab Opa Baron pada Balen.
"Kenapa kaki Opon sih? jatuh ya?" tanya Balen.
"Bukan sayang, Asam urat Opon kambuh."
"Ya ampun, Opon ndak makan sehat ya? Kan Papon sudah ajari Opon."
"Aduh, Opon pusing Mamon kamu kalau telepon ngomel, kamu telepon juga ikut ngomel." Opon langsung saja sakit kepala.
"Opon, Baen mau ke Malang sama Aban Daniel boleh ndak?"
"Boleh dong sayang, Opon Dan Oma Mita senang sekali kamu mau datang, kebetulan mas Vicky lagi di sini loh." Opa Baron langsung semangat.
"Opon, Mas Vicky sama istrinya?" tanya Balen.
"Iya sama istri dan anaknya, jadi ramai nih kalau ada kamu juga di Malang."
"Baen mungkin datang sama Ichie dan Papon Mamon juga." jawab Balen.
"Bujuk Paponmu supaya menginap dirumah Opon ya?"
"Mana muat Opon. Kan ada Mas Vicky sekeluarga juga. Kita nginapnya dirumah Papon aja." jawab Balen.
"Papon dan Mamon kamu saja yang menginap dirumah Opon. Kamu Dan suami kamu menginap dirumah Papon saja."
"Ih Opon pilih kasih." Balen bersungut.
"Opon, Oma Mita masih masak ndak?" tanya Balen.
"Masih sayang, kamu mau dimasakin Oma Mita apa?" tanya Opa Baron.
"Opon masakin Baen rawon aja sama pepes ikan mas, sama teriyaki sama gulai kepala kakak sama..."
"Baen kamu masih saja banyak maunya, Opon bilang Oma Mita masakin semua makanan yang kamu suka. Semua d it masak langsung besok jadi begitu kamu datang tinggal dipanasi." jawab Opa Baron.
"Opon, anaknya mas Vicky siapa deh namanya, Baen ndak akrab."
"Anindia." jawab Opon.
"Sudah kuliah?"
"Masih middle school." jawab Opa Baron.
"Oh, sekolah di Malang apa di Sidney?"
"Sidney sayang."
"Mas Vicky betah ya disana." Balen terkekeh. Ingat Ulan kagumi Vicky dari kecil.
"Mana Daniel?" tanya Opa Baron.
"Ada nih disebelah Baen." jawabnya peluki Daniel yang dari tadi berbaring disebelahnya.
__ADS_1
"Opon mau bicara sama Daniel." kata Opa Baron pada Balen.
"Ndak usah, nanti Opon bilang-bilang Baen itu nakal kamu harus sabar, bla bla bla..." Balen tirukan omongan Opon kalau bicara dengan Daniel.
"Eh Opon tidak akan bilang begitu." Opa Baron tertawa.
"Ndak usah, nanti aja kalau Opon bertemu baru ngobrol." tolak Balen.
"Cucu nakal kamu ini, masih saja semau kamu, Opon kira begitu sudah menikah kamu berubah, bingung Opon anaknya Nona kenapa seperti kamu sih, untung saja cantik dan berprestasi." langsung Oponnya mengoceh.
"Tuh kan Opon mulai deh Kaki Opon udah mulai kempes padahal, kalau Opon omeli Baen lagi bisa bengkak lagi kakinya.
"
"Kamu sumpahi Opon ya?" tertawa geli sendiri.
"Ndak, mana Baen berani sumpahi Opon, kualat Baen nanti." jawabnya terkekeh, sementara Daniel sibuk ciumi pucuk kepala istrinya dari tadi.
"Baen, bagaimana menikah, enak kan?" Opa Baron tertawa.
"Iya dong, Baen jadinya ada yang jagain." jawab Balen bangga.
"Sekarang lagi pelukan sama Daniel ya?" lagi-lagi Opa Baron menggoda cucunya.
"Yah, Opon kaya peramal aja sih." Balen terkekeh.
"Opon kan bisa merasakan, kamu dari tadi pelukan sama suami kamu."
"Masa sih Opon?" tertawa tidak percaya.
"Iya dong, sudah mandi belum sih, kalau pelukan harus wangi dong, biar suaminya senang." kata Opon tertawa.
"Aban, Baen wangi ndak sih?" langsung tanya sama suaminya.
"Wangi, kenapa?" tanya Daniel bingung, ia tidak mendengar apa yang Opa Baron bahas sama Balen.
"Opon, Baen wangi kata Aban Daniel." langsung melapor pada Opa Baron. Daniel tertawa jadinya.
"Opon tidak percaya." jawab Opa Baron.
"Kalau ndak percaya nanti kalau Baen ke Malang Opon cium aja Baen." jawabnya menantang Opon.
"Yang Opon mau tahu kan sekarang, makanya Opon harus bicara dengan Daniel." kata Opan Baron.
"Ndak usah, Baen tahu Opon mau jahil kan nanti Tanya yang ndak, ndak aja." kata Balen hapal kalau Opanya suka konyol.
"Kamu ini curiga saja sama Opon." Opa Baron tertawa.
"Opon, kalau Baen hamil nanti Opon senang ndak punya anaknya cucu." katanya bikin Opa Baron terbahak.
"Apa sih anaknya cucu?"
"Anak Baen kan jadi anaknya cucu Opon." jawabnya, Opa Baron kembali terbahak, terserah Balen saja mau sebut apa anaknya nanti.
__ADS_1