
"Kalian berangkat nanti malam?" tanya Raymond saat Lucky dan Kia datangi di rumah Opon.
"Iya." Lucky anggukan kepalanya, sementara Kia menggelendot saja sama Papanya.
"Berapa lama?" tanya Raymond lagi.
"Seminggu." jawab Lucky lagi.
"Lama betul." protes Raymond.
"Nanti ke Ohio lebih lama lagi." sahut Kia.
"Nah sudah punya suami masih mau kuliah di Ohio? Baen paling dua tahun lagi sudah kembali menetap di Jakarta loh, hotelnya sudah harus beroperasi itu dua tahun kedepan." tanya Raymond pada Kia.
"Yah kan sudah daftar, sudah bayar juga." jawab Kia.
"Aku sih bagaimana Kia saja." jawab Lucky santai.
"Dipikir lagi Kia, kamu kemarin mau ke Ohio juga karena Lucky mau menikah sama orang lain kan." kata Roma bikin Kia mengernyitkan hidungnya malu, sementara Lucky terkekeh mendengarnya.
"Tuh, masih mau lari ke Ohio?" tanya Raymond lagi.
"Kia pikir dulu ya selama di Korea, pulang dari Korea Kia putuskan." jawab Kia pada Papa dan Mamanya.
"Baen tidak ikut kesini?" tanya Opon.
"Nanti menyusul Opon, dia masih ke tempat Achara sahabatnya." jawab Kia, Opa Baron anggukan kepalanya.
"Kamu sudah punya suami masih menggelendot sama Papa saja." kata Oma Mita tertawakan Kia.
"Biar saja Bude, aku senang." jawab Raymond nikmati kebiasaan Kia.
"Sama Lucky menggelendot begitu juga?" tanya Oma Mita.
"Tidak separah ini sih." jawab Lucky nyengir.
"Ayo makan..." ajak Oma Mita.
"Masih kenyang Oma, tadi sebelum kesini kan sarapan dulu di hotel." jawab Kia.
"Kuliah di Malang saja Kia." Opa Baron ikut membujuk Kia.
"Nanti Kia pertimbangkan Opa." jawab Kia tersenyum.
"Kalau di Malang, Lucky kerja di Malang juga kan?" tanya Oma Mita.
"Iya dong Oma, aku harus ikut kemana Istriku." jawab Lucky.
"Bukannya kebalik?" tanya Oma Mita.
"Hahaha harusnya sih." Lucky terbahak.
"Kalau istri ikut suami, berarti Kia kuliah di Jakarta ya?" tanya Kia.
"Iya dong." jawab Raymond cepat.
"Tapi punya ijazah America kan keren Pa." kata Kia kemudian.
"Ijazah mana saja juga keren, asal kuliahnya benar." kata Opa Baron, semua mengangguk setuju.
"Sama Bima saja di kampus Panta dulu." kata Raymond pada Kia.
"Nanti Kia pikir dulu." Kia belum memutuskan.
"Tugas lu, Lucky." bisik Raymond pada Lucky.
"Eh bagaimana, Bang?" Lucky jadi bingung.
__ADS_1
"Bujuk Kia kuliah di Jakarta." kasak-kusuk bisik-bisik berdua.
"Tidak dimana-mana selalu saja bisik-bisik." keluh Kia lihat Lucky lagi-lagi kasak-kusuk.
"Pembahasan pria dewasa." jawab Raymond bikin Kia mencibir sementara Roma terkikik geli.
Setelah ngobrol panjang semalam dengan Miko dan Lulu, mereka berdua agak berat hati melepas anaknya pindah ke luar negeri, tapi kalau dilarang nanti terjadi huru-hara, Maka Miko meminta Raymond mendesak Kia untuk Kuliah di Jakarta, maka itu Raymond tugaskan Lucky membujuk Kia untuk Kuliah di Jakarta.
"Saatnya makan siang, ngobrol terus sih." kata Oma Mita kembali mengajak yang lain untuk makan siang.
"Ayo, Oma masak apa?" Kia langsung semangat.
"Oma masak lobster untuk pengantin baru."
"Waaah kolestrol saya naik lagi deh." keluh Opa Baron pandangi istrinya.
"Mas Baron makan salad saja sudah saya siapkan." jawab Oma Mita.
"Jadi embek lagi deh." jawab Opa Baron.
"Mbeeeek..." langsung tirukan suara kambing sambil menuju meja makan, semua terpingkal jadinya.
"Aku temani Padeh jadi embek." kata Roma terkikik geli.
"Kamu mau salad juga, Roma?" tanya Oma Mita.
"Stok banyaknya Bude?" tanya Roma.
"Banyak dong." Oma Mita tersenyum.
"Tapi Padeh jangan iri, aku makan salad pakai lobster." kata Roma begitu melihat lobster.
"Saya salad pakai apa?" tanya Opa Baron berharap.
"Itu Telur dadar." jawab Oma Mita.
"Sehat sekali makannya." Raymond terkekeh.
"Ya, jangan sering-sering Lucky, karena semuanya akan jadi penumpukan." Opa Baron nasehati Lucky.
"Gaya ah, kalau saya tidak lihat juga Mas Baron makan itu lobster." kata Oma Mita mencibir.
"Parah Opon." Kia gelengkan kepalanya.
"Makan saja Kia, jangan provokasi Oma." kata Opa Baron sambil naikkan alisnya pada Oma Mita.
"Wah ini salad kesukaan saya." kata Opa Baron.
"Menghibur diri?" tanya Raymond.
"Ini sehat Raymond." kata Opa Baron nikmati saladnya.
"Iya sehat, lobster juga sehat." jawab Raymond.
"Untuk yang belum punya keluhan." jawab Opa Baron terkekeh.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumusalaam... Eh ada tamu, cari siapa Mbak?" Opa Baron bercandai tamu yang baru datang.
"Bodo ah Opon." bersungut mencium pipi Baron lalu datangi Oma Mita dan memeluknya.
"Ibu hamil mondar-mandir saja." Oma Mita terkekeh.
"Oma ada lobster, tapi Baen ndak bisa makan." rupanya Balen pasang wajah kecewa duduk disebelah Roma.
"Makan saja." kata Opa Baron.
__ADS_1
"Bisa joget-joget ditembok Baen, Opon. Gatal semua badan Baen." jawab Balen.
"Sejak kapan kamu alergi lobster?" tanya Opa Baron.
"Sejak hamil Baen suka mengeluh gatal di seluruh badan, Opon." Daniel menjelaskan.
"Bukan karena lobster kan?" tanya Oma Mita.
"Tidak tahu karena apa, yang pasti semua makanan yang menyebabkan gatal sebaiknya Baen hindari." Daniel menjelaskan.
"Jadi kamu makan apa dong sayang? Empal mau ya, Biiii..." Oma Mita langsung sibuk panggil asisten rumah tangga agar siapkan makanan untuk Balen dan Daniel.
"Ya sudah Baen makan empal, kamu makan lobster tuh Niel." Raymond persilahkan Daniel nikmati lobster.
"Jangan Aban, kalau Aban Daniel makan, nanti Baen gatal juga."
"Idih mana ada cerita yang makan Daniel yang alergi kamu." Raymond terkekeh.
"Aban Lemon ndak ngerti."
"Jelaskan biar ngerti dong."
"Kan kalau berhubungan suami istri ada yang masuk ke badan Baen, bisa aja dari situ Baen gatalnya, jadi Aban Daniel harus ikut jaga makan." Balen menjelaskan apa yang ada di pikirannya, Raymond dan yang lain langsung tertawa mendengarnya.
"Ih ndak percaya." dengus Balen kesal.
"Memang kamu sudah uji klinis?" tanya Opa Baron.
"Ndak usah diuji kali Opon." jawab Balen nyengir.
"Aban setuju ndak?" tanya Balen pada Daniel.
"Setuju dong." jawab Daniel terkekeh.
"Kamu sih iya-iya saja Daniel, kalau keberatan katakan saja." Opa Baron provokasi.
"Daniel tidak keberatan kok Opon, kasihan Baen kalau sudah gatal badannya." jawab Daniel apa adanya.
"Syukurlah, Baen bagaimana hotel?" tanya Opon pada Balen.
"Lagi makan boleh bahas kerjaan ya?" tanya Balen pandangi semua.
"Sebenarnya sih tidak boleh, tapi kan bertemu kamu jarang, nanti saja sudah berangkat ke Korea. Kalau langsung pulang ke Ohio kapan lagi kita bertemu." jawab Opa Baron.
"Proses pembangunan sudah hampir Lima puluh persen Opon, surat menyurat masih dalam proses pengurusan, Smart system juga dalam proses, apa lagi ya?" Balen tampak berpikir.
"Nanti siapa yang pegang hotelnya?"
"Aban Lemon, Aban Daniel sama Aban Nanta." main tunjuk saja.
"Kamu?"
"Baen kan owner." mulai seenaknya.
"Owner juga harus pintar supaya tidak dibodohi orang yang tidak bertanggung jawab, sebaiknya kamu terjun Baen." Raymond buka suara.
"Anak Baen bagaimana?"
"Hotel kan punya kamu, bisa lah bikin ruang kerja sekaligus ruang mengasuh anak." jawab Roma pada Balen.
"Bisa ndak ya?" Balen tanyakan Daniel.
"Bisa sayang." jawab Daniel.
"Opon mau Baen yang urus hotelnya ya?" tanya Balen pada Opa Baron.
"Iya, Opon mau lihat Baen yang dulu heboh mau jadi Bos hotel fokus dengan impiannya."
__ADS_1
"Begitu ya, iya deh Opon, tunggu Baen lulus ya."
"Begitu dong cucu Opon, sini cium dulu." Balen hampiri Opanya lalu mencium pipi bonus pelukan.