
Billian keluar kamar sambil tertawa geli, saat ijin berangkat kantor Ante Baen masih dibujuk oleh Opa dan Oma. Yang lucunya setelah dibujuk Chandra, baru Balen berhenti menangis, Chandra memang cocok jadi pawang Mamanya. Apalagi setelah Charlie dan Cadi datang, benar-benar berhenti merengek Ante Baen kesayangan Billian.
"Kalau lihat C's begini, masih tidak rela anak-anak mirip Abang?" tanya Daniel berbisik pada Balen.
"Rela." Balen anggukan kepalanya.
"Kalau triplets mirip Abang, kenapa kamu tidak rela?" tanya Daniel.
"Rela kok." jawab Balen pandangi Triplets.
"Tapi tadi menangis seperti tidak rela."
"Baen rela kok tapi Baen sedih, ndak tahu salah Baen apa coba? kenapa ndak ada satu pun yang ikuti Baen, cuma gitu aja sih, ndak ada masalah lain."
"Cayi ikuti kamu loh wajahnya, walau ada mirip Abang juga, Cadi kelakuannya seratus persen kelakuan kamu." Daniel menjelaskan sambil pandangin ketiga bujangnya yang rusuh tertawa-tawa melihat new baby born bersama yang lainnya, untung saja ruangan Balen besar jadi bisa menampung semua yang datang.
"Gitu ya, Baen ndak merasa." Balen bikin Daniel gemas, langsung dicubit Daniel pipinya.
"Sakiit Aban." rengeknya hingga Daniel akhirnya tersenyum sambil mengusap pipi istrinya.
"Aban jangan selingkuh loh, anak Aban setengah lusin nih." oceh Balen.
"Anak apa donat sampai setengah lusin." celutuk Nanta, semua tertawa kecuali Balen, kondisi perutnya tidak memungkinkan Balen untuk banyak tertawa.
"Aban nih, masa anak Baen di bilang Donat." Nanta masih saja tertawa geli sendiri.
"Daniel mesti dikasih piala nih." kata Larry ikutan tertawa.
"Piala apa?" tanya Daniel.
"Rekor anak paling banyak, efek terlalu lama di Ohio sepertinya." lagi-lagi Larry menggoda Daniel
"Gelo, masa aku dapat piala." Daniel ikut tertawa dibuatnya.
"Papa kasih Challenge buat Billian tuh kalau bisa melebihi Daniel punya anak tujuh." Papa James ikut-ikutan, Balen meringis menahan tawa.
"Tidak bisa Pa, dia tidak suka keju." jawab Rumi, kembali semua terbahak.
"Jangan pada ngelawak sih." Balen yang menahan tawa memegang perutnya.
"Mam, sudah tidak sedih kan?" Cadi hampiri Mamanya.
"Tidak dong." Balen tersenyum.
"Good Mam, apa masih sakit seperti semalam?" tanya Cadi perhatikan perut Mamanya.
"Sudah tidak." jawab Balen.
"Chandra bang kami harus menurut sama Mam, karena Mam tersiksa saat keluarkan anak, Oh my god, I'm sorry Mam, aku suka bikin Mam kesal." oceh Cadi lagi bikin Balen mewek ulurkan tangannya ingin memeluk Cadi.
"Mam sekarang gampang menangis ya?" tanya Charlie ikutin Cadi dekati Balen.
"Hu uh." Balen anggukan kepalanya.
"Mam jangan sedih, walaupun yang lain tidak mirip Mam, tapi aku mewakili." Chandra menghibur Mamanya
"Iya, terima kasih ya, kamu ada mirip sama Mama."
__ADS_1
"Ih Mam itu kan dari Allah, kenapa berterima kasih." Cadi langsung komplen.
"Aku tuh bukan tidak mau mirip Mam, tapi Allah kasih wajah Pap untukku, tidak masalah kan, good looking." semua tertawa lihat gaya Cadi.
"Lagi pula Mam walaupun kita mirip Pa, kita lebih sayang Mam." bisik Cadi, Balen terkikik geli sambil memegang perutnya.
"Bilang apa?" tanya Daniel kepo.
"Jangan kasih tahu Pap." bisik Cadi lagi kedip-kedipkan mata pada Daniel, Larry terbahak dibuatnya.
"Bocah, kecil-kecil suka gombal, dasar." Nanta gelengkan kepalanya.
"Panta, kok bilang begitu." Cadi kedipkan mata pada Nanta.
"Jadi ingat digombali bocah gue dulu." kata Larry terkikik geli.
"Sama siapa Panta?" tanya Chandra penasaran.
"Yang mana gombalnya?" tanya Daniel melirik istrinya.
"Anak ingusan ajak gue nikah." seloroh Larry, pecah oleh tawa seisi ruangan. Balen kembali meringis sambil ikut tertawa.
"Dimana bocahnya sekarang, Ayah?" tanya Chandra.
"Huaaa Aban, perut Baen sakit." Balen kesakitan karena terus tertawa.
"Pulang dulu sudah, kasihan Balen." ajak Papa James.
"Nanti sih Pa." tahan Balen yang senang dengan suasana ramai.
"Nanti kita kesini lagi, kalian istirahat dulu, belum lagi baby nanti akan recokin tiap sebentar." kata Mama Amelia.
"Tidak usah Mam, C's pulang ya, istirahat." Daniel perintahkan bujangnya untuk ikut pulang.
"Aku mau sama adik." pinta Charlie.
"Kalau kalian disini, Mama sama Papa tidak bisa istirahat." Larry beritahukan C's.
"Ikut Ayah atau Panta?" tanya Nanta pada ketiganya.
"Bebas." jawab Chandra.
"Ikut Opa saja biar main sama Mora." kata Papa James.
"Aku ikut Ayah, ada janji main basket dilapangan." jawab Cadi yang banyak acara.
"Aku juga." Charlie ikut-ikutan.
"Semua saja ikut Ayah kalau begitu." Larry memutuskan, mengingat banyak anak seumuran C's di komplek perumahan ya, tentu Cadi jadi betah bermain disana.
"Jadi adik namanya siapa?" tanya Cadi.
"Rachita, Bunga dan Delvina."
"Rachita Putri Daniel, Bunga Cinta Balena, Delvina Pujaan Hati, loh kok namanya begini?" Larry tunjuk nama akhir Delvina.
"Eh iya kenapa berubah, tadi semuanya Putri Daniel?" Daniel langsung bingung.
__ADS_1
"Hehe aku tadi yang kasih tahu suster." jawab Cadi senyum malu-malu. Semua langsung pandang-pandangan bingung.
"Please aku berpikir keras dari tadi, biar saja namanya begitu, kan Chandra yang temani Mam, aku sama Cayi yang bantu pikirkan nama." Cadi membujuk Mama dan Papanya.
"Oke, boleh. Tapi jangan pujaan hati dong." kata Daniel akhirnya.
"Ya sudah Delvina Pujaan Prawira." jawab Charlie.
"Syahputra tidak dilibatkan?" tanya Nanta.
"Itu kan hanya untuk anak laki-laki." Chandra mengingatkan.
"Delvina itu setelah aku pikir-pikir singkatan dari Daniel love Balena loh." kata Cadi lagi, Daniel langsung senyum lebar, dasar Cadi ada saja pikirannya.
"Delvina Wira Putri, sudah itu saja, Wira Dari Prawira, Putri itu dari Syahputra." Mama Amelia berikan idenya.
"Ok Mama." Balen langsung saja setuju.
"Delvina Wira Putri, Bunga Cinta Balena, Rachita Putri Daniel." sudah fixed semua ngangguk-ngangguk setuju.
"Papon setuju kan?" Balen tanyakan pada Kenan yang sedari tadi sibuk dengan tiga cucunya.
"Setuju." jawab Kenan singkat.
"Papon lagi menikmati punya cucu perempuan." Nanta terkikik geli.
"Mamon juga tuh, dari tadi tidak ada suaranya." Dania tunjuk mertuanya. Semua lagi-lagi tertawa.
"Kami ijin pulang duluan Ken." Papa James menepuk bahu Papon.
"Ya Mas, aku disini dulu." jawab Kenan.
"Aku juga ke kantor ya, rasanya juga sama seperti Papon mau disini terus." Bima terkekeh, ia dan Aca masih disana takjub dengan kehadiran triplet.
"Aku pikir yang bisa punya anak kembar tiga hanya Mbak Enji, ternyata anakku juga bisa." kata Nona baru kedengaran suaranya.
"Jadi Mamon diam karena mikir terus dari tadi?" tanya Nanta pada Nona.
"Ya tidak begitu juga Nanta, lama-lama kamu jadi kaya Raymond ya jahilnya."
"Loh aku dari tadi diam saja loh temani Om Kenan." kata Raymond yang baru keluar suaranya.
"Temani apa kamu pulas." protes Kenan pada keponakan kesayangannya itu, semua tertawa dibuatnya, keluarga Daniel pulang sementara keluarga Balen tetap bertahan disitu, Nanta yang tadinya mau pulang ikut-ikutan standby tidak jadi ke kantor.
"Kalian tidur saja, biar baby Mamon yang urus." kata Nona pada Balen dan Daniel.
"Iya Mamon aku ngantuk." Daniel langsung jujur.
"Sini." Raymond menepuk kasur kosong disebelahnya.
"Kamu mending pulang." usir Kenan pada Raymond.
"Apa sih Om, aku kan mau lihat anakku juga." katanya pandangi Triplets.
"Pandang terus Bang, sebentar lagi Kia tuh brojol."
"Semoga kembar empat deh, biar Balen ada temannya." jawab Raymond sedikit geserkan badannya karena Daniel ikut rebahan disebelahnya.
__ADS_1
"Papa enam anak." oceh Raymond bikin Daniel terbahak, apa iya bisa tidur kalau ada Raymond begini.