
"Cantik." bisik Daniel yang terus saja kagumi penampilan Balen siang ini. Padahal mereka sudah berada di restaurant untuk makan siang bersama. Tamu yang datang tidak terlalu ramai, hanya sekitar seratus lima puluh orang dan Restaurant tersebut sudah Daniel booking khusus untuk acara mereka. Balen yang dipuji dengan hidung kembang kempis naikan bahunya lenggak lenggok dihadapan suaminya, seperti sedang difoto saja. Mungkin terkesan lebay tapi di mata Daniel tetap saja menggemaskan kelakuan istrinya itu.
"Aban ramai juga yang datang." sekarang Balen yang berbisik pada suaminya, lihat tamu terus berdatangan. Daniel dan Balen sesekali menyapa tamu yang datang dan temani para tamu undangan untuk sedikit berbasa-basi. Sedangkan Oma Margareta sibuk mondar-mandir, sebagai penggagas acara, ia merasa senang Daniel mengikuti arahannya. Apalagi keluarga Daniel tidak ada yang rese sok ikut campur, mereka santai saja seperti tamu undangan yang lain. Memang itu yang di mau Oma Margareta sehingga konsentrasinya tidak terganggu.
Ucapan selamat terus mengalir untuk Balen dan Daniel. Akhirnya mereka berhasil umumkan pernikahan mereka. Balen tidak lagi malu karena ia yang pertama menikah diantara teman-temannya, ditambah lagi diperutnya sudah ada generasi penerus.
Sore ini mereka sudah kembali berkumpul di rumah. Ini yang Balen sukai berada diantara orang-orang tersayang. Larry dan Nanta sedari tadi terus saja senyum-senyum melihat Redi yang terus saja pepeti Ulan.
"Adik gue sama adik lu lagi Leyi, seperti tidak ada yang lain saja." Nanta terkekeh.
"Elu tuh memang tidak boleh jauh dari gue, Nan." Larry ikut terkekeh.
"Bagaimana kira-kira Ulan ke Redi?" tanya Larry.
"Ulan belum curhat sih, lihat ya kan Ulan minta gue belikan tiket liburan ke Ohio sekarang dia sudah di Ohio lebih cepat karena Lucky dan Redi. Nanti masih menagih tiket tidak dia. Kalau masih sudah bisa gue simpulkan perasaan adik gue ke Redi." Nanta amati Ulan dan Redi yang tampak asik ngobrol bersama Kia, Lucky, Tori dan Richie.
"Aban, lagi kepo ya? amati dari jauh, ndak ikut gabung aja." kata Balen hampiri Nanta dan Larry.
"Kalau gabung mereka jaim lagi, jadi kita pantau-pantau saja." Nanta tertawa alihkan pandangannya pada Balen dan Daniel yang sudah tampak segar karena baru selesai bersihkan diri.
"Duh boleh ndak sih semuanya pada tinggal disini sampai Baen selesai kuliah?" Balen berhayal bikin Nanta dan Larry tertawa.
"Anak-anak kamu dirumah bisa teriak Baen." sahut Dania tertawa.
"Ya sekarang saja tiap sebentar telepon." jawab Balen tertawa.
"Kamu saja yang kembali Ke Jakarta, seperti Richie pindah kuliah." Larry sarankan Balen.
"Cita-cita Baen dari kecil loh kuliah di Ohio, masa sudah disini ndak dapat ijazah. Apalagi Aban Daniel juga kerjanya disini, Allah sudah kasih lancar urusan Baen, Aban." jawabnya pada Larry.
"Wih, pintar sejak mau jadi Ibu ya." Larry mengacak anak rambut Balen. Kali ini Daniel tidak marah, ia sedang bahagia karena delapan bulan lagi akan jadi Ayah.
"Bang, menurut lu, gue perlu tambah orang buat temani Baen tidak? Kalau hamil kan banyak maunya." Daniel minta saran kedua Abangnya.
"Ada Auntie Khiel, Aban. Ndak usah tambah orang, kalau mau tambah orang harus yang bisa bikin Baen senang seperti Auntie Khiel dan Oma Margareta." malah Balen sudah jawab lebih dulu.
"Iya Niel, jangan sampai orang baru bikin mood Ibu hamil rusak." Rumi ikut berpendapat, sementara Nanta dan Larry tidak lagi menjawab karena pendapat Rumi sudah cukup mewakili.
"Nah kan Aban." Balen senang didukung Rumi.
"Baen mau kesana dulu ya?" minta ijin pada Larry dan Nanta ingin hampiri Ulan dan yang lainnya.
"Kepo kan?" Nanta tertawakan Balen.
"Aban juga kan?" Balen menujuk Nanta, keduanya tertawa menulari yang lain.
__ADS_1
"Kamu disini saja Baen, tidak kangen sama Aban ya?" tanya Larry bikin Balen tidak lagi bergerak. Tentu saja Balen kangen dengan kedua Abangnya ini, tapi Balen juga ingin bergabung dengan Ulan dan yang lainnya.
"Kasihan tuh jadi bingung." Rumi tertawakan Balen.
"Baen kangen semuanya, makanya bingung." jawab Balen.
"Yang lagi pedekate jangan diganggu." kata Nanta pada Balen.
"Siapa tahu kalau ada kita malah cepat jadian." kata Balen.
"Abang maunya mereka cepat menikah bukan cepat jadian." jawab Nanta.
"Tania dukung Kia dan Aban Lucky ndak?" tanya Balen pada Dania.
"Dukung dong." jawab Dania tersenyum lebar.
"Baen juga dukung." Balen ikut tersenyum.
"Meskipun kamu harus panggil Kia, kakak nanti?" tanya Daniel menggoda Balen.
"Aban juga dong panggil Kia, Kakak?" tanya Balen.
"Oh tidak dong, Lucky seumuran Abang kan?" Daniel terkekeh.
"Kasihan Kia dapat Om-Om." kata Balen bikin semua terbahak.
"Iya Aban Baen juga kok." jawab Balen.
"Kamu juga dapat Om-Om tuh." kata Larry tunjuk Daniel.
"Suwe..." Daniel tertawa sedikit tidak terima dibilang Om-Om.
"Ih semua pada bilang suami Baen ganteng tahu." Balen banggakan suaminya. Sekarang Daniel yang hidungnya kembang kempis.
"Lucky juga ganteng kok." jawab Nanta.
"Tapi Om-Om." sahut Larry semua jadi tertawa dibuatnya.
"Hei aku tidak setua itu." teriak Lucky yang ternyata tahu ia jadi pembahasan rombongan Balen.
"Sini makanya main sama anak komplek." kata Balen pada Lucky.
"Hahaha Ante, kita memangnya anak komplek?" Kia terbahak.
"Kamu anak Roma." Ayah Eja yang lewat ikut nimbrung.
__ADS_1
"Aku cucu Reza." jawab Kia malah menggoda Opanya.
"Opa dong main sebut nama saja." tegur Lucky pelan pada Kia.
"Iya Om. Susah deh punya bodyguard Om-Om, diomelin terus." kata Kia bikin Reza terbahak.
"Jadi Lucky itu bodyguard kamu ya." Ayah Eja gelengkan kepalanya masih tertawa.
"Iya kan Om?" Kia minta persetujuan Lucky.
"Iya." jawab Lucky terkekeh.
"Bodyguard nya punya jetpri." Redi tertawa geli.
"Nasib deh bang, bermula dari bodyguard, seperti di film Hollywood." kata Richie tertawa.
"Kalau Lucky bodyguard, Opa menyerah deh, tidak kuat bayar gajinya." Ayah Eja kembali ajak cucunya bercanda.
"Aku keren betul deh Opa, malah difasilitasi sama my bodyguard." Kia tertawa menonjok pelan bahu Lucky yang selalu saja ingin senangkan Kia.
"Tidak usah digaji Ayah, bodyguard malah yang keluar duit banyak buat kita." celutuk Richie semua kembali tertawa.
"Duh mereka ngobrol apa sih, seru deh." Balen kembali kepo, ingin ikut nimbrung tapi Larry tidak ijinkan.
"Kita juga bikin seru dong jangan mau kalah." kata Dania tersenyum pandangi Balen.
"Tania kita ngapain biar seru?" tanya Balen yang tidak punya ide.
"Main basket nih sama pensiunan atlet." kata Dania tertawa.
"Pensiun dini." jawab Nanta ikut tertawa.
"Baen juga pensiun dini, sekarang ndak bisa Tenis." kata Balen ikut-ikutan.
"Dini saja tidak pensiun." sahut Daniel tertawa.
"Aban, siapa Dini? Awas ya, Baen tabrak-tabrak nanti kalau Aban dekat-dekat Dini." mulai emosi dengar suaminya sebut nama Dini.
"Kamu lupa Ante kamu di Cirebon nanya Dini?" tanya Daniel tertawa mencubit pipi Balen gemas. Tapi Balen pikir tadi Daniel bukan ingat Ante Dini.
"Cemburunya ngeri nih Baen." Rumi tertawa menggoda Balen.
"Bawaan Ibu hamil suka cemburu kah?" tanya Daniel ingin tahu, bersiap jika nanti istrinya Emosi seperti sekarang.
"Itu karena cinta Baen begitu besar sama Aban." jawab Balen bikin Daniel senyum-senyum.
__ADS_1
"Cuwiwit..." langsung saja Nanta dan Larry bergaya Ichie. Semua terbahak jadinya, benar saja keseruan sekarang berpindah ke rombongan Balen.