
"Huaa Mamon, Baen ndak tahan." Balen menangis sambil memeluk Nona, setelah suaminya berangkat ke kantor sekaligus antar anak-anak ke sekolah pagi tadi, ia langsung berangkat ke rumah orangtuanya.
"Kenapa?" tanya Nona heran tapi tetap biarkan Balen menangis dipelukannya.
"Baen dilarang-larang terus sama Aban, C's apalagi, mereka jadi kekang Baen, hidup Baen seperti terpenjara." mengadu sesuai apa yang dirasakannya.
"Loh ini buktinya kamu boleh kesini, terpenjara bagaimana?" tanya Nona.
"Baen seperti tahanan komplek, ndak boleh pergi jauh-jauh." jawabnya, Nona jadi terbahak mendengar ocehan Balen.
"Mamon malah ketawain Baen, huaaa..." tambah kencang nangisnya.
"Mamon baru tahu ada tahanan komplek." jawab Nona terkikik geli.
"Ini Baen nih sekarang." jawabnya sambil menghapus air matanya dengan tissue.
"Sayang, itu karena kamu sedang hamil besar." Nona tenangkan Balen. "Mereka sayang kamu dan baby." lanjut Nona lagi.
"Tapi harusnya ndak gini, Baen ndak mau pulang. Baen ngambek." Balen bersungut, kesal terus-terusan diawasi oleh empat jagoan dirumahnya.
"Mamon telepon Daniel ya."
"Ndaaak." teriak Balen cepat lalu menahan Nona yang sudah mau berdiri ambil handphonenya.
"Orang hamil mana boleh ngambek, kamu ajari anakmu yang tidak benar ya." sekarang Nona yang marahi Balen.
"Ajari bagaimana?" tanya Balen.
"Kamu ngambek tidak mau pulang, nanti sebentar lagi C's kalau ngambek bisa meniru kelakuan Mamanya, belum lagi anak diperut, belum apa-apa dapat ilmu merajuk dari Mama." Nona mengoceh panjang lebar.
"Ndak gitu Mamon." kata Balen pelan.
"Ya begitu, kamu ini sudah mau punya anak Lima malah kelakuan seperti adiknya C's." tambah saja Mamon omeli Balen.
"Mamon sih gitu, Baen sudah tebak pasti Mamon ndak mendukung Baen."
"Memang kamu mau kemana sampai tidak mau jadi tahanan komplek?" tanya Nona.
"Baen mau cobain tempat viral yang disentul, terus Baen juga mau cobain tempat ngopi yang dibandung, tapi ndak dikasih."
"Bandung itu jauh Balen."
"Baen ndak nginap padahal, balik hari aja, tapi ndak di kasih sama Aban."
"Mesti banget kamu ngopi di bandung?" tanya Nona, Balen terdiam.
"Disini kan banyak juga tempat ngopi, viral juga, kenapa harus ke Bandung?" tanya Nona lagi.
"Mikir dong, kamu tuh bukan abege lagi. Kalau mau pergi-pergi ajak suami dan anak-anak kamu." tambah ya diomelin bukannya dibujuk sama Mamon. Balen menghela nafas panjang, tahu sih apa yang Mamon bilang itu benar, tapi Balen tidak sabar menunggu akhir pelan, seperti yang Daniel janjikan.
"Heran ya, sekolah lama di Amerika bukannya tambah pintar." lanjut ya Mamon ngomel seperti biasa kalau sudah ngomel susah berhenti.
"Mamon ih..."
"Kenapa? betul kan yang Mamon bilang?" Balen kembali menghela nafas.
"Mamon telepon Daniel suruh weekend ini ajak kamu ke Bandung, biar anak diperut tidak ngences." kata Nona.
"Ndak usah Mamon, Aban tadi sudah bilang nanti aja weekend sama Aban dan anak-anak." jawab Balen.
__ADS_1
"Trus masalahnya dimana tahanan komplek?" tanya Nona naik oktaf.
"Baen ndak sabar."
"Ish, ini anak ya kalau sudah punya mau susah dibilangin, Papon harus dikasih tahu kalau anak kebanggaannya mulai berulah."
"Mamooon, ndak usah dibesar-besarin deh, Baen kan cuma sampaikan apa yang Baen rasain tadi."
"Tapi aneh, pakai mau ngambek tidak mau pulang, awas saja. Siapa yang mau nampung kami disini."
"Iih Mamon. Baen anak Mamon apa bukan sih?"
"Kamu tuh masih kekanak-kanakan tahu?"
"Ini tuh pasti karena anak Baen diperut." mulai bawa-bawa anak.
"Anak sih bagaimana Ibunya saja."
"Ih jadi tetap Baen yang salah?"
"Iya, kamu tidak sabaran, dikasih tahu yang benar malah merajuk."
"Mamon ih, orang hamil diajak berantem." sungut Balen.
"Papooon..." Nona berteriak memanggil Kenan yang entah berada dimana.
"Iiih Mamon, ini urusan perempuan tahu ndak, makanya Baen ngadunya sama Mamon, Mamon kan yang pernah hamil jadi bisa satu rasa, tapi malah salahin Baen.
"Mamon waktu hamil tidak minta ketempat viral tahu?"
"Ya jaman dulu sama sekarang kan beda." jawab Balen.
"Ah Mamon malah ndak dukung Baen." kembali bersungut. "Biarin nanti cucu Mamon ileran." tambah-tambahi bersungut.
"Kenapa?" tanya Kenan yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Ini anak kebanggaan Mas Kenan, kekanak-kanakan." jawab Nona.
"Idih Mamon." memang kekanak-kanakan ternyata.
"Loh kamu bukannya sudah dewasa Baen?" tanya Kenan terkekeh.
"Ndak tahu ah Papon."
"Itu ternyata tipuan, ini aslinya keluar." kata Nona lagi. Bibir Balen mengerucut, Kenan terbahak melihatnya.
"Anak sudah mau lima, masih seperti anak kecil." Kenan gelengkan kepalanya.
"Papon ikutan Mamon lagi, ndak dengar cerita Baen dulu." berusaha membela diri.
"Coba ceritakan." tantang Nona.
"Baen dilarang-larang terus sama Aban dan anak-anak." mulai mengadu mencari dukungan.
"Larang apa?" tanya Kenan.
"Ndak boleh pergi jauh-jauh, cuma boleh sekitaran perumahan aja, Baen jadi merasa seperti tahanan komplek."
"Oh itu sih biasa, suami sama anak-anak lindungi wanita berharga satu-satunya dirumah, apalagi sedang hamil besar seperti sekarang ini, Papon setuju dengan mereka." Balen meringis mendengarnya, tidak ada yang mendukung.
__ADS_1
"Coba Papon tanya, dia minta kemana?" pancing Nona lagi.
"Kemana?" tanya Kenan ikuti Nona.
"Ke Sentul sama ke Bandung."
"Ada apa disana?" Kenan pandangi Balen dengan wajah serius.
"Cuma mau ngopi aja sih, duduk-duduk ngobrol gitu." mulai cengengesan, merasa konyol sendiri.
"Penting?" tanya Kenan, Balen gelengkan kepalanya.
"Disini juga ada kan? rasanya beda?" tanya Kenan.
"Suasananya beda Papon." jawab Balen.
"Kamu bisa bikin suasana seperti disana, dihotel kamu." Kenan memberi saran.
"Ndak kreatif dong hotel Baen ikut-ikutan." jawab Balen.
"Kamu bikin dengan gaya kamu dong."
"Huhu Papon, Baen cuma mau jalan-jalan, bukan mau minum kopinya."
"Mau jalan-jalan ke Sentul?" tanya Kenan.
"Tadinya, tapi C's minta Baen sewa dokter sama Ambulance." Kenan terbahak mendengarnya.
"Ikuti saja, itu bagus." jawab Kenan senyum-senyum. Balen menghembuskan nafas kasar.
"Masalahnya dimana? itu kan hanya untuk berjaga-jaga." Balen menghela nafas.
"Ndak ada masalah sih yang itu, Baen sudah mengalah ganti tempat, tapi hari ini Baen pengen naik kereta ke Bandung, minum kopi yang dekat stasiun kereta sama cemil-cemil, trus pulang lagi, Aban ndak kasih, katanya nanti aja weekend sama anak-anak juga."
"Lebih seru kan?"
"Baen ndak sabar Papon."
"Kekanak-kanakan." Kenan gelengkan kepalanya.
"Huhu percuma Baen curhat kesini." Balen bersungut.
"Sana curhat sama mertua kamu, nanti Mbak Amel bilang kasihan Daniel istrinya tidak bisa dibilangin, kekanak-kanakan, nanti C's malu punya Mama kaya kamu."
"Mamon kalau ngomong sembarangan aja nih."
"Kamu juga sembarangan disuruh menunggu weekend malah merajuk." Balen monyongkan bibirnya.
"Nanti weekend Papon sama Mamon ikut juga ke Bandung, naik kereta." jawab Kenan.
"Beneran Papon?" tanya Balen senang.
"Iya, dokter kandungan kamu juga Papon ajak sekalian." jawab Kenan.
"Pada lebay semuanya, Baen itu lahirannya masih lama."
"Kamu jangan anggap enteng Baen, ini cucu perempuan Papon." tegas Kenan.
"Iya deh iya." cuma bisa pasrah akhirnya, sudah nangis-nangis curhat tetap saja tidak didukung, Balen mengusap perutnya memberi pengertian pada anaknya agar bersabar menunggu weekend.
__ADS_1