Because I Love You

Because I Love You
Intermezzo


__ADS_3

Suara alunan saxophone tiba-tiba terdengar, semua tahu kalau itu Andi, tapi dia tidak ada di panggung. Andi perlahan berjalan dari balik panggung sambil mainkan alat musik andalannya, ketiga sahabatnya segera menyusul, ikut naik ke panggung dan ambil posisi untuk mengiringi permainan saxophone Andi.


Andi memberi kode agar ketiga sahabatnya tak dulu mengiringi permainannya, lalu...


"Hmm, dari tadi saya tunggu ada yang panggil dan kenalkan saya, tapi senyap. Apa pada lupa ternyata punya besan seganteng ini?" katanya sambil nyengir kemudian kembali mainkan saxophone, yang lain tertawa karena tahu Andi tadi belum siap naik ke panggung karena sibuk dengan alat musiknya.


"Cucu sendiri juga tidak sadar kalau Opa dan Omanya belum naik ke panggung untuk dikenalkan." Selin mencibir sambil tersenyum, si Opa mulai drama, Tori dan Selin langsung saja mengajak pasangannya untuk segera naik ke atas panggung, bersama anak-anak mereka. Mereka cengengesan saja pandangi Andi yang sedang lanjutkan permainan saxophone nya.


"Istriku tercinta Pipit, sini dong ikut naik, ajak besan kita sekalian." katanya sambil cengengesan. Pipit segera ikut naik ke atas panggung. Bukan hanya besan yang diajak tapi anak mantu pun ikut di tarik.


"Ken, maju lah" kata Andi minta Kenan untuk maju, Kenan tertawa lalu mengajak Nona naik ke atas panggung.


"Friend tahan dulu ya disana." kata Andi pada ketiga sahabatnya yang anggukan kepala sambil cengengesan.


"Mungkin ada yang belum tahu kalau kita ini teman sepermainan di masa muda, termasuk Kenan. Tapi yang gue bingung kenapa Kenan jadi besanan sama anak gue ya?" katanya bikin semua tertawa.


"Jodoh Opa." celutuk Tori sambil tertawa.


"Kamu sih naksirnya sama anaknya Kenan." kata Andi, Richie terbahak mendengarnya.


"Kadang saya kasihan sama si Richie nih, dulu waktu kecil panggil saya Papa, eh sekarang sudah besar panggil bang Steve nya menantu saya, Papa juga." Andi menepuk jidatnya, hadirin tertawa geli. "Itu jalan hidup ya, kalau Allah berkehendak apa sih yang tidak bisa, cuma idenya Erwin sih gila juga bikin negara sendiri." Andi sekarang yang tertawakan Erwin, sudah pasti Erwin dan yang lainnya ikut tertawa.


"Baiklah itu hanya intermezzo, terimakasih untuk besan saya Mario dan Regina, yang selalu mendampingi kami sekeluarga disaat senang maupun sulit, juga para sahabat yang tidak pernah ketinggalan, semoga terus kompak seumur hidup kita, untuk istri, anak, menantu dan cucu-cucu juga cicit, duh tua amat kita ya sudah punya cicit." katanya sambil terbahak. "Sudah boleh turun." katanya bikin semuanya terbahak.


"Masih muda kok Opaaaa..." teriak geng rusuh menyemangati, siul-siul dan joget-joget tidak jelas.


"Masih ganteeeeng." teriak Balen dan Kia bersamaan, serasa Abege lupa kalau sudah punya buntut. Jangan tanyakan Belin karena sedari tadi Balen kehilangan satu anaknya juga kedua sahabatnya, benar-benar harus diinterogasi.


Suasana heboh bertambah seru saat Reza, Mario dan Erwin mulai mainkan alat musiknya diikuti Andi yang kembali mainkan saxophone, terdengarlah lagu Cantik dari Kahitna yang ditiup oleh Andi, vokalisnya mana? tentu saja para hadirin di ballroom yang ikutan bernyanyi sambil bergoyang, semua jadi vokalis dadakan.


Beberapa lagu telah mereka mainkan hingga Kiki pun tidak ketinggalan sumbangkan lagu, mengenang masa muda saat tampil di Warung Elite.

__ADS_1


"Buset Oma suaranya keren banget." kata Shaka kagumi suara berat Kiki.


"Iya dong Oma aku gitu loh." jawab Aca bangga.


"Tapi kenapa keturunannya suara pada hancur ya?" tanya Bari, mereka kemudia tertawa geli sendiri.


"Bisanya kita cuma rusuh ya?" tanya Bima sambil gelengkan kepalanya, apa yang mau mereka banggakan ya, main basket, tennis ataupun berenang bisa tapi tidak menonjol, alat musik piano bisa ya standard saja, menyanyi di karaoke ya semua juga tahu suara tidak pernah lebih bagus dari penyanyi aslinya. Kembali mereka tertawakan diri mereka sendiri.


"Eh tapi kita nih berlimpahkan kasih sayang, jadi jangan minder." kata Aca percaya diri.


"Jadi siapapun yang jadi pasangan kita tidak akan kekurangan kasih sayang." Billian anggukan kepalanya, kemudian mereka tertawa dan saling memiting bahkan menggeplak kepala satu sama lain, namanya saja geng rusuh.


"Mau lagiiii..." teriak geng rusuh saat Kiki selesai nyanyikan sekitar tiga lagu.


"Oh tidak bisa." jawab Kiki goyangkan jari telunjuknya kearah geng rusuh.


"Rasanya setiap generasi harus ikut tampil di panggung ya, jangan generasi Opa dan Oma saja." kata Kiki sambil tersenyum jahil. Tahu kalau para cucu suaranya pas saja, tapi tetap suruh tampil.


"Roma maju Roma." teriak Naka andalkan Roma untuk tampil ke atas panggung, apalagi kalau bukan bermain piano. Ya walaupun yang lain tidak bisa paling tidak ada perwakilan. Roma pun naik keatas panggung demi selamatkan suami dan teman-teman satu generasi.


"Wah Kak Kia, kita bagaimana?" tanya Bima bingung, Balen cekikikan saja, mau siapa yang tampil tetap saja hancur.


"Ante nanti maju." kata Kia.


"Yee masa Ante main tennis sama berenang di panggung." tolak Balen tentu saja ia juga tidak bisa beraksi dinpanggung.


"Kamu dong Kia, siapa tau suara Bunda Kiki menurun kecucunya." kata Daniel, Kia gelengkan kepalanya.


"Papa saja tidak bisa nyanyi." kata Kia tertawa.


"Tapi ada Mamaku yang tampil, yeaay." Kia bersorak senang.

__ADS_1


"Mamon juga tampil, yeay." Balen ikut bersorak saat Roma meminta Nona ikut naik. Mereka akan bermain piano bersama, ini selalu menarik buat semua orang, karena permainan mereka sangat memukau.


"Kia ada ide." Kia tersenyum sambil naikkan alisnya.


"Apa?" tanya Balen, yang lain menyimak penasaran.


"Nanti pas angkatan kita diwakili oleh suamiku, yeaaay." Kia kembali bersorak senang.


"Kok aku?" Lucky terkekeh.


"Kamu main piano juga kan muridnya Mamon." kaya Kia menggandeng tangan suaminya.


"Kamu yang nyanyi ya?" kata Lucky pada Kia.


"Huaaah, suara Kia hancur." Kia langsung menolak.


"Kak Kia, ayo nyanyi, nanti kita ikut naik ke atas panggung deh." bujuk Bima.


"Beneran?" tanya Kia.


"Iya, Om Lucky jangan piano, organ saja Om." pinta Aca pada Lucky.


"Oke..." jawab Lucky, mau piano ataupun Organ lucky tidak pusing, tinggal mengiringi saja.


"Kalian mau lagu apa?" tanya Lucky, setidaknya jangan terlalu lama di panggung nanti karena bingung memilih lagu.


"Ratu sejagat." kata Balen pada Lucky.


"Raja sejagat dong." kata Bari, mendapat toyoran dari Billian. Ini kelebihan geng rusuh kan, yang ngaco-ngaco pasti jago.


"Yang bener mau lagi apa?" tanya Lucky.

__ADS_1


"Yang kira-kira menutupi suara kita saja Om biar tidak mules yang dengar." kata Bima, mereka kemudian tertawa lagi, bayangkan hadirin pada mules karena suara mereka saat bernyanyi. Daniel terkikik geli, memang dasar kelakuan anak-anak Baen.


__ADS_2