Because I Love You

Because I Love You
Bandara


__ADS_3

"Duh sepi deh Jakarta, ini bocah-bocah kenapa pada ikut antar kalian sampai Jepang sih." gerutu Doni saat mengantar Bari ke Bandara, Daniel dan Balen tertawa dibuatnya.


"Bukan antar Baen kali, mereka memang mau liburan." jawab Balen tertawa.


"Liburan apanya, harusnya mereka masuk sekolah loh, ini gue bikin surat ijin ke sekolah mereka, bilang ada keperluan keluarga." Mike ikut menggerutu. Lagi-lagi Daniel dan Balen tertawa.


"Ini kenapa semua pada ikut antar ke Bandara sih? gue berasa seperti rombongan haji loh." kata Daniel tertawa. Rombongan pengantar dan peserta yang berangkat sepertinya lebih banyak yang antar.


"Pada mau melepas keberangkatan Baen ya?" tanya Balen penuh percaya diri. Mike dan Doni mencibir sementara Larry dan Nanta tertawa mendengarnya.


"Baik-baik di Ohio ya dek, harus mandiri, sudah tidak ada Ichie." Nanta ingatkan Balen.


"Ada Aban Daniel." jawabnya tertawa. Larry langsung mengacak anak rambut Balen.


"Bang!" langsung saja Daniel yang protes.


"Tidak usah lebay." kata Larry mengacak anak rambut Daniel.


"Rese." Daniel tertawa dan rapikan kembali rambutnya.


"Aban, Kakak semuanya jangan lupa tetap perhatikan Baen loh." Balen ingatkan Nanta dan sahabatnya berikut istri mereka.


"Istriku seperti kurang perhatian saja." Daniel langsung merangkul Balen.


"Dia terbiasa diperhatikan sih." Nanta tertawa mencubit pipi adiknya, sementara Richie lagi sibuk mengurus barang-barang para peserta, seperti tour leader saja.


"Tuh duo playboy akrab." tunjuk Mike pada Redi dan Lucky. Semua tertawakan keduanya, sementara yang di tertawakan asik ngobrol.


"Mereka baru kenal kan?" tanya Dania pada Nanta.


"Iya." Nanta tersenyum manis pandangi Dania.


"Pamit ya." kata Daniel saat melihat Richie acungkan jempolnya, tanda sudah saatnya check in. Mulailah drama dimulai bersalaman sambil bertangisan, Dania dan Balen bintangnya. Rumi, Seiqa dan Dona ikut berkaca-kaca.


"Daniel, Mamon titip Baen ya." kata Nona peluki Daniel dan Balen. Sedikit menahan tangis tidak mau membuat Balen tambah sedih.


"Kenapa sudah menikah malah menangis saat berangkat, dulu waktu pertama kali tidak drama begini." Kenan tertawakan putrinya.


"Papon..." Balen langsung memeluk Kenan.


"Telepon Papon tiap hari ya." bisik Kenan pada Balen, Balen anggukan kepalanya.


"Jangan melawan sama suami." bisik Kenan lagi, Balen pun kembali anggukan kepalanya.


"Cepat selesaikan kuliahnya dan janji sama Papon untuk kembali ke Jakarta." Balen lagi-lagi anggukan kepalanya sambil menghapus air matanya.


"Jangan menangis dong, kalau Baen menangis begini nanti Papon berat lepaskan Baen ke Ohio."

__ADS_1


"Yah..." kembali menghapus air matanya.


"Kalau tidak betah disana saat Ichie menikah langsung saja pindah ke Jakarta." kali ini Balen gelengkan kepalanya. Ia bertekat selesaikan kuliahnya disana dan itu sudah bulat tidak mau diganggu gugat.


"Daniel, Papon titip anak manja Papon ini. Ajarkan mandiri, jangan terus di manja. Eh anak Papon sudah jadi wanita dewasa loh, tidak cengeng lagi." kata Kenan tertawa sambil menggoda Balen.


"Papon..." menepuk bahu Kenan, enggan lepaskan pelukan Papon.


"Ante, ayo lah." ajak Bima yang mengantri ingin pamit pada Papon. Balen tersenyum lihat antrian panjang, lalu beralih ke Mama Amelia dan Papa James, banyak lagi wejangan yang Balen dan Daniel terima dari Mama Amelia dan Papa James.


"Kalau hamil nanti mau tetap tinggal di Ohio?" tanya Mama Amelia mengusap perut menantunya.


"Iya." jawab Balen yakin.


"Duh kalau cucu Mama lahir, jadi warga negara ganda nanti." Mama Amelia tertawa.


"Cepat bawa ke Indonesia ya, nanti tidak kenal Oma dan Opa lagi." Papa James tertawa berhayal punya cucu secepat mungkin dari Daniel dan Balen.


"Jangan di tunda punya anak ya sayang, Daniel sudah umur berapa tuh." Mama Amelia ingatkan Balen.


"Ya Mama." akhirnya suara Balen keluar, tidak lagi menangis seperti tadi. Baru sadar kalau dia akan segera punya anak. Bisa saja akan hamil dalam waktu dekat. Sudah pasti tidak boleh cengeng dan harus menjadi wanita mandiri dan dewasa. Benar kata Om Deni dan Om Samuel Balen kecil dulu mandiri kenapa sekarang jadi manja. Balen menghela nafas.


"Pamit ya Ma, Pa. Doakan kami di negara orang." kata Daniel setelah memeluk Mama dan Papanya.


"Begitu Baen selesai wisuda langsung kembali handel kantormu disini ya. Sudah tidak santai kerjanya, Papa harus benar-benar pensiun kalau begini." kata Papa James pada Daniel.


"Baen kalau hamil tidak sanggup disana kembali saja ke Jakarta, Nak. Kuliah bisa lanjutkan disini." pesan Mama Amelia lagi.


"Iya Mama." anggukan kepala tidak membantah, berharap jika hamil tidak rewel dan bisa lanjutkan kuliah tanpa kendala.


"Hubungi Mama tiap hari loh." pinta Mama Amelia pada Balen.


"Iya Mama."


"Kita bisa belajar masak online." kata Mama Amelia lagi tertawa.


"Ah iya, disini tidak kesampaian." akhirnya Balen tertawa.


"Ante..." kembali Balen dipanggil, sekarang antrian pindah ke Mama Amelia dan Papa James. Kenapa juga salamnya tidak tadi saat Balen lagi sibuk memeluk Papon, anak-anak ini memang selalu saja cari gara-gara.


"Balen segera akhiri salam perpisahan sementara dengan Papa dan Mama, lalu berjalan pelan menyusul Lucky, Redi dan Richie, biarkan anak-anak nanti menyusul mereka.


"Daaaa..." teriak Balen lambaikan tangan pada keluarganya yang mengantar mereka.


"Baen..." Seiqa pasang wajah sedih.


"Kakak..." Balen gelengkan kepalanya minta Seiqa tidak memancing air matanya untuk kembali keluar.

__ADS_1


"Salam sama Ulan ya, Nak." kata Nona yang kembali mendekati Balen.


"Iya Mamon."


"Jangan lupa makan teratur ya, resep yang Mamon tulis kamu mengerti kan?"


"Iya Mamon."


"Kalau bingung hubungi Mamon."


"Iya Mamon sayang." jawab Balen manis.


"Duh anak Mamon Manis sekali." Nona kembali memeluk Balen dan menciumnya bertubi-tubi.


"Mamon..." Balen gelagapan, tapi juga tidak menolak.


"Jangan cengeng, Baen." kata Nona menepuk bahu anaknya.


"Yah..." jawab Balen terkekeh, Daniel tertawa mendengarnya.


"Ingatkan Baen Mamon, kalau kesal sama aku jangan kabur." kata Daniel tertawa.


"Eh memangnya pernah begitu?" tanya Nona, Balen mencubit pinggang suaminya.


"Tidak pernah Mamon." Daniel pasang wajah meringis, padahal pernah tapi tidak sampaikan pada Mamon.


"Baen, awas ya kalau itu terjadi." mulai lagi Mamon pasang wajah galak.


"Baru sebentar sudah galak lagi." gerutu Balen bikin semua tertawa.


"Baen, nanti kalau ada yang menyebalkan, hubungi Aban saja." kata Larry yang di dekat Mamon.


"Ck..." Daniel langsung mencibir.


"Aban Daniel ndak pernah bikin sebal kok selama ini." jawab Balen membela suaminya. Langsung Larry dan sahabatnya rusuh suit-suit menggoda Balen dan Daniel.


"Leyi yang bikin sebal ya Baen." kata Mike terbahak, ingat Larry pernah diacuhkan Balen beberapa minggu.


"Iya sepele gara-gara jus kotakan yang aku kasih kamu tuh Love." Larry langsung lapor pada Rumi.


"Aih Baen yang dikasih bukan Kak Yumi saja, Winner juga." kata Rumi tertawa.


"Iya Baen ndak." jawab Balen ikut tertawa geli.


"Padahal Om Kenan tidak ijinkan dia minum jus kotakan makanya tidak di kasih." Larry tertawa ingat Baen kecil. Semua ikut tertawa jadinya.


"Pamit ya." kata Daniel tersenyum lebar, tapi segera menarik pelan tangan istrinya, ia lihat Redi dan Richie sudah dicounter check in.

__ADS_1


"Cuwiwit sudah suami istri loh sekarang." Mike kembali menggoda Balen dan Daniel, keduanya tertawa sambil masuk kedalam kembali lambaikan tangan, untung saja anak-anak sudah berjalan lebih dulu lewati keduanya.


__ADS_2