Because I Love You

Because I Love You
Interview


__ADS_3

"Baen tidak usah poco-poco ya, temani Abang pemanasan disini saja." kata Daniel saat melihat Richie, Redi dan anak-anak Baen sedang pemanasan ala poco-poco.


"Iya." jawab Balen setuju ikuti Daniel pemanasan di pinggir lapangan. Walaupun mereka sudah jalan pagi tadi tapi Daniel lakukan pemanasan singkat lagi.


"Ayo Ante..." teriak Bima saat melihat Balen, Daniel tidak diajak karena tidak pernah mau berjoget-joget seperti yang lain. Balen lambaikan tangan sambil gerak-gerakan bahunya ikuti irama musik.


"Aban, sekarang kanane... Aban Baen geraklah ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan dan ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan manise..." malah bernyanyi gemu fa mi re sambil bergoyang di depan suaminya, Daniel terbahak dibuatnya.


"Kamu nih ada saja kelakuannya." Daniel tertawa mencubit pipi istrinya.


"Aban sih, ndak mau goyang kaya Baen." katanya bergerak ikuti irama lagu.


"Ini Abang lagi goyang." kata Daniel putarkan lututnya sesuai gerakan pemanasan.


"Ah itu sih ndak sama." jawabnya sambil mendengus.


"Sekarang Kirie..." Daniel ikut bernyanyi sambil tertawa pandangi istrinya, Balen jadi ikut tertawa mendengarnya, Daniel selalu irit kalau bernyanyi, hanya beberapa kata saja, itu saja sudah hebat betul.


"Kita tidak usah lomba ya, kita main saja berdua dilapangan yang itu, mereka biarkan berlomba." kata Daniel pada Balen.


"Iya, semua sudah menyerah sama Aban." jawab Balen tertawa.


"Hei, kami mulai duluan ya." teriak Daniel pada semuanya, mulai mengambil raket yang sudah disediakan. Redi acungkan jempolnya, ia masih rusuh bersama anak-anak. Permainan Balen dan Daniel menyita perhatian semua yang ada, walaupun bukan atlet keduanya terlihat mahir. Sebenarnya bisa saja Daniel waktu itu ikuti jejak Larry menjadi atlet, tapi akibat hukuman Papa karena tawuran, ia jadi tidak mendapat ijin keluar dari Asrama saat itu.


"Aban..." melempar bola saja berteriak memanggil Daniel, bukannya berhitung point, Daniel kembali tertawa. Istrinya benar-benar bocah.


"Baen..." Daniel balas memanggil Balen saat melempar Bola bikin semua tertawa lihat kelakuan keduanya. Baru saja satu set Balen sudah tidak mau lanjutkan tenisnya.


"Sudah ah, ndak ada yang menang, kalian lanjut aja." kata Balen semena-mena.


"Kenapa?" tanya Daniel.


"Baen mules." jawabnya bikin Daniel tertawa.


"Kita gugur, jagoannya mules." jawab Daniel pada yang lain.


"Oke saingan berkurang." jawab Shaka senang, bayangkan dapat setoples coklat import.


"Om ke kamar?" tanya Bima pada Daniel saat ikuti Balen yang jalan terburu-buru.


"Tidak, mau kasih tahu Baen, toilet terdekat. Dia pasti mau ke kamar tuh." Daniel terkekeh lihat Balen sudah berlari ke arah lift.


"Lama kalau di kamar, jangan lama-lama Om." pesan Bima pada Daniel.


"Ya." Daniel acungkan jempolnya.


"Toilet di sana saja sayang." Daniel tunjukkan toilet dekat receptionist.


"Oh iya, Aban jagain pintunya." Selalu minta Daniel menunggu di depan pintu toilet menjaga Balen.

__ADS_1


"Iya." Daniel ikuti kemauan istrinya.


"Aban, jangan kemana-mana ya." pesannya ketika akan masuk ke dalam toilet.


"Iya." Daniel tersenyum berdiri tepat didepan pintu toilet menunggu istrinya.


"Nunggu adiknya Mas?" sapa seorang wanita yang akan masuk ke Toilet, ia perhatikan Daniel dan Balen dari tadi.


"Oh, istri saya." jawab Daniel acuh, lalu kembali fokus pada pintu toilet. Tidak perhatikan yang lain lagi.


"Gue kira adiknya." kekeh perempuan tersebut pada temannya yg sudah masuk lebih dulu.


"Menghayal dapat jodoh di pintu toilet hotel." mereka berdua langsung cekikikan, Balen yang sedang mules Dan konsentrasi hanya mendengar saja, ada yang mau dapat jodoh didepan pintu toilet, jangan sampai jodoh yang dimaksud Aban Daniel Baen.


"Eh itu suami kamu beneran?" saat Balen keluar toilet langsung di buru dengan pertanyaan tidak penting dari orang yang tidak dikenalnya.


"Mbaknya siapa ya? kenal saya?" tanya Balen pasang wajah polos.


"Tidak sih, cuma mau tahu benar apa tidak yang mas didepan bilang kalau adek istrinya." katanya lagi. Balen tersenyum saja malas menjawab, kadang banyak cewek-cewek agresif yang tidak tahu malu mau dekati pasangan orang.


"Sombong!" desisnya saat Balen tinggalkan mereka keluar toilet, bukan urusan dia juga sih, kenapa juga harus dijawab, pikir Balen tertawa dalam hati.


"Aban, ada yang gangguin Aban terus ya kalau lagi tungguin Baen depan toilet." sungut Balen langsung menggandeng suaminya.


"Ganggu apa?" tanya Daniel.


"Itu tadi cewek tanya-tanya."


"Didalam tanya Baen juga benar apa ndak istri Aban." Balen gelengkan kepalanya.


"Makanya jangan jauh-jauh Dari Abang dong." Daniel terkekeh.


"Aban sih." sungut Balen.


"Kenapa Abang?"


"Ndak apa-apa sih, bukan salah Aban." jawabnya lagi.


"Tidak ada yang salah kan." Daniel tertawa.


"Salahin aja siapa ya Aban? orang itu deh yang gangguin Abang."


"Mereka tidak ganggu cuma tanya." jawab Daniel.


"Yah... terserah Aban deh." jawab Balen masih menggandeng Daniel.


"Aban, nanti pulang aja ah." katanya lagi.


"Mau check out?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Iya, Baen malas disini ada yang tanya-tanya Aban." sungutnya lagi.


"Nanti kita dikamar saja tidak ada yang tanya-tanya deh." kata Daniel modus.


"Pulangnya kapan?" tanya Balen.


"Besok lah, sama dengan yang lain. Mama dan Papa belai-belain menginap disini sampai besok loh." kata Daniel ingatkan Balen.


"Oh iya." mereka kembali kelapangan, bergabung sama Papa dan Mama yang sudah duduk sebagai penonton.


"Tidak main?" tanya Papa pada Daniel.


"Sudah duluan, satu set saja." jawab Daniel tertawa.


"Kenapa? keram?" tanya Mama heran.


"Baen mules, Mama." jawab Balen bikin Mama tertawa.


"Mama ini ada jeruk sama manggis." Balen serahkan buah diplastik pada Mama.


"Mama sudah kenyang makan nasi goreng sama Papa." jawab Mama terkekeh.


"Ih, kolestrol Mama." langsung ingatkan Mama.


"Masih muda saja tahu kolestrol." Mama tertawa.


"Baen sih cuma dengar Papa aja bilangin Opon kalau makan santan kolestrol." jawab Balen tertawa.


"Oh Iya, ke Malang yuk Ma, Daniel belum sowan ke Oponnya Baen." kata Daniel pada Mama sambil pandangi Papa.


"Berapa hari?" tanya Mama.


"Satu malam saja." jawab Daniel.


"Kalian saja kalau begitu." jawab Mama tersenyum, malas juga ke Malang hanya satu hari itu capek menunggu dibandara saja rasanya.


"Ke Jepang yuk Ma." tiba-tiba Redi datangi Mama.


"Mama lagi malas ke luar negeri." jawab Mama tertawa.


"Kenalan sama calon mantu Ma." kata Redi lagi.


"Mama sudah kenal Ulan, waktu mau ke Jepang kami bertemu di rumah Nona, dia menginap disana." kata Mama pada Redi.


"Ledi, tadi aja masih ngobrol lama sama cewek Malaysia itu kan." tembak Balen langsung.


"Iya." Redi tersenyum.


"Tapi mau kejar Ulan ke Jepang, tapi ladeni cewek Malaysia juga. Baen takut aja Ulan Baen jadi sedih karena Ledi." celoteh Balen sampaikan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Kan kenalan dulu Baen, kalau sudah serius tidak ada cewek-cewek lain." janji Redi sama Balen.


"Nanti sampai di Ohio, itu cewek Malaysia Baen interview." katanya serius, Daniel terbahak, beda tipis antara interview sama labrak versi Balen.


__ADS_2