Because I Love You

Because I Love You
Lapor


__ADS_3

"Apa heh?" Redi ajak Ulan bercanda untuk cairkan suasana, dilihatnya gadis itu sangat tegang dengar ucapan Redi barusan.


"Ndak..." Ulan tersenyum malu.


"Jadi bagaimana? mau?" tanya Redi.


"Mau apa?" Ulan terkekeh.


"Kenalkan aku sama Papa dan Mama sebagai Future Husband?"


"Abang ndak jelas." Ulan berusaha menarik tangannya dari genggaman Redi.


"Tidak jelasnya bagaimana sih?" tanya Redi masih tarik-tarikan tangan dengan Ulan.


"Abang juga sudah dipaksa menikah seperti Bang Lucky?" tanya Ulan polos. Redi gelengkan kepalanya.


"Aku serius tahu." dengus Redi, Ulan menghela nafas.


"Lanjut lagi deh bacanya." Redi tidak lagi ingin membahas lebih, khawatir suasana jadi tidak enak.


"Abang, boleh lepaskan tangan Ulan ndak?" pinta Ulan pada Redi sambil pandangi tangannya yang digenggam Redi


"Kenapa?" tanya Redi.


"Keringatan nih tangan Ulan." jawab Ulan polos, Redi tertawa dibuatnya lalu lepaskan genggamannya.


"Besok temani aku cari apartment ya." kata Redi kemudian.


"Besok malam kan Abang sudah kembali ke California? buat apa apartment?" tanya Ulan bingung.


"Kalau aku sudah mulai berkantor di Jepang tidak mungkin menumpang terus di apartment kamu kan?" Redi tersenyum manis.


"Oh iya." Ulan anggukan kepalanya.


"Kecuali kita sudah menikah." Redi tersenyum jahil.


"Ih Abang." Ulan kembali salah tingkah dibuatnya. Redi tertawa kecil sambil mengacak anak rambut Ulan.


"Aku ke kamar dulu, nanti makan malam dimana kita?" tanya Redi pada Ulan.


"Mau makan keluar apa mau makan masakan Ulan?" tanya Ulan pada Redi.


"Makan masakan kamu kalau tidak repot." jawab Redi senang, dimasaki oleh calon istri, eh pede betul sih Redi.


"Bahannya ada?" tanya Redi.


"Ulan cek dulu ya." Ulan segera menyusun buku yang baru dibelinya di laci, lalu segera buka lemari pendingin.


"Cuma ada udang, pokcay, jagung muda, mau sayur tumis dan udang balado atau udang goreng tepung, Bang?" tanya Ulan pada Redi.


"Yang kamu suka saja, aku suka semua." jawab Redi nyengir segera tinggalkan Ulan masuk ke kamar. Redi perlu tenangkan diri, berlama-lama dengan Ulan bikin hatinya kebat-kebit. Tadi sengaja tidak menunggu jawaban Ulan, khawatir Ulan jadi menjauh kalau didesak, paling tidak Ulan tahu dulu kalau Redi serius.


Ulan menarik nafas dan menghembuskan perlahan begitu Redi masuk ke kamar, pesona Redi memang tidak bisa ditolak, tapi Ulan masih bingung apa maksud Redi barusan. Masa iya mau jadikan Redi future husband? Ulan sendiri belum pernah jatuh cinta.


Dulu Ulan mengidolakan Mas Vicky anak Bude Mita sepupu Mamanya, sepertinya itu cuma sekedar mengagumi dan pernah berharap kalau punya suami nanti seperti Mas Vicky yang kalem dan dewasa. Redi beda jauh sama Mas Vicky, tidak kalem tapi pintar dan Ulan kagumi itu, sudah ganteng pintar pula, bisa bantu Ulan kerjakan tugas kuliah yang Mas Vicky ataupun Masanta tidak bisa bantu.


Ulan butuh teman cerita, sepertinya Balen yang bisa dengarkan isi hati Ulan saat ini, ia langsung hubungi Balen saat dikamarnya.


"Tengah malam telepon Baen, ada apa Ulan?" tanya Balen yang belum tidur.

__ADS_1


"Lagi belajar ya? kok belum tidur?" tanya Ulan.


"Baen ndak pernah belajar tahu." jawabnya tertawa.


"Baen disini lagi ada Bang Redi loh." Ulan mulai membahas Redi.


"Sudah tahu, Baen kan yang antar ke Bandara." jawab Balen nyengir.


"Oh iya." Ulan tertawa.


"Mana Ledi nya?" tanya Balen.


"Lagi istirahat dikamar, Ulan juga istirahat deh, sebentar lagi mau masak untuk makan malam." jawab Ulan.


"Cie Ulan masakin Ledi Dei." Balen menggoda Ulan.


"Apa sih Baen, kalau beli terus kan bosan." Ulang tersenyum malu-malu, padahal Balen tidak melihatnya.


"Ada cerita cinta ndak?" tanya Balen cengengesan.


"Baen, Abang Redi itu kan playboy ya?" tanya Ulan.


"Ndak terlalu." jawab Balen konyol.


"Ndak terlalu bagaimana sih?" Ulan jadi tertawa, mana ada ndak terlalu playboy.


"Pokoknya kalau dia rayu Ulan itu tandanya dia serius sama Ulan." jawab Balen.


"Ndak ngerti ah." Ulan malah tambah kusut.


"Memangnya Ledi Dei rayu Ulan?" tanya Balen.


"Ndak sih, cuma minta dikenalkan sama Papa dan Mama bulan depan saat acara Ichie." jawab Ulan.


"Iya, tapi minta dikenalkannya sebagai future husband." jawab Ulan mendesah. Balen langsung joget-joget mendengarnya.


"Sayang jangan kelincahan." terdengar suara Daniel.


"Ledi Dei mau jadi future husband, Aban." lapornya bikin Ulan teriak.


"Baeeen, jangan kasih tahu Abang Daniel dong." dengusnya kesal.


"Eh iya, Baen keceplosan." jawab Balen.


"Aban, Baen keluar kamar dulu." ijinnya pada Daniel.


"Ulan, mau ndak jadi istrinya Ledi?" tanya Balen setelah menutup pintu kamar.


"Aneh ah Baen, Bang Redi kan adiknya Bang Daniel suami Baen."


"Memangnya kenapa? ndak masalah kok, Mama Ai aja bilang kalau memang jodohnya kenapa ndak."


"Ulan ndak kepikiran Baen. Ulan masih pikirin kuliah." jawabnya lagi.


"Ledi Dei kan bantuin Ulan biar cepat lulus." jawab Balen, Ulan akui itu, Redi sangat membantu.


"Ulan baru kenal sama Abang Redi. Baru bertemu beberapa kali. Belum tahu sifat masing-masing." jawab Ulan.


"Yah kan bisa saling kenal sambil jalan." Balen terkesan dewasa.

__ADS_1


"Baen..."


"Iya Ulan."


"Tadi tangan Ulan di pegang Bang Redi." lapor Ulan polos.


"Rasanya bagaimana?" tanya Balen.


"Jantung Ulan mau copot sampai sekarang masih lemas." jawabnya polos.


"Berarti Ulan natsi Ledi Dei." jawab Balen.


"Masa begitu?" Ulan tidak percaya.


"Iya tahu, kalau biasa aja dipegang tangannya ya ndak natsi." jawab Balen sok tahu.


"Abang Redi mau kerja disini Baen." lapor Ulan lagi.


"Jadi ya?" tanya Balen.


"Iya tuh katanya dua bulan kedepan sudah berkantor di Tokyo-Kyoto." jawab Ulan.


"Bagus deh ada yang jagain Ulan." jawab Balen santai.


"Bulan depan Baen ke Jakarta kan? Sama Bang Redi dari Ohio?" tanya Ulan.


"Baen sama Aban kayanya ndak sama Ledi deh." jawab Balen.


"Bang Redi ke Tokyo dulu." lapor Ulan.


"Baen sama Aban transit Seoul." jawab Balen.


"Papi Mario yang sponsor ya?" tanya Ulan lagi.


"Sponsor apa?" tanya Balen.


"Tiket kita ke Jakarta." jawab Ulan.


"Oh..." Balen langsung nyengir.


"Bang Redi bilang begitu." kata Ulan.


"Iya." jawab saja iya, itu sih akal-akalan Redi biar Ulan ikut ke Jakarta dan realisasikan Future Husband.


"Baen, nanti Ulan perlu bilang terima kasih sama Papi ndak?" tanya Ulan.


"Ndak usah ya Ulan, ndak usah."


"Ndak sopan dong Baen."


"Urusan Papi banyak, nanti bilang terima kasihnya bawakan oleh-oleh dark chocolate aja." jawab Balen.


"Papi suka coklat?" tanya Ulan.


"Baen yang suka." jawab Balen konyol.


"Baen, yang betul ih." Ulan mendengus walau jadi tertawa dibuat Balen.


"Iya nanti bawakan dark chocolate dari Kyoto yang banyak ya, bilang makasih sama Baen aja." jawabnya benar-benar konyol.

__ADS_1


Cie Ledi Dei, future husband nih.


dasar Balen habis dapat curhatan dari Ulan langsung saja kirim pesan ke Redi. lalu matikan telepon karena Daniel sudah menyuruhnya tidur, tidak boleh kan main handphone lagi.


__ADS_2