Because I Love You

Because I Love You
Toko Buku


__ADS_3

Setelah kemarin habiskan waktu diperpustakaan sepanjang sore, siang ini rencananya Redi temani Ulan ke toko buku. Pertemuan Redi bersama Ulan kali ini tak jauh dari buku dan belajar. Sudah seperti guru private saja Redi rasanya.


"Abang, ndak apa temani Ulan ke toko buku? harusnya kita ke Tokyo hari ini." Ulan sedikit tidak enak hati, Redi habiskan waktunya untuk Ulan belajar.


"Tidak apa, Biar kamu cepat lulus. Kita kerjakan yang penting dulu." Redi tersenyum memandang Ulan. Bersiap keluar dari apartment. Pagi-pagi tadi Ulan sudah sibuk siapkan sarapan untuk Redi, benar-benar calon istri idaman. Bertolak belakang dengan Balen yang selalu disiapkan, tapi bagaimanapun Balen tetap idamannya Daniel, Redi terkekeh dalam hati, bersyukur mengalah lepaskan Balen, dapat Ulan yang mandiri dan tidak kalah cantik, eh belum dapat deh lagi usaha.


"Kalau buku yang kamu butuhkan tidak ada, kemana kita harus cari?" tanya Redi, mumpung Redi ada disini bisa temani Ulan jika buku yang dimaksud ada diluar Kyoto.


"Harusnya sih ada dan masih banyak karena ini buku baru." jawab Ulan ikut tersenyum pada Redi.


"Ayo..." ajak Redi tidak sabar, Ulan ikuti Redi mereka berjalan beriringan keluar apartment.


"Besok Bang Redi sudah pulang?" tanya Ulan, Redi anggukan kepalanya.


"Sepi lagi deh." Ulan mendesah, rasanya terlalu sebentar, baru juga datang kemarin, besok sudah pulang saja.


"Nanti aku akan sering kesini kok, dua bulan kedepan mungkin kita sudah mulai buka kantor disini." jawab Redi nyengir.


"Beneran?" tanya Ulan tidak percaya.


"Beneran dong, masa bohong." Redi terkekeh.


"Abang tinggal dimana Tokyo apa Kyoto?" tanya Ulan semangat.


"Kyoto-Tokyo, bolak balik saja." jawab Redi senang lihat ekspresi Ulan.


"Lumayan lah, Ulan ada yang jagain." senyum tak lepas dari wajah Ulan.


"Aku bukan bodyguard ya." Redi terkekeh.


"Hehehe Ulan ndak jadikan Abang Bodyguard kok."


"Jadikan apa dong?" mulai pancing-pancing.


"Jadikan Abang Redi lah." hampir seperti Balen kalau lagi asal. Redi terkekeh walau jawaban Ulan tidak jelas.


"Abang suka pantai?" tanya Ulan kemudian pikirnya setelah dari toko buku mungkin bisa ajak Redi ke pantai


"Suka, kamu mau ke pantai?" Redi balik bertanya.


"Terserah Abang, nanti mau ke pantai ndak?" Ulan menawarkan walau pakai terserah.


"Nanti saja, jangan sekarang." Redi pikirkan udara yang kurang menunjang untuk kepantai saat ini. Lagi pula Redi punya tempat sendiri yang mau ia kunjungi terkait pantai.


"Aku mau ke Okinawa, disana banyak pantai bagus." kata Redi kemudian, langsung berpikir ingin ajak Ulan ke Okinawa. Harusnya kesana saat mereka bulan madu nanti, pikir Redi.


"Abang pernah kesana?" tanya Ulan.


"Belum, tapi itu salah satu tempat tujuan wisata yang aku inginkan, mau kesana sama aku?" ajak Redi berharap. Ulan tertawa mendengarnya.


"Mana boleh sama Papa dan Mama kalau Ulan ke Okinawa berdua Abang. Berbahaya." jawab Ulan dengan ekspresi lucu bikin Redi ikut tertawa.

__ADS_1


"Kalau begitu nanti kamu ke Okinawa sama suami kamu saja." kata Redi kemudian, kembali pancing-pancing.


"Masih lama Abang, fokus Ulan selesaikan kuliah dulu baru deh pikirkan suami." jawab Ulan, Redi anggukan kepalanya, padahal ini saat yang tepat Redi bahas future wife tapi lidahnya terasa kelu.


Mereka tiba di toko buku, Ulan asik berjibaku dengan buku-buku yang ada, keranjang yang dibawa ya mulai terisi. Redi bergaya bodyguard dengan setia berdiri disebelah Ulan pegang keranjang berisi buku yang sudah Ulan pilih.


"Abang, letakkan saja keranjangnya, nanti Abang pegal tangannya." kata Ulan pada Redi.


"Yah, tenang saja." Redi tersenyum, akhirnya ikuti Ulan letakkan keranjang dan mulai ikut pilih-pilih buku.


"Abang suka baca juga?" tanya Ulan.


"Hmm..." hanya naikkan alisnya.


"Sama dong kita." Ulan terkekeh.


"Jodoh..." gumam Redi.


"Apa bang?" tanya Ulan minta diulang.


"Iya sama." jawab Redi nyengir. Ah Redi, kenapa jadi begini, repot juga dekati cewek santun rupanya, Redi belum leluasa bicara tentang perasaan.


"Bang, beli buku ini deh, biar romantis sama istrinya nanti." Ulan tunjukkan buku tentang sikap suami pada istri.


"Sepertinya kalau mau romantis tidak perlu buku." jawab Redi sombong.


"Sudah pengalaman ya." Ulan terkikik geli, dasar adiknya Nanta beda gaya tapi tetap saja menggemaskan.


"Abang mau beli buku apa?" tanya Ulan.


"Itu saja yang tentang suami, bahasa Inggris kan bukan jepang?" tanya Redi.


"Beneran Abang mau baca buku ini?" tanya Ulan.


"Kan kamu bilang bisa bikin romantis sama istri." Redi tertawa.


"Ndak usah, Ulan bercanda kok." Ulan ikut tertawa.


"Kamu sudah baca buku itu?" tanya Redi.


"Belum, Ulan cuma baca judulnya saja tadi." Ulan cekikikan sambil tutup mulutnya, imut sekali pikir Redi.


"Aku romantis kok." Redi tersenyum jahil.


"Eh... bagus deh." Ulan jadi Salah tingkah.


"Abang, masih mau belanja buku ndak? Ulan sudah selesai."


"Ndak..." jawab Redi ikuti gaya Ulan, bikin Ulan tertawa menepuk bahu Redi. Setelahnya Redi menuju kasir selesaikan pembayaran buku yang Ulan beli.


"Abang, Ulan saja yang bayar." Ulan tidak enak hati.

__ADS_1


"Ish, anak kuliahan jangan sok deh." jawab Redi tengil lalu abaikan Ulan, sibuk dengan transaksi.


"Kamu mau kemana lagi?" tanya Redi ditangannya tampak paper bag berisi buku Ulan.


"Urusan Ulan sudah selesai, sekarang temani Abang Redi jalan-jalan." jawab Ulan tersenyum.


"Makaaan." jawab Redi tertawa.


"Sudah lapar lagi?" tanya Ulan bingung.


"Sudah saatnya, tadi sarapan sekarang makan siang." jawab Redi.


"Abang mau makan ditempat kemarin? ndak bosan?" tanya Ulan pada Redi.


"Tidak bosan kalau sama kamu." jawab Redi nyengir, Ulan jadi ikut nyengir.


"Ulan, waktu kamu di Ohio aku kan pernah bil..."


Drrtt... Drrtttt... handphone Redi berdering. Kenapa setiap mau bahas future wife ada telepon masuk sih, Redi jadi kesal sendiri. Sementara setiap telepon yang masuk tidak mungkin Redi abaikan karena Redi harus terus koordinasi tentang pekerjaan.


"Yes Lucky." rupanya Lucky yang hubungi Redi.


"Help me please..." suara Lucky benar-benar kacau.


"Kenapa lu?" tanya Redi bingung.


"Nasib gue bagaimana nih." ah playboy yang satu ini merengek bikin Redi terbahak.


"Kenapa nasib lu?"


"Kacau balau, hatiku sangat kacau." desah Lucky.


"Rupa-rupa rasanya?" tanya Redi tertawa geli.


"Satu rasa saja bikin kacau balau. Gue mau cerita, lu sibuk?" tanya Lucky pada Redi.


"Gue lagi di Jepang, santai sih." jawab Redi siap menerima cerita Lucky.


"Eh, lagi sama Ulan?" tanya Lucky.


"Hu uh."


"Nanti sajalah." Lucky tidak jadi cerita.


"Tidak apa, santai."


"Jangan, kalian lagi di jalan kan? nanti saja kalau sudah santai."


"Nanti malah tidak santai." kata Redi.


"Rese, mau lu apain tuh Ulan, nanti tidak santai. Adik gue tuh..." Redi terbahak mendengarnya, siapa juga yang mau apa-apain Ulan, dasar Lucky otaknya, pikir Redi jadi heboh sendiri bersama Lucky, sementara Ulan menyimak ikut senyum-senyum, padahal tidak tahu mereka bahas apa.

__ADS_1


__ADS_2