Because I Love You

Because I Love You
Mengungsi


__ADS_3

"Semua sudah siap?" tanya Daniel pada Balen. Mereka putuskan ke Jakarta lebih cepat, karena Balen mau ajak Daniel menginap lama di kota Malang.


"Tinggal tunggu Achara." jawab Balen pada suaminya. Achara putuskan cuti kuliah dan akan tinggal di Indonesia untuk sementara waktu. Balen pilihkan Achara menetap di Kota Malang, ada Ichie dan Tori yang bisa bantu temani Achara disana. Kasihan betul Balen pada sahabatnya yang satu ini, ia tidak mau sampaikan pada Markus ataupun Berryl jika ia sedang mengandung.


"Achara tidak mau beritahu Markus?" Daniel pastikan lagi. Balen gelengkan kepalanya.


"Resiko ditanggung sendiri, karena Achara juga tidak tahu pasti itu anak siapa." jawab Balen, Daniel meringis mendengarnya. Begitu bebasnya hidup Achara kemarin-kemarin.


"Nanti kamu disalahkan sama orang tua Achara tidak?" tanya Daniel lagi.


"Papanya sudah tahu Aban." jawab Balen.


"Marah?" tanya Daniel.


"Ndak tahu Baen, Achara ndak mau cerita." jawab Balen apa adanya.


Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, mereka rencana berangkat gunakan private jet milik keluarga Achara yang tidak diijinkan naik pesawat komersil oleh keluarganya.


"Let's go." kata Achara sambil tersenyum. Walaupun tersenyum, Daniel bisa melihat kesedihan di mata Achara. Pasti sedih dalam kondisi hamil begini tapi tidak tahu harus meminta siapa yang harus bertanggung jawab.


"Yuk." kali ini Daniel dan Balen pulang ke Indonesia bawa koper tapi tidak berisi baju melainkan hanya oleh-oleh untuk anak-anak Baen dan keluarga besar lainnya.


"Ledi Dei kapan berangkat, Aban?" tanya Balen pada Daniel.


"Tiga hari lagi baru ke Tokyo." jawab Daniel, Redi seperti janjinya pada Ulan akan menjemput Ulan di Tokyo.


Disinilah mereka sekarang, dalam private jet menuju Jakarta. Achara lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.


"Ichie sudah tahu kan?" tanya Achara pada Balen setelah sekian lama berdiam diri.


"Sudah, nanti kamu bisa tinggal dirumah Abangku Raymond, Papanya Kia, rumah itu sudah lama kosong. Richie dan Tori tinggal tidak jauh dari sana, hanya beda beberapa rumah." jawab Balen, Raymond ijinkan rumahnya di pakai sahabat Balen, dari pada kosong.


"Nanti disana bisa pekerjakan orang yang menginap biar temani kamu, karena biasanya Bang Raymond dibantu ART yang dirumah Ichie nanti." kata Balen lagi jelaskan pada Achara.


"Tidak usah, setelah aku tiba disana Papaku akan kirim orang kepercayaannya untuk menemani Dan menjaga aku. Sebenarnya Papa mau beli rumah disana, tapi tanggung, aku paling hanya setahun dua tahun di Indonesia, setelahnya aku akan ajak anakku kembali Ke Amerika lanjutkan kuliah kemudian kembali ke negaraku." jawab Balen


"Iya kalau tidak menetap untuk apa beli rumah. Tapi ya kamu bisa sangat betah di Malang loh, itu kotanya menyenangkan." Balen promosikan kota Malang.


"Daniel, jangan bilang Markus ya. Aku pergi tidak bilang dia dan juga tidak bilang beryl." kata Markus pada Daniel yang sedari tadi sibuk membaca buku yang dibawanya. Sudah tahu istrinya pasti sibuk dengan sahabatnya.


"Oke." jawab Daniel santai.


"Kalau Markus tanya, Aban bilang apa?" tanya Balen.

__ADS_1


"Abang suruh tanya kamu saja." jawab Daniel.


"Duh Baen takut keceplosan." kata Balen menutup mulutnya.


"Baen ndak mau ketemu Markus selama Achara di Indonesia ah Aban." kata Balen lagi bikin Daniel tertawa.


"Kalau Max ndak ada, kita bisa ajak Althea nih." Balen teringat Althea sahabatnya. Paling susah diajak pergi karena tidak di ijinkan pacaranya. Benar-benar gadis yang penurut.


"Nanti kapan libur, Althea mau ke Indonesia bertemu denganku, Balena."


"Dia bilang begitu?" Balen tidak percaya.


"Iya, kalau ke Indonesia pun harus bersama Balena."


"Achara, kalau kamu di Indonesia cuma dua tahun, begitu aku lulus kan rencana aku kembali tinggal di Indonesia. Kita selisih jalan dong." kata Balen pada Achara.


"Kamu kan nanti pasti ada cuti satu semester karena melahirkan Balena." Achara terkekeh, bersama Balen ia bisa lupakan kesedihannya.


"Oh iya, kita masih bertemu enam bulan ya." Balen terkekeh.


"Althea jangan hamil sebelum menikah ah." desah Balen pikirkan Achara yang atasi keluhan selama hamilnya seorang diri.


"Althea kalau hamilpun sudah ketahuan itu anak Max." jawab Achara.


"Kamu beruntung Balena, hamil dan punya suami. Anakmu nanti punya Papa yang baik." Achara tersenyum.


"Iya karena kami tidak *** bebas sih seperti kalian." ceplos Balen bikin Achara mencibir dan sedikit menyesal.


"Nanti kalau anaknya sudah lahir mau test DNA? minta tanggung jawab biar baby punya Papa." tanya Balen, Achara gelengkan kepalanya.


"Markus tidak mau menikah dan tidak mau punya anak." keluh Achara.


"Kalau tidak mau punya anak kenapa kamu hamil? harusnya dia antisipasi dong." Balen sedikit emosi.


"Belum tentu anak Markus kan?" Achara tertawa miris.


"Kalau Berryl pernah ajak kamu menikah?" tanya Balen.


"Kita tidak pernah bahas itu Balena, kita hanya having fun selama ini."


"Efeknya lihat dari having fun itu. Kamu ndak sadar waktu melakukan siapa yang tidak pakai pengaman?" tanya Balen, Achara menggelengkan kepalanya.


"Semua tidak pakai." desahnya lagi.

__ADS_1


"Gila!!!" desis Balen, Daniel menghela nafas sambil gelengkan kepalanya, nekat sekali Achara.


"Tapi Markus dan Berryl sudah vasektomi untuk bermain aman." jawab Achara.


"Kamu yang temani mereka vasektomi?" tanya Balen, Achara gelengkan kepalanya.


"Bisa saja salah satu mereka berbohong." gumam Balen, Achara anggukan kepalanya.


"Kamu cari tahu dong, siapa yang bohong." Balen desak sahabatnya.


"Sudahlah Balena, aku juga tidak mau menikah dengan pria yang tidak cinta sama aku. Mereka tidak cinta hanya bersenang-senang saja." jawab Achara.


"Itu kan pikiran kamu." Daniel buka suara, pikirnya Markus sering terlihat cemburu saat di California beberapa waktu lalu.


"Aban, cari tahu ya."


"Kalau Achara menghilang begini kita lihat saja siapa yang cinta dan kehilangan." Daniel tersenyum.


"Itu juga maksudku sih, kalau benar-benar cinta pasti cari aku kemanapun."


"Semoga saja." Balen tersenyum.


"Lagipula dua tahun cukup lama Balena, siapa tahu mereka bertemu wanita lain." Achara terkekeh.


"Iya juga sih, kamu juga siapa tahu bertemu pria yang mau terima kamu sama anak kamu."


"Jangan berhayal Balena, Aku tidak kenal siapapun di Indonesia selain kamu."


"Banyak kejadian begitu." jawab Balen.


"Iya juga, siapa tahu saudara kamu yang tampan itu mau menikah denganku dan menjadi Ayah anakku ini." Lucky maksudnya.


"Jangan berhayal kalau yang itu." Balen menoyor kepala sahabatnya yang terkikik geli, ia hanya bercandai Balen dan tidak bermaksud menggoda Lucky dengan kondisi seperti ini. Achara sudah tidak percaya diri seperti kemarin-kemarin.


"Kamu sudah cek HIV belum sih? kemarin itu kamu terlalu banyak *** dengan para lelaki." tanya Balen pikirkan kesehatan sahabatnya.


"Selalu cek sih, kemarin itu aman. Nanti kalau sudah waktunya aku pasti cek lagi." jawab Achara.


"Setelah kejadian ini aku harap kamu kapok." kata Balen seperti ibu-ibu mulai marahi sahabatnya.


"Iya. Terima kasih sudah bantu aku mengungsi Balena." Achara memeluk Balen yang duduk disebelahnya.


"That's what the friend are for." jawab Balen balas memeluk sahabatnya sambil menghela nafas pikirkan nasib Achara.

__ADS_1


__ADS_2