Because I Love You

Because I Love You
Berlanjut


__ADS_3

"Apa sana, ndak jelas." Redi terkekeh.


"Abang, kok gandeng tangan Ulan?" tanya Ulan polos.


"Abang, limbung... takut jatuh." jawab Redi, sedikit kaget ternyata ia sedang menggenggam tangan Ulan, mau dilepas kok sayang.


"Kamu keberatan?" tanya Redi.


"Takut jadi gosip, nanti pada heboh." jawab Ulan.


"Tidak apa, biarkan saja heboh." jawab Redi kembali tertawa. merekapun masuki Restaurant dan bisa lihat Richie dan Lucky cengengesan.


"Sudah gandengan tangan dia." Lucky menyikut lengan Richie.


"Aih gerak cepat Bang Redi, kalah Bang Lucky nih." Richie tertawa sambil berbisik. Lucky pun menyikut Richie pelan.


"Billian, jangan komentar." tegas Richie saat lihat Billian sudah mulai menganga ingin ucapkan sesuatu saat lihat Redi dan Ulan masuki restaurant, disusul Balen yang dirangkul suaminya.


"Siap Om Ichie." Billian langsung nyengir lebar.


"Kenapa?" tanya Shaka ingin tahu.


"Shaka cepat pesan makanannya ya, jangan gosip dulu." tegas Lucky pada keponakannya tidak mau mereka hilang fokus. Dari tadi sudah sangat rusuh sampai Lucky bikin perjanjian kalau makan tidak boleh rusuh, karena Lucky ingin nikmati makanannya.


"Iya Om." Shaka langsung konsen pada menu di layar gadget.


"Eh Om Redi sudah sampai." sapa Belin sambil menggandeng tangan Redi.


"Ada maunya ya?" tebak Redi karena Belin sudah menempel.


"Belikan souvenir dong Om." pintanya pada Redi, benar saja ada maunya.


"Bisa pakai card tidak? Om belum tukar yen lagi." jawab Redi apa adanya, sepertinya uang yang di pegang Ulan juga sudah menipis.


"Tidak tahu, bisa apa tidak." jawab Belin karena belum pernah belanja disini.


"Om Daniel..." langsung mengalihkan pandangan pada Daniel.


"Apa sayang?" tanya Daniel.


"Belikan souvenir lucu-lucu dong." pintanya merengek.


"Ini banyak Beyin, Ante beli ndak tahu buat apa, kamu pilih deh kalau ada yang cocok, kalau ndak ada baru beli." Balen perlihatkan barang belanjaannya.


"Aku juga mau Ante, ini lucu banget." Kia langsung bantu Belin bongkar belanjaan Balen.


"Ambil aja semua deh, Ante minta masing-masing satu ya" Balen serahkan tentengannya pada Kia dan Belin setelah mengambil satu jenis di setiap modelnya.


"Pesan makan dulu sayang, bongkar souvenir nanti saja." Lucky ingatkan Kia dan Belin.

__ADS_1


"Ok Om Lucky." jawab Kia menurut sekali dengan Lucky.


"Sama aku juga sayang Om?" tanya Belin jahil.


"Sama kalian semua sayang kok." jawab Lucky tertawa.


"Kia panggil mas dong." celutuk Shaka jahil, sudah dapat pesan dari Winner sih dia.


"Hei, kalian ini dari tadi menggoda Kia terus." Lucky gelengkan kepalanya.


"Iya kenapa sih?" sungut Kia seperti terganggu.


"Kasihan Om Lucky tahu." katanya lagi, ternyata tidak terganggu malah khawatirkan Lucky.


"Yang ada Om yang khawatir kamu terganggu." Lucky terkekeh mengacak anak rambut Kia.


"Aku biasa saja sih Om." jawab Kia.


"Kamu tidak ikut bergabung tuh?" Lucky tunjuk Aca dan Bima yang ngobrol seru dengan Ulan.


"Bima lagi bujuk Ante Ulan menginap di hotel." kata Kia yang sudah tahu rencana kedua adiknya.


"Apartment Ulan enak tahu, mana mau dia di hotel." sahut Balen pada Kia.


"Ante sih tidak ajak aku."


"Kalian kan traveling, kita kerjakan tugas." jawab Balen menjelaskan.


"Ya berpisah sementara, nanti bertemu lagi dong." Daniel tertawa pandangi Belin yang kalau Daniel peluk pasti nangis kejer itu.


"Beyin, kalau kangen Ante video call." pesan Balen pada Belina.


"Ante sehari dua kali ya kita videocall rombongan, bangun tidur aku sama bangun tidur Ante." Belin langsung pasang jadwal dengan Ante Baen.


"Ok." langsung setuju. "Aban, cumi Baen tadi mana, Baen belum makan." Balen tiba-tiba teringat jajanannya. Daniel serahkan makanan yang Balen beli tadi.


"Boleh makan disini ndak?" tanya Balen.


"Makan saja." jawab Lucky.


"Aban Lucky, tadi lancar ndak?" tanya Balen jahil pandangi Lucky sambil makan sate udangnya.


"Lancar dong ini kita sudah sampai disini, bebas hambatan, tidak kena macet." jawab Lucky sekenanya. Padahal tahu maksud pertanyaan Balen tapi ia putar saja jawabannya.


"Bakal berlanjut ndak sih?" masih saja menjurus-jurus. Lucky gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Disuruh Winner ya?" tebak Lucky bikin. Balen dan Daniel terbahak.


"Kenapa sih Om Winner?" tanya Kia yang tidak tahu cerita.

__ADS_1


"Om Winner mau carikan calon istri untuk Om Lucky." jawab Redi polos.


"Aah Om Lucky jangan nikah dulu ya, Kia tidak siap terima istri Om Lucky nanti, Istri Om Winner saja begitu, jaga jarak sama kita." pinta Kia bikin semua tertawa, kenapa juga bahas istrinya Winner.


"Redi yang lebih muda saja tiga bulan lagi menikah, Kia." jawab Daniel senyum simpul, ikut bantu perjodohan Kia dengan Lucky.


"Nanti Kia bagaimana kalau Om Lucky menikah, tidak ada yang ajak liburan lagi dong." sungut Kia, khawatir tidak bisa travel dengan Lucky lagi.


"Kia saja yang menikah sama Om Lucky, kalau begitu." celutuk Belin polos, semua langsung cie-cie dan aye-aye tidak pakai cuwiwit.


"Ih Kia kan masih sekolah." Kia gelengkan kepalanya.


"Kalau sudah lulus mau?" tanya Billian cengengesan.


"Tidak tahu ya, rasanya kok aneh sudah kenal dari kecil." Kia tertawa pandangi Lucky tanpa beban, tidak seperti cewek lain yang kalau beradu pandang dengan Lucky langsung salah tingkah. Lucky cengengesan saja balas pandangi Kia, yang bikin Lucky nyaman dan senang jalan sama Kia, dia tidak jatuh cinta sama Lucky.


"Ayo sudah selesai pesannya?" tanya Lucky lagi.


"Sudah..." jawab mereka bersamaan.


"Baen belum." teriak Balen.


"Sudah sayang." jawab Daniel tertawa.


"Oh siapa yang tulis?" tanya Balen.


"Ichie pesankan untuk kita." jawab Daniel.


"Ya ampun Ichie perhatian betul sama Kakaknya." agak lebay gitu bikin Richie monyongkan bibirnya.


"Jangan nangis nanti di Ohio tidak ada gue." Richie tertawa.


"Ah Ichie bikin Baen sedih." langsung sedih gitu Baennya, malah mau menangis disini.


"Ada Abang loh sayang." Daniel ingatkan Balen, kenapa istrinya khawatir sekali harus disekitar rumah sendirian. Yang Balen takutkan bukan didalam rumah sendiri, tapi terlihat sendiri dari luar sangat tidak mengenakkan.


"Iya biasanya kan dirumah ramai, Aban." Balen jelaskan pada Daniel.


"Ada pekerja kok nanti, Abang sudah pesan Oma Margareta untuk carikan orang temani kamu dirumah saat Abang bekerja."


"Aduh orang asing ya?" Balen gelengkan kepala.


"Dapat Bang?" tanya Richie.


"Ada dua orang kandidat, nanti kamu pilih saja, atau mau keduanya juga boleh." jawab Daniel.


"Sementara saja Bang, nanti aku urus keberangkatan anaknya Bi Latifah, dia bisa urus Baen tanpa diajari." Richie pikirkan Balen.


"Ingat pesan Papa, Chie. Abang harus ajarkan Baen mandiri."

__ADS_1


"Lah ini belum sampai Ohio sudah carikan orang yang bisa temani Balen, apanya yang ajari Mandiri." Redi dan Lucky terbahak tertawakan Daniel.


__ADS_2