Because I Love You

Because I Love You
Inces


__ADS_3

Swiiing... Kia meluncur diatas salju gunakan papan selancar. Sementara Balen sibuk membujuk Mamon dan Bunda yang juga menenteng papan selancar agar diijinkan ikut bermain. Bunda dan Mamon seperti tidak ingat umur, mereka bermain salju sambil tertawa dan berteriak. Tetangga Balen sering lakukan itu saat musim salju. Mereka tidak perlu ke lereng pegunungan salju, karena di sekitar rumah mereka pun bisa lakukan itu.


"Baen juga mau dong." teriak Balen yang dari tadi hanya diperbolehkan menonton saja.


"Tidak boleh, nanti kalau kandungan kamu bermasalah, Mamon bisa menyesal seumur hidup." jawab Nona menolak keinginan anaknya. Sementara para wanita bermain salju seperti anak kecil, rombongan laki-laki asik ngobrol didalam rumah menghangatkan badan.


"Mama, ayo." teriak Balen sodorkan Papan selancar pada Mama Amelia.


"Duh Mama bisa encok, jangan deh." Mama Amelia menolak.


"Itu Bunda sama Mamon dari tadi main loh, Ma." kata Balen pada mertuanya.


"Mama temani Baen saja." jawab Mama berdiri disebelah Balen.


"Akhirnya sudah tua baru merasakan main salju." kata Bunda Kiki sambil tertawakan dirinya sendiri.


"Oma, Kia videoin loh tadi, Oma sama Mamon teriak-teriak seperti bocah main perosotan." kata Kia tertawakan kedua Omanya.


"Jangan disebar Kia, nanti Opa Eja marahi Oma." kata Kiki khawatir Reza komplen lihat kelakuan Oma-Oma.


"Opa intip Oma di jendela dari tadi." jawab Kia bikin semua terbahak.


"Pasti Ayah sebenarnya mau ikut main salju juga tapi papan selancarnya kita kuasai." kata Balen sok tahu tapi kembali semua terbahak.


"Ayaaaah, sini." teriak Balen saat melihat Reza kembali mengintip. Reza gelengkan kepalanya sambil tertawa lihat kelakuan Oma-Oma yang kegirangan bermain salju.


"Daniel, panggil masuk istrimu. Nanti masuk angin main diluar terlalu lama." Kenan ingatkan Daniel.


"Iya Papon." Daniel segera beranjak, menuruti perintah mertuanya untuk menyusul Balen dan menyuruhnya masuk.


"Tuh Om Daniel mau ikut main pasti." kata Kia saat melihat Daniel keluar rumah hampiri mereka.


"Asik ada Aban, Baen boleh main kan Mamon." Balen langsung ambil kesempatan mau membujuk suaminya agar ajak Balen bermain bersama.


"Tidak boleh, Daniel pokok tidak boleh ya." kata Nona pada Daniel yang sudah mendekat.


"Apa nih?" Daniel jadi bingung dengar ucapan Mamon.


"Baen jangan ijinkan main salju. Nanti cucu Mamon tidak jadi keluar." kata Nona pada Daniel.


"Oh iya ini Daniel mau jemput Balen, disuruh Papon masuk kamu sayang." Daniel terkekeh.


"Ya ampun Baen seperti anak kecil aja sih malah disuruh masuk, ndak boleh main." langsung saja memberengut.


"Mama tidak boleh nakal nanti anaknya meniru." bisik Daniel pada Balen.


"Ih Aban kok panggil Baen Mama sih." langsung saja wajah Balen merah padam. Daniel jadi cengengesan dibuatnya.


"Ayo, nonton dari rumah saja." kata Daniel menarik tangan Balen perlahan.


"Mama ayo..." Balen mengajak Mama Amelia.


"Mama masih betah disini, mau foto-foto." jawab Mama Amelia.


"Ih kok ndak foto-foto sama Baen sih." protes Balen pada Mama mertuanya.


"Tadi kan sudah Ante, ada videonya juga kok." kata Kia pada Balen.


"Ante belum lihat, cantik ndak?" Daniel tertawa masih saja Balen pikirkan cantik apa tidak.

__ADS_1


"Kalau ndak cantik hapus aja ya." katanya lagi.


"Aku sih lebih cantik dari Ante disini. Soalnya Ante kan lagi hamil." jawab Kia bikin semua tertawa.


"Kok kamu tahu Ante hamil sih?" tanya Balen bingung.


"Idih, dari tadi Mamon bilang cucu, bagaimana sih. Ante saja yang tidak cerita sama Kia kalau lagi hamil." Kia mencibir.


"Kia juga ndak cerita kalau mau dijodohkan sama Aban Lucky." balas Balen.


"Itu hoax bagaimana Kia mau cerita, kalau Ante hamil kan nyata, huh." Kia merajuk.


"Ayo sayang, debatnya nanti saja dirumah." kata Daniel pada Balen.


"Aban, siapa yang debat sih."


"Semakin lama disini nanti Papon marah." Daniel tertawa lihat kening Balen berkerut.


"Mamon dan semuanya masih mau disini?" tanya Balen.


"Iya dong, kapan lagi Mamon dan Bunda main salju." kata Nona bikin Balen iri. Ia sebenarnya masih mau diluar juga, tapi suaminya sudah menjemput.


"Ya sudah." Balen akhirnya pasrah ikuti Daniel menuju kerumah mereka.


"Tunggu jangan bubar dulu, aku ikuuut." Tori berlarian menuju rombongan yang sedang berseluncur. Dilihatnya Balen tinggalkan tempat dikira yang lain juga akan mengikuti.


"Ulan juga ikut." Ulan menyusul dibelakang Tori.


"Aaah tambah ramai Aban, Baen iri." Balen menepuk bahu Daniel.


"Nanti saja kalau anaknya sudah lahir, bisa main salju sama anak kita." kata Daniel tersenyum membujuk Balen.


"Bukan Abang yang minta kamu masuk rumah sayang, Papon yang minta." Daniel kembali tersenyum pada Balen.


"Iya." pasrah tidak lagi merengek.


"Nonton dari jendela saja, nanti Abang bawakan kursi untuk Baen." kata Daniel pada istrinya.


"Kalau punya anak main ski beneran dong." pinta Balen pada Daniel.


"Boleh, tunggu anak kita agak besar sedikit berarti."


"Keburu pulang ke Indonesia dong tunggu agak besar." tidak sabar rupanya.


"Mau main ski dimana memangnya? Berangkat dari Indonesia kan bisa. Tinggal atur jadwal dan pesan tiket kok." Daniel terkekeh.


"Iya sih." Balen jadi tersenyum lebar.


"Nanti anaknya Aban aja yang gendong ya. Biar orang-orang tahu kalau Aban sudah punya anak." katanya lagi.


"Terus kamu?" tanya Daniel.


"Baen gandeng tangan Aban lah seperti sekarang, jadi orang-orang tahu juga Baen istrinya Aban." jawab Balen bikin Daniel tersenyum senang.


"Pasti orang bilang istrinya cantik sekali."


"Baen sih ndak GR kalau orang bilang Baen cantik." jawab Balen apa adanya.


"Baen tuh langsung serasa terbang kalau Aban yang bilang Baen cantik." lanjut Balen lagi.

__ADS_1


"Masa?" Daniel pandangi istrinya.


"Iya, Baen maunya Aban cuma lihat Baen aja yang cantik, jadi ndak lihat cewek lain deh." Daniel jadi gemas dan merangkul istrinya.


"Memang yang Abang lihat cuma kamu saja." jawab Daniel.


"Apa iya?" Balen sedikit ragu. "Tapi harus iya sih." lanjutnya mengusir rasa ragu dihatinya.


"Baen takut hamil sebenarnya." kata Balen lagi.


"Takut kenapa?" tanya Daniel.


"Ada Ibu-ibu di group yang ditinggal suaminya main gila waktu lagi hamil." Balen mulai ceritakan percakapan di group.


"Aduh, kalau bikin kamu was-was lebih baik kamu keluar dari group itu sayang." pinta Daniel pada Balen.


"Jangan dong Aban, banyak informasi disana." tolak Balen.


"Tapi kamu jadi takut begitu, Abang jadi khawatir mood kamu terpengaruh." kata Daniel masih merangkul Balen.


"Tapi Aban ndak bakal tinggalin Baen kan?" tanya Balen lagi.


"Tidak pernah terpikir sih, jangan sampai deh. Bantu doa ya Istriku." Daniel mencubit pipi Balen gemas.


"Soalnya Baen kan sebentar lagi gendut Aban. Awas ya kalau Aban tinggalin Baen, Baen bom kantor Aban." mengancam bergaya *******.


"Dari mana dapat bom nya?" Daniel terkekeh.


"Iya, dimana ya?" bingung sendiri, Daniel terbahak dibuatnya.


"Baen belajar dari internet aja lah cara bikinnya." kata Balen kemudian.


"Sayang, jangan halu ah, In syaa Allah Abang tidak akan tinggalkan Baen, jadi tidak usah belajar bikin bom." kata Daniel jadi ngeri sendiri, Balen selalu serius jika bilang ingin belajar.


"Aban takut ya Baen pintar bikin bom?" Balen tertawa geli.


"Iya lah, nanti kita dikira ******* lagi." jawab Daniel ikut tertawa.


"Belajar masak aja belum mulai Aban." kata Balen lagi masih saja tertawa lihat suaminya bergidik ngeri.


"Iya kamu belajar masak saja deh, mau kursus sama cheft professional?" tanya Daniel menawarkan supaya istrinya ada kesibukan.


"Ndak, Baen mau kuliah aja yang benar, masak serahkan aja sama Auntie Khiel." jawabnya santai.


"Ish Balena bikin pusing saja." Daniel kembali mencubit pipi istrinya.


"Tapi Kuda Nil cinta kan sama si Balena?" mulai keluar centilnya.


"Bodo ah." jawab Daniel pura-pura acuh.


"Eh Danielku cinta ndak sama Balena?" tanya Balen tertawa.


"Tidak tahu." jawab Daniel lepaskan Balen dan berjalan lebih dulu.


"Abaaan! tuh kan tinggalin Baen. Baen bom nih." teriaknya bikin Daniel tertawa dan kembali dekati istrinya.


"Cinta pakai banget Balena Inces Kenan." jawabnya kembali merangkul Balen dan berjalan bersama masuki rumah.


"Hahaha Aban, Inces lagi." Balen terbahak dibuatnya

__ADS_1


__ADS_2