
Sepulang dari kampus, Daniel langsung membawa Balen ke dokter kandungan, beruntungnya mereka bisa langsung bertemu dokter hari ini.
"Nomor berapa, Aban?" tanya Balen saat melihat beberapa wanita hamil duduk di kursi tunggu.
"Nomor lima." jawab Daniel tunjukkan nomor antrian.
"Nanti kita bilang apa sama dokternya?" tanya Balen bingung.
"Bilang saja kamu sepertinya positif." jawab Daniel.
"Kok sepertinya Aban? Memang Baen belum pasti hamil ya?" tanya Balen.
"Nanti kita tanya dokter." jawab Daniel.
"Tapi Baen hamil ndak sih?" tanya Balen rewel.
"Nanti minta diperiksa ulang saja." jawab Daniel jadi ragu.
"Aban, tadi kan lihat hasil testpacknya. garisnya dua ndak?" tanya Balen yang tidak melihat jelas hasil testpacknya tadi.
"Iya dua, tapi halus." jawab Daniel.
"Duh, sudah kesenangan ternyata masih meragukan." Balen tertawakan suaminya.
"Kalau ternyata ndak hamil, malu kan kita." Balen pandangi Daniel sambil nyengir lebar.
"Masa sih?" Daniel malah menggoda Balen yang tampak resah, mereka jadi tertawa berdua.
Tibalah giliran Balen dipanggil masuk kedalam ruangan, menunggu antrian tidak terasa karena keduanya selalu saja bercanda, tidak pedulikan lingkungan sekitar.
"Menstruasi terakhir bulan lalu tanggal berapa?" tanya dokter kandungan yang mereka temui tanpa berbasa-basi ataupun beramah tamah, mungkin karena pikirkan antrian diluar yang lumayan ramai, jadi inginnya cepat selesai saja. Sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan ulang dan syukurnya Balen memang positif hamil, jadi tidak akan merasa malu.
"Lupa." jawab Balen singkat.
"Kita periksa dulu, silahkan tidur disini." tunjuk tempat tidur khusus pasien yang di sertai peralatan medis disebelahnya.
"Duh geli." gerutu Balen saat diolesi gel diperutnya. Daniel hanya dampingi dan pandangi istrinya dari kursi yang telah disediakan untuk pengantar.
"Usia kandungan masuk enam minggu, mohon jangan terlalu lelah karena usia kehamilan masih sangat muda, cukup beresiko untuk keguguran."
"Ya dokter." Daniel anggukan kepalanya.
"Kok enam minggu sih Aban, kita aja baru sebulan?" tanya Balen tidak terima, khawatir Daniel kira Balen lakukan *** bebas.
"Baen kan pertama kali sama Aban." kata Balen lagi pucat, dokter memandang Balen sambil tersenyum.
"Bisa begitu kok, jangan khawatir. Bahkan kalau bulan lalu kamu tidak menstruasi bisa jadi usia kandungan kamu delapan minggu." dokter menjelaskan secara detail.
"Tuh Aban dengar." kata Balen minta suaminya dengarkan.
"Iya sayang, sudah tahu kok." jawab Daniel terkekeh.
"Aban diam aja sih tadi." gerutu Balen, Daniel tertawa dan mengacak anak rambut istrinya.
"Kalau olah raga bagaimana?" tanya Balen.
"Berenang atau jalan pagi boleh." jawab dokter wanita itu.
__ADS_1
"Saya suka main tenis." jawab Balen.
"Saya tidak menyarankan." jawab dokter tersebut.
"Kalau aktifitas ranjang bagaimana dokter?" tanya Daniel to the point malah pikirkan itu.
"Boleh tapi harus dengan pemanasan ya, jangan langsung, bisa Luka nanti." jawab dokter tersenyum.
"Libur dulu Aban." bisik Balen.
"Kalau libur harus berapa lama ya dok?" tanya Daniel lagi, mau ikuti keinginan istrinya tapi takut terpancing juga.
"Tidak harus libur kok jika Bapak dan Ibu sehat, hanya harus perhatikan Ibu dalam kondisi mood yang baik atau tidak. Juga cari posisi yang aman ya, agar tidak terjadi himpitan, woman on top atau gaya menyamping cukup aman." dokter menjelaskan dengan baik. Daniel anggukan kepalanya senang, aktifitasnya tidak terganggu hanya saja perlu hati-hati.
"Gaya miring-miring aman ndak Aban." bisik Balen penasaran.
"Aman." jawab Daniel terkekeh.
Setelah menebus obat yang diresepkan dokter, Daniel dan Balen kembali Ke rumah. Janjinya mau makan siang dirumah ternyata tidak terealisasi, tapi Daniel sudah sampaikan pada Mamanya.
"Aban senang ya Baen hamil?" tanya Balen pada Daniel.
"Iya dong, memang kamu tidak senang?" tanya Daniel.
"Senang juga sih, tapi bingung aja." jawab Balen.
"Bingung kenapa?"
"Teman Baen belum ada yang hamil loh, padahal mereka sudah duluan hubungan ***."
"Kamu berharap mereka hamil juga? temanmu tidak punya suami loh."
"Tanya dong sama mereka."
"Nanti deh Baen tanyain." Daniel terkekeh dibuatnya.
"Sudah kamu undang teman-teman untuk acara hari minggu?" tanya Daniel.
"Sudah, tapi ndak banyak sih paling dua puluh orang." jawab Balen.
"Abang juga segitu kira-kira. Sisanya tetangga sekitar rumah." jawab Daniel.
"Ini anak Aban loh." kata Balen tunjuk perutnya.
"Anak siapa lagi kalau bukan anak Abang." Daniel mencubit pipi istrinya gemas.
"Tadi Baen takut aja waktu dokter bilang usia kandungan delapan minggu, kaget Baen." katanya pegang dadanya.
"Abang tidak tuh." jawab Daniel tertawa.
"Tadi kita lupa tanya anaknya kembar apa ndak." kata Balen lagi.
"Kalau kembar dokter pasti beritahukan."
"Terus kok ndak dikasih tahu anaknya laki-laki atau perempuan, kita kan harus siapkan nama." kata Balen lagi.
"Belum ketahuan sayang Jenis kelaminnya, anak kita masih sebesar kacang hijau tadi." kata Daniel jelaskan pada Balen.
__ADS_1
"Enak aja Aban, emangnya bakpia kacang hijau." langsung saja protes.
"Hihi kamu itu sukanya protes, dengar dulu dong Abang bilang apa."
"Abang bilang anak kita kacang hijau." jawabnya.
"Tidak komplit dengar kalimat Abang." gerutu Daniel.
"Baen emang lagi ndak fokus nih." jawab Balen.
"Kenapa tidak fokus?"
"Baen baru belajar dewasa eh sudah mau jadi Mama." katanya bikin Daniel terbahak.
"Kalau sudah jadi Mama pasti akan dewasa." jawab Daniel.
"Aban jadi Papa dong " Balen tertawa.
"Iya Mama." Daniel tersenyum menoleh pada Balen.
"Ih Aban jangan panggil Baen gitu dong."
"Nanti kan jadi Mama." jawab Daniel.
"Tapi Baen malu." tutup wajah yang memerah. Daniel terbahak lihat ekspresi Balen yang malu berat.
"Nanti mau dipanggil Mama ya?" tanya Daniel.
"Ndak tahu." jawabnya bingung, padahal dulu semua Balen yang atur harus dipanggil siapa.
"Aban, nanti anak kita mirip siapa ya?" langsung menduga-duga.
"Mirip Baen boleh, mirip Abang juga boleh." jawab Daniel.
"Iya, Baen senang kalau anak kita mirip Abang." jawab Balen tersenyum manis pada suaminya.
"Abang juga senang kalau anak kita mirip Baen, nanti kita ajari berenang dan tenis ya." kata Daniel.
"Aban masih kuat ndak ajari anak kita tenis?" tanya Balen.
"Maksud kamu?"
"Yah kalau anak kita sudah besar Aban umur berapa deh?" mulai tanya umur.
"Yang pasti masih ganteng lah." jawab Daniel narsis, Balen langsung terbahak dan peluki suaminya yang sedang menyetir.
"Aban Daniel Baen ganteng terus dari dulu."
"Senang kan punya suami ganteng?" tambah narsis saja.
"Baen senang punya suami Aban Daniel." jawab Balen ciumi pipi Daniel, tidak peduli suaminya masih menyetir.
"Kata dokter tidak boleh terlalu aktif loh." Daniel ingatkan Balen.
"Tapi kan boleh woman on top." jawab Balen tertawa jahil, bikin otak Daniel traveling saja.
"Jangan mancing-mancing deh." gerutu Daniel bikin Balen tertawa senang. Sayangnya dirumah lagi ramai kalau cuma berdua pasti Balen sudah lebih lagi jahili suaminya.
__ADS_1
Maafkan harus menunggu ya, kendala aku beberapa minggu ini sedang jadi anak jalanan dan harus setir sendiri, doakan bisa punya supir ya biar bisa update banyakan seperti biasanya, yopiu all.