
"Ingat rumah gue lu." sambut Larry saat Daniel dan Balen tiba dirumahnya. Selama ini Daniel tidak berkunjung ke rumah Abangnya, padahal sudah di ingatkan Belin beberapa kali.
"Sibuk kan." jawab Daniel berkelit.
"Sok sibuk sih iya, kerumah Mama yang lebih jauh bisa, kesini tidak bisa." Larry masih saja protes, Rumi tertawa dibuatnya, sudah sering dengar Larry berkeluh kesah tentang Daniel yang minta Larry jauhkan Balen. Tentu saja Larry kehilangan, Balen pelipur Laranya sejak dulu, walaupun sekarang sudah ada Rumi dan kedua anaknya.
"Baen kangen tahu." kata Balen polos, pengen peluk Larry tapi tahu diri, sudah tidak boleh sekarang.
"Aban juga, nih suami kamu sih rese." omel Larry bikin Balen monyongkan bibirnya.
"Kak Rumi..." langsung peluk Rumi.
"Iih, sudah jadi istrinya Daniel masih manja saja." Rumi tertawa menepuk bahu Balen, Daniel cengengesan abaikan kekesalan Abangnya.
"Baen besok udah berangkat lagi, pada kangen ndak sih?" tanyanya pada Rumi.
"Kangen lah, tidak ada yang berisik lagi." jawab Rumi tertawa.
"Nginap sini?" tanya Larry pada adiknya.
"Ndak, tadi bilang Mamon cuma main aja." jawab Balen wakili Daniel.
"Aban, Kak Rumi, jangan lupa telepon Baen loh nanti kalau Baen di Ohio, jangan sombong kaya sekarang." Balen ingatkan Larry karena Daniel sudah melunak.
"Boleh Niel?" tanya Larry pada Daniel.
"Boleh." jawab Daniel bikin Balen tersenyum lebar.
"Kenapa kemarin-kemarin tidak boleh?" tanya Larry kesal.
"Yah kan masih pengantin baru, kalau elu telepon terus nanti waktu buat gue berkurang, Bang." jawab Daniel bikin Rumi tertawa geli, lihat kelakuan kedua Abang beradik ini.
"O begitu..." Larry jadi ikut tertawa.
"Sayang, gawat ini si Daniel. Masa cemburu sama Abang sendiri." Larry gelengkan kepalanya mengadu pada Rumi.
"Tahu nih Daniel, please deh. Abangmu sudah aku ikat, jangan khawatir." kata Rumi tertawakan Daniel.
"Kak Rumi, aku takut saja Leyi terlalu over protect sama Baen. Waktu aku di Ohio dicereweti terus." adunya pada Rumi.
"Kalau gue tidak begitu, kalian tidak menikah loh." Larry naikkan alisnya.
"Iya loh Niel, Leyi yang yakinkan Om Kenan, waktu Baen mau ke Ohio." Rumi beritahukan Daniel.
"Begitu ya?" seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Dari dulu kan gue sudah bilang, Baen tuh adik gue, Daniel. Jangan macam-macam kamu sama Baen." Larry pandangi adiknya.
"Tuh kalau begini kan Baen berasa ada yang jagain banyak, bukan Aban sendiri. Baen takut kalau Aban lagi sibuk, Baen siapa yang perhatiin, kalau dulu Aban sibuk ada Aban Leyi sama Aban Nanta tiap sebentar telepon Baen, ada Ichie juga. Ledi dei kan suka kesal-kesal sama Baen." kata Balen pada Daniel.
"Selama ini Abang kurang perhatian kah?' tanya Daniel pada Balen.
"Lebih dari cukup sih sebenarnya." jawab Balen apa adanya.
"Kenapa masih mau minta perhatian Leyi dan Aban Nanta?" tanya Daniel pada Balen.
"Ish..." Larry mengetuk jidat adiknya yang meringis dibuat Larry.
"Beda ya perhatian Papon, Abang sama suami." kata Larry pada Daniel.
"Sayang, Baen ajak ke Beyin tuh, dari tadi Beyin tunggu Baen." kata Larry pada Rumi, ia ingin bicara berdua saja dengan Daniel.
"Yuk Baen, anak kamu rusuh dari tadi tanya pakai ini dijepang cocok tidak, seperti mau pemotretan saja." kata Rumi menarik lengan Balen, mereka berjalan menuju kamar Belin.
"Mau bilang apa?" tantang Daniel pada Abangnya.
"Jangan cemburu sama gue sih, gue sayang Baen seperti sama adik sendiri, tidak lebih dari itu. Sama seperti Nanta sayang sama Baen." Larry yakinkan Daniel.
"Bukan jatuh cinta ya, tapi berusaha menahan karena tidak mungkin?" tanya Daniel pada Larry.
"Kalau jatuh cinta, mungkin gue seperti elu Daniel, gue bakal tunggu Baen sampai siap gue nikahi. Buktinya gue pilih Rumi dan sekarang sudah ada Beyin dan Billian. Lu lama di luar negeri mestinya berpikiran terbuka deh, ini kenapa jadi kolot." sungut Larry pada Daniel.
"Tapi kita sudah seperti adik kakak, sekarang sudah jadi Ipar, jadi keluarga."
"Janji ya tidak jatuh cinta sama istri gue."
"Ck... pemikiran dari mana sih itu." Larry gelengkan kepalanya.
"Yah gue pikir begitu sih, sebenarnya elu jatuh cinta sama Baen sama seperti gue, tapi elu nahan diri karena usia kalian terlalu jauh." kata Daniel sampaikan pengamatannya.
"Abang tidak terpikir sampai kesana ya. Yang pasti Abang senang karena Baen menikah dengan kamu Daniel. Bahagia sekali rasanya, mungkin kalau Baen menikah sama orang lain gue parah hati deh." Larry tertawa.
"Beneran ya bahagia lihat Baen jadi istri gue?" tanya Daniel.
"Luar biasa bahagianya, tanya saja Papa dan Mama. Percaya dong sama gue." Larry menonjok pelan bahu adiknya.
"Abang kan tahu dari dulu gue cemburi kalau Abang cium Baen." Daniel terkekeh.
"Sekarang kan sudah punya kamu seutuhnya, masih cemburu?" Larry tertawa.
"Berusaha tidak cemburu deh kalau sama Abang." Daniel tertawa sendiri.
__ADS_1
"Harus tidak cemburu Daniel."
"Sama cowok lain pasti cemburu gue Bang."
"Ya ampun, gue Abang lu Daniel. Yang kenalkan Baen sama kamu siapa? yang yakinkan Om Kenan kalau kamu layak jadi suami Baen juga gue." Larry jadi kesal sendiri.
"Iya makanya gue berusaha tidak cemburu sama Abang, Pelan-pelan dong tidak bisa langsung. Boleh kok telephone tiap hari seperti biasa. Bilang kangen juga boleh yang penting tidak sentuhan fisik, jangan minta kiss sama Baen." Larry mencibir mendengarnya
"Iya dong, sepupu saja tidak boleh cium atau peluk loh, apalagi Abang yang orang lain. Di agama kita kan begitu." kata Daniel tersenyum pada Abangnya.
"Iya deh, kalau sudah bawa agama gue setuju." jawab Larry terkekeh.
"Titip Baen ya." kata Larry lagi.
"Kaya Papon saja." Daniel tertawa.
"Gue kan sama seperti Om Kenan." jawab Larry.
"Iya sih kan seumuran ya." jawab Daniel bikin Larry terbahak.
"Setua itu gue ya?" kata Larry.
"Kebalik kali, semuda itu Papon." jawab Daniel terkekeh. Keduanya tertawa bersama.
"Nanti gue bakal tinggal di Jakarta Bang, kalau Baen sudah lulus." kata Daniel pada Larry.
"Bagus dong, Papa maunya begitu, semua kumpul di Jakarta, bisnis lu disana bagaimana?" tanya Larry.
"Bisa lah berjalan dari sini. Ada partner gue yang bisa handel di sana." jawab Daniel.
"Redi bagaimana tuh?" tanya Larry lagi.
"Papa juga mau Redi di Jakarta sih, tapi dia masih senang di Ohio, malah mau pindah ke California biar lebih mudah urus barang datang." jawab Daniel tersenyum.
"Ada pacarnya di California?" tanya Larry.
"Don't know, bukan pacar sepertinya. Teman tapi mesra." jawab Daniel tertawa.
"Rese, jangan macam-macam sama Ulan dia, tidak enak nanti sama keluarga Baen." kata Larry khawatirkan hubungan mereka dengan keluarga Balen kalau Redi bikin ulah.
"Sudah diingatkan Mama dan Papa. Tapi tetap ngotot mau bertemu Ulan. Memangnya seperti Baen si Ulan Bang?" tanya Daniel.
"Beda sih, Ulan kalem kalau Baen kan sedikit jumpalitan." Daniel terbahak dengar komentar Abangnya.
"Istri gue tuh yang jumpalitan." kata Daniel masih tertawa.
__ADS_1
"Ipar gue juga." jawab Larry, mereka tertawa bersama.