
"Aban kenal Markus ya?" tanya Balen pada Daniel saat tiba dikantor suaminya.
"Tadi kalian bertemu ya?" tanya Daniel sambil tersenyum.
"Iya, ternyata dia dosen pengganti di kelas Baen." jawab Balen semangat.
"Ya dia suka mengajar." Daniel lanjutkan pekerjaannya.
"Dia salaam buat Aban." Balen sampaikan salam Markus.
"Tiap hari bertemu pakai titip salaam." Daniel tertawa geli.
"Aban ndak pernah cerita punya teman namanya Markus." protes Balen pada Daniel.
"Kamu memangnya mau tahu teman Abang siapa saja yang laki-laki? yang kamu cari tahu yang perempuan saja bukan?" sindir Daniel bikin Balen terbahak.
"Aban tahu aja." Balen ikut terbahak.
"Aban, ternyata Markus itu sama Achara juga loh." Balen mulai ajak suaminya bergosip.
"Sudah tahu." jawab Daniel sandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.
"Kok Aban ndak cerita?"
"Semua yang pernah jalan sama Achara itu rata-rata Abang kenal." jawab Daniel terkekeh.
"Ya ampun Aban, Baen aja ndak kenal. Kok Aban bisa kenal sih?" Balen tampak heran.
"Itu lingkungan mutar-mutar saja sayang."
"Tapi Aban ndak ikutan kan?"
"Masa Abang sama teman kamu sih." Daniel terkekeh.
"Ya sama siapapun itu cewek lain, ndak ikutan kaya gitu kan?" Balen agak khawatir.
"Tidak dong, jangan ragukan suamimu ini."
"Baen takut Aban kebawa arus." Balen mendesah.
"Harusnya Abang yang takut kamu terbawa arus karena bermain dengan Achara." Daniel mendengus.
"Buktinya ndak kan." Balen bentangkan kedua tangannya.
"Iya Alhamdulillah." Daniel anggukan kepalanya.
"Aban, Markus nanti ke California juga ya." lanjut Balen membahas Markus.
"Iya, rencananya nanti kalau kita pindah ke Indonesia, Markus yang handel sekitaran Amerika, Redi mau pegang Asia Tenggara saja katanya." Daniel menjelaskan.
"Oh Aban pegang mana?" tanya Balen.
"Abang di pusat sayang, Jakarta." jawab Daniel.
"Aban, ternyata nanti Achara diajak Markus ke California loh." lagi-lagi Balen sampaikan pada suaminya.
"Oh iya tidak apa, jadi tidak jajan Markus."
"Ih Aban..." Balen memukul bahu suaminya.
"Sudah ada Achara pasti dia tidak rusuh ke club cari perempuan sayang."
"Markus begitu ya rupanya." Balen menggelengkan kepalanya.
"Kenapa heran, sahabat kamu juga kan begitu." Daniel mengulurkan tangannya minta Balen mendekat dan memeluknya.
__ADS_1
"Iya sih." Balen terkekeh lalu segera mendekat dan memeluk suaminya yang sedang duduk dibangku kerjanya.
"Pulang yuk Aban." bisik Balen sambil mencium leher suaminya.
"Disini juga bisa kenapa harus pulang." bisik Daniel tersenyum jahil.
"Aban, jangan mesum deh. Baen ndak mau dikantor ya. Nanti semua staff Aban bisa dengar lagi teriakan Baen. Aban masih lama ndak kerjanya?" Balen pandangi suaminya.
"Sebentar lagi ya." Daniel terkekeh, ia juga tidak senekat itu untuk membesuk anaknya dikantor.
Pintu ruangan Daniel tiba-tiba terbuka,
"Dan..." yang baru saja jadi bahan pembicaraan sekarang ada dihadapan Balen dan Daniel.
"Eh Nyonya Daniel ada disini." Markus terkekeh melihat Balen yang sedang memeluk suaminya.a
"Kalau tahu mau kesini tadi kita bisa sama-sama." kata Markus lagi tidak merasa terganggu lihat keduanya berpelukan.
"Terlalu lama kalau tunggu kamu, bagaimana persiapan?" tanya Daniel tidak biarkan Balen melepaskan pelukannya.
"Minum dulu dong, lapar nih belum makan." Markus hempaskan badannya disofa. Baru dengan begitu Daniel lepaskan Balen dan segera panggil OB belikan makanan untuk Markus. Balen segera duduk dihadapan Daniel
"Makan apa Pak?" tanya office boy pada Markus.
"Seperti biasa, beli dekat sini saja, Le." kata Markus pada OB yang dipanggilnya Le, berikan uang Lima puluh dollar.
"Mau makan?" tanya Markus pada Balen.
"Ndak." Balen gelengkan kepalanya, ja tidak merasa lapar.
"Beli dua saja, Le." pinta Daniel sudah tahu Balen kadang suka tergoda lihat menu yang dimakan orang.
"Buat siapa Aban?" Balen berbisik pada Daniel.
"Buat siapa saja." Daniel balas berbisik.
"Markus ini keturunan Indonesia juga sayang." kata Daniel pada Balen. Balen tersenyum pandangi Markus.
"Saya dari Palembang." kata Markus pada Balen.
"Oh..." Balen anggukan kepalanya.
"Tapi tidak murni Palembang, Ibunya America latin." kata Daniel lagi.
"Lebih terlihat begitu sih." jawab Balen.
"Tidak terlihat Indonesianya?" tanya Markus.
"Kalau ndak dikasih tahu, saya ndak tahu Pak Markus."
"Pfffttt..." Daniel tertawa temannya dipanggil Pak oleh Balen.
"Kalau diluar kelas tidak usah panggil Pak ya, Panggil Abang saja." pinta Markus pada Balen.
"Iya Pak, eh Bang." Balen tertawa.
"Balen heboh loh, kamu pacaran sama Achara." kata Daniel pada Markus.
"Bukan pacar Balen, friend with benefits." jawab Markus terkekeh.
"Lagi musim ya FWB." Balen ikut terkekeh.
"Temanmu tidak suka terikat sepertinya, tidak ada yang berhasil jadikan dia pacar tuh." Markus mengedikkan bahunya.
"Tapi Bang Markus padahal mau jadikan dia pacar?" tanya Balen.
__ADS_1
"Tidak juga sih kalau begini lebih nyaman, tidak dicemburui." jawab Markus tertawa.
"Dosen seperti ini ya." Balen tertawa.
"Bagaimana tadi yang aku ajari, kamu mengerti?" tanya Markus serius ingin tahu hasil mengajarnya.
"Lumayan." jawab Balen nyengir, ia tidak terlalu perhatikan tadi, sibuk komentari Markus didepan bersama Althea dan Achara.
"Terang saja kalian sibuk bergosip sih." kata Markus bikin Daniel terbahak.
"Konyolnya Achara cerita lagi tentang kita sama kalian." Markus gelengkan kepalanya.
"Bang Markus juga cerita sama Bang Daniel." Balen tunjuk suaminya.
"Iya juga sih." Markus terkekeh.
"Seakrab itu ya?" tanya Balen pada Daniel yang hanya naikkan alisnya.
"Kita teman dari kuliah Balen." Markus menjelaskan.
"Oh sudah lama juga ya berteman." Balen anggukkan kepalanya.
"Selama Abang menunggu kamu lah." jawab Daniel.
"Selama Adira mengejar Daniel." timpal Markus lagi sambil terbahak.
"Kenal Adira juga?" tanya Balen.
"Teman kita juga." jawab Markus.
"Bukannya beda kampus ya?" tanya Balen.
"Dia pindah kampus kan." Daniel menjelaskan.
"Baen kira dia pindah setelah selesai kuliah." Balen mencibir.
"Sebelum itu sayang, begitu kamu dan Mama pulang dari sini dulu, dia pindah kesini." Daniel menjelaskan.
"Oh..." sok santai padahal sedikit kesal.
"Tenang Balen, Adira tidak pernah berhasil dekati Daniel kok." Markus menenangkan.
"Abang tapi kok ndak pernah main kerumah ya selama ini?" Balen tampak heran ternyata suaminya punya tan dekat, tapi tidak pernah dibawa kerumah.
"Begitu kamu datang ke rumah itu, kita dilarang main kerumahnya, alasannya rumahnya penuh dengan barang-barang kamu." Markus jelaskan pada Balen.
"Aban..." Balen besarkan kedua bola matanya. Daniel langsung terbahak dibuatnya.
"Padahal rumahnya rapi terus, Adira aja suka main kerumah." Balen mencebik.
"Tidak diundang ya sayang, dia datang sendiri." kata Daniel pada Balen.
"Adira sih padahal oke loh, tapi pesona kamu lebih besar dimata Daniel ternyata." Markus terkekeh.
"Nah kalau kamu bilang Oke kenapa malah dekati Achara bukan Adira?" Daniel naikkan alisnya.
"Yah aku juga mau seperti kamu lah dapatnya abege." jawab Markus sambil tertawa.
"Bisa saja Markus berkelit." Daniel ikut tertawa.
"Kalau bisa jadikan Achara pasangan yang sesungguhnya baru deh seperti Aban Daniel."
"Hmm... masih dipelajari Balen, perlu diseriusi atau cukup seperti sekarang saja. Aku juga belum mau terikat. Jujur kalau dekati Adira sudah pasti aku harus segera menikah."
"Abang kan sudah cukup umur."
__ADS_1
"Aku lebih suka tanpa ikatan." jawab Markus bikin Balen bersyukur Daniel bukan type seperti itu.