Because I Love You

Because I Love You
Sidang


__ADS_3

"Nah ini Redi." kata Nona saat Redi keluar dari kamar Bima, sudah mandi dan tampak segar saat ini.


"Loh, pada kumpul." Redi terperangah karena di ruang keluarga rumah Kenan bukan hanya ada keluarga Kenan berikut keluarga Ulan, tapi keluarganya juga ada disana, Larry, Rumi, Mama Amelia dan Papa James.


"Tidak boleh?" tanya Mama Amelia.


"Boleh sih, tapi kenapa tadi tidak sekalian jalan kita?" tanya Redi tertawa, Mama dan Papanya penuh kejutan. Setelah sibuk rusuh sama Mamanya barulah Redi hampiri Mama Tari dan Papa Bagus menyalami keduanya, perkenalkan diri sebagai future husbandnya Ulan? tentu tidak, Redi tidak sepercaya diri itu.


"Ini loh yang Mama Ai tanya dari tadi." kata Balen cengar-cengir.


"Oh ya? tanya aku kah Tante?" tanya Redi tersenyum.


"Iya, Tante mau ucapkan terima kasih karena sudah banyak bantu Ulan." jawab Tari tersenyum.


"Ada maunya sih Ma, makanya dibantu." celutuk Nanta bikin semua tertawa sementara Redi meringis malu.


"Maunya apa Redi?" tanya Nona pancing Redi.


"Ah..." Redi malah garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Baen kasih tau ndak Ledi Dei?" Balen konyol mau ambil alih.


"Ndak usah Baen." jawab Ulan cepat.


"Kalau begitu Ulan saja yang kasih tahu." kata Nanta pada adiknya.


"Iih Masanta." Ulan merengek malu, kedua orang tua mereka cengengesan dibuatnya.


Redi yang masih meraba jadi serba salah, memang rencananya Redi akan sampaikan niat untuk nikahi Ulan pada orangtuanya, tapi bukan ditengah keramaian saat semua kumpul begini. Sebenarnya ini saat yang tepat karena semua sudah bikin suasana kearah sana. Redi menghembus nafas kasar jadi bingung sendiri.


"Jadi Pak Bagus, Redi kemungkinan mulai bulan depan akan berkantor di Tokyo." kata Papa James yang dari tadi sudah ngobrol banyak dengan Papa Bagus.


"Kyoto, Pa." Redi membenarkan karena home based nya nanti Redi mau di Kyoto. Redi memilih duduk didekat kedua orang tuanya dibandingkan dekat dengan kedua Abangnya.


"Nanti tambah dekat dengan Ulan dong." sambut Bagus tersenyum.

__ADS_1


"Iya Om." Redi anggukan kepalanya.


"Sekalian bisa jaga Ulan, Papagus." Balen ikutan, maksud hati mau bikin semua lancar, tapi Daniel mengelus bahu Balen pelan, minta istrinya untuk tidak lagi menggoda Ulan.


"Aban ih." protes Balen sambil berbisik.


"Biarkan sekarang tugas Redi." Daniel balas berbisik.


"Aban aja ndak jalanin tugas waktu sama Baen dulu." protesnya bikin Daniel tertawa dan mengecup pipi istrinya gemas.


"Enak saja tidak jalankan tugas, kamu Abang jaga begitu ketatnya tidak sadar juga." bisik Daniel, kedua suami istri yang sibuk sendiri dan saling mesra ini mendapat timpukan bantal dari Larry.


Daniel menangkap bantal dari Abangnya sambil tertawa lalu tutupi wajahnya dan Balen dengan bantal agar tidak terlihat Larry, lanjutkan obrolan berdua.


"Pssttt... jangan sibuk sendiri!" tegur Mama Amelia pada kedua anaknya.


"Kita simak nih kelanjutan Om Redi." bisik Bima pada Aca.


"Ya." Aca tidak terlalu tertarik malah sibuk makan pempek dan cemilan yang dibawa Mama Tari, lagipula Aca sedang pusing pikirkan besok harus aksi didepan kamera, walaupun sudah dijanjikan hanyaa ambil badannya saja, wajah Aca dijamin tidak akan muncul.


"Saya sih senang saja kalau Ulan ada yang jaga, tapi khawatir kalau belum halal ya." kata Papa Bagus bikin Redi menelan ludah, ini sindiran atau pancingan, Redi jadi pandangi Abangnya Larry dan Daniel bergantian mohon petunjuk. Larry anggukan kepalanya, suruh Redi beraksi sementara Daniel ketuk-ketuk jam ditangannya seakan kode ini waktu yang tepat.


"Siap apa?" tanya Papa James pada Redi.


"Siap halal kapan saja." jawabnya, semua langsung tertawa mendengarnya.


"Waduh..." Nanta tertawa pandangi Redi.


"Ulan yang tidak siap ini." kata Nanta mengacak anak rambut adiknya yang dari tadi tidak ijinkan Nanta untuk pindah duduk. Kenan hanya menyimak saja, tidak ikut campur urusan keluarga mantan istri dan Besannya. Tapi ia tetap duduk bergabung dengan keramaian walaupun tidak ada sumbang saran.


"Ulan dengar kan apa yang Papa dan Papa James bicarakan tadi tentang kamu dan Redi?" tanya Bagus pada anak gadisnya. Ulan anggukan kepalanya dengan wajah tegang.


"Papa terserah Ulan saja karena Ulan yang akan menjalankan, tapi Papa lebih senang kalau yang menjaga kamu itu suami kamu, bukan Redi yang saudara ketemu gede." Redi langsung lemas karena merasa tidak disetujui, apa ulan sudah miliki calon suami? pikir Redi.


"Betul, kalau kalian belum menikah Dan Redi ada di Kyoto sementara disini saja kalian berduaan terus, mama malah khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimanapun kalian saling suka bukan?" kata Mama Tari. Redi dan Ulan saling pandang, kemudian Redi anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya memang menyukai Ulan, Om dan Tante, saya berharap bisa menjadi suami Ulan. Saya sudah minta Ulan untuk perkenalkan saya sebagai future husband pada Papa dan Mamanya." jawab Redi tertawa dengan sedikit rasa grogi. Eh Om Kenan mau nikahin anak malah siapkan rumahnya untuk tempat Redi melamar Ulan sih. Lagian Papa sama Mama bukannya undang calon besan ke hotel atau restaurant mana gitu, pikir Redi.


"Begitu Ulan?" tanya Bagus setengah menggoda anak gadisnya.


"Iya, Pa." jawab Ulan pelan sambil memilin rok yang dipakainya.


"jadi?" tanya Bagus lagi pada Ulan yang tidak berani melihat wajah Bagus.


"Ulan..." panggil Bagus, Ulan masih saja menunduk.


"Rembulan Ayu, lihat Papa." tegas Bagus, Ulan langsung memandang wajah Papa dan Mamanya sambil tersenyum sedikit, benar-benar Salah tingkah.


"Iya Pa." katanya lagi, Nanta terkekeh mengusap bahu adiknya itu.


"Benar Redi minta dikenalkan sebagai future husband?" ulang Bagus pada Ulan.


"Benar Papa." jawab Ulan sambil pandangi Papanya sambil menarik nafas panjang.


"Kenapa tidak kamu kenalkan sekarang, kalau begitu?" tanya Bagus tersenyum lebar, Redi langsung ikutan tersenyum lega, Fixed kalau begini, Om Bagus setuju gue sama Ulan, pikirnya.


"Papa..." Ulan tersenyum Salah tingkah yang lain cengengesan dibuatnya, Balen sudah mau mengoceh saja tapi Daniel dari tadi bikin Balen sibuk sendiri jadi tidak fokus sama Ulan.


"Ayo kenalkan dong." kata Larry pada Ulan semua tertawa dibuatnya, Redi cengengesan, jahil juga Om Bagus, Ulan jadi panik begitu mukanya.


"Hmm..." Ulan menarik nafas sambil mengusap matanya, berusaha menenangkan diri. Ini sih seperti lagi disidang saja, Ulan pandangi Papon dan Mamon minta kekuatan, keduanya mengangguk kepada Ulan sambil tersenyum, orang tua kedua Ulan yang kasih sayangnya tidak kalah sama orangtua kandungannya.


"Papa, Mama, Kisna..." kata Ulan kemudian.


"Kenalkan ini loh Bang Redi..." tunjuknya pada Redi, Papa, Mama dan Kisna menunggu kalimat lanjutkan dari Ulan.


"Bang Redi apa Mas Redi?" goda Mama Amelia.


"Maunya apa Bang?" tanya Ulan pada Redi.


"Sayang..." jawab Redi bikin semua terbahak, Ulan tersenyum merah merona.

__ADS_1


"Redi itu siapa kamu?" tanya Nanta pada Ulan.


"Future Husband Ulan." jawabnya kemudian menutup wajah malu, semua tertawa melihat Ulan yang memdadak demam panggung.


__ADS_2