
"Kalau ada waktu ajak ishak makan malam bersama nanti." Daniel tawarkan Selin.
"Lihat nanti ya Om, aku belum tahu dia datang jam berapa." jawab Selin, Daniel anggukan kepalanya.
"Ya sudah yang mau check out silahkan bersiap, Om tunggu di restaurant ya, kita makan siang dulu." kata Daniel pada semuanya. Ia harus temui mertuanya yang menunggu di restaurant bersama Mama dan Papa, karena dari tadi sibuk layani anak-anak kita.
"All maaf aku tidak bergabung mengganggu Om Ichie." Billian berkata pada yang lainnya.
"Jadi kalian memang selalu mengganggu ya?" redi tertawa mendengarnya.
"Kita sih tidak bermaksud mengganggu, tapi Om Ichie suka pasang ekspresi seakan terganggu." jawab Bari terkikik geli. Richie menghela nafas saja sambil tertawa.
"Ichie antar aku pulang kan?" tanya Tori pada Richie.
"Aku yang antar Kak Tori dan Kak Selin." jawab Bari jahil.
"Kalian ini suka baik tidak pada tempatnya." keluh Tori bikin semua terbahak.
"Kenapa sih maunya diantar sama Om Ichie?" tanya Shaka sok polos. Billian tertawa saja semua menggoda sepupunya.
"Tau ah, belum pernah jatuh cinta sih kalian." sungut Tori bikin Daniel terbahak.
"Jatuh cinta sering kali." jawab Bari bangga.
"Sesering ditolak?" tanya Bima bikin mereka kembali terbahak.
"Kia, Belin kalian langsung ke restaurant saja, aku pinjam kunci kamar dulu untuk ambil koper." kata Tori pada keduanya.
"Oke." jawab Belin serahkan kunci kamar pada Tori, lalu menggandeng Redi menuju restaurant. Sementara Kia tanpa sungkan menggandeng Billian, meski usia Billian lebih muda tapi badannya jauh lebih tinggi dari Kia. Kalau orang tidak tahu pasti pikir mereka pacaran. Padahal geng rusuh memang seakrab itu, kapan waktu bisa saja Bari yang rangkul Kia atau sebaliknya.
"Aban, Papon di restaurant kan?" tanya Balen pada Daniel.
"Iya, ini kita mau bertemu Papon dan Mamon." jawab Daniel tersenyum. Saat tiba di restaurant ternyata Larry dan Rumi pun sudah duduk diantara Papa, Mama, Papon dan Mamon.
"Loh kukira Abang sudah pulang, kata Belin Ayah harus kerja." kata Redi pada Larry.
"Makan dulu dong, kebersamaan." jawab Larry terkekeh.
"Yah aku juga tadinya mau pulang habiskan waktu sama Papa dan Mama." jawab Redi sambil pandangi Belin.
"Papa dan Mama kan menginap demi cucu." jawab Mama Amelia terkekeh. Sementara Daniel dan Balen langsung ambil posisi di dekat Papon dan Mamon.
"Papon sama Mamon masih menginap?' tanya Balen pada keduanya.
"Pulang saja Pa, aku bosan di hotel." pinta Richie langsung sebelum Papa dan Mamon tergoda sama rayuan Balen.
"Yah, Papon pulang dulu kasihan Ichie rindu rumah dan robotnya." jawab Kenan terbahak.
"Ih Papa kenapa sebut robot sih." Richie terbahak.
__ADS_1
"Kamu tidak ambil koper?" tanya Daniel pada Richie.
"Ada Bima yang ambilkan." jawab Richie tersenyum.
"Pa, aku bawa rombongan sirkus menginap di rumah." ijin Richie pada Kenan bikin semuanya tertawa.
"Mereka kangen kamu." jawab Larry terkikik geli.
"Aku juga sebenarnya mau ikut menginap, tapi Belin suruh ikut menginap disini." Billian mengadu pada Ayahnya.
"Jadi Belin, karena kamu Opa, Oma, Om Redi dan Billian jadi terpaksa menginap di hotel, ada apa kamu ngotot sekali mau menginap?" tanya Larry.
"Bang Alex mau menginap juga nanti malam, kasihan dia kalau kita pada pulang." Belin sebut nama sepupunya.
"Alex pasti ajak sahabatnya itu kan?" Nami langsung saja senyum jahil.
"Ih Nami, tidak tahu Beyin." jawab Belin dengan hidung kembang kempis.
"Siapa namanya love, sahabatnya Alex?" tanya Larry pada Rumi sambil terkekeh.
"Ih Ayah, Beyin cuma tunggu Bang Alex saja kok." jawab Belin berkelit. Padahal kemarin sudah deal-dealan sama Alex kalau mau didekatkan dengan Kia harus bawa Seto sahabatnya Alex yang Belin suka.
"Duh natsi ya natsi sama temannya Alex." Redi langsung menggoda keponakannya.
"Ck, hari ini sibuk comblangi orang, kapan dapat jodohnya aku kalau begini." keluh Billian sambil garuk kepala.
"Mamon, Ban Redi kalau dikenalkan sama Ulan pasti Natsi ya?" kata Balen teringat Ulan.
"Wah iya pasti, Ulan banyak yang suka, tapi sampai sekarang belum punya pacar tuh." kata Nona tersenyum.
"Mamon kenalkan dong aku sama Ulan itu, bikin penasaran saja." kata Redi terkekeh.
"Sekolah di Kyoto dia, kalian kan nanti pulang transit di Jepan, kenapa tidak menginap saja semalam dua malam dulu sambil temui Ulan." Nona memberi ide.
"Wih Mamon brilliant. Bagaimana Bang? honeymoon dulu lu di Jepang gue temani, guidenya ulan deh." Redi membujuk Daniel.
"Berarti mesti perpanjang liburan atau pulangnya dari sini kita percepat?" tanya Daniel.
"Oh jangan dipercepat dong Mamon masih kangen kalian." jawab Nona apa adanya.
"Iya Mama juga masih kangen, tidak terasa sudah mau seminggu kalian disini." kata Mama Amelia pada ketiganya.
"Ichie jadi tinggal kan?" tanya Papa James pada Richie. Duh padahal Richie mau rahasia karena takut Belin dan Kia bocorkan pada Tori.
"Yah." jawab Richie.
"Yeay beneran om?" Billian langsung bersorak senang.
"Iya, tapi dia akan lebih sibuk, kalian jangan kebanyakan ide." kata Daniel pada Billian.
__ADS_1
"Iya." jawab Billian terkekeh.
"Tolong rahasiakan dulu dari Tori ya. Aku mau kasih dia surprise." pinta Richie pada semuanya.
"Siap Om Ichie." Kia, Belin dan Billian kompak menjawab. Hanya mereka yang suka bocorkan soalnya.
"Papa, kapan Ichie mulai kerja?" tanya Richie pada Papanya.
"Besok kalau kamu mau kita bisa lihat lokasi, masih di renovasi." jawab Kenan pada bungsunya.
"Oke." Richie menganggukkan kepalanya.
"Bawa rombongan sirkus?" tanya Redi ingatkan Richie jika anak-anak pada menginap.
"Oh mereka tinggalkan saja sebentar dirumah, pasti betah dengan masakan Mamon." jawab Nona terkekeh.
"Mamon Baen mau belajar masakan Mamon, sama masakan Mama." kata Balen langsung ingat saat Mamon sebut masakan.
"Wah belajar sama Mamon saja Baen, Mama tidak pernah masak kan,.selama ini Bu Titik yang masak." Mama Amelia terkekeh.
"Bu Titik kapan balik sih Ma? Daniel juga rindu masakan Bu Titik." tanya Daniel yang belum bertemu Bu Titik selama di Indonesia, karena beliau sedang pulang kampung.
"Tidak tahu, dia merawat Ibunya yang sudah sepuh." jawab Mama Amelia pada Daniel.
"Jadi belajar masakan Mamon saja ya, masakan Mama tidak laku sama anak-anak." jawab Mama terkekeh.
"Ma, aku perlu orang yang bisa diajak ke Ohio untuk bantu di rumah, siapa kira-kira? kepikiran kalau Baen hamil tidak ada yang temani saat aku kerja." Daniel sampaikan pada Mamanya. Balen jadi menciut kepikiran sendirian saat hamil. Suaminya selalu persiapkan kebutuhan Balen dengan matang.
"Siapa ya, nanti coba kita pikirkan." Mama Amelia tersenyum.
"Harus yang cocok sama Baen, Daniel. Istrimu kan agak nyentrik." Mamon terkekeh.
"Anaknya Bu latifah mau ndak Mamon?" Balen teringat Bu latifah yang mengurus Mamon sewaktu di Cirebon.
"Oh iya pintar masak juga dia, duh Baen kepikiran saja. Nanti Mamon tanyakan ya. Tapi kalian serius mau ajak dia?" Nona memastikan.
"Aku serius Mamon, tidak ada Ichie, aku kepikiran Baen kalau kelaparan." jawab Daniel.
"Beyin aja sekolah di sana." Belin tawarkan diri.
"Kamu tidak bisa masak." jawab Daniel terkekeh.
"Om cari yang untuk temani Ante atau tukang masak sih." sungut Belin.
"Dua-duanya." jawab Daniel terbahak.
"Kia juga mau sekolah disana." sahut Kia cepat.
"Sudah jangan menghayal, tempat kalian di Jakarta, jangan ikut-ikutan Baen." tegas Kenan bikin keduanya merengut, Daniel, Balen dan yang lainnya malah terbahak.
__ADS_1