
"Raymond kamu keterlaluan, Kia menikah Padeh tidak dikabari." protes Opa Baron via telepon pada Raymond.
"Maaf Padeh, sebenarnya itu ide Papanya Roma. Semua serba mendadak, aku juga baru sepakat saat pagi hari." jawab Raymond menjelaskan pada Baron mertua Kenan yang juga dekat dengan Raymond.
"Kalau begitu Alex yang keterlaluan." jawab Baron bikin Raymond terbahak.
"Opon kaya yang bisa datang aja kalau mendadak." terdengar suara Balen dari belakang, ia tidak jadi menginap di rumah Mama Tari karena mau menjemput Larry sekeluarga lalu antarkan ke villa yang ditempati Redi, Mama Amelia dan Papa James semalam.
"Iya nih Padeh suka protes saja." Raymond kembali terbahak.
"Iya sih, tapi kan saya terkejut saat Kenan kasih tahu kemarin." Baron membela diri.
"Yee, kalau dikasih tahu pagi juga Opon terkejut." kembali suara Balen protes pada Opanya.
"Kamu protes terus sih, kalau begini Raymond tidak merasa bersalah." Omel Baron pada Balen.
"Hahaha Padeh, aku hari ini ke Malang kok, kita main catur sampai pagi, sanggup?" tantang Raymond pada Baron.
"Sebagai hukuman kamu menginap disini ya." kata Baron pada Raymond.
"Siap Padeh, Bude Mita masak enak kan?" Raymond masih saja tertawa sambil bertanya.
"Pastinya, mana pernah masak tidak enak, sampai asam urat, gula darah dan kolestrol saya naik." jawab Baron, tambah terbahak saja Raymond.
"Nanti ajak Kia dan suaminya juga menginap disini." perintah Baron pada Raymond.
"Aban, Baen kan besok mau ke Jakarta, kita survey hotel." teriak Balen pada Raymond sambil loudspeaker handphone Opa Baron.
"Survey sama Nanta saja Baen, gawat kalau Opon kecewa nih." jawab Raymond.
"Aban yakin nanti Ben yang bantu urus hotel Baen, dia kan masih kecil." teriak Balen lagi.
"Dia jenius Baen, walaupun seumuran dengan Acha. Bisnis Daddy Leo yang di Perth juga Ben sudah ikut bantu loh, dia biasa dari kecil ikut kerja begini. Sekarang ke Jakarta juga atas instruksi Bang Naka yang sudah tahu sepak terjang Ben dibidang perhotelan." jawab Raymond.
"Ganteng sama jenius, wow bisa ndak kita jodohin sama Beyin?" langsung saja punya ide.
"Ish mau dijewer Oma Intan kamu, Ben masih kecil begitu masa mau dinikahkan." Raymond terbahak.
"Ih Beyin anak Baen cocok tuh Aban, jenius juga kok." Balen promosikan Belin, entah dimana letak kejeniusan Belin.
"Kenalkan saja Baen, kamu ini suka sekali jodoh-jodohkan orang." Raymond terkekeh.
__ADS_1
"Baen cuma tanya aja Aban." jawab Balen ikutan terkekeh.
"Aban, jadi besok kita ndak bisa meeting bahas hotel?" tanya Balen memastikan.
"Gaya kamu meeting." Baron tertawakan cucunya.
"Opon ini kan masalah duit besar yang Opon investasikan untuk Baen, jadi Baen sebagai perwakilan Opon harus survey ke Jakarta, nah Baen kan harus lapor sama investor." jawabnya berlagak seperti business woman sejati.
"Setelah besok kamu survey sama Nanta, kita bisa meeting di ruang kerja Opon sambil ngobrol santai." jawab Baron nyengir lihat gaya cucunya.
"Lagian kamu kenapa juga minta survey besok sih Baen, orang lagi mau santai datangi acara Ulan." sekarang Raymond yang protes.
"Yah mumpung Baen dipinjami jet pribadi sama Achara." jawab Balen senyum-senyum padahal Raymond tidak melihatnya. Sementara Daniel sedang asik ngobrol sama Kenan, Nona dan Mita
"Kamu pemborosan Baen, merepotkan Achara saja." omel Raymond pada Balen
"Ih itu yang kasih pinjam Achara sendiri, Baen ndak minta loh, malah Baen sama Aban tadinya mau naik jet pribadi di Ohio aja." Balen membela diri.
"Modus kamu." Raymond terkekeh.
"Apa sih Aban, kaya tahu aja Baen mau modus." Balen bersungut tapi senyum-senyum.
"Yah kan benar modus, sudah terbaca." jawab Raymond.
"Ngambek, tidak mau angkat telepon Abang dari tadi shubuh." Raymond terkekeh sudah jadi kebiasaan putrinya itu kalau ngambek tidak mau angkat telepon, tapi tidak berniat tanya ke Lucky juga, biarkan anak menantunya nikmati masa pengantin baru.
"Coba kamu kasih Baen, jangan suka ngambek-ngambek begitu." pinta Raymond pada Balen.
"Nanti Baen kasih tahu, ndak sopan dong kalau ngambek-ngambek. Padahal tadi pagi sarapan dirumah Papa Micko." mulai sok tua bergaya ibu-ibu yang akan marahi anaknya.
"Yah kalau sama Papa Micko dan Papa Alex dia tidak berani begitu." Raymond terkekeh.
"Baen, sini handphonenya Opon masih mau bicara sama Raymond." pinta Baron pada Balen.
"Ih Opon." Balen cemberut tapi serahkan handphonenya pada Baron.
"Jangan ngambek-ngambek." sindir Opa Baron pada Balen.
"Baen ndak ngambek." jawabnya cepat.
"Itu mulutnya maju." tunjuk Opa Baron pada Balen.
__ADS_1
"Ini Baen senyum tahu." langsung rubah ekspresi wajah, Baron jadi terbahak dibuatnya, kemudian lanjut bicara sama Raymond masalah hotel Balen yang sedang dibangun. Sementara Balen menyimak didekat Opa Baron, ingin tahu juga perkembangan pembangunan hotel, walau Raymond dan Nanta selalu Kirim laporan dan videonya tapi Balen memang belum pernah survey langsung ke lokasi.
"Nanti nama hotelnya apa?" tanya Baron pada Balen.
"Baronin Hotel." jawab Balen.
"Apa tuh?" tanya Raymond.
"Baron sama Nina, kan lahannya punya Oma Nina." Balen terkekeh.
"Balena hotel, sudah diurus semuanya sama Nanta." jawab Raymond.
"Idih kok pakai nama Baen, kan Baen ndak modalin." langsung tidak enak hati
"Kamu lupa? Balena itu juga singkatan nama dari semua Opa dan Oma kamu." jawab Raymond mengingatkan Balen.
"Oh iya Baen lupa terus sih." Balen terkikik geli.
"Enak ya punya hotel modal nama saja." Raymond menggoda Balen yang terkikik mendengarnya.
"Enak aja, walaupun ndak modal duit, Baen tuh modal cita-cita tahu." jawabnya konyol.
"Iya cita-cita kamu keluarga yang realisasikan." jawab Raymond terkekeh.
"Makasih ya Opon dan Aban." kata Balen dengan manisnya dan setulus mungkin.
"Sama-sama sayang." jawab Opon dan Raymond bersamaan.
"Aban, Oma Nina ke Malang kan?" tanya Balen pada Raymond.
"Tidak kuat naik pesawat." jawab Raymond.
"Sama Baen aja naik Jet Achara. Nanti Oma Nina bisa tiduran." Balen menawarkan.
"Kamu pulangnya naik jet lagi?" tanya Raymond.
"Baen tanya Achara dulu deh, tapi sih pasti Achara kasih-kasih aja, Baen tinggal minta urusin ijinnya aja Aban." jawab Balen.
"Tanya dulu ya Baen, jangan seenak kamu saja, itu barang mahal loh." Raymond ingatkan Balen.
"Ya Aban, kan Baen juga ndak rusak-rusakin jet nya Achara, Aban ih."
__ADS_1
"Abang ingatkan saja, jangan lupa Abang ingatkan lagi, Kia suruh telepon Abang." kata Raymond.
"Iya Aban, Baen telepon Kia sekarang, bye." langsung matikan telepon tanpa ijin sama Raymond lagi, sudah biasa Raymond sudah tidak heran lagi.