
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Di perkebunan Sunset.
Max yang ditinggal Ivanna pergi begitu saja hanya bisa bekerja bekerja dan bekerja memajukan perkebunan ini. Ia hanya disibukkan dengan pekerjaannya saja. Makan pun jarang dan tidak teratur, hingga membuat William menjadi prihatin dengan keadaan Max.
"Max, makanlah sedikit saja." ucap William.
"Aku ga lapar, pah!" jawab Max.
"Kamu sudah bekerja terus terusan, nak. Ini waktunya perut mu juga diisi oleh makanan."
"Aku bilang aku ga lapar, pah! Jangan paksa aku!"
"Apa ini semua karna Ivanna?" tanya William.
"Bukan!" jawab Max dengan segera.
"Kalau bukan karna kepergian Ivanna, kenapa kamu sampai jadi seperti ini, Max? Bahkan lukamu saja belum sembuh!"
"Wanita ga punya hati itu ga layak untuk ada dipikiranku, pah!" ucap Max.
"Begitulah dulu perasaan Ivanna padamu, Max. Ditinggal saat sayang sayangnya! Walaupun papa tau itu masih cinta monyet." tambah William.
"Itu sih saat masih kecil, pah! Sekarang ini kami sudah dewasa, dan ingin hal yang serius."
"Ivanna hanya pulang setelah tugas misinya berhasil disini, nak. Dari awal Ivanna juga sudah bilang bahwa ia tidak akan lama di perkebunan ini. Kamu hanya ditinggal pulang ke Jakarta, Max. Bukan ditinggal pergi selamanya!" ucap William.
__ADS_1
"Papa! Jangan bicara begitu!"
"Hey, nak. Papa juga meninggalkan ibumu ketika harus memantau perkebunan ini! Siapa yang minta kita kembali ke Jakarta?"
"Aku!" jawab Max.
"Biar kamu saja yang tinggal di depan rumah Ivanna, dan urusi perusahaan entertain kamu!"
"Tapi Max masih butuh mama dan papa disana."
"Tadi katamu kalian sudah dewasa. Berarti tidak butuh papa dan mama lagi kan untuk membantu kalian berdua lebih dekat lagi?"
"Masih butuh, pah!"
"Ya sudah, bersabarlah, kita akan kembali ke Jakarta begitu para supplier selesai di perkebunan ini." ucap William.
"Serius pah?"
"Ga! Itu sama aja mempermalukan aku, pah!"
"Berarti benar ini semua karna kepergian Ivanna, kan?"
"Aku begini karna ingin membuktikan bahwa ucapanku benar, pah." jawab Max.
"Memang kamu pernah mengucapkan apa?"
"Cinta." jawab Max jujur.
"Jujur sekali kamu ini! Hahahahaha." ucap William dengan tertawa.
"Ko papa jadi mentertawakan aku sih?"
__ADS_1
"Papa itu ga mau lihat anak semata wayang papa ini jadi gila kerja seperti sekarang! Hentikan semuanya, jika tidak papa akan panggil Ivanna kesini, Max!" ancam William.
"Baiklah baiklah! Aku dengar ucapan papa!"
"Ya sudah, makanlah makananmu itu! Kasihan, bibi sudah memasak!"
"Iyah nanti aku makan." jawab Max.
"Bagus."
"Papa setuju aku sama Ivanna?" tanga Max.
"Ya jelas papa setuju lah, nak! Mana mungkin papa ga mau punya anak seperti Ivanna?"
"Sebagai menantu, pah! Anak papa tetap saja aku!"
"Ivanna itu sudah papa anggap sebagai anak sendiri, Max. Bahkan sebenarnya dia lebih cocok menjadi adikmu!" jelas William.
"Ga mau! Aku mau Ivanna jadi pasanganku, pah! Bukan adikku! Dia bukan saudara satu kandungan! Jadi sah sah saja bila aku menikahinya!"
"Baiklah, sudah! Masih ada hal lain yang harus papa urus!
William jadi mulai merasa tenang sedikit karna berbicara dengan putranya itu. Walaupun Max seorang anak laki laki, namun William sangat menyayangi dan menjaganya seperti ia menjaga anak perempuan.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1