
"Baen, I don't know why I'm so sad right now." Tori tiba-tiba memeluk Balen, sedikit menitikkan air mata, padahal perutnya sudah kenyang.
"Baen lagi happy kamu malah sad, kenapa sih?" Balen menepuk-nepuk bahu Tori.
"Kita sebentar lagi akan pisah, kamu akan terbang jauh lagi, Baen." keluh Tori merasa sedih terpisahkan jarak dengan sahabatnya.
"Kan ada Ichie, gantinya Baen. Kamu enak ada anak-anak juga, Tori juga bisa susul Baen ke Ohio sama Ichie." Balen juga merasa sedih sebenarnya, akan segera kembali Ke Ohio, terpisah dengan keluarga, sahabat dan juga anak-anaknya, walaupun bersama suaminya kini, tapi tetap saja rasanya beda hidup di negara orang.
"Ichie di Malang Baen, kamu jangan lama-lama di Ohio, please." kata Tori lagi. Krisna pandangi drama yang ada di hadapannya saja. Keduanya berpelukan dengan mata berkaca-kaca. Sama saja seperti Mamanya, kedua wanita dihadapannya tampak melankolis saat ini.
"Kenapa?" tanya Richie pada Krisna tanpa keluarkan suara. Krisna gelengkan kepalanya sambil tersenyum, isyaratkan semua baik-baik saja bukan masalah besar.
"Ya, Baen secepatnya akan pindah ke Jakarta. Baen ngebut deh kuliahnya." janji Balen pada Tori dan diri sendiri. Ia juga agak canggung tidak ada Richie di dekatnya, adiknya itu yang biasa bangunkan Balen, siapkan sarapan dan bantu Balen bikin PR, Balen begitu bergantung sama Richie yang lebih banyak waktu temani Balen di bandingkan Daniel dan Redi yang sibuk dengan bisnisnya.
"Kenapa ini berdua? kalian seperti teletubbies." tanya Opon kepo, hampiri keduanya dan langsung ikutan nimbrung.
"Nothing." Tori gelengkan kepalanya, malu sama Opon ketahuan menangis. Buru-buru hapus air matanya.
"Ichie nakal sama kamu? dia sakiti kamu?" tanya Opon memicingkan matanya.
"Tidak Opon, bukan begitu." Tori buru-buru gelengkan kepalanya. Richie memang sering membuat Tori kesal tapi tidak sampai menangis. Dan berapa hari ini Ichie sedikit lebih perhatian. Lumayan walau hanya sedikit tapi Tori senang.
"Opon kalau mau makan ajak Aban Daniel Baen dong." Balen mengalihkan pembicaraan, kalau dipancing terus nanti tambah menangis saja Tori.
"Memangnya Opon istrinya Daniel?" Opa Baron mencebik cari gara-gara sama cucunya.
"Ih Opon, Baen ndak bilang gitu. Abaaan ayo makan." langsung berteriak panggil suaminya.
"Papon, Mamon, Om, Ante, let's eat." ajak Balen, Daniel hampiri istrinya sambil tertawa.
"Apanya yang let's eat? kamu sudah makan dari tadi." Opon tertawakan cucunya.
"Ya kan makan sama-sama." jawab Balen, sementara Tori masih sibuk hapus air matanya.
"Sini Daniel duduk dekat Opon." Opa Baron menepuk bangku disebelahnya."
"Memangnya Aban Daniel Baen suami Opon?" Balen balas mencibir, semua langsung tertawa dibuatnya.
"Aban, sini aja." katanya pada Daniel.
"Jangan melawan Opon, Daniel. kamu duduk disini." dasar Opa Baron senang sekali menggoda cucunya. Daniel jadi bingung pandangi Balen minta persetujuan.
"Ya udah deh sana Aban dekat Opon aja." cemberut pandangi Opon yang hanya mencibir pada cucunya.
__ADS_1
"Papon saja yang dekat Baen." Kenan terkekeh lalu duduk disebelah anak gadisnya yang sudah tidak gadis.
"Papon mau pempek ndak?" tawari pempek dipiringnya, wajahnya tampak kekenyangan.
"Kasih Ichie saja tuh, dia biasa habiskan makananmu kan?" Opa Baron ikut-ikutan.
"Bilang aja Opon mau." Balen tutupi mangkoknya agar tidak dilihat Opa Baron. Semua kembali tertawa, keduanya selalu rusuh kalau bertemu.
"Opon lagi kurangi minyak, mau yang dikukus atau rebus saja." jawab Opa Baron. Tidak lama asisten rumah tangga antarkan pempek yang sudah direbus, rupanya Oma Mita sudah siapkan apa yang Opa Baron mau.
"Bibi, kalau tahu Baen rebus juga aja pempeknya." protes pada Bibi yang hanya ikut arahan saja.
"Sudah kamu makan juga, masih saja protes." Om Deni mengacak anak rambut Balen.
"Om Deni, rambut Baen berantakan nih." meringis membenarkan posisi poninya. Deni tertawa dibuatnya, dari kecil Balen selalu protes kalau rambutnya diberantaki.
"Ante, baju berenang Baen jangan lupa." Balen ingatkan Dini.
"Lagi makan itu yang dibahas makanan bukan baju berenang." protes Opa Baron.
"Ante, Opon mau juga tuh celana berenang." kata Balen tertawa jahil pandangi Opa Baron.
"Lihat istri kamu tuh, suka sekali jahili Opanya." mengadu pada Daniel yang cengar-cengir saja melihat keduanya.
"Tergantung, biasa sih iya tidak tahu sekarang." jawab Opon jual mahal.
"Maksud Opon bagaimana, kok tergantung?" tanya Balen tidak terima.
"Soalnya nanti Ichie kan pindah kesini, tidak tahu ya Opon masih ingat kamu apa tidak." jawab Opa Baron tertawa senang lihat ekspresi Balen saat ini.
"Tadi Baen dibuang karena Kisna, sekarang di buang lagi karena Ichie. Ok Opon terima kasih sudah jadi Opa Baen."
"Ih..." Opa Baron meringis.
"Baen kecewa." makanin pempek.
"Segitu aja Opon rupanya." ambil pempek rebus yang di depan Opon lalu memakannya. Yang lain menahan tawa.
"Eh itu punya Opon." Opa Baron protes pempek rebusnya berkurang.
"Baen ganti nanti." katanya ambil lagi yang di mangkok Opon.
"Tukeran ya Opon pempeknya, untuk mengatasi rasa kecewa Baen." katanya menyodorkan pempek di mangkoknya dan mengambil Pempek rebus Opon.
__ADS_1
"Habiskan saja." kata Opa Baron tertawa.
"Tori kamu kenapa? capek?" tanya Nona pada Tori.
"Mungkin sedikit capek." jawab Tori tertawa.
"Tori sedih Baen mau ke Ohio." jawab Balen apa adanya.
"Kamu juga sedih Baen?" tanya Nona pada Balen.
"Iya tapi kan Baen sekolah." jawabnya.
"Tapi Tori sedihnya pasti sebentar aja deh." kata Balen yakin.
"Kalau sudah menikah Tori akan bilang huraaaiiii." bisik Balen pada Tori membuat Tori langsung terbahak, Balen pun ikut terbahak, mereka berdua saja yang heboh yang lainnya terkikik geli, dan akhirnya semua kembali fokus pada makan siang, sedang Balen dan Tori yang sudah kenyang bikin acara sendiri di meja makan.
"Baen, ambilkan nasi untuk Daniel." Kenan ingatkan Balen.
"Emang ndak bisa sendiri Aban?" tanya Balen polos.
"Bisa." jawab Daniel tersenyum.
"Baen!" Kenan gelengkan kepalanya minta Balen yang siapkan makanan untuk Daniel.
"Iya Papon." Balen segera beranjak dekati Daniel ambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
"Opon sih." salahkan Opon karena duduk disebelah Daniel.
"Ambilkan Opon juga." pinta Opa Baron pada cucunya.
"Manja deh Opon."
"Iya dong manjanya sama cucu sendiri." jawab Opon serahkan piringnya pada Balen.
"Nasi apa pempek?" tanya Balen terkekeh. Pempek Opon sudah Balen habiskan.
"Nasi." jawab Opon terkekeh.
"Belum berangkat aja sudah kangen sama Baen, kelihatan tuh." kata Oma Mita tertawa.
"Masih mau pikir-pikir Opon? kan ada Ichie?" Balen naikan alisnya.
"Ichie pintar masak loh." kata Balen lagi.
__ADS_1
"Tapi tidak suka ngomel Opon kesepian deh." lanjut Balen bikin semua terbahak.