Because I Love You

Because I Love You
Tamu


__ADS_3

"Noah, Belin cantik kan?" bisik Balen pada Noah, masih usaha terus mau jodohkan Noah, setelah Kia gagal, Belin harus berhasil.


"Cantik." Noah anggukan kepalanya.


"Masih available, maju lah." kata Balen semangati Noah.


"Yakin available, kayanya sudah ada yang punya." Noah terkekeh.


"Dijamin available one hundred percent." jawab Balen.


"We'll see." Noah mengedikkan bahunya sambil tersenyum.


"Ajak ngobrol dong kalau mau usaha." paksa Balen.


"Pengen betul mau jadi saudaraku Balen." Noah terkekeh.


"Noah ndak rugi jadi saudara Baen, nanti boleh ngasuh anak Baen deh sambil kencan." kata Balen nyengir.


"Idih itu sih niat mau nitip anak." gerutu Noah bikin Balen terbahak.


"Seru kan pacaran bawa anak." kata Balen terkikik geli.


"Hahhaa boleh-boleh." Noah terbahak sambil anggukan kepalanya.


"Ante, Beyin balik ya." ijin Belin pada Balen yang sedang asik bicara dengan Noah.


"Wah kan masih kumpul, yang lain juga masih disini." Balen keberatan.


"Beyin capek mau istirahat." Belin menghela nafas.


"Istirahat dikamar tamu kan bisa."


"Beyin tidak bawa baju, mau mandi sudah gerah, baju Beyin juga kotor. Besok kesini lagi deh atau Ante dimana besok Beyin samperin." janji Belin pada Balen.


"Noah juga dong besok samperin Baen." modus biar Noah sama Belin semakin dekat.


"Besok aku kabari, lihat jadwal dulu." jawab Noah tersenyum.


"Aku juga pamit Balen." kata Noah pada Balen.


"Eh antar Belin pulang ya Noah, dekat sini kok, Baen titip Belin." selalu cari celah.


"Beyin bawa mobil Ante." kata Belin.


"Tinggal saja nanti mobil diantar Bima sama Aca. Kalau capek setir mobil nanti ndak fokus." kata Balen menepuk punggung Belin seperti ibu-ibu yang perhatikan anaknya. "Titip ya Noah, mana kunci mobil Beyin?" halus tapi maksa, Noah dan Belin tidak bisa menolak Balen.


"Thanks before Noah." Balen menyeringai sambil ambil kunci mobil yang diserahkan Belin. Noah tertawa saja sambil gelengkan kepalanya, sudah sangat paham kelakuan Balen sahabatnya yang semau gue, sahabat? kasih tak sampai kali. Balen antarkan Noah sampai keluar, pastikan Belin benar-benar masuk ke mobil Noah.


"Eh Beyin sudah pamit sama Ayah dan Nami belum?" tanya Balen.


"Sudah." Belin anggukan kepalanya. Balen masuk ketika mobil Noah sudah melaju tinggalkan rumahnya.


"Maaam, go home." rengek Cadi pada Balen yang baru saja duduk di sofa bersama Kia.


"Kok go home, semua masih pada kumpul." kata Balen pada Cadi.

__ADS_1


"Aku tired Mam." katanya kalungkan tangan di kaki Balen sambil melantai, duduk di lantai maksudnya.


"Sebentar Mama tanya Papa dulu kita bobo dimana ya, kalau memang menginap disini Mama temani Cadi di kamar, Oke?"


"Oke Mam." bilang Oke tapi masih memeluk Balen.


"Lepas dulu dong, Mama mau ke Papa." Balen lepaskan pelukan Cadi.


"Aku belum pernah di gendong sama Mam." modus minta digendong, Kia tertawa dibuatnya.


"Kamu besar, Mama tidak kuat." Balen gelengkan kepalanya.


"Kasihan aku kurang kasih sayang karena Mam tidak pernah gendong." bikin Balen dan Kia terkekeh sambil berpandangan, beda gaya bahasa tapi modusnya sama seperti Balen.


"Nanti Mama ganti gendongnya jadi peluk erat saat di kamar, deal?" Balen membujuk Cadi.


"No deal." menolak karena maunya digendong.


"Uncle Ray saja yang laki-laki tidak kuat, apalagi Mama." Balen menjelaskan.


"Mam kan rajin olah raga, Uncle tidak."


"Papaaaa anaknya nih minta gendong." teriak Balen pada Daniel, Balen beneran menyerah, urusan gendong serahkan pada Daniel.


"Pap lagi ngobrol jangan diganggu Mam, aku maunya gendong sama Mam bukan sama Pap." takut mengganggu Papa yang sedang asik ngobrol, memang Cadi kalau sudah mengantuk rewel, ada saja maunya, Balen segera ulurkan tangannya bermaksud memangku Cadi.


"Cadi sini gendong Ayah." Larry cepat tanggap sementara Daniel baru berdiri mau hampiri anak dan istrinya.


"Tuh gendong Ayah." Balen terselamatkan.


"Kuat, Ayah kan rajin olah raga." jawab Larry banggakan diri, setelah yakin tidak merepotkan Larry, Cadi serahkan tubuhnya untuk digendong.


"Anak Ayah sudah ngantuk rupanya, mau bobo di rumah Ayah atau disini?" tanya Larry pada Cadi.


"Tanya Mam saja." jawab Cadi pasrah.


"Baen belum tahu mau bobo mana, belum ngobrol sama Papon." kata Balen pada Larry.


"Sana ngobrol dulu." Larry menyuruh Balen hampiri Kenan yang masih ngobrol bersama Daniel dan mertuanya, ada Lucky dan Nanta juga.


"Sepertinya tidur disini dulu ya?" Balen minta persetujuan Larry.


"Sebaiknya sih begitu, kamu kan nanti juga tinggal sama Mama dan Papa, jadi beberapa hari ini sama Papon dan Mamon lah." kata Larry pada kesayangannya.


"Ya sudah ndak usah tanya kalau begitu." Balen terkekeh, Kia juga tampak sudah lelah, sibuk membelai Syabda yang tertidur di sofa.


"Ndak bobo kamar aja?" tanya Balen.


"Kalau diangkat nanti bangun, tunggu pulas dulu." jawab Kia, Balen anggukan kepalanya.


"Aban ndak capek?" tanya Balen pada Larry yang masih goyangkan tubuhnya tidurkan Cadi. Larry gelengkan kepalanya.


"Sini aku saja Bang." kata Daniel saat mendekat.


"Biar saja Abang masih kangen." jawab Larry, Daniel tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kita bobo sini dulu saja." kata Daniel pada Balen.


"Disuruh Papon ya?" tanya Balen.


"Iya, Mama dan Papa juga bilang begitu, mulai minggu depan baru kita tinggal dirumah Utama." jawab Daniel.


"Iya Papa sama Mama geser ke Paviliun, kalian yang dirumah Utama." kata Larry.


"Wah ndak usah, kita aja yang di paviliun." Balen tidak enak hati.


"Sama saja mau Paviliun atau rumah utama, beda pintu saja kok." kata Daniel santai.


"Iya sebaiknya kalian yang dirumah Utama, kalau ada tamu ketemunya yang muda dulu." jawab Larry terkekeh.


"Kenapa ndak sama-sama aja dirumah Utama?" tanya Balen.


"Papa sama Mama juga mau mesra-mesraan lah." jawab Daniel disambut tawa Larry.


"Kaya anak muda aja." Balen tertawa.


"Pertahankan sampai tua dong Baen." jawab Larry.


"Iya juga sih." Balen terkikik geli.


"Istri gue ngantuk berat nih." Lucky yang hampiri Balen tertawa melihat Kia tertidur di sofa sambil memangku Syabda.


"Capek kali, berapa kilo sih Syabda?" tanya Daniel takjub lihat Syabda.


"Dua puluh kilo anak tiga tahun." jawab Lucky tertawa.


"Atur pola makannya bisa kok biar berat badan seimbang." Larry beritahukan Lucky.


"Ajari Bang, kalau bocah begini bagaimana biar aman." pinta Lucky pada Larry.


"Nanti gue kasih bukunya, dulu Billian kecil juga seperti Syabda, ingat tidak?" Larry tanya Balen.


"Hahaha iya ingat, gembul." kata Balen tertawa.


"Ayo Bang, boleh. Kasihan nih anak gue kalau kelebihan berat badan." kata Lucky pada Larry.


"Nanti mampir sebentar ke rumah, mau?" tanya Larry.


"Boleh, cuma ambil buku saja kan?"


"Iya, mau ajak ngopi juga kasihan Kia sama Syabda sudah pulas." Larry terkekeh.


"Sekarang yuk Bang, kasihan nih Kia." kata Lucky ajak Larry pulang.


"Niel..." panggil Daniel hendak serahkan Cadi.


"Langsung ke kamar saja Bang, kalau dipindah tangan lagi pulas suka terbangun, kalau di kasur langsung gue peluk." kata Daniel pada Larry.


Larry dan Daniel segera antar Cadi ke kamar, sementara Charlie dan Chandra masih on bercanda bersama Bima, Aca dan Billian.


"C's ikut Papa ke kamar, kalian bobo." teriak Balen pada keduanya.

__ADS_1


"Aku masih ada tamu Mam." jawab Chandra tunjuk ketiga Abangnya. Lucky terbahak melihat gaya anaknya Balen yang sok iye sedang temani tamu-tamunya.


__ADS_2