Because I Love You

Because I Love You
Isti


__ADS_3

"Anak Abang marah sama gue tuh." bisik Daniel pada saat bertemu Larry di restaurant. Belin melengos saat Daniel tersenyum kepadanya.


"Kenapa dia?" Larry tertawa geli, sudah bayangkan pasti para abege bikin kelakuan. Sementara Balen sudah bergabung dengan anak-anaknya yang wanita, anak-anak Ichie sepertinya masih pada tidur belum terlihat batang hidungnya.


"Tadi malam aku usir dari kamar." Daniel terkekeh, Larry tersenyum sambil gelengkan kepalanya.


"Sarapan apa, Ban?" tanya Balen hampiri Daniel dan Larry.


"Aban mau jus dong Baen." pinta Larry pada Balen.


"Aban juga?" tanya Balen pada Daniel.


"Boleh." Daniel anggukan kepalanya, kemudian lanjutkan obrolannya dengan Larry.


"Kak Rumi tidak sarapan?" tanya Daniel.


"Mau sarapan dikamar saja dia." jawab Larry nyengir.


"Seperti pengantin baru saja."


"Setiap hari harus seperti pengantin baru lah." jawab Larry tengil.


"Bang Nanta tidak kelihatan?" tanya Daniel dengan mata berkeliling, hanya Larry saat ini, Mike dan Doni tampak baru keluar dari lift bersama pasangannya. Dibelakangnya tampak Papa James, Mama Amelia, Papon, Mamon dan rombongan yang lainnya.


"Nanta dan Bang Ray sudah checkout dari semalam, shubuh ini ke Malang dia." jawab Larry jelaskan pada Daniel.


"Kayanya gue harus ke Malang juga deh Bang, Oponnya Baen kan harus didatangi." kata Daniel teringat Opa Baron, Papanya Mamon.


"Iya loh, Om Deni dan Om Samuel juga tuh harus kamu kunjungi, pernikahan kalian yang mendadak bikin mereka tidak bisa datang." kata Larry pada adiknya.


"Atur waktu dulu deh, rembukan juga sama Papa dan Mama." Daniel menghela nafas, tiga minggu terlalu singkat rasanya. Daniel dan Larry berdiri saat orangtua dan mertuanya Daniel lewat, segera salami mereka.


"Baen sudah sehat?" tanya Kenan.


"Sudah Pa, itu lagi ambil jus." jawab Daniel sudah panggil Papa sekarang tanpa disuruh.


"Baen minta bertemu Opon?" tanya Larry kemudian setelah kembali berdua Daniel.


"Tidak, gue baru saja ingat jadi kepikiran, Bang." jawab Daniel tersenyum.


"Gue titip Baen ya, jangan dikecewain loh." kata Larry pada adiknya.


"Ck... seperti apa saja." dengus Daniel kesal, mana mungkin Daniel kecewakan Balen, begitu pikirnya.


"Kesayangan gue tuh Baen." kata Larry lagi.


"Istri gue tuh, Bang. Apa-apaan bilang kesayangan." Daniel cemberut bikin Larry tertawa, masih saja Daniel kesal kalau Larry perhatikan Balen berlebihan.


"Mulai sekarang tidak boleh minta kiss sama Baen lagi loh ya." Daniel peringati Larry, langsung saja Larry menoyor kepala adiknya.


"Aban Leyi, kenapa Aban Daniel Baen di toyor?" sudah ada yang bela Daniel sekarang, Balen datang membawa dua jus murni. Pantas saja lama Balen pesan minta dibikinkan khusus rupanya.


"Aban tidak boleh minta kiss kamu lagi kata Daniel, padahal cuma pipi." lapor Larry pada Balen.


"Pipi boleh dong Aban." Balen pandangi Daniel minta persetujuan.


"Tidak boleh, jangan sok kebarat-baratan deh." kata Daniel sengit.


"Hahaha ya sudah kalau tidak boleh, Baen kalau suamimu melarang berarti jangan dilakukan." Larry ajari Balen.

__ADS_1


"Iya Aban." jawab Balen tersenyum.


"Gitu dong nurut." Daniel langsung saja rangkul istrinya.


"Kamu mau ke Malang, sowan ke Opon?" tanya Daniel menatap istrinya penuh cinta.


"Mau, sama Ban Nanta dan Ban Lemon ya?" tanya Balen senang.


"Mereka sudah berangkat tadi shubuh." jawab Larry.


"Kita kapan Aban ke Malangnya?" tanya Balen semangat.


"Nanti kita tanyakan Papon sama Mamon dulu dong, Abang juga harus tanya sama Papa dan Mama." kata Daniel pada Balen.


"Oke." kembali bergaya centil acungkan jempol.


"Bang Kadar sayang gue ke Balen jauh lebih besar dari sayangnya kalian ke Balen tahu." kata Daniel kemudian bikin Larry mencibir.


"Tidak percaya lagi." dengus Daniel.


"Buktinya apa?" tanya Larry terkekeh.


"Buktinya Aban Daniel jadi suami Baen sekarang." jawab Balen wakili Daniel sambil tersenyum pada Larry.


"Jadi yang tidak jadi suami kamu tidak sayang?" Larry menatap Balen.


"Sayang juga sih, tapi Aban Daniel sayangnya banyak untuk Baen, iya kan Ban?" Balen pandangi Daniel minta pendapat.


"Jangan ditanya lagi kalau itu sih, sudah terbukti." jawab Daniel tertawa mengacak anak rambut Balen.


"Waduh-waduh pengantin baru mesra betul, bikin kita mau Kawin lagi rasanya." Mike menggoda Balen dan Daniel.


"Mau apa?" tanya Seiqa siap menjewer telinga suaminya.


"Bercandanya jangan kelewatan." sungut Seiqa mencibir pada suaminya, kemudian berlalu kegubug makanan.


"Berjandanya keterlaluan, ada yang bilang begitu dulu." Larry terbahak.


"Siapa?" tanya Daniel ikut terbahak.


"Ih, Aban." Balen langsung cengengesan digoda dua kesayangannya.


"Sudah sarapan Baen, kamu harus banyak makan karena sekarang lebih sering olah raga kan?" Mike menyeringai.


"Baen selama di Jakarta belum sempat berenang, tenis juga belum." jawab Balen polos.


"Aih sama Daniel belum diajak olah raga kah semalam?" Doni tertawa jahil.


"Eh Istriku jangan diajak berjanda keterlaluan dong." kata Daniel membuat Balen menepuk bahunya sambil tertawa.


"Baen ke anak-anak aja ah, disini digangguin terus." jawab Balen saat sadar olah raga yang dimaksud Doni. Semua terbahak jadinya lihat Balen merah padam.


"Jadi isti juga kamu Baen." teriak Doni bikin semua yang mengenal Balen kecil tertawa. Mayoritas tamu hotel keluarga dan kerabat Daniel dan Balen. Sudah pasti tahu bagaimana centilnya Balen saat kecil dulu. Balen pun ikut terkikik geli mendengarnya.


"Bagaimana, ada gosip apa?" tanya Balen setelah dudukkan badannya disebelah Belin yang sedang asik mengoceh.


"Aku marah sama Om Daniel." jawab Belin memandang Balen.


"Ih Kenapa marah sama suamiku?" tanya Balen mengernyitkan dahinya, merasa harus membela Daniel.

__ADS_1


"Sebal, kesal, sedih dan sakit campur aduk." jawab Belin drama.


"Penyebabnya?" tanya Balen prihatin.


"Tadi malam usir kita dari kamar Ante, harusnya Om Daniel yang keluar." dengusnya kesal.


"Kita juga salah sih, Baen kan lagi flu harus istirahat." Selin beri pengertian pada Belin.


"Iya tuh Beyin, Sein benar." kata Balen pada Belin.


"Ante sekarang belain Om." Belin bersungut kesal.


"Bukan begitu, om benar juga memang kalian kan sudah punya kamar masing-masing, kenapa mau tidur di kamar Aban Daniel." kata Balen lagi.


"Ah Ante mah." tidak lagi mendebat, tapi masih tampak kesal.


"Baen, bagaimana rasanya punya suami sih?" tanya Tori serius.


"Uh!" Balen acungkan jempolnya.


"Uh bagaimana?" tanya Kia mendekati wajahnya pada Balen.


"Oh juga boleh." jawab Balen dengan wajah serius.


"Apa sih Uh, Oh?" Selin menggelengkan kepalanya, diantara berlima Selin yang paling normal.


"Kalau Oh pakai yes." kata Selin kemudian ingat film yang pernah ditontonnya.


"Oh Yes." Balen dan Selin terkikik geli.


"Tidak mengerti ah." Kia mendengus, bingung dengan pembahasan Selin dan Balen.


"Menikah dulu baru mengerti." jawab Balen tertawa geli sendiri.


"Selin belum menikah tapi mengerti." jawab Tori melengos.


"Eh Sein, kamu kok ngerti kan belum halal. Jangan bilang kamu menganut..." Balen memicingkan sebelah matanya.


"Apa sih Baen, di film banyak yang begitu." kata Selin apa adanya.


"Kamu suka nonton film dewasa ya?" tanya Balen ingin tahu.


"Kalau mau cepat dewasa harusnya kita nonton film dewasa loh Baen." kata Tori pada Balen.


"Jangan, itu hanya untuk yang punya suami." jawab Balen sok tahu.


"Selin kamu ku bilang Papa ya belum punya suami nonton film dewasa." ancam Tori pada Kakaknya.


"Aku sudah punya tunangan." jawab Selin mencibir.


"Ih aku juga punya boyfriend, Ichie mana sih Baen?" langsung celingukan cari Richie.


"Kenapa Tori cari aku?" tanya Richie yang tiba-tiba muncul.


"Dia mau nonton film dewasa tuh katanya." kata Kia pada Om nya.


"Tori?" Ichie kerutkan keningnya.


"Ish tidak seru pembahasan pagi ini, Ichie urusan kita belum selesai." kata Tori memandang Richie.

__ADS_1


"Aku makan dulu ya, setelah itu kita selesaikan." jawab Richie mengacak anak rambut Tori.


"Oh Yes." kata Tori setelah Richie berlalu, bikin mereka berlima terkikik geli rusuh sendiri.


__ADS_2