Because I Love You

Because I Love You
Lapar


__ADS_3

"Ichie darling, Aku lapar. Ayo bangun." sedang pulas karena baru tidur setelah sholat shubuh tadi Richie terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat. Kalau urusan perut lapar pasti tidak bisa ditunda.


"Pesan saja Wot, makan dikamar. Aku ngantuk baru tidur dua jam." jawab Richie dengan suara bantalnya.


"Ichie, besok Ulan dan Om Redi sudah kembali ke Jepang, please. Aku mau bersama mereka." rengek Tori goyangkan tubuh suaminya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Richie lemah.


"Belum."


"Ya sudah mandi dulu, kamu kan mandinya lama." cari alasan biar bisa tidur lebih lama.


"Tidak usah mandi Ichie, ayo sarapan dulu." Tori lebih pintar rupanya.


"Jorok Woti, sana mandi." Richie menutup wajahnya dengan bantal.


"Aaah lemah sekali, aku juga baru tidur jam dua tapi tidak seperti kamu." dengus Tori tidak habis pikir kenapa suaminya gampang sekali lelah.


"Ada yang pelorotin celana aku semalam." jawab Richie bikin Tori tergelak ingat kelakuan ya semalam yang tidak bisa menahan hasrat.


"Sudah gitu tidak mau sekali." oceh Richie lagi, tambah terbahak saja Tori langsung ciumi pipi suaminya gemas.


"Aiiih Woti, jangan mulai lagi." Richie mengacak rambut Tori yang berbaring diatas tubuhnya tapi bergerak terus.


"Kamu sih menggemaskan." jawab Tori nakal.


"Sana mandi."


"Tadi sebelum shubuh kan sudah mandi." bisik Tori masih saja berbaring diatas tubuh Richie.


"Berat sayang." kata Richie tidak kuat menahan bobot Tori.


"Ichie, do you love me?" tanya Tori lagi sambil mengecup bibir Richie.


"Hu uh." menahan nafas karena pergerakan Tori membangunkan sesuatu.


"Tori darling, bangun." bisik Richie.


"Ayo, aku kan sudah bangun dari tadi." tidak mengerti maksud suaminya.


"Ck, kamu mancing-mancing terus Roti." Richie bergerak cepat dan sekarang posisi berbalik, Richie yang di atas Tori.


"Aku lapar." kata Tori melemah karena Richie mulai bergerilya.


"Kamu bikin yang lain juga lapar." bisik Richie selanjutnya abaikan rasa lapar keduanya kembali beraksi.


"Darling, mereka sudah bubar." rengek Tori setelah olahraga pagi mereka selesai, setelah mandi dan berpakaian cantik plus keringkan rambut, ia langsung mengecek handphone. Di group terlihat foto Balen sedang berenang bersama yang lain. Tidak ada satupun yang mengangkat telepon saat ini, semua sibuk di kolam berenang.


"Mereka berenang dimana?" tanya Richie.


"Tidak tahu, katanya kolam air hangat." jawab Tori sedikit kecewa karena tidak bisa bergabung.


"Kamu mau menyusul? aku bisa lacak Baen ada dimana kok." kata Richie.


"Lapar..." rasa lapar sudah bertambah levelnya.


"Restaurant hotel sudah close. Kamu mau pesan kita makan di kamar saja?" tanya Richie nyengir, istrinya sudah sangat kelaparan, tentu saja Richie merasa bersalah, tapi hanya sedikit.


"Di tempat semalam saja." kata Tori. Richie ulurkan tangannya mengajak Tori keluar kamar. Harus gerak cepat supaya asam lambung tidak naik. Untung saja tadi sudah minum jus setelah sholat shubuh, jadi tidak terlalu kosong perutnya. Tapi tetap saja kalau sudah lapar harus segera diisi.

__ADS_1


"Kamu sih mancing-mancing, pakai bilang aku lemah lagi." Richie tertawa merangkul istrinya sambil menunggu lift.


"Iya aku terus saja, padahal kamu yang nafsu besar." Tori mencibir.


"Hahaha tadi yang tidur diatas badan aku itu siapa ya? mana tidak bisa diam, bergerak saja terus." Richie terbahak.


"Ichie, nanti ada yang dengar." Tori langsung celingak-celinguk khawatir ada tamu hotel yang mendengar.


"Tidak mengerti juga bahasa kita." bisik Richie, tapi ikut celingak-celinguk, aman tidak ada yang lewat, pintu lift terbuka, tambah aman karena mereka hanya berdua saja didalam.


"Mau bikin sensasi?" tanya Richie jahil.


"Istrimu ini sedang lapar sangat, jangan mancing-mancing." Tori mencubit kedua pipi suaminya lalu mengecup bibirnya.


"Iya, barusan itu apa?" tanya Richie, Tori terbahak senang saja ciumi suaminya.


"Ichie, kalau orang lihat kita mereka pikir kita pacaran apa suami istri?" tanya Tori.


"Tidak tahu." Richie terkekeh.


"Kenapa?" tanya Richie kemudian.


"Ingin tahu saja karena diantara kita berempat pasang suamiku yang paling muda." jawab Tori senyum lebar.


"Paling ganteng juga?" tanya Richie, Tori gelengkan kepalanya.


"Idih..." Richie sudah mau protes.


"Beda-beda gantengnya, tapi semua eye catching." jawab Tori tertawa.


"Genit..." dengus Richie sambil tertawa.


"Mr. Richie..." petugas hotel menyapa Richie.


"Ya?"


"Pesan dari Mr. Lucky agar menyusul."


"Oh tapi kita mau makan dulu di restaurant beberapa blok dari sini." jawab Richie.


"Disana ada restaurant juga, pesan Miss Balen agar makan disana saja."


"Baiklah, bagaimana caranya mau kesana, bisa berikan arahan?"


"Supir sudah menunggu." tunjuk petugas hotel pada salah satu mobil yang sudah terparkir di Lobby.


"Baik terima kasih." Tori pasrah saja saat Richie menarik tangannya menuju mobil yang sudah disediakan oleh Lucky.


"Berapa lama perjalanan?" tanya Tori pada supir yang membawa mereka.


"Kurang lebih sepuluh menit." jawab Pak Supir.


"Huhu darling, lama." tidak tahan lapar kalau sepuluh menit.


"Pak bisa mampir ke restaurant halal, istri saya kelaparan." pinta Richie pada pak supir.


"Baik." Pak Supir ikuti maunya Richie langsung cari parkiran, padahal baru juga keluar hotel, mau bagaimana lagi kalau sudah kelaparan sepuluh menit juga rasanya seperti berapa hari.


"Lama betul, sudah pada dimana?" tanya Balen yang hubungi adiknya via handphone.

__ADS_1


"Makan dulu Baen, Tori kelaparan belum sarapan." jawab Richie sambil nikmati makanannya.


"Jangan kenyang-kenyang Ichie, disini banyak makanan." Balen ingatkan Richie.


"Yah sudah hampir kenyang ini." jawab Richie terbahak.


"Ih disini makan enak seperti di Indonesia, masakan kita semua." Balen promosikan menu di kolam berenang.


"Kok bisa? kolamnya dekat restaurant Indonesia ya?" tanya Richie.


"Bukan, kita berenang dirumah temannya Ban Lucky, dia orang Indonesia." jawab Balen terbahak.


"Idih Baen, kok numpang berenang dirumah teman Bang Lucky sih?"


"Soalnya kolam renang air hangat jauh, jadi teman Bang Lucky yang tawarin berenang dirumah dia aja ada air hangatnya, ya Baen langsung mau lah, badan Baen perlu relaksasi." celoteh Balen bikin Richie gelengkan kepalanya.


"Sini buruan, itu juga supirnya teman Ban Lucky tahu yang jemput Ichie sama Tori." kata Balen lagi.


"Ya ampun, gue kira supir hotel Baen, gue main suruh mampir saja di restaurant, sampaikan maaf karena supirnya gue ajak mampir." kata Richie pada Balen.


"Nanti Ichie aja yang bilang, Baen ndak boleh ngobrol banyak sama teman Aban Lucky, suami Baen cemburu." bisik Balen bikin Lucky terbahak.


"Ganteng ya?" tanya Richie.


"Mirip Noah soalnya." jawab Balen bikin tawa Richie menggelegar, bayangkan bagaimana cemburunya Daniel pada Noah dulu.


"Padahal Aban sudah baikan sama Noah, tapi masih aja. Bawaan hamil kayanya." kata Balen lagi komentari suaminya.


"Ini masih pada berenang ya?" tanya Richie masih sambil makan.


"Baen sama Aban sudah, yang lain masih lomba berenang, suami lawan istri." jawab Balen.


"Siapa yang menang?" tanya Richie.


"Belum ketahuan, tapi harus istri lah." jawab Balen.


"Kok begitu?" tanya Richie.


"Suami harus mengalah." jawab Balen konyol, Daniel yang duduk disebelahnya terus saja tertawa dengar ocehan istrinya dari tadi.


"Ada Bang Daniel?" tanya Richie.


"Iya dari tadi dengerin kita." jawab Balen.


"Tadi yang bahas cemburu Abang dengar dong?" tanya Richie.


"Dengar, ndak apa, memang cemburu kok, iya kan Aban?" tanya Balen.


"Kata siapa?" tanya Daniel nyengir.


"Kata Baen, ayo ngaku." paksa Balen.


"Iya saja ya Chie, kan suami harus mengalah sama istri." jawab Daniel ulangi perkataan Balen.


"Harus mengalah ya Bang?" Richie ulangi sambil tertawa.


"Iya itu berenang saja suami tidak boleh menang, Lucu nih Chie, susah payah Redi mau bikin Ulan menang gagal terus." Daniel terkekeh pandangi aktifitas dikolam berenang. Tentu saja Redi gagal kalah karena Ulan memang tidak jago berenangnya.


"Aban kan lagi bahas cemburu, Aban malah ganti topik, curang." protes Balen bikin Daniel dan Richie terbahak, sementara Tori seperti tidak peduli karena asik nikmati sarapan menjelang makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2