Because I Love You

Because I Love You
Tergoda


__ADS_3

"Masih sibuk ya?" Balen melongok dari balik pintu, setelah makan malam bersama Daniel langsung ijin ke kamar. Kini Balen amati suaminya yang masih fokus pada layar laptopnya, sedang meeting online rupanya. Balen menutup mulutnya karena suaminya sedang berbicara di forum. Sudah pasti suara Balen terdengar oleh para peserta meeting. Tapi Daniel santai saja tuh, malah tersenyum pandangi istrinya lalu kembali bicara dengan orang-orang diseberang sana.


"Aban, Baen diluar." katanya pada Daniel dengan gerakan mulut, Daniel menganggukkan kepalanya, kemudian kembali fokus pada layar laptop.


"Papon..." iseng panggil Papon saat lewati kamar Papon dan Mamon.


"Mamon..." panggil Mamon ketika Papon tidak menjawab, sama Mamon pun tidak menjawab, sepertinya benar-benar lelah, disana mereka kurang tidur karena asik ngobrol hingga larut malam.


"Aban..." panggil Abang ketika lewati Abangnya yang sedang ngobrol serius sama Richie. Nanta terkekeh sambil rentangkan tangannya, siap menyambut Balen.


"Aca..." panggil Aca saat duduk disamping Nanta dan mulai menggelendot.


"Pasti bingung mau ngapain." Richie tertawakan Balen.


"Baen tuh kaya ndak punya teman ya?" sadari tidak ada teman selain Selin, Tori dan anak-anaknya, sekalinya ada malah Noah yang menyusul ke Ohio.


"Memang kenapa?" tanya Nanta, Daniel cengar-cengir melihat Balen masih saja manja sama Nanta.


"Kan kalau banyak teman pasti ada yang cari Baen dirumah." kata Balen lagi. Temannya banyak tapi sekedarnya saja, kalau yang dekat ya hanya lingkup tertentu saja.


"Kamu sibuk sama Leyi sih dulu, jadi tidak ada temanmu itu." Nanta tertawa, ingat Larry yang sibuk menyaring siapa saja yang boleh jadi teman Balen. Larry lebih ketat menjaga Balen dibanding Nanta Abangnya sendiri.


"Masa sih Aban." tertawa tutup mulut.


"Baen kangen Aban Leyi deh." katanya lagi, sejak menikah Larry tidak pernah lagi hubungi Balen. Ikuti maunya Daniel agar mulai menjaga jarak, tapi Balen kehilangan.


"Telepon lah." Nanta tertawa.


"Aban Leyi ndak pernah telepon Baen." bersungut pandangi Nanta.


"Takut suamimu marah." Dania terkekeh, Larry juga curhat sama Nanta, Daniel tidak ijinkan Larry terlalu dekat dengan Balen.


"Kalau mau telepon, minta Abang Daniel saja yang hubungi Abang Leyi." kata Richie berikan solusi pada Balen.


"Gitu ya?"


"Yup." Richie anggukan kepalanya.


"Baen telepon Beyin ah." ambil teleponnya segera hubungi Belina.


"Ante, mau ajak aku ke Dufan ya?" langsung saja bahas Dufan, pasti Bima sudah umumkan ke anak-anak Baen yang lain.


"Pada mau ndak?" tanya Balen.


"Mau, aku ajak Bang Alex ya?"


"Alex ajak temannya lagi?" tanya Balen.


"Iya."

__ADS_1


"Hmm... boleh aja sih, tapinya Beyin ijin Om Daniel deh." dorong Belin biar bujuk suaminya.


"Cemburu ya? Om Daniel begitu deh, sama Ayah cemburu, sama aku juga, sama Bang Alex dan temannya apalagi." gerutu Belin.


"Ayah mana?" tanya Balen pada Belin.


"Pergi sama Nami, bertemu klien. Aku berdua saja sama Billian dirumah."


"Oh, kamu ndak ke sini aja sama Billian? Ante bawa pempek loh." bujuki anaknya.


"Ante sama Om antar ke sini kata Ayah."


"Kapan Ayah bilang?"


"Tadi, waktu aku ijin mau ke Ante, kata Ayah kalau aku sama Billian ke sana, Ante dan Om tidak akan datang ke rumah. Kapan mau bertemu Ayahku dong?" Balen tertawa mendengarnya.


"Iya, nanti Ante ajak Aban Daniel keliling deh. Ante juga belum ke Oma dan Opa loh."


"Ih, jangan sombong dong."


"Baru juga sampai hari ini, Beyin. Besok baru ke Oma dan Opa. Giliran ke rumah kalian kapan ya?" Balen terkikik geli.


"Ante Oma sama Opa besok ajak menginap di sini dong. Ante sama Om juga." pinta Belin.


"Lihat besok ya, Ledi dei dimana deh?" tanya Balen.


"Dirumah Oma, aku sudah ajak menginap di sini tidak mau. Kangen Oma dan Opa katanya. Kalian tidak kangen aku sama Billian hiks." Belin mulai drama.


"Ok, tanya Ayah dulu. See you soon, Ante."


"See you soon, Beyin sayang Ante." Balen tutup teleponnya.


"Sudah Malam, tidak temani Daniel di kamar?" tanya Dania pada Balen.


"Aban lagi meeting, Baen ndak bisa berisik disana." katanya bingung kalau disuruh diam saja, biasanya dikamar kalau sendiri Balen pasti cari kesibukan sendiri dan itu pasti rusuh.


"Aban, besok Baen sepertinya menginap dirumah Mama deh." kata Balen pada Nanta.


"Lusa saja dong. Aban sudah ambil cuti nih buat kamu besok." kata Nanta pada Balen.


"Mau kemana kita?" tanya Balen pada Nanta dan Dania.


"Tidak tahu, dirumah saja juga tidak apa yang penting kan bersama singkong rebus." jawab Nanta.


"Kamu juga belum ke Papa Micko loh Baen." Dania ingatkan Balen.


"Iya, Aban Baen juga belum ke Ayah Bunda dan Oma." Langsung jedotkan palanya ke bahu Nanta.


"Ya sudah besok kita ke sana. Sekarang kita tidur deh. Kasihan Ichie belum istirahat loh dari tadi." tunjuk Richie yang mulai menguap.

__ADS_1


"Capek ya urus pernikahan?" Balen terkekeh.


"Belum urus apapun, baru menghadap keluarga Tori." kata Richie tertawa.


"Baen dong ndak capek." banggakan dirinya.


"Abang Daniel dan keluarga di Jakarta yang capek." kata Richie mendengus.


"Ya, capek terima telepon Daniel yang sehari bisa lima kali." jawab Nanta terbahak.


"Demi Baen ya, duh Aban Daniel so sweet, Baen jadi pengen peluk." katanya centil. Dania terbahak mendengarnya.


"Baen ke kamar duluan ya, daaaa..." dasar langsung saja tinggalkan semuanya berlari masuk kamar.


"Aban..." panggil Daniel yang sudah matikan laptop langsung menjatuhkan badannya pada tubuh Daniel yang berbaring di kasur.


"Ups, hati-hati sayang. Sakit?" tanya Daniel karena Balen hempaskan badannya lumayan kencang.


"Ndak..." tersenyum pandangi Daniel.


"Kenapa?" tanya Daniel lihat istrinya senyum terus.


"Makasih ya, Aban capek waktu di Ohio urus pernikahan kita." katanya peluk Daniel erat.


"Kata siapa?" Daniel terkekeh balas memeluk Balen.


"Kata Aban Nanta, Aban telepon sehari bisa lima kali." Daniel tertawa mendengarnya.


"Demi cintaku." jawab Daniel mengecup dahi istrinya.


"Disayang terus dong istrinya." kata Balen manja.


"Ini disayang." jawab Daniel.


"Terus sayangnya selama-lamanya." tanya Balen tatap mata suaminya.


"Iya lah selama-lamanya, in syaa Allah." jawab Daniel tersenyum.


"Jangan tergoda ya."


"Abang malah takut Baen yang tergoda." kata Daniel jujur, mengingat usia Balen masih sangat muda dan sangat cantik. Agency di Ohio saja ingin Balen terus aktif di catwalk.


"Baen in syaa Allah sama Aban aja tergodanya." jawab Balen terkikik.


"Kamu gombali Abang ya?" Daniel tertawa.


"Ndak kok."


"Aban, besok kita keliling ya sama Aban Nanta, ke rumah Ayah, terus kerumah Papa Micko." pinta Balen pada suaminya.

__ADS_1


"Yah..." mulai aktif ciumi istrinya dengan tangan yang merajalela.


__ADS_2