Because I Love You

Because I Love You
Sapu bersih


__ADS_3

Daniel dan Balen tiba di coffee shop lebih dulu dari pada Markus dan Achara. Langsung saja Balen memilih snack dengan kalap, Balen benar-benar lapar mata.


"Tolong dipotong-potong kecil ya, sebagian letakkan pada wadah untuk dibawa pulang." pinta Daniel pada petugas di coffee shop.


"Kok begitu Aban?" protes Balen pada suaminya.


"Kamu lapar mata, Abang yakin tidak akan habis." jawab Daniel yang lebih mengenal Balen dibanding Balen mengenal dirinya sendiri.


"Nanti juga habis." dengus Balen kesal, karena kalau dipotong kecil-kecil sudah pasti Balen tidak bisa pamerkan cemilannya pada anak-anak di group mereka.


"Tidak apa kalau habis." jawab Daniel.


"Aban, mereka kok belum sampai?" tanya Balen sambil menunggu snack yang sudah pasti bentuknya entah seperti apa nanti.


"Tunggu saja sebentar lagi juga sampai, lokasi kita lebih dekat dari pada mereka." jawab Daniel.


"Aban, disini ada pasta tahu." Balen langsung colek-colek suaminya saat melihat salah satu pengunjung nikmati pasta di mejanya.


"Memang ada." jawab Daniel santai.


"Ah, Baen mau. Tapi pesan snacknya kebanyakan Aban." katanya menyesal sudah pesan hampir semua jenis snack di etalase.


Daniel lambaikan tangan kepada pelayan restaurant lalu pesankan apa yang istrinya mau, Balen cengengesan dibuatnya.


"Awas ya kalau tidak habis." ancam Daniel pada Balen.


"Aban yang habisin." jawabnya cengengesan.


"Tidak mau, Abang cuma mau ngopi." jawab Daniel gelengkan kepalanya.


"Ya sudah." anggukan kepalanya seakan siap habiskan semua makanan yang dipesannya.


"Balenaaa!!!" Balen segera lambaikan tangannya saat Achara mendekati bangku mereka, dibelakangnya Markus mengikuti sambil cengar-cengir pandangi Daniel.


"Kalian tidak usah pesan, Balen pesan semua menu, aku tidak yakin dia akan habiskan semua makanan yang sudah dipesan." kata Daniel pada Markus dan Achara yang sudah duduk dihadapan mereka.


"Pesan minum saja ya." Achara mulai membuka buku menu.


"Eh ini enak sekali." tunjuk Salah satu snack.


"Sudah ada dalam pesanan." jawab Daniel terkekeh.


"Aban, tadi kan dipotong kecil-kecil." bisik Balen pada suaminya.


"Itu cuma beberapa yang lainnya masih utuh." jawab Daniel kernyitkan hidungnya pada Balen.


"Mau apa sih ajak makan malam bersama?" tanya Daniel pada Markus.


"Achara mau bertemu Balena." jawab Markus.


"Kenapa mau bertemu, rindu?" tanya Balen pada Achara.


"Tadi kan kamu yang tanya aku sudah sampai belum, jadi kupikir harus tampakkan wajahku sama kamu." jawab Achara bikin Balen terkekeh.


"Berarti Balen yang rindu bukan kamu." kata Daniel mengacak anak rambut istrinya.

__ADS_1


"Tadi bertemu Adira." kata Markus kemudian.


"Dimana?" tanya Daniel.


"Di lobby hotel, ternyata dia lagi disini juga." jawab Markus.


"Untung kita ndak nginap hotel Aban, biang keroknya ada disana." Balen menghembuskan nafas lega.


"Kebetulan sekali." Achara terkekeh.


"Kamu belum bertemu Adira?" tanya Balen.


"Belum, eh jangan sampai bertemu." jawab Achara tertawa.


"Kenapa memang?" tanya Markus yang belum tahu cerita.


"Ah, ceritanya panjang." Achara gelengkan kepalanya.


"Rahasia? tidak mau cerita?" tanya Markus merangkul Achara dan dekatkan wajahnya pada sahabat Balen itu.


"Dia bilang aku murahan." jawab Achara.


"Oh memang ditawar berapa?" tanya Markus konyol, membuat Achara monyongkan bibirnya.


"Sebenarnya aku tidak marah sih dia bilang aku murahan." Achara tertawa, sementara Daniel berpikir keras kenapa Adira bisa ada di California.


"Tapi ya aku emosi saat dia juga tunjuk kamu. Berarti dari awal yang dia teriaki murahan itu kamu Balena, bukan aku. Itu tidak benar." Achara gelengkan kepalanya.


"Achara kamu bukannya marah karena kamu disebut murahan? Ocehan kamu sama Adira seakan begitu kemarin." Balen pandangi sahabatnya.


"Pak Markus kasih Achara nilai A plus ya, karena sudah bela saya seperti kemarin." Balen membuat Markus terbahak.


"Jangan panggil Pak, Please." Markus gelengkan kepalanya.


"Kenapa, kamu kan memang dosen Istriku." Daniel protes.


"Daniel, aku tidak minta Balen panggil aku sayang, tapi jangan panggil Pak." Markus mendengus.


"Panggil apa dong?" tanya Balen.


"Panggil Markus saja seperti Achara, kalau dikelas boleh panggil Pak." jawab Markus.


"Sok muda." Daniel terkekeh.


"Memang masih muda kan, buktinya kita temannya abege seperti mereka." jawab Markus tertawa.


"Biar pada awet muda ya." Achara mengelus pipi Markus, tapi langsung menarik tangannya saat melihat petugas datang membawa pesanan Balen.


"Oh my god, Balena. Kamu memborong semua makanan di etalase?" Achara langsung terperangah saat pesanan Balen datang.


"See..." Daniel tertawa geli.


"Aban, kalau tahu istrinya pesan ndak wajar, harusnya Aban larang dong. Kalau begini siapa yang habiskan." Balen malah omeli Daniel yang masih saja tertawakan Balen.


"Kamu dong." jawab Daniel dengan senyum yang masih melengkung.

__ADS_1


"Ndak mau, Pasta aja porsinya untuk empat orang." jawab Balen ketus.


"Nasib lu Daniel, ketemu Ibu hamil judes." Markus tertawakan Daniel.


"Ini perdana dia judesi gue." jawab Daniel tertawa, abaikan Balen yang cemberut lihat meja penuh dengan aneka snack.


"Sis, kamu jualan mau cepat habis ya. Nih lihat meja penuh begini mau diletakkan mana lagi pesanan yang belum datang." Omel Balen pada petugas restaurant yang hanya bengong jadi sasaran emosi Balen.


"Hei Balena, what's wrong with you?" tanya Achara yang bingung.


"Ndak tahu, dengar Adira ada disini tiba-tiba aja jadi senewen." jawab Balen lalu sandarkan kepalanya pada bahu Daniel, tidak merasa bersalah sudah marah-marah pada suaminya.


"Ini yang sudah dipotong kecil-kecil snacknya. Mama sama baby makan dulu ya. Jangan khawatir semua ini pasti habis, ada Markus yang suka lapar tengah malam." Daniel naikkan alisnya pada Markus.


"Yah Balena, jangan khawatir, kita tim sapu bersih." Markus bikin Balen tertawa, tadi sudah merasa bersalah karena lihat meja penuh dengan aneka snack sementara Pasta yang sekarang sangat diinginkannya belum datang.


"Kamu marah hanya karena khawatir snack tidak termakan ya? bukan karena Adira?" tanya Achara.


"Karena Adira sih bikin mood jadi naik turun." jawab Balen, Daniel mengusap bahu istrinya.


"Tadi di depan Redi kamu bisa bilang tidak usah dipikirkan." Daniel tersenyum.


"Yah karena Baen pikir orangnya di Washington, ternyata ada disini Aban. Mau apa dia ikuti kita." Balen cemberut.


"Mungkin dia ada urusan disini." jawab Daniel berusaha tenangkan istrinya.


"Tadi lu sempat ngobrol sama Adira?" tanya Daniel pada Markus.


"Just say hi." jawab Markus.


"Achara belum datang?" tanya Daniel.


"Baru mau gue jemput tadi waktu bertemu Adira." jawab Markus.


"Achara bisa tidak, nanti saat bertemu Adira jangan ajak ribut?" tanya Daniel.


"Tergantung dia, kalau dia cari masalah pasti aku layani." jawab Achara.


"Memang kamu apakan Adira kemarin?" tanya Markus.


"Tarik rambut saja, sampai badannya terbungkuk-bungkuk." jawab Achara santai, Markus langsung saja terbahak.


"Malah tertawa." Daniel ikut tertawa.


"Tapi Adira sudah minta maaf sih." kata Achara lagi.


"Tapi kan dia masih ajak ribut saat diparkiran." Balen ingatkan Achara.


"Iya juga ya." Achara terbahak.


"Kalau ada aku dia tidak akan berani serang kamu." Markus bergaya pahlawan.


"Tidak ada kamu juga dia tidak akan berani kalau berhadapan, kecuali main belakang." jawab Achara.


"Wow saya suka main belakang." Markus langsung berpikir mesum, Achara langsung mencubit perut Markus kesal.

__ADS_1


"Ide bagus tuh, aman buat Ibu hamil." bisik Daniel ternyata sama saja mesumnya dengan Markus.


__ADS_2