Because I Love You

Because I Love You
Ulan


__ADS_3

Lagi apa sayang?


Daniel langsung kirim pesan pada Balen saat lihat istrinya online.


Rebahan, yang lain pada tidur, Aban ndak berenang? *Balen


Belum mulai, Alex dan temannya baru saja datang. Lagi pada ngobrol. *Daniel


Banyak ndak temannya? *Balen


Dua orang. *Daniel


Beyin sama Kia baru aja tidur. *Balen


Biarkan saja, mereka menginap kok. Sayang jangan genit-genit sama temannya Alex nanti. *Daniel


Ih, kapan Baen pernah genit sih? *Balen


Takutnya terbawa sama Belin dan Kia. *Daniel


Baen nanti sama Aban aja. *Balen


Iya. Kamu tidak tidur? *Daniel


Takut jetlag lagi, nanti malam ndak bisa tidur. *Balen


Mau ke kamar kita sekarang? *Daniel


Nanti Kia, Beyin dan Mama cari Baen. *Balen


Mereka tidur kan? Abang jemput ya. *Daniel


Aban tinggalin Papa? *Balen


Tidak apa ada Redi dan Billian mereka sedang ngobrol seru, abang tidak konsen mau dekat kamu saja. *Daniel


Ih Aban, nanti dikira sombong. *Balen


Biar saja. Aban ke atas ya. *Daniel


Iya. *Balen


"Aku ke kamar ya." bisik Daniel pada Papa.


"Sama Balen?" Papa sudah tebak saja.


"Iya, Baen sendirian,Mama dan biang rusuh lagi tidur." Daniel tertawa.


"Cepat nanti mereka bangun lagi." Papa mendukung Daniel ikut tertawa.


"Kemana Om?" tanya Alex pada Daniel.


"Mau temani Baen dulu, Kia dan Belin tidur temani Oma. Billian temani Alex ya." Daniel menepuk bahu Billian.


"Iya Om." keponakan yang sangan mendukung Om nya.


"Santai Om, nanti makan malam bertemu kan? belum akrab aku sama istri Om."


"Ya nanti kita bertemu." Daniel tersenyum.


"Bang, Jepang bagaimana?" tanya Redi.


"Beresin dulu lah yang sekarang, jangan cari masalah."


"Kan berteman dulu apa salahnya."


"Kejadian Adira sama Baen tuh bagaimana? berteman juga gue sama Adira." Daniel berbisik pada Redi.


"Iya sih.


"Jangan sampai perang satu rumpun,lu." Daniel terkekeh, agak lebay juga tapi masuk akal, dulu juga pernah bantu tan tawuran gara-gara percintaan.


"Gue pesan tiket tanggal berapa?" masih saja mendesak.

__ADS_1


"Pa, bagaimana nih Redi." Daniel terkekeh.


"Nanti saja dibahas, cepat jemput Balen." kata Papa tertawa. Daniel ikut tertawa segera tinggalkan keluarganya.


"Opa olah raga kita?" ajak Billian pada Opa.


"Alex mau ikut berenang?" tanya Papa James pada Alex.


"Boleh Opa, yuk all." ajak Alex pada kedua temannya.


"Kita check in dulu kalau begitu Opa." kata Alex pada Opa James.


"Ya kami tunggu disini ya." Papa James tersenyum ramah.


"Mana yang Opa pilih jadi cucu menantu?" tanya Billian saat Alex dan kedua temannya pergi.


"Alex." jawab Opa mantap.


"Ya, Om juga Alex." Redi terkekeh.


"Dekat sekali jodohnya." Billian terkekeh.


"Kalau ada yang dekat kenapa harus jauh." jawab Opa tertawa.


"Berarti setuju aku dengan adiknya Bang Nanta yang di Jepang? beda mertua kok, hanya satu Abang." Redi langsung tersenyum jahil.


"Terserah kamu sajalah, Papa bilang tidak boleh memang kamu bisa menurut." jawab Papa James tertawa.


"Itu aku nurut saat Mama bilang mau menantunya orang Indonesia saja." jawab Redi terkekeh.


"Om sudah bertemu Ante Ulan?" tanya Billian.


"Belum, kamu sudah?" tanya Redi.


"Sudah, waktu dia mau berangkat ke Jepang kan menginap dirumah Panta." jawab Billian.


"Bagaimana cocok tidak sama Om kamu ini?" tanya Redi.


"Sama aku saja cocok." Billian tertawa.


"Yah, aku juga tidak mungkin sama Ante Ulan. Dia lebih tua dari aku." Billian tertawa.


"Kalian paling beda empat tahun, itu hampir seumuran."


"Yah lebih cocok sama Om Redi lah, aku belum pikir kesana." tersenyum pada Om nya.


"Tidak mata keranjang seperti kamu doa." Papa James tertawa.


"Dia setia seperti Papa." lanjut Papa James lagi, mereka bertiga tertawa bersama.


Sementara dikamar Mama Amelia, Daniel ikut masuk saat Balen bukakan pintu. Mama Amelia terbangun rupanya.


"Ma aku ajak ke kamar Baennya ya." ijin sama Mama Amelia.


"Yah, Papa masih di restaurant?"


"Masih."


"Ya sudah nanti kalau gadis-gadis ini bangun Mama ajak ke bawah."


"Nanti saja menjelang makan malam, Papa mungkin olah raga."


"Tidak apa, Mama mau nonton mereka., Alex sudah datang?"


"Sudah lagi ganti baju mau berenang." kata Daniel yang bertemu Alex dan dua temannya di dekat receptionist tadi.


"Mama, Baen kekamar dulu." Balen pamit pada Mama."


"Iya sayang." Mama tersenyum pada Balen dan Daniel, biarkan keduanya ke kamar, sangat maklum.


"Kangen..." Daniel langsung memeluk Balen saat mereka tiba dikamar.


" Kangen apa Aban?" tanya Balen kalungkan tangannya dileher Balen.

__ADS_1


"Kangen apa saja, mau dekat kamu terus pokoknya." jawab Daniel tersenyum.


"Emang iya?"


"Iya sayang."


"Sejak kapan mau dekat Baen terus?" ingin tahu Balennya.


"Sejak dulu kan selalu mau dekat kamu, tidak pernah berubah." jawab Daniel ciumi kening Balen.


"Aban udah sholat?"


"Sudah tadi sama Papa dan yang lainnya."


"Baen juga udah."


"Kalau sudah mau apa?" tanya Daniel menyeringai.


"Ndak tahu." tersenyum dan mengecup bibir suaminya.


"Redi tanya kapan kita ke Jepang?" Daniel sampaikan pertanyaan Redi.


"Baen tanya ulan dulu deh." lepaskan tangannya dari leher Daniel.


"Mau apa?"


"Telepon Ulan." Daniel anggukkan kepalanya.


"Baen..." terdengar suara Ulan yang Balen loudspeaker.


"Ulan, Baen lagi di Jakarta tahu."


"Iya, kamu menikah ya? selamat ya Baen, maaf ulan ndak bisa datang."


"Iya ndak apa, Mama ai sama Papa Bagus masih di sana?"


"Baru ulan antar ke Bandara."


"Ke Jakarta dulu ndak?" tanyakan pada ulan.


"Transit Bandara aja, lanjut ke Malang.' jawab Ulan.


"Ulan nanti pulang ke Amrik, Baen mau mampir Jepang ah, ketemuan dong." pinta Balen pada Ulan.


"Benar ya Baen, Ulan tunggu."


"Baen ke Tokyo kita bertemu disana atau Baen ke Kyoto?" tanya Balen sama Ulan.


"Kyoto aja boleh ndak, Ulan masih kuliah tapi ndak lama sih, tapi ndak bisa libur juga, ini sudah bolos banyak karena Mama dan Papa datang."


"Kisna dimana?"


"Ikut pulang ke Malang, dia banyak tugas."


"Ya udah nanti Baen bilang ban Daniel deh kita ke Kyoto."


"Baen sama Aban Daniel?"


"Iya sama Aban Redi juga nanti."


"Oh iya Ulan belum kenal, nanti sekalian kenalan."


"Sekalian lamaran mau ndak?" Balen menggoda Ulan.


"Hahaha Baen, Ulan belum pikir kesana." Ulan terbahak.


"Enak tahu punya suami." langsung pamer bikin Daniel gemas dan mencium pipi istrinya.


"Masa sih, enaknya apa? kalau suka berantem mana enak."


"Cari suami yang ndak suka berantem dong, jangan nikah sama orang yang suka tawuran." eh malah bilang begitu.


"Emangnya nikah sama anak SMA tawuran." Ulan Dan Balen tertawa bersama. Daniel tarik Balen kepangkuannya mulai menggerayangi istrinya.

__ADS_1


"Ulan udah dulu ya, Nanti Baen kabari kapan ke jepangnya, ah..." langsung matikan dan lemparkan handphonenya ke sofa, siap layani suaminya.


__ADS_2