
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Natasha mendapat telepon dari William.
"Sebentar ya, Van. Aku angkat telepon dari om Will dulu."
"Ok kak."
"Hallo, om?"
("Hallo, Nat. Kamu lagi dimana?")
"Nat lagi di rumah sakit, om. Ini lagi jagain Max sama Ivanna."
("Baiklah kamu tolong temani Ivanna dulu ya, Nat. Terimakasih banyak sudah membantu om.")
"Ok. Tidak masalah om. Nat juga sudah menganggap Ivanna sebagai adik Nat sendiri karna dia adiknya Max juga."
("Baiklah. Om tutup ya, Nat.")
"Ok om."
Panggilan pun terputus.
Natasha menghampiri Ivanna yang duduk di samping Max. Ia mengambil kursi satu lagi dan duduk disamping Ivanna juga.
"Kamu kenapa, dek?" tanya Natasha.
"Apa kakak kenal Anna?"
"Anna mana?"
"Anna pemilik AnnSweet kak."
"Aku tau produknya saja, tapi ga pernah ketemu pemiliknya. Kenapa?"
"Tadi aku melihatnya di lobby rumah sakit. Apa ada keluarga dia yang sakit juga ya kak?"
"Itu mungkin saja. Apa dia mengenalimu?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak kak. Anna tidak melihatku tadi."
"Baguslah kalau seperti itu."
Ivanna memeriksa ponsel Max yang sedang di charger.
"Kak ponselnya di lock. Dan aku tidak tau paswordnya." ucap Ivanna.
"Coba pakai sidik jari Max, dek."
"Sepertinya Max ga mengaktifkan finger print juga."
"Apa kita ke counter aja?" tanya Natasha.
"Kita coba coba dulu saja kak."
"Baiklah coba kamu masukkan tanggal lahir Max atau yang lainnya." suruh Natasha.
Ivanna memasukkan tanggal lahir Max maupun angka angka yang lain.
"Kak, tinggal 3x kesempatan lagi." adu Ivanna pada Natasha.
"Kamu sudah memasukan angka apa aja, Van?"
"Coba kamu masukkan angka lain."
Ivanna memasukkan angka lain sekali lagi namun salah.
Sisa 2 kesempatan lagi. Ivanna menganggap ini adalah kesempatan terakhirnya. Karna sisa 1x lagi harus terbuka oleh Max yang tau kata sandinya, jika tidak, ponsel itu akan terblokir.
Ivanna iseng memasukkan tanggal lahirnya, dan terbukalah ponsel Max.
"Berhasil!" ucap Ivanna.
"Bisa?" tanya Natasha.
"Bisa kak. Kebuka."
"Syukurlah. Kamu pakai kata sandi apa, dek?"
"Tanggal lahirku." jawab Ivanna.
"Astaga. Bucin banget sih si Max!" kata Natasha.
__ADS_1
"Kak, aku kenal mobil ini." Ivanna menunjukkan foto yang diambil Max dalam ponselnya.
"Kamu pernah lihat?"
"Iyah. Ini mobilnya pak Reiner."
"Reiner? Reiner Gunawan?" tanya Natasha.
"Hm."
Pandangan Ivanna teralihkan kepada Max yang sudah membuka matanya. Begitu pula dengan Natasha yang segera mendekat ke arah Max.
"O my gosh! Max? Kamu sudah sadar?" tanya Ivanna yang segera memencet bel.
"Hm." saut Max pelan.
"Permisi, ada yang bisa dibantu?" tanya suster.
"Sus, Max sudah sadar." jawab Ivanna.
Suster mendekat dan memeriksa Max mulai dari infus dan juga keadaannya.
"Semuanya baik, dan selamat pak Max sudah melewati masa kritis." ucap suster.
"Terimakasih sus." kata Ivanna dan Natasha.
"Sama sama. Saya permisi dulu yah. Kalau ada apa apa silahlan pencet tombol saja."
"Baik sus."
"Max, maaf membuatmu seperti ini." ucap Ivanna.
"Aku ga papa." jawab Max.
"Ga papa kata lo? Dasar bucin! Lo hampir end, Max!" bentak Natasha.
"Aku kabari uncle Will dulu."
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
__ADS_1
See you at the next chapter. 🥰