
Maksud hati mau ajak ke Dufan yang ada anak-anak Baen berencana di Disneyland, saat ini mereka tengah membujuk Balen, Daniel dan Redi agar mau bergabung bersama mereka.
"Ndak, Ante mau fokus ke Ante Ulan dan Om Redi." kata Balen pada anak-anaknya. Mereka mengerubung dekati Balen. Masing-masing sudah mendapat ijin dari orangtua, sudah beli tiket dan siap berangkat esok hari.
"Kalian sama Om Lucky dan Om Ichie saja liburannya sesuai kesepakatan awal. Waktu kami di Kyoto hanya tiga hari." Daniel membantu Balen menolak keinginan anak-anak Baen.
"Yah padahal kan bisa sempatkan waktu sehari saka." Shaka pasang wajah kecewa.
"Capek harus balik ke sana lagi, Ante mau fokus kalian jangan rusak rencana Om Redi." Balen gelengkan kepala. Lagi pula Ulan sudah bilang ia akan sibuk jadi tidak bisa keluar Kyoto.
"Om Ichie saja kita bantu, pasti Om Redi juga." jawab Bari ikut membujuk Balen dan Daniel.
"Kalian mau bantu Om, seperti apa?" tanya Redi tertawa, bertemu Ulan saja belum, mau bantu jodohkan lagi.
"Yah lihat situasi disana nanti bagaimana, kita harus lihat Om Redi dan Ante Ulan saling tertarik apa tidak." jawab Billian sok iye.
"Ish, Om tidak perlu kalian juga untuk dekati Ulan." Redi mencebik, jiwa playboy nya langsung meronta.
"Hanya karena Tokyo Disneyland Om bilang tidak perlu kami?" Belin mulai drama, Redi langsung mencubit pipi keponakannya itu gemas.
"Ish cubit-cubit." cemberut mengusap pipinya. Redi dan yang lain tertawa dibuatnya.
"Om memangnya di Kyoto mau kemana saja?" tanya Kia pada Redi.
"begitu sampai istirahat, hari kedua sehari bersama Ulan, hari ketiga kita bersiap ke Bandara menuju Ohio. Sesingkat itu waktu kami jadi jangan di otak-atik dengan acara ke Disneyland." tegas Redi pada anak-anak Baen.
"Sesombong itu kalian bertiga." Aca gelengkan kepalanya, langsung saja Balen menjewer telinga anaknya itu. Semua tertawa jadinya.
"Baiklah kalau begitu kita pisah di Bandara saja deh." kata Billian pura-pura merajuk.
"Enak saja, Om Ichie mau bertemu Ante Ulan juga." Richie menolak, selain refreshing ia juga ingin bertemu Ulan di Jepang. Kalau berpisah di Bandara berarti Ichie tidak bertemu dengan Kakaknya itu. Baiklah gagal sudah rencana Billian untuk pura-pura merajuk.
"Begini saja, hari kedua kalian langsung saja ke Disneyland, sementara kami untuk irit tenaga jalan disekitaran Kyoto saja. Dari Disneyland nanti kalian mau kemana baru Om Ichie menyusul." Balen berikan solusi untuk rombongan sirkusnya.
"Ya, Ante atur sajalah, aku menurut." kata Bima yang dari tadi tidak banyak permintaan. Sudah diijinkan ikut ke Jepang saja Bima sudah senang. Maunya memang bersama Balen tapi apa daya Ante waktunya terbatas dan tidak mau rencananya diganggu. Semua akhirnya ikuti Bima menurut saja, tidak lagi melobby Daniel, Balen dan Redi.
Kalau saat berangkat Balen tidak bawa koper, kali ini pulang bawa koper berisi makanan dan lauk pauk bikininan Mamon, Bunda Kiki dan Mama Amelia. Sahabat Balen banyak yang minta kulakan, minta Balen berdagang disana.
"Kamu bawa apa saja?" tanya Daniel pada Balen.
__ADS_1
"Bawa makanan aja, si Achara minta dibawakan pasmina, Noah minta dibawakan Materai, Althea minta Baen bawakan baju-baju, dia mau beli. Jualan deh Baen." Balen tertawa.
"Sudah beli Pasmina dan bajunya? Mama sempat kita belanja."
"Tenang aja, semua sudah beres. Mama Amelia minta staff Papa yang belikan." Balen tertawa geli.
"Abaan..." kembali merengek rentangkan tangannya minta di peluk.
"Ya Sayang." Daniel hampiri Balen dan langsung peluk istrinya.
"Jagain Baen di sana nanti." katanya pada Daniel.
"Dari dulu Abang jaga loh." Daniel terkekeh.
"Dulu banyak yang jaga Baen, sekarang Aban sendiri." Balen tidak percaya diri, merasa perhatian Larry dan Nanta mulai berkurang, semua serahkan pada Daniel. Sedangkan Richie sudah diberi tanggung jawab lain, belum lagi nanti Richie akan segera menikah.
"Abang bisa jaga Baen sendiri kok." jawab Daniel yakin.
"Beneran?" memandang wajah Daniel dengan penuh harap, Balen terbiasa banyak yang perhatikan sejak kecil.
"Iya sayang." Daniel tersenyum dan mengecup bibir istrinya.
"Nanti Aban sibuk kerja, Baen sama siapa?" jiah kemarin bilangnya bisa sama tetangga. Daniel terkekeh dibuatnya.
"Baen boleh main sama Achara Dan Althea ndak nanti disana? sama Noah juga boleh ndak Aban?" minta ijin dulu biar tidak jadi masalah nantinya.
"Mainnya bagaimana? Abang cemburu sama Noah." Daniel jujur saja.
"Kan Baen udah jadi istri Aban, Noah juga udah tahu." membujuk Daniel.
"Boleh tapi tahu batasan ya, tidak ada sentuhan fisik, tidak ada curhat-curhat. Bisa professional berteman ya?" tanya Daniel pada Balen.
"Professional berteman seperti apa ya? Baen jadi bingung."
"Tidak main hati." jawab Daniel tegas.
"Baen ndak main hati kok." yakinkan Daniel.
"Abang percaya Baen, tapi tidak percaya Noah." jawab Daniel tersenyum.
__ADS_1
"Baen ndak berdua aja kok sama Noah. Eh kalau Noah mau antar Baen pulang bagaimana ya? Kan Aban suka ndak sempat jemput Baen tuh." tertawa sendiri dan juga bingung sendiri.
"Abang siapkan supir untuk Baen." jawab Daniel.
"Ya udah." menurut saja.
"Aban..." kembali panggil Daniel yang masih dipelukannya.
"Hmm..." menunggu apa lagi yang diminta sama istrinya.
"Baen kangen Aban Leyi." Daniel terdiam, tidak tahu harus kesal atau bagaimana, sedikit tidak terima.
"Aban Leyi ndak pernah telepon Baen lagi." mengadu pada Daniel.
"Baen kan sudah punya Abang sekarang." kata Daniel mengusap bahu istrinya.
"Iya tapi kan itu Aban Leyi Baen." sandarkan kepalanya di dada Daniel, sedikit menangis.
"Baen maunya bagaimana?" lihat bahu istrinya terguncang jadi tidak tega.
"Aban Leyi kaya biasa aja, jangan jaga jarak seperti sekarang."
"Abang yang minta begitu sih."
"Aban, masa sama Aban Leyi cemburu sih." protes tidak terima.
"Dia lebih perhatian ke kamu dibandingkan ke anak dan istrinya." ketus Daniel sebal sendiri, Larry bisa siapkan orang awasi Balen selama ini.
"Aban Leyi perhatian juga kok ke Kak Rumi, Beyin sama Billian." jelaskan pada Daniel.
"Dia tidak Kirim orang awasi anak dan istrinya, tapi Kirim orang awasi Baen loh." bocorkan kelakuan Larry.
"Aban, Baen kan adiknya Aban Leyi juga, terus Baen jauh. Perempuan sendirian di Ohio, Aban Leyi dulu belum yakin Aban, Aban Ledi sama Ichie bisa jaga Baen. Itu juga kerjaan Aban Nanta sama Papon, bukan Aban Leyi sendiri." Balen jelaskan pada Daniel.
"Masa sih?" sedikit tidak percaya.
"Aban, masa ndak kenal Aban Leyi." merengek minta Daniel ijinkan Balen tetap diperhatikan Larry.
"Aban takut Leyi jatuh cinta sama kamu." sampaikan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Abaaan!!!" langsung berteriak memukul bahu suaminya.
"Iya-iya, nanti sore kita ke rumah Leyi." akhirnya mengalah ajak Balen kerumah Larry, bikin Balen tersenyum senang dibuatnya.