
"Bagaimana Jakarta?" tanya Denise salah satu sahabat Balen. Mereka sudah berkumpul di restaurant cepat saji didekat kampus Balen.
"Enak." jawab Balen terkekeh, seperti makan kue saja jawab enak.
"Beneran kamu menikah sama Abangmu?" tanya Denise lagi. Balen anggukan kepalanya dengan mata berbinar-binar. Pandangi semua yang berkumpul termasuk Noah.
"Bagaimana sih menikah kok sama Abang sendiri." Denise gelengkan kepalanya sedikit heran.
"Bukan Abang kandung juga." jawab Balen santai.
"Aku kira dia Abang kandung kamu loh. Noah sedih berat dengar kamu sudah menikah." kata Denise menunjuk Noah yang mencebik.
"Yang menikah aku, kenapa Noah yang sedih." jawab Balen tanpa beban.
"Karena dia suka elu nyong, masa tidak sadar sih." celutuk Besta sahabat Balen yang lainnya.
"Yah kan Noah ndak pernah bilang juga." Balen tertawa tanpa dosa.
"Kalau gue bilang memang elu terima?" tanya Noah menuntut jawaban.
"Ya ndak juga." Balen kembali tertawa, otaknya sudah dipenuhi sama Daniel selama ini jadi tidak lihat yang lain lagi termasuk Noah.
"Noah jangan sok sedih deh, itu Besta masih sendiri loh." tunjuk Balen pada Besta.
"Gue lagi yang jadi korban." Besta tertawa. Keempatnya berasal dari Indonesia sesama pemain tenis yang hijrah ke Ohio ikuti jejak Balen, mereka sudah lumayan akrab sejak di Indonesia, sering berlatih tenis bersama. Denise sebenarnya dapat tawaran menjadi atlet nasional, tapi ditolaknya. Kalau Balen dari awal memang tidak berminat menjadi atlet, ia hanya hobby saja dan tidak mau terikat. Balen lebih suka jalan di catwalk tapi tidak bisa maksimal karena penjagaan ketat dari Nanta dan Larry.
"Mau ndak sama Noah?" tanya Balen pada Besta, berusaha jodohkan keduanya.
"Jangan norak deh, mentang-mentang sudah menikah." dengus Noah yang masih sedikit kecewa karena wanita idamannya sudah menjadi milik Daniel yang selama ini Noah kira Abang Balen.
"Enak tahu menikah." malah pamer bikin Noah tambah sewot, Denise dan Besta tertawakan Balen yang selalu saja tanpa dosa dan bersikap semaunya.
"Mana oleh-oleh?" tagih Denise yang banyak titipan pada Balen.
"Kalau kamu ndak nitip, aku ndak bawa koper nih pulang." kata Balen monyongkan bibirnya.
"Bawa dagangan dong dari Indonesia." Besta langsung semangat.
"Titipan orang semua." jawab Balen.
"Tidak bawa lebih?" tanya Besta, Balen gelengkan kepalanya.
"Payah nih Balen." Besta kecewa.
"Yah sibuk disana, tiga minggu tuh ndak cukup tahu, mana mampir Kyoto dulu tiga hari." Balen jelaskan pada temannya.
__ADS_1
Balen mulai gelar lapak, bagikan semua pesanan pada Besta, Denise dan Noah.
"Yang ini oleh-olehnya, ini pesannya ya." tunjuk Balen, ketiga temannya sudah diminta membawa paper bag sendiri, sudah seperti belanja di Indonesia saja yang tidak siapkan plastik belanja, namanya juga Balen, semua juga sudah maklum.
"Jadi berapa Balen?" tanya Noah.
"Ndak usah, anggap souvenir pernikahan ya." jawabnya terkekeh.
"Pamer terus sih." sungut Noah, Balen dan yang lainnya kembali tertawa.
"Gue tuh seperti orang bego ya selama ini." Noah gelengkan kepalanya.
"Kenapa begitu?" tanya Balen.
"Tau ah." Noah kesal sendiri, Balen tidak juga mengerti. Tidak akan mengerti kalau tidak dijelaskan. Balen selama ini terlalu banyak yang perhatikan, jadi perhatian dari Noah, Balen anggap biasa saja, teman baik memang harus saling perhatian bukan?
"Kalau kesal-kesal nanti capek sendiri loh." kata Balen lagi, tidak merasa bersalah.
"Gue harus ke kantor Aban Daniel ya setelah ini." kata Balen kemudian.
"Gue antar, Balen?" Noah tawarkan diri.
"Nanti di jemput supir." jawab Balen gelengkan kepalanya, lagi pula sudah janji sama Daniel tidak berduaan saja dengan Noah. Meskipun suka seenaknya Balen tahu diri yang boleh dan tidak boleh, terbiasa dengan ikuti aturan dari Nanta.
"Kenapa bisa menikah tiba-tiba sih? kalian selama ini tidak pacaran kan?" tanya Noah penasaran.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Noah bingung.
"Susahlah mau diceritakan, yang pasti memang kita saling suka dari gue belum bisa ngomong." jawab Balen nyengir.
"Tidak sekalian bilang kalau kalian sudah saling suka dari elu masih di dalam perut?" Denise terkekeh.
"Mungkin juga." Balen tertawa.
"Balen, temanmu yang Philippina tuh, ganti lagi pacarnya." Denise berbisik saat lihat teman kampus Balen masuki restaurant.
"Oh iya, belum cerita sih kalau ganti pacar." jawab Balen tertawa.
"Hello Mom." Balen lambaikan tangannya panggil sahabatnya dikampus.
"I'm not your Mama, Putri." katanya panggil nama tengah Balen, ia hampiri Balen yang sedang berkumpul dengan geng Indonesianya. Seperti ia yang kesal kalau dipanggil Mom, Balen pun kesal kalau dipanggil Putri, meskipun itu nama tengahnya.
"Princess, not Putri." jawab Balen keduanya terbahak.
"Ganti pacar kah?" bisik Balen.
__ADS_1
"Hu uh." anggukan kepalanya.
"Kenapa yang lama?" tanya Balen lagi.
"Bosan." jawabnya terkekeh.
"Aih, ganti pasangan terus awas kena penyakit." Balen ingatkan sahabatnya yang terbiasa *** bebas.
"Nanti ya Balena kita cerita-cerita lagi di rumahku, aku makan dulu." abaikan peringatan Balen, hampiri pacar barunya yang sedang antri memesan makanan.
"Ndak dikenali?" tanya Balen.
"Nanti kalau bertahan tiga bulan." jawabnya terbahak, sahabatnya satu ini cepat sekali ganti pacar.
"Temanmu parah." Denise gelengkan kepalanya.
"Biarin, urusan dia." jawab Balen kembali fokus pada geng Indonesianya.
"Adikmu tidak ikut pulang ya? katanya pindah kuliah ke Malang?" tanya Besta pada Balen.
"Iya, kok tahu?" tanya Balen.
"Dari group Indonesia, dia pamit di group." kata Besta lagi.
"Oh, aku ndak ada di group itu sih."
"Kamu mau ku invite? sudah tidak ada Richie kamu tidak dapat informasi nanti." kata Besta lagi.
"Nanti ya tanya Aban Daniel dulu." kata Balen seperti biasa kalau ada sesuatu pasti minta pendapat Daniel dulu, bahkan untuk hal yang sepele.
"Suami kamu cemburuan ya?" tanya Noah.
"Kalau sayang pasti cemburu lah." jawab Balen maklum.
"Kamu juga cemburuan?" tanya Noah.
"Ya iyalah, suamiku kan ganteng, banyak duit lagi, pasti banyak yang menggoda dan suka sama dia." jawab Balen sesuai kenyataan, sudah beberapa cewek yang Balen labrak waktu itu.
"Pamer lagi saja." gerutu Noah bikin Balen dan kedua temannya tertawakan Noah.
"Tapi Noah hebat loh, bisa atasi rasa kecewanya." Besta acungkan jempol.
"Sudah ijab kabul mau gue apain lagi? kalau masih pacaran saja sih masih bisa gue rebut." jawab Noah tertawa.
"Gayanya mau rebut, lihat muka Daniel saja sudah mengkeret." Denise menoyor kepala Noah.
__ADS_1
"Gue kira Abangnya, ya gue sopan lah takut tidak di restui." Noah menghela nafas.
"Ternyata kamu salah duga." Balen bernyanyi dengan nada terserah dia sambil tunjuk Noah, benar-benar tanpa merasa bersalah.