
"Baen ndak ngerti kenapa ada mahluk aneh seperti Adira sih." Balen menghembuskan nafas kasar. Daniel terkekeh biarkan istrinya luapkan isi hatinya.
"Mana Baen jahat betul lagi bilang dia ndak laku." Balen menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Emosi sih."
"Siapa yang ndak emosi Aban, kita dibilang cewek murahan dan itu bukan sekali. Bahkan dia teriak Cheaper sampai semua penonton bersorak." dengus Balen kesal.
"Iya Abang ngerti, kalau Abang disana tadi pasti ikut emosi, eh tapi benar ya kamu joget erotis?" Daniel menggoda Balen.
"Aban, tadi Achara tuh cuma kaya Mulan Jameela itu loh yang mahluk Tuhan paling seksi ah ah ah itu, terus Baen sama yang lainnya joget-joget blackpink." Balen menjelaskan letak erotisnya itu seperti apa, Daniel terbahak bayangkan istrinya joget ala blackpink seperti saat sedang bersihkan rumah dulu.
"Oh bukan mutar-mutar di tiang ya?" Daniel tertawa.
"Aban!!!" pukuli Daniel dengan bantal kecil yang ada dimobilnya. Daniel masih saja terbahak sambil fokus dengan kendaraan disekitarnya.
"Mau makan dimana?" tanya Daniel alihkan pembicaraan tidak mau mood istrinya rusak.
"Ndak tahu, kenyang ingat Adira aja, untung tangan Baen ndak ikutan nyiksa dia." Balen menarik nafas lega.
"Kamu takut dilaporkan ke Polisi?" tanya Daniel serius.
"Selain itu, Baen ndak mau tangan Baen Kotor deh, mulut Baen bilang tadi aja Baen berasa ndak enak sampai sekarang." jawab Balen. Jujur Balen tidak mau harus terlibat dengan kepolisian, bikin namanya rusak saja nanti.
"Dia tuh ndak mikir ya, kita hidup di negara orang, teman sebangsa itu kan berarti saudara, bisa saling tolong saat kita kesulitan." oceh Balen lagi, Daniel jadi pendengar setia. Sepertinya emosi Balen sudah melebihi kepala tingginya.
"Terus Aban, yang bikin Baen sakit hati itu dia bawa-bawa Kia yang ndak tahu urusan kita disini." Gigi Balen gemeretak.
"Jadi bagaimana biar kesal kamu hilang, kita nonton ya." ajak Daniel temukan ide,.kalau dibiarkan terus emosi nanti tensi istrinya bisa tinggi.
"Nonton apa sih, Baen lagi ndak mood." menolak tanpa berpikir lagi.
"Kalau gitu kamu temani Abang nonton, tadi kan kamu sudah senang-senang lihat Noah bertanding, pakai teriak I love you berkali-kali lagi." Daniel melirik istrinya.
__ADS_1
"Ih bukan Baen sendiri yang bilang begitu." Balen membela diri.
"Iya memang banyak, tapi yang Noah lihat hanya kamu loh." sedikit cemburu.
"Aban, Noah itu naksir Kia. Makanya Baen kesal waktu Adira sebut Kia yang bikin Bang Lucky putus sama sahabatnya." Balen menjelaskan.
"Dia begitu kan mau pancing emosi Kak Hilma biar jadi benci juga sama Kia. Bagaimana kalau ternyata jodohnya Kia itu Noah, sementara dia punya kakak ipar yang benci sama Kia. Kan Baen kasihan nasib anak Baen." mulut monyong-monyong Dan kening berkerut. Daniel menghela nafas panjang, perdana istrinya nyerocos ungkapkan rasa kesalnya.
"Sayang, kesalnya jangan lama-lama. Kasihan anak kita." Daniel mengusap perut Balen.
"Tapi benar ndak yang Baen bilang?" minta pembenaran.
"Iya benar kok, coba pilih film apa yang mau kamu tonton." Daniel menepuk pelan pipi istrinya.
"Komedi ya Aban, lagi kesal begini harus nonton yang lucu-lucu." Balen keluarkan handphonenya dan mengecek jam tayang film yang ada dibioskop terdekat. Fokus membeli tiket hingga tidak lagi luapkan emosinya.
Sementara itu di Mobil Noah...
"Brengsek banget tuh cewek, mereka keroyok gue, kalian diam saja." Adira mengumpat sepanjang jalan, Noah yang menyetir sesekali menarik nafas panjang.
"Percuma ada kalian tapi gue babak belur." ocehnya lagi agak lebay, tidak sampai babak belur juga
"Kakak yang duluan cari masalah sih." Noah akhirnya buka suara tidak terima disalahkan.
"Mereka mengganggu, kelakuan seperti cewek murahan, itu kan lapangan bukan club malam." Adira membela diri.
"Justru karena itu lapangan mereka bebas mau berekspresi apapun, selama sopan dan tidak mengganggu jalannya pertandingan." Noah layani Adira berdebat. Dia benar-benar malu sama Balen dan teman-temannya. Jika hanya Besta, Noah masih bisa atasi. Tapi ini tamu undangan Noah, yang Noah minta khusus agar mereka bisa semangati Noah dan Denise bertanding.
"Gue juga kaget waktu elu teriaki mereka begitu." Hilma ikutan buka suara, tidak suka juga lihat aksi Adira hari ini. Menurut Hilma keterlaluan.
"Kalau kesal lihat Balen seharusnya tidak sampai permalukan diri begitu." kata Hilma lagi.
"Pakai sebut Lucky lagi, kalau Balen cerita sama Lucky muka gue mau di tarok dimana?" gantian Hilma yang ngomel. Kedua sahabat ini jadi saling omel mengomeli.
__ADS_1
"Tolong hargai aku juga dong, Balen dan Besta itu sahabat aku, Kakak malah cari masalah dengan mereka, sementara hari ini tuh harusnya aku happy bawa piala dan hadiah." Noah sampaikan kekecewaannya.
"Sorry Noah, Sorry." Hilma menepuk bahu adiknya, sudah bagus adiknya mau menampung Hilma melarikan diri dari Indonesia saat ini. Melarikan diri setelah putus cinta, yang awalnya Hilma sempat berharap Lucky akan menyesal lalu menyusul Hilma ke Ohio, minta maaf lalu mereka bersama lagi. Tapi itu cuma mimpi, yang ada kemarin Lucky ke Ohio bersama Kia, walaupun ada keluarganya yang lain. Bahkan Lucky baru tahu Hilma di Ohio, terbukti Lucky tidak pernah melihat kebelakang Dan benar-benar lupakan Hilma.
"Elu ya berdua benar-benar tidak berempati. Kepala gue sakit ini di jambat si pecun." kembali omelan dilemparkan Adira.
"Kakak mau turun dimana?" tanya Noah yang sudah tidak nyaman berada di dekat Adira.
"Rumah lu lah, gue kan masih nginap." katanya kesal.
"Oke, tolong diam ya, kepalaku pusing dengar ocehan Kakak." ketus Noah pada Adira. Sahabat Kakaknya yang baru dia kenal ternyata orangnya menyebalkan dan ternyata pencinta Daniel.
"Adik lu tidak ada sopannya." desis Adira pada Hilma.
"Dia minta kita diam berarti diam, gue masih numpang sama adik gue." bisik Hilma dengan wajah garang.
"Harusnya elu marah sama adik lu." omelnya lagi.
"Kalau tidak bisa diam, mau aku yang turun atau kalian yang turun. Emosiku bisa tidak stabil nih, Kak Hilma tahu kan kalau aku sudah marah." tegas Noah pada Hilma.
"Ya." jawab Hilma pelan, ia kenal betul adiknya yang jarang sekali marah, tapi sekali marah sangat mengganggu.
"Gue pulang deh, ke rumah lu sebentar ambil baju." kata Adira akhirnya.
"Ke Washington?" tanya Hilma.
"Ya, sudah tidak ada urusan disini, tidak nyaman juga. Tadinya gue kangen sama elu makanya mau menginap." kata Adira menghela nafas. Noah tersenyum tipis, akhirnya tahu diri juga tidak jadi menginap.
"Sudah beli tiket? mau aku bantu?" tanya Noah mempermudah Adira untuk kembali ke Washington sore ini.
"Boleh." jawab Adira.
"Oke sampai rumah, Kakak ambil baju langsung aku antar ke Bandara." kata Noah cepat, bagaimanapun ia harus tetap baik antarkan sahabat Kakaknya kembali Ke kotanya.
__ADS_1
Hilma gelengkan kepalanya, semangat sekali Noah bergerak begitu mendengar Adira mau pulang.