Because I Love You

Because I Love You
Ben


__ADS_3

"Aban kita langsung ke lokasi kan?" tanya Balen pada Nanta yang menjemputnya.


"Iya dek." jawab Nanta fokus menyetir kendaraan.


"Capek ya Aban, jadi bolak-balik jemput Baen." sedikit basa-basi sambil tertawa.


"Nanti kamu pijitin Abang ya singkong rebus. Heran tiba-tiba kamu ingin survey lokasi, kenapa tidak sebelum ke Malang saja, dek?" tanya Nanta sedikit protes.


"Ya ada sesuatu yang ndak bisa Baen ceritain." jawabnya bikin Daniel menahan tawa.


"Tapi Aban besok ke Malang sama Baen kan?" lanjut Balen lagi, lebih baik ia yang bertanya daripada Abangnya, khawatir niatnya naik jet pribadi terbaca jelas oleh Abangnya.


"Sebenarnya Abang sudah beli tiket." jawab Nanta nyengir.


"Jadi ndak mau naik jet aja?" tanya Balen, Nanta gelengkan kepalanya.


"Kamu saja berdua Daniel, biar bisa mesra-mesraan di awan." jawab Nanta bikin Balen mendengus.


"Ndak bisa juga kalau cuacanya ndak bagus, Aban." sungutnya polos.


"Memang kamu sudah coba?" pancing Nanta.


"Ih Aban, pertanyaannya ndak jelas." Balen tersenyum malu-malu.


"Nanti bertemu Ben dimana, Bang?" tanya Daniel ikut alihkan perhatian Nanta, lagipula Daniel penasaran sama Ben yang katanya jenius dan tampan rupawan itu.


"Dia langsung ke lokasi juga. Nanti kamu bicarakan sama Ben yang kamu mau Baen." kata Nanta pada Balen.


"Aban aja berdua, Baen tinggal laporan sama Opon dan Oma Nina." jawab Balen terima beres.


"Dasar, Hotel ini kan punya kamu." Nanta gelengkan kepalanya.


"Kalau owner tuh selalu terima beres Aban. Lagian Baen mau gosip sama Beyin nih, kasih tahu ada cowok ganteng." jawabnya mendapat cubitan gemas dari suaminya yang duduk didepan bersama Nanta.


"Jaga pandangan Baen." Nanta ingatkan Balen.


"Ini Baen pengamat Aban, siapa tahu Ben cocok sama Beyin." jawabnya nyengir.


"Beyin bukannya mau sama Om-Om juga ya seperti kamu dan Kia?" tanya Nanta menggoda Balen.


"Memangnya suami Baen kaya Om-Om, enak aja."


"Loh memang Om Daniel bukan?" Nanta terkekeh.


"Baen juga Ante." jawabnya mengusap bahu Daniel.


"Mau makan dulu?" Nanta menawarkan.


"Ajak Ben, Aban." pinta Balen.


"Ya, nanti Ben kita suruh ke restaurant." jawab Nanta.

__ADS_1


"Survey dulu saja bagaimana? setelahnya ajak Ben makan sambil kita bahas." Daniel memberikan saran.


"Boleh juga begitu, tapi anak kalian tidak komplen kalau telat makan?" tanya Nanta pikirkan calon keponakannya diperut Balen.


"Iya makan dulu saja kalau begitu." Daniel jadi ikut khawatir, sementara Balen santai saja menunggu keputusan akhir.


"Ndak usah, tadi di awan Baen makan kok. Masih kenyang." jawab Balen yang tadi memang di siapkan bekal oleh Oka Mita.


Akhirnya mereka putuskan langsung ke lokasi, Balen tampak semangat kunjungi pembangunan hotelnya yang masih empat puluh persen berjalan.


"Besar juga hotel kamu." Daniel tersenyum pandangi istrinya.


"Nanti Aban yang urus ya." pinta Balen pada Daniel.


"Kamu dong, Abang kan urus perusahaan Abang." Daniel menolak.


"Aban, nanti kalau Baen urus hotel, anak kita siapa yang urus, Baby sitter? Baen ndak mau." sungut Balen.


"Jadi bagaimana?" tanya Nanta.


"Aban berdua aja yang urus, nanti suruh Bima sama Aca juga." jawab Balen.


"Enak saja, Syahputra juga butuh mereka, belum lagi Suryadi, kamu tahu sendiri Opa Micko sudah bilang Dari dulu Salah satu Dari Bima atau Aca yang gantikan Opa nanti."


"Ih kan ada Aban Lucky sama Aban Winner disana."


"Tetap mereka dibutuhkan Baen, belum lagi Lucky mau pindah ke Ohio, temani Kia." Nanta sudah dapat laporan dari Winner.


"Ih, hotel nih hotel pikirkan Baen." Nanta terkekeh.


"Iya Aban, nanti kita bahas."


"Ayo keliling, itu Ben sudah datang." Nanta tunjuk seorang pemuda berbadan tegap dengan tinggi menjulang.


"Ya ampun Aban, calon suami Beyin ngalahin Aban Leyi loh." bisik Balen pada Daniel, ia tampak terperangah pandangi wajah Ben yang bersinar.


"Beneran ini anak kecil, kok seperti seumuran Baen sih?" bisiknya lagi heboh, Daniel gelengkan kepalanya saja melihat istrinya yang kasak kusuk melihat Ben.


"Hai Ben." Nanta langsung menyapa Ben saat pria tampan itu mendekat.


"Panta." sopan sekali langsung mencium tangan Nanta.


"Ini Balen dan Daniel suaminya." Nanta tunjuk Balen dan Daniel.


"Halo Om, Ante." sapanya sambil nyengir.


"Ih Ben kok panggil Ante sih?" Balen terbahak.


"Waktu kecil bukannya kita semua harus panggil Ante ya." Ben kembali nyengir.


"Kamu korbannya Baen juga." Daniel terbahak.

__ADS_1


"Iya Om." Ben ikut tertawa.


"Naik apa kesini Ben?" tanya Nanta melihat Ben yang sedikit berkeringat.


"Motor Panta." jawab Ben kembali nyengir.


"Kamu masih suka ngebut-ngebut ya. Papa kamu suka khawatir loh Ben." Nanta ingatkan Ben.


"Iya Panta, Ben hati-hati kok." jawab Ben.


"Ben kamu nanti menetap di Jakarta atau kembali Ke Perth?" tanya Daniel pada Ben.


"Kembali Ke Perth, sekolahku belum selesai Om."


"Disini berapa lama?" tanya Balen.


"Tiga hari saja, setelah survey Dan tahu apa yang Ante mau, aku selesaikan sistemnya, nanti bisa aku pantau dari Perth." jawab Ben pada Balen.


"Baen mau semua serba Smart, di semua kamar tamu hotel juga." Balen sampaikan keinginannya.


"Bisa kita atur nanti." jawab Ben terlihat professional.


"Ben, nanti mau menikah usia berapa?" tanya Balen, nah ini kurang professional karena tidak ada hubungan dengan pekerjaan.


"Ih, masih lama Ante, belum terpikir kesana." Ben tertawa, terlihat tambah menarik.


"Kalau masih lama nanti sama anak Baen aja, kalau mau ndak gitu lama Baen kenalkan sama Beyin nih, cantik loh." langsung promosi Nanta dan Daniel tertawa jadinya, Balen benar-benar serius.


"Belin temannya Kia ya, aku sudah kenal kok kemarin waktu Kia menikah." jawab Ben senyum manis.


"Oh kamu yang temani Beyin makan waktu itu ya?" tanya Daniel, Ben anggukan kepalanya.


"Bagaimana kira-kira?" Balen naikkan dahinya.


"Baen kita sedang urus pekerjaan." Nanta ingatkan Balen.


"Eh iya, nanti deh Ben kita bahas lebih lanjut." kata Balen terkekeh, kemudian biarkan Nanta dan Daniel sibuk membahas mengenai hotel sementara Balen sibuk juga dengan handphonenya hubungi Belin. Sudah pasti mau bahas soal Ben.


"Ante, aku lagi online sama Kak Panji." terdengar suara Belin menjawab sambungan telepon Balen kemudian langsung matikan lagi. Panji teman Alex yang Belin suka, pantas saja telepon Balen diabaikan oleh Belin.


"Baen, Abang mau ke atas, kamu tunggu didepan saja." kata Nanta pada Balen.


"Sendirian?" tanya Balen.


"Ajak saja ngobrol tukang rujakndidepan sana." jawab Nanta tertawa.


"Ish Aban. Ya udah Baen duduk di Warung es cendol aja." katanya tunjuk tukang es cendol disebelah tukang rujak.


"Jangan minum es sayang." Daniel ingatkan istrinya.


"Ndak enak dong duduk kalau ndak mesan." jawabnya berikan alasan.

__ADS_1


"Pesan saja bungkus, jangan diminum." Daniel tidak kalah akal, harus pintar-pintar hadapi istrinya dan Daniel sudah paham itu.


__ADS_2